CategoryPuisi

PUISI-PUISI DENIS SETIAWAN; PESAKITAN

BERADU bangun tidur ku terus mandi tidak lupa menggosok gigi habis mandi ku retak cermin. hari ini aku tidak akan kalah tegakkan punggung, tengadahkan kepala, beradu pandang dengan mentari. siapakah pemenangnya? yang maha menghinakan tertawa. amin. LIMA KALI aku keji dan kotor ragaku lumpur, jiwaku jelaga. tempat tinggalku sepi, terisolasi di tepi sungai. setiap hari aku mandi, lima kali namun...

PUISI-PUISI ADITYA ARDI N; REFRAIN DARI LAGU KEPERGIAN

FORGOTTEN tak ada bulan malam membimbingku dalam kesunyian sebutir kacang di antara tumpukan daging sebagaimana cintamu telah menyekapku di ruang hampa tahun-tahun tubuhku telah kalis disabung angin pengembaraan demi rasa pahit yang merenangi seluruh musim kubongkar katedral mimpimu tentang awan dan api cinta barangkali telah memupus riwayatku dari semesta tiap kali rindu memanggil aku datang...

PUISI-PUISI SYUKRINA ILHAMDAH; SAMPAI KE BAITULLAH

TUHAN ENGGAN MEMBUKA PINTU Rohku keluar dari badan Dia duduk menatap langit tak lagi berwarna Ibu, tujuh puluh tahun Linglung, setelah pisau bertemu asahan Mencari sejengkal tali rafia juga dua goni lusuh Lima derajat kemiringan di atas bukit Si Gadis menyibak rerumputan guna mencari buah yang menjadi ikon Kota Padang Dua lelaki datang sempoyongan dengan mata cekung Menarik pisau di tangannya...

Puisi-puisi Ibe S. Palogai; Kurangi Jam Kerja, Perbanyak Bercinta

KURANGI JAM KERJA, PERBANYAK BERCINTA Kaukah anak tangga didaki para bidak. Dadu keluar dari kemisterian gelas hitam. Menggunting judul berita dari tangkapan layar menjadi kolase pertanyaan, “Penyesalan apa yang membuatmu takut mencintai seseorang?” Angka tiga melintasi jawaban yang kau tegakkan. Jatuhan dadu menggelinding lebih cepat dari relativitas cahaya. Menabur tapak bidak pada bilangan...

PUISI-PUISI PUSVI DEFI; BERMAIN PETAK UMPET

Bermain Petak Umpet : Teruntuk Kembaranku Sejak kecil, Selepas pulang sekolah, Aku dan kau sering bermain petak umpet, Kita akan melakukan gambreng terlebih dahulu, Lalu suit sampai tiga kali, “Hap! teriakku menggebu menang.” Di belakang pohon nangka itu, Kau memecingkan mata, “1,2,3. Satu sampai sepuluh, Bibirmu cemberut menghitungnya.” Aku berlari, tergesa-gesa, Menemukan...

PUISI-PUISI DEDDY ARSYA; HARI PENJEMPUTAN

Hari Penjemputan Telah merapat kapal dengan bising mesin telah kurapal yang kauajarkan kemarin: hiduplah sebagaimana orang hidup duduk di kafe, pesan teh Amerika bersiul lagu matahari terbenam tidur siang dan bangun menjelang subuh pergi ke masjid sebagaimana biasa melihat air sawah dan tunas pertama dari kelopak bawang. Telah tiba jemputan dengan suara keras memanggil telah duduk opsir di kursi...

PUISI-PUISI SAIFA ABDILLAH; BAHASA IBU

Kepada Akutagawa Apakah dengan mengakhiri hidup, dunia akan mengenangmu dengan bangga? Pikiran-pikiran jahat, kengerian hidup, telah membawamu pada pilihan terakhir : hidup tidak layak diperjuangkan. Kau bercerita padaku tentang makna hidup, tentang kebaikan, dan kejahatan. Aku masih ingat, Kandata—tokoh ceritamu mendaki jaring laba-laba, hendak ke Surga Ingin mengakhiri penderitaan di Neraka...

FRAGMEN-FRAGMEN E.M. Cioran; AKU TIDAK TAHU

AKU TIDAK TAHU AKU tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah; mana yang diperbolehkan dan mana yang tidak; aku tidak bisa menghakimi dan tidak bisa memuji. Tak ada kriteria yang absah dan tak ada prinsip yang konsisten di dunia ini. Bagiku terasa mengejutkan bahwasanya beberapa orang masih menyibukkan diri mereka dengan teori ilmu pengetahuan. Sejujurnya, sedikit pun aku tidak peduli tentang...

PUISI-PUISI MAULIDAN RAHMAN SIREGAR; WQWQWQ

HAHAHA dalam ketawamu kau tangisi kepergian kekasihmu yang memilih bertempur dengan Ibukota yang mengajarinya menangis tak lupa kau bilang kuat-kuat kau akan menulis namanya di setiap pohon yang berdoa agar selalu hujan di punggung ojek online yang kau tumpangi, kau bedoa. agar seluruh lelaki mati, dan mengubur diri sendiri. dan bedak kekasihmu. serta belah dadanya. beradu tumpah di televisi. kau...

PUISI-PUISI DAFRIKA DONI; CARA JITU MEMBIKIN KELUARGA BAHAGIA

HARI PERTAMA DI KOTA Aku pikir tak ada yang musti kucemaskan lagi Sudah kuucapkan kalimat selamat tinggal termanis; Aku berangkat, sudah kutitipkan laut di matamu Agar kau bisa bersedih sesuka hati. 1 Ini hari pertamaku di kota Di depan toko mebel Angin menerbangkan aroma serbuk kayu ke hidungku. Seperti diseret candu tuak penuh ragi Ke warung-warung dengan lampu penerang seadanya. Aku masuk ke...