Tidur Terbaik

Malam ini aku harus menginap di rumah sakit demi menunggui mertuaku yang kini sedang menjalani opname. Sebenarnya sudah kali kedua ini aku menjaga beliau, tapi tak tahu kenapa rasa-rasanya aku malas berangkat. Rasanya kepalaku penuh dengan urusan pekerjaan yang sedang di ujung tanduk. Tapi, mengingat aku sudah menganggap mertua seperti orang tua kandung sendiri, apa pun kondisiku, aku harus berangkat.

Begitu tiba di kamar di mana mertuaku dirawat, kepalaku tak lagi sakit dan urusan kantor berasa lenyap. Kamar tempat mertuaku ini dihuni empat pasien, yang aku tahu beberapa di antaranya bukan orang asli kota ini. Biasanya beberapa dari penjenguk dan penunggu pasien-pasien lain turut berjejalan di kamar yang sebenarnya tidak luas ini.

Sayangnya, kamar yang kusambangi malam ini lebih penuh ketimbang biasanya. Beberapa dari mereka menggelar tikar untuk tidur di lantai persis di bawah tempat tidur mertuaku.

“Maaf, Bung,” kata salah seorang di antara mereka, begitu melihatku melongo tak percaya, sebab lantai tempatku berbaring demi menunggui ayah mertuaku telah diinvasi oleh mereka. “Kami jauh-jauh dari luar kota dan malam ini lelah.”

Aku mengangguk dan membiarkan mereka. Aku tidak dapat mengajak siapa pun bertengkar di tempat ini. Jadi, aku ke luar kamar dan duduk di kursi yang kosong. Hampir tidak ada orang di koridor rumah sakit selain beberapa perawat yang sesekali lewat.

Karena malam ini hujan, tubuhku kedinginan dan kepalaku kembali pusing. Entah berapa kali aku ke toilet untuk kencing dan entah berapa kali mulutku menguap karena kantuk. Lama-lama, aku tidak tahan juga dan mencoba berbaring di kursi besi tersebut, tapi aku tidak bisa tidur. Saat itulah, ada yang membangunkanku dan memintaku pindah tempat.

“Tidur di sini tidak sehat buat badan Anda, Pak,” tegur orang itu.

Aku beranjak karena kaget dan mendapati seorang pria paruh baya berjaket kulit sedang merokok dan memandangi hujan yang belum reda.

“Tidak ada tempat di kamar ayah mertua saya,” kataku.

“Ada kamar kosong yang tidak dipakai. Dekat belokan di ujung koridor ini. Saya pikir Anda bisa tidur di sana.”

Kubilang pada orang itu kalau pihak rumah sakit mungkin akan melarang tentang itu. Tapi, dia bilang, “Semua tidur di sana dan tidak ada larangan. Saya tidur di sana sejak beberapa hari yang lalu.”

Aku tidak percaya dengan ucapannya, tapi orang itu dengan tawa ramahnya segera mengajakku ke sana untuk membuktikan kata-katanya. Aku tidak sesering orang-orang lain pergi ke rumah sakit. Begitu melihat beberapa orang yang terlelap di kamar kosong yang dimaksud, aku tertawa kecil.

Pria paruh baya itu membuang puntung rokoknya dan pamit tidur. “Sudah ngantuk saya. Permisi,” katanya, lalu dengan santai masuk ke kamar itu dan tidur pada salah satu kasur yang terletak di pojok.

Tentu saja kamar ini terlihat sebagai kamar pasien yang sedang dikosongkan untuk suatu urusan yang entah apa. Kurasa mungkin sebuah renovasi baru akan dimulai besok pagi, sebab di sudut dekat pintu kamar itu ada beberapa karung semen dan pasir. Karena kepalaku terlalu pusing, aku enggan memikirkan apa pun selain segera tidur. Dan, tanpa ragu, aku masuk ke kamar tersebut dan tidur di salah satu kasur yang tak ditempati.

Karena pintu kamar ini sengaja tidak ditutup, aku sempat melihat beberapa perawat lewat sambil berbincang-bincang entah soal apa. Salah satu di antaranya, suatu ketika, berhenti di depan kamar dan mengintip kami. Pada saat itu aku tidak juga ketiduran, tapi mataku sudah berat, sehingga tidak tahu apa reaksi perawat itu soal ulah para penjenguk yang sedang menginap ini. Yang sempat kulihat cuma si perawat menutup pintu kamar lalu melangkah pergi.

Setelah itu, aku tidak tahu apa yang terjadi. Aku benar-benar terlelap. Tidurku saat ini berasa bagai tidur dengan kualitas terbaik yang pernah kurasakan. Aku pikir, inilah tidur terbaik yang bahkan sulit kudapatkan di waktu-waktu yang akan datang. Tak tahu kenapa aku berpikiran begitu, tapi rasanya aku tak pernah tidur tanpa merasa gerah atau haus atau pusing sebagaimana biasanya yang kurasakan ketika tidur di mana pun dalam berbagai kesempatan.

