TAKDIR GELAP DAN PERJUANGAN KAUM MARJINAL

Poster

DATA FILM

 

Judul

Terminator: Dark Fate

Sutradara

Tim Miller

Produser

James Cameron, David Ellison

Aktor/Aktres

Linda Hamilton,Arnold Schwarzenegger, Mackenzie Davis, Natalia Reyes, Gabriel Luna

Durasi

128 Menit

Produksi

Paramount Pictures

JANANG.ID- Berbeda dengan prekuel-prekuelnya, Terminator: Dark Fate (2019) agaknya didesain sebagai film yang kontekstual, yang secara kentara meminta dirinya dikaitkan dengan situasi sosial-politik global yang tengah berkembang—terutama di Amerika Serikat dan sekitarnya. Ini sudah terlihat dari dipilihnya Daniella “Dani” Ramos (Natalia Reyes), seorang perempuan Meksiko, sebagai si tokoh utama.

Simbolisme Perjuangan Kaum Marjinal

Dani dikisahkan bekerja sebagai buruh di sebuah pabrik di ibukota Meksiko, Mexico City. Tetapi ia bukan sekadar buruh; ia buruh yang berani beradu argumentasi dengan atasannya ketika mendapati adanya kebijakan yang dinilainya merugikan buruh-buruh lain—misalnya soal akan digantikannya posisi sebagian buruh oleh robot-robot impor. Mencermati hal ini sebagai simbol, kita bisa mengatakan bahwa dipilihnya Dani sebagai si tokoh utama adalah sebuah pernyataan tegas tentang pentingnya eksistensi orang-orang biasa di realitas global yang kita hadapi, di mana mereka harus dilihat sebagai semacam rekan kerja dan bukannya bawahan apalagi budak. Posisi berdiri mereka, dalam arti tertentu, haruslah setara dengan posisi berdiri para elite atau orang-orang yang memiliki akses istimewa ke sejumlah sumber daya strategis tertentu.

          Terkait hal ini, keberanian Dani untuk menentang kebijakan atasannya sementara ia seorang perempuan sedangkan atasannya itu laki-laki bisa juga dilihat sebagai pernyataan simbolis lainnya yang tak kalah tegasnya, yakni bahwa film ini mempersoalkan realitas sistem ekonomi kapitalis yang secara tidak adil menahan para perempuan dari menempati posisi-posisi strategis yang sebenarnya layak mereka tempati, seakan-akan posisi-posisi tersebut sedari awal memang dibuat khusus untuk diisi para laki-laki; dan hal ini bisa terjadi karena kapitalisme pada akhirnya mengadopsi nilai-nilai patriarki sebab para pemegang kendalinya adalah para laki-laki patriarkal. Di sini, penting untuk disebutkan bahwa tiga dari empat tokoh sentral di film ini adalah perempuan, di mana ketiganya memiliki karakter yang kuat sebagai petarung. Film ini seperti ingin mengatakan kepada kita bahwa era di mana kemampuan seorang perempuan diremehkan hanya karena gendernya sudah semestinya terlewati. Seksisme seperti itu semestinya sudah tinggal mitos di realitas yang kita hadapi saat ini.

          Selain berusaha mengangkat posisi para perempuan dan orang-orang biasa, film ini juga berusaha mengangkat posisi orang-orang dari kawasan Dunia Ketiga dalam relasinya dengan orang-orang dari kawasan Dunia Pertama. Dani adalah seseorang berkebangsaan Meksiko, seorang non-kulit putih, yang eksistensinya di sepanjang film sama krusialnya dengan Grace (Mackenzie Davis) dan Sarah Connor (Linda Hamilton), dua perempuan kulit putih berkebangsaan Amerika Serikat. Memang sempat ada ketimpangan relasi di mana Dani, sebagai sosok yang dilindungi, seolah-olah tak punya pilihan lain selain mengikuti arahan-arahan dari kedua perempuan kulit putih itu, tetapi ketimpangan ini segera lenyap setelah Dani bersikeras memutuskan nasibnya sendiri, langkah-langkahnya sendiri, dan kedua perempuan itu pun menghargai keputusannya ini dan turut bertarung bersamanya. Bahwa latar tempat cerita berpindah dari Meksiko ke Amerika Serikat, di mana di Negeri Paman Sam inilah Dani dan orang-orang yang bertarung bersamanya itu berhasil mengalahkan si tokoh antagonis, sesosok terminator canggih seri Rev-9 (Gabriel Luna), tak pelak lagi menunjukkan upaya itu. Secara implisit film ini mencoba mengatakan kepada kita bahwa bahkan seseorang dari Dunia Ketiga pun bisa berprestasi di Dunia Pertama seandainya ia diberi dukungan dan difasilitasi. Itu berarti orang-orang dari kawasan Dunia Ketiga semestinya tidak merasa inferior terhadap orang-orang dari kawasan Dunia Pertama; di sisi lain orang-orang dari kawasan Dunia Pertama dituntut untuk mengikis habis perasaan superior mereka atas orang-orang dari kawasan Dunia Ketiga. Marjinalitas, apa pun itu bentuknya, harus dihapuskan.

Simbol, Realitas, Maskulinitas

Setidaknya itulah yang berusaha dikemukakan film ini. Pada kenyataannya, tentu, penghapusan marjinalitas benar-benar sulit diwujudkan, terutama di tingkat relasi antarbangsa atau antarnegara. Tidak berlebihan kiranya jika dikatakan bahwa sekadar membayangkan hal tersebut terwujud saja sudah merupakan sebuah kemewahan.

          Dan itulah salah satu kelemahan film ini. Meski berusaha memperjuangkan sesuatu yang penting terkait situasi sosial-politik global yang tengah kita hadapi, film ini cenderung mