Pustaka Steva, rumah bagi pegiat seni lintas disiplin kembali mengadakan ajang tahunan, Festival Akhir Tahun yang direncanakan akan dilaksanakan sejak tanggal 05 Desember 2025 hingga 31 Desember 2025. Pelaksanaan festival tahun ini keseluruhannya berlangsung di Pustaka Steva, Jl. Pagang Raya No.37 Kurao Pagang, Kecamatan Nanggalo, Kota Padang.
Pustaka Steva sebagai salah satu tempat bertukar wacana, dan saling berbagi pengetahuan memang selalu menempatkan dirinya bagi siapa saya yang datang. Segala macam kesenian, mulai dari yang serius, serampangan, dan bahkan belum terealisasikan diolah agar matang di sini. Festival Akhir Tahun rasanya adalah muara dari segala kegelisahan itu. Ombak yang tenang, namun terkadang berpilin-pilin juga.
Ragam kegiatan dicanangkan, mulai dari peluncuran buku karya penulis Sumatera Barat, bazar buku, diskusi publik soal mitigasi bencana, diskusi publik seputar sastra, musik, film, pantomim, screening film, dan pertunjukan pantomim. Keseluruhan kegiatan terlaksana atas tangan dingin direktur festival, Nisya’ Tri Yolanda.

Sumber: Instagram @pustakasteva

Sumber: Instagram @pustakasteva

Sumber: Instagram @pustakasteva

Sumber: Instagram @pustakasteva

Sumber: Instagram @pustakasteva

Sumber: Instagram @pustakasteva
Festival Akhir Tahun Steva 2025 dibuka dengan peluncuran buku antologi puisi yang digagas Siteba Berpuisi, berjudul “Tong Setan Telah Menyihir Kita” pada 05 Desember 2025 yang menampilkan tiga orang pegiat Siteba Berpuisi, Maulidan Rahman Siregar, Arif P Putra, dan Eric Juier. Acara ini dimoderatori Nisya’ Tri Yolanda. Kegiatan dibuka dengan pemutaran film dokumenter karya Boy Candra, yang mengambil dokumentasi pelaksanaan Siteba Berpuisi, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Selanjutnya, secara bergantian, pengunjung diminta untuk sama-sama ikut tampil membaca salah satu puisi yang terdadapat di dalam buku antologi. “Tong Setan Telah Menyihir Kita” diambil dari salah satu puisi karya Hasbunallah Haris. Pengerjaan sampul buku dikerjakan Boy Candra, Maulidan Rahman Siregar bertindak selaku editor dan arsip, dan buku ini diterbitkan lewat penerbit Purata Utama secara terbatas. Ivan Adilla, Yusrizal Kw, Anggi Oktavia, Denni Meilizon (sekadar menyebut beberapa nama), turut hadir dalam perayaaan ini.

Sumber: Instagram @pustakasteva
Sehari berselang, 06 Desember 2025 diskusi publik dilangsungkan, dengan tema, “Siapakah Tan Malaka dalam Ingatan Kita” Narasumber-narasumber kompeten dihadirkan. Devy Kurnia Alamsyah (Dosen Universitas Negeri Padang) membawa subtema pembahasan: “Menggali Tan Malaka: Dari Makam Selopanggung hingga Skenario Film.” Habiburrahman (Peneliti Tan Malaka) membawa subtema pembahasan “Tan Malaka dan Sejarah yang Menyimpang dari Arus Utama” dan Maichel Firmansyah (Kolumnis) membawa subtema pembahasan: “Aktivisme Mahasiswa dalam Rimba Ide Tan Malaka” dan diskusi publik ini dimoderatori seorang konten kreator Pembahas Tradisi Minangkabau, Al Fikri.

Sumber: Instagram @pustakasteva

Sumber: Instagram @pustakasteva
Tan Malaka digali melalui skenario film, laman digital, hingga aktivisme mahasiswa. Siapakah Tan Malaka dalam ingatan kita hari ini? Melalui riset, arsip, dan pembacaan anak muda Tan Malaka diperbincangkan. Menarik.

Sumber: Instagram @pustakasteva

Sumber: Instagram @pustakasteva
Pada Minggu, 07 Desember 2025, tampil Echo Flow, band duo asal Padang yang membawakan lagu-lagu yang telah mereka rilis. Sejauh ini, Echo Flow sudah melahirkan empat single seperti Teleskop, Hampir Seperti Mati, Di Balik Tirai dan Please Don’t Go. Echo Flow juga membawakan dua nomor milik musisi lain sebagai pelengkap penampilan mereka yang sudah ciamik sejak Iren pegang mik.

Sumber: Instagram @pustakasteva
Meski sesekali turun hujan, pertunjukan intim ini lumayan membahagiakan. Di sela penampilan Echo Flow, Maulidan Rahman Siregar selaku host melempar beberapa pertanyaan seputar garapan mereka selama ini, proses penggarapan dan waktu mengerjakan, serta kendala yang sering timbul. Kabarnya, untuk menjawab semua itu, Echo Flow sedang mempersiapkan album penuh mereka di tahun depan. Alhamdulillah, kabar kalau band ini bakal bubar ternyata tidak benar. Mereka masih akan terus bermusik, dan mari kita tunggu kejutan apalagi yang akan dihadirkan Ingik dan Iren ini.

Sumber: Instagram @pustakasteva
Tri Wahyuni Oktanita, pustakawan dan penggiat di Rancak Publik bertanggungjawab sebagai moderator dalam Diskusi Publik dengan tema: “Menelusuri Sejarah Mitigasi Bencana di Sumatera Barat” pada Sabtu, 13 Desember 2025.

Sumber: Instagram @pustakasteva
Bencana ekologi yang menimpa Sumatra baru-baru ini dibahas oleh dua orang pembicara, Muhammad Faras Razin dan Yose Hendra. Muhammad Faras Razin mengemukakan hasil temuannya dari arsip-arsip visual dan kurator sejarah di media “Sumbar Tempo Dulu”, beliau juga memaparkan seputar beberapa bencana yang menimpa Padang –dan juga Sumatera Barat pada masa lalu.

Sumber: Instagram @pustakasteva
Yose Hendra, selaku jurnalis, peneliti, dan penulis buku “Mitigasi Kultural” juga mengemukakan beberapa temuannya di lapangan, baik lewat tulisan yang ia oralkan, dan juga film pendek yang diputarkan. Semoga kita semua dapat belajar banyak lagi soal mitigasi bencana ini, dan mari sama-sama saling bahu membahu jika terjadi bencana itu.

Sumber: Instagram @pustakasteva

Sumber: Instagram @pustakasteva
Setelah menjadi host untuk Echo Flow, Maulidan Rahman Siregar juga kembali membuka Diskusi Publik yang lumayan berat. Menakar ulang arah musik Padang di tengah dinamika industri dan komunitas. Mau ke mana musik dari Padang? Diskusi ini berlangsung pada hari Minggu, 14 Desember 2025. Tema yang cukup tendensius.

Sumber: Instagram @pustakasteva
Pengalamannya sebagai redaktur musik di janang.id sedikit banyak membantu Maulidan dalam menyusun pertanyaan pada tiga orang narasumber, yakni Akbar Nichiolas (musisi), Oktaf Nardo (Merchandiser) dan Eghip Kurniawan (Promotor Musik). Satu pertanyaan kunci, siapa musisi Padang yang sekiranya dapat mewakili Padang hari ini?

Sumber: Instagram @pustakasteva
Beberapa musisi Kota Padang juga ikut hadir dan menyampaikan pandangannya pada diskusi publik ini, seperti Brian Rahmattio, Ragadupa, Ingik dari Echo Flow, Andip dari Stevunk, dan beberapa pegiat konser atau event musik. Boy Candra selaku salah satu orang di belakang Gigs Padang, sibuk mendokumentasikan kegiatan ini. Diskusi berkembang ke mana-mana, dan untung saja masih bisa diatasi. Seru!

Sumber: Instagram @pustakasteva
Akbar mengatakan, musisi dari Kota Padang masih akan terus bergiat dengan caranya masing-masing, dan Oktav Nardo akan selalu support setiap musisi jika dibutuhkan. Banyak hal-hal baru juga yang didapat dari yang disampaikan Eghip Kurniawan, fans nomor satu Blits band ini.

Sumber: Instagram @pustakasteva

Sumber: Instagram @pustakasteva
Dua hari setelahnya, Selasa, 16 Desember 2025, banyak warga Kabupaten yang datang ke Pustaka Steva, kawan-kawannya Rizky Utama yang hadir dalam peluncuran buku “Tidak Harus Tergesa-gesa” karya Rizky Utama. Buku ini merupakan buku pertama karya Rizky Utama, yang merupakan buku dengan genre self improvement yang merupakan catatan reflektif Rizky yang ia bangun dari berbagai realitas yang ia temui. Lahirnya buku ini juga terwujud dari berbagai bacaan Rizky selama ini.

Sumber: Instagram @pustakasteva

Sumber: Instagram @pustakasteva
Selain Rizky juga hadir seorang mahasiswi psikologi Universitas Andalas, Mutia Farhanah yang menyampaikan beberapa pendapatnya soal buku ini, dan acara ini dimoderatori Rahmi Padilla, mahasiswi Magister psikologi Universitas Negeri Padang. Diskusi berlangsung apa adanya, beberapa pengunjung juga ikut mengapresiasi buku pertama Rizky ini, meskipun kebanyakan pengunjung belum terlalu biasa dengan genre buku ini. Di sinilah bukti bahwa Pustaka Steva menerima segala kalangan, yang bikin jadi ada peluang masa depan cahaya Asia ini jadi panjang.

Sumber: Instagram @pustakasteva

Sumber: Instagram @pustakasteva

Sumber: Instagram @pustakasteva
Jumat, 19 Desember 2025 tiba giliran kesenian lain tampil. Tiga orang pegiat teater lintas Kabupaten mengisi acara pertunjukan pantomime. Thendra BP dan Ingik bertindak selaku aktor, sembari melakukan penggalangan dana untuk korban bencana ekologi yang menimpa wilayah Sumatra.

Sumber: Instagram @pustakasteva
Thendra BP tampil dengan pertunjukan pantomie bertajuk, Pidato Akhir Tahun Pejabat Honorer. Repertoar tentang seorang pejabat pembual –gemar berpidato dari awal hingga akhhir tahun, dan selalu saja meminta honor. Ingik tampil dengan pertunjukan pantomime bertajuk, Komedi Tanpa Iklan –Rutinitas Error 4044: Kehidupan Tidak Ditemukan. Rutinitas yang berulang setiap hari –tidak membosankan, namun kerap luput disadari. Pertunjukan ini menyorot keseharian yang berjalan seperti sistem ottomatis: berfungsi, tapi jarang ditanyakan kembali. Pertunjukan Ingik dibantu oleh isian suara dari Rori Aroka Roesdji, yang juga merupakan pegiat teater masa lalu.

Sumber: Instagram @pustakasteva

Sumber: Instagram @pustakasteva
Meski tidak baru, pertunjukan semacam ini (karena jarang terjadi) menjadi angin segar bagi iklim kesenian di Pustaka Steva. Benar apa yang menjadi tema tahun ini, gudangnya kreativitas. Segala macam kesenian bisa tumbuh dan hidup. Ingik selaku aktor pun sudah dapat tawaran job pantomime setelah pementasannya berhasil. Baik Thendra maupun Ingik, kedua pertunjukan mereka mengundang decak kagum dan tawa renyah dari penonton.

Sumber: Instagram @pustakasteva
Rori Maidi Rusji menerbitkan buku terbarunya “Apa yang Tak Kau Dengar Dari Kota” yang merupakan buku kumpulan cerpen yang ia tulis puluhan tahun dan diterbitkan lewat Purata Utama. Salah satu karya dengan alih wahana paling banyak sejauh ini. Buku “Apa yang Tak Kau Dengar Dari Kota” dicetak jadi kaos, dibikinkan ilustrasi yang ciamik, dan diproduksi sebagai lagu. Tak tertutup kemungkinan pula, suatu saat nanti “Apa yang Tak Kau Dengar Dari Kota” akan digarap menjadi film, atau setidaknya film pendek.

Sumber: Instagram @pustakasteva

Sumber: Instagram @pustakasteva
Buku “Apa yang Tak Kau Dengar Dari Kota” diluncurkan pada Minggu, 21 Desember 2025 dengan menghadirkan dua talenta sastra dalam kota, keduanya mahasiswi sastra Universitas Andalas, Anggi Oktavia, dan Siti Rubaiah Al Adawiyah. Agenda ini dimoderatori Maulidan Rahman Siregar.

Sumber: Instagram @pustakasteva
Meski tak sempat membacakan makalahnya, Anggi Oktavia mengemukakan apa yang ia temui dari hasil pembacaannya, begitu juga Siti Rubaiah Al Adawiyah. Beruntung, orang-orang yang datang dalam gelaran ini lumayan ramai. Ilhamdi Putra, Hasbunallah Haris, Arif P. Putra, Yusrizal Kw, Deddy Arsya, Zelfeni Wimra, Raudal Tanjung Banua (sekadar menyebut beberapa nama) turut serta dan menyampaikan pendapatnya soal diskusi dan pembacaan mereka. Soal lagu yang lahir dari kumpulan cerpen “Apa yang Tak Kau Dengar Dari Kota” ini akan segera hadir di spotify. Mari kita nantikan dalam waktu dekat ini.