Bahkan, dalam tidur itu aku bermimpi sedang melihat mertuaku tersenyum. Di situ aku juga melihat pria berjaket kulit tersenyum bahagia memeluk seorang perempuan tua yang kupikir adalah ibunya atau jangan-jangan mertuanya? Mungkin perempuan tua itu yang kini sedang dia jaga di rumah sakit ini. Mimpiku ini, tentu saja, terasa sangat nyata dan indah, dan aku kira semuanya akan baik-baik saja.

Begitu bangun, yang kulihat pertama kali adalah jendela kamar yang berada persis di samping kiriku. Aku turun tanpa benar-benar menoleh untuk melihat situasi sekitarku yang kurasa masih penuh oleh beberapa penjenguk yang terlelap. Aku turun begitu saja dari kasurku dan menarik pintu, tetapi ternyata dikunci dari luar. Aku balik badan dan pada saat itu aku tahu ternyata kamar ini bukan kamar biasa.

Kasur-kasur yang semalam ditiduri beberapa penjenguk, pagi ini dihuni entah oleh berapa banyak jenazah dengan kondisi tidak lazim. Beberapa selimut yang melingkupi mereka terlihat kecokelatan oleh noda darah.

Dengan panik, kugedor pintu dan seseorang membukakannya tidak lama kemudian. Beberapa orang lalu berkumpul di depan kamar karena heran melihat kesaksianku, yang semalam tidur di kamar mayat tanpa kusadari.

Seorang perawat, yang bergabung ke kerumunan, bersumpah tidak sadar kalau ada diriku di sana. Dia bilang, secara aneh, semalam, pintu kamar mayat ini terbuka. Karena itulah dia kunci pintunya.

Setelah agak tenang, aku kembali ke kamar ayah mertuaku. Hanya saja, beliau tak ada. Kutanyakan ke seseorang di bagian resepsionis. Katanya, tidak ada pasien dengan nama sesuai dengan yang kusebut.

“Semalam saya melihat beliau tidur di kamar Melati nomor 3! Beberapa hari yang lalu saya juga menunggui beliau di kamar yang sama!”

“Tapi tidak ada pasien atas nama Mudakir bin Sarkoni. Mungkin Bapak salah sebut nama,” kata petugas itu.

Kucoba menelepon saudara iparku, tetapi ponselku tidak ada di saku celana. Tanpa pikir panjang, kutemui dokter yang beberapa hari lalu menemuiku untuk berbicara soal kondisi mertuaku. Namun, dokter itu bersikap seakan-akan tak pernah melihatku.

“Saya tidak mengerti maksud Anda.”

“Kita bicara soal ayah mertua saya beberapa hari yang lalu, Dok!”

“Demi Tuhan, saya tidak bicara soal itu kepada Anda, dan saya juga tak tahu siapa Anda!” tegas dokter itu dengan ekspresi yang sulit diragukan keseriusannya.

Aku pergi dengan kepala yang tidak juga membaik, meski semalam sempat merasa baikan, apalagi saat tidur di kamar itu. Aku berjalan ke tempat parkir tanpa tahu harus memikirkan kemungkinan apa yang harus kutempuh demi melihat di mana mertuaku berada, selain pulang dan bertanya langsung pada adik iparku.

Sampai di titik inilah, ketika di tempat parkir tidak dapat kutemukan motorku, aku sadar bahwa sebenarnya tempat yang saat ini kupijaki bukan rumah sakit di mana ayah mertuaku dirawat. Aku berlari ke halaman depan dan terus berlari hingga tiba di pinggir jalan raya, dan mendapati bahwa tempat ini memang benar-benar bukan rumah sakit di mana semalam sempat kutengok ayah mertuaku yang sedang tidur terlelap.

Aku tak tahu apa yang sebenarnya terjadi? [ ]

Gempol, 2017-2019

 

KEN HANGGARA lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis puisi, cerpen, novel, esai, dan skenario FTV. Karya-karyanya terbit di berbagai media. Buku terbarunya Museum Anomali (Unsa Press, 2016), Babi-Babi Tak Bisa Memanjat (Basabasi, 2017), Negeri yang Dilanda Huru-Hara (Basabasi, 2018), dan Dosa di Hutan Terlarang (Basabasi, 2018).

 

 

Facebook Comments

About the author

mm
KEN HANGGARA

KEN HANGGARA lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis puisi, cerpen, novel, esai, dan skenario FTV. Karya-karyanya terbit di berbagai media.

mm By KEN HANGGARA