TATAPAN DARI ATAS RANJANG

UNSPLASH.COM

                Mata bulat besar yang teronggok di atas ranjang berkain putih menatap nyalang, seperti harimau kelaparan di sudut hutan paling dalam, tidak, itu bukan mata raja hutan, itu mata setan yang menunggu korban dan ingin merasukinya, mengambil wajahnya, tangannya, kakinya untuk dibawa berjalan, berlari dan menari yang tak mungkin bisa dilakukan oleh tangan dan kaki lemah terbungkus tulang itu, Tuhan telah mengutus seorang pelukis untuk memahat tulang-belulang di atas kulit untuk menyangga tengkorak itu, yang tidak sepadan dengan badan, tidak disebutkan dari mana asal pelukis, bisa dari sebuah desa kecil di Meuridi atau dari pinggir kota yang penuh debu, bisa juga pelukis itu malaikat Mikail yang sedang menyamar atau pun setan gentayangan yang muncul dari langit keperakan kala senja membingkai, sama saja dengan ketidakjelasan, kenapa mata bulat besar bisa berada di atas ranjang itu, usianya mungkin belum mencapai tiga tahun, ibu yang memakaikan kain panjang bermotif batik menyalahkan seorang lelaki yang selalu menggaruk-garuk kakinya dengan kaki yang lain, “Kenapa benihmu begitu menyedihkan?” tanya perempuan itu hampir tanpa ekpresi, “Karena sawahnya tak layak untuk menabur benih,” jawab lelaki itu seperti berbalas pantun dalam kenduri-kenduri yang dilakukan oleh suku dari Timur, seorang lelaki berseragam masuk ke ruangan serba putih itu, di dahinya tersemat frasa, tangan raja, ia menghampiri mata yang langsung menatapnya nyalang, ia menggeleng-gelengkan kepala lalu membacakan titah raja—diharapkan kerja sama yang baik untuk menanggulangi masalah ini—luput dari perhatiannya, di sudut mata itu mulai tergenang setitik air, kemudian mengalir membasahi alas tempat tidur berwarna putih, lelaki dengan frasa tangan raja itu mengajak berbicara perempuan yang menyematkan kain batik di kepalanya dan lelaki yang terus menggaruk kaki kirinya dengan kaki yang lain, namun seperti ada dinding kaca yang menghalangi apa yang disampaikan lelaki tangan raja itu ke telingan perempuan dan lelaki yang sebelumnya saling berbalas pantun, hingga lelaki tangan raja membicarakan A, lawan bicaranya mengatakan C, sungguh payah percakapan antara ketiga orang itu, pintu ruangan serba putih itu kembali terbuka, kali ini muncul seorang perempuan berseragam yang di dahinya tertulis tangan raja kedua, perempuan itu berjalan anggun tanpa melepas sepatu, menarik ujung bibirnya untuk memberikan sebuah senyuman, yang terlihat sebagai seringai oleh sepasang mata bulat besar yang tergeletak di atas ranjang, tatapan mata itu meredup, menyiratkan keputusasaan tanpa batas, perempuan tangan raja kedua tidak pernah menyadari itu, ia mencoba meluruskan maksud tangan raja pertama kepada perempuan yang memakai kain batik di kepalanya dan lelaki yang masih menggaruk kakinya dengan kaki yang lain, tetapi lelaki tangan raja pertama terlihat keberatan atas ikut campurnya perempuan tangan raja kedua, “Perempuan memang sangat senang ikut campur urusan orang,” ujarnya, yang membuat perempuan tangan raja kedua mengeluarkan api dari kedua matanya, lelaki tangan raja pertama kembali mengeluarkan makian untuk perempuan berkulit sawo matang itu, perempuan tangan raja kedua bergerak maju, mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi dan mencakar wajah lelaki tangan raja pertama, yang dibalas dengan tamparan keras oleh lelaki tangan raja pertama yang memang bertubuh gempal, perempuan tangan raja kedua terjatuh dan menyenggol lemari kecil yang berada di dekat kepala tempat tidur, lemari kecil itu ikut bergoyang dan menjatuhkan isi yang berada di dalamnya dan menimbulkan bunyi klantang-kluntung, membuat dua orang berbaju putih berebutan masuk ke dalam ruangan itu, salah satu dari mereka membantu perempuan tangan raja kedua untuk berdiri lagi, yang lain mencoba menenangkan lelaki bertubuh gempal yang masih dilanda emosi, gigi mereka saling meruncing menimbulkan suara gemerincing yang memekakkan telinga, perempuan berkain batik di kepala tempat tidur dan lelaki yang sibuk menggaruk kaki menyumbat telinganya dengan tangan mereka, tak ada yang menyadari—mata bulat besar di atas ranjang terus mengeluarkan air dari kedua sudutnya, membuat basah sprei putih di bawahnya, lalu mata itu berputar tak keruan sebelum pupilnya membesar dan tak bereaksi terhadap apa pun lagi—perempuan berkain batik menjerit histeris yang membuat suara gemerincing dari geligi keempat orang tadi berhenti berbunyi, “anakku, anakku telah mati,” ujar lelaki yang berhenti menggaruk kakinya dengan kaki yang lain itu. (*)

Facebook Comments

About the author

mm
IDA FITRI

Ida Fitri, lahir di Bireuen pada 25 Agustus. Tulisannya pernah terbit di Koran Tempo, Republika, Kedaulatan Rakyat, Tabloid Nova dan lain-lain. Kumcer pertamanya berjudul Air Mata Shakespeare (2016). Kumcer keduanya Cemong (2017)

mm By IDA FITRI