Sumber: Instagram @pustakasteva

Sumber: Instagram @pustakasteva

Sumber: Instagram @pustakasteva

Sumber: Instagram @pustakasteva
Tiba giliran salah satu buku terbitan Gramedia Pustaka Utama dibahas. Bukunya Hasbunallah Haris, berjudul Leiden 2020 – 1920 yang menghadirkan Ganda Cipta wartawan senior sebagai moderator dan menghadirkan Ilhamdi Putra dan Bunga Suci Pertiwi sebagai pembedah, dan tentu saja menghadirkan penulisnya sendiri.

Sumber: Instagram @pustakasteva

Sumber: Instagram @pustakasteva
Acara yang dimoderatori Ganda Cipta ini berlansung epik. Ragam wacana berkelindan muncul dari pembedah, dan pengunjung acara. Hasbunallah Haris selaku penulis buku ini pulang dengan banyak catatan dari pembedah dan pengunjung yang menanggapi.

Sumber: Instagram @pustakasteva

Sumber: Instagram @pustakasteva
Yusrizal Kw, sastrawan kenamaan Indonesia sejak tahun 90an mengemukakan bahwa, “Diskusi ini merupakan diskusi terbaik yang pernah saya hadiri di Pustaka Steva selama ini” dan seketika senyum Ganda Cipta makin manis saja. Benar, Ganda Cipta selaku moderator dinilai berhasil membawakan diskusi ini jadi kian asyik, serius, namun masih dalam suasana akrab, terkadang diselingi dengan gelak tawa. Harapannya, Hasbunallah Haris dapat gemilang dengan garapanya ini, dan garapan-garapan setelahnya. Hasbunallah Haris mengaku senang dan bersyukur bukunya dibedah dengan epik di Pustaka Steva ini, atas pengakuannya, ia juga yang meminta penerbit untuk mengadakan diskusi di Pustaka Steva.

Sumber: Instagram @pustakasteva

Sumber: Instagram @pustakasteva
Besoknya, Sabtu, 27 Desember 2025 tiba giliran Raudal Tanjung Banua yang akan mengisi sesi di Pustaka Steva. Pantauan kami, Raudal Tanjung Banua datang berkali-kali ke tanah kelahirannya ini. Awalnya beliau hadir di rangkaian Payakumbuh Poetry Festival, lalu hadir di Festival Marah Roesli di Taman Budaya Sumatera Barat, dan diagendakan, pada Sabtu ini, Raudal Tanjung Banua akan melakukan Orasi Kebudayaan. Orasi Kebudayaan bertajuk, “Jejak Lintasan, Tali Pusar, Negara dan Episode Penghancuran Sumatera” silakan lihat flyer yang tertera di instagram Pustaka Steva.

Sumber: Instagram @pustakasteva

Sumber: Instagram @pustakasteva

Sumber: Instagram @pustakasteva
Dan besoknya, Minggu, 28 Desember 2025 masih ada agenda diskusi lagi. Menghadirkan Prof. Dr. Phil. Gusti Asnan, Dr. Zaim rais M.A, Fikrul Hanif Sufyan, SS., M.Hum, dan dimoderatori Akhmad Febriansyah Putra. Akademi dan pemerhati sejarah ini akan hadir dalam peluncuran buku Fikrul Hanif Sufyan, “Fort de Kock dan Depresi Ekonomi –Catatan Suksesnya Kongres XIX Muhammadiyah di Bawah Empasan Badai Malaise”

Sumber: Instagram @pustakasteva

Sumber: Instagram @pustakasteva
Fort de Kock bukan sekadar kota indah di masa kolonial. Di tengah badai depresi ekonomi dunia (malaise), kota ini justru mencatat sejarah penting pergerakan Islam di Indonesia.

Sumber: Instagram @pustakasteva

Sumber: Instagram @pustakasteva

Sumber: Instagram @pustakasteva

Sumber: Instagram @pustakasteva
Ragam diskusi, ragam keseruan, ragam pertunjukan, ragam penghayatan. Panjang umur, pustaka kesayangan. Semoga hal-hal baik untuk Pustaka Steva senantiasa terwujud. Kota ini, provinsi ini, bangsa ini, beruntung sekali punya Steva. Steva cahaya Asia. Jaya jaya jaya!
Semoga Tuhan yang Maha Esa membimbing kita semua. (*)
Catatan: Sebagian narasi disalin ulang dari flyer yang disebar Pustaka Steva. Keseluruhan gambar diambil dari instagram: @pustakasteva. Dikumpulkan di sini sebagai arsip dan dokumentasi belaka.
Maulidan Rahman Siregar, penulis dan pendidik. Buku terbarunya, Cara Kerja Tuhan (Rumahkayu, 2025) dan Cerdik Pandai (Basabasi, 2025)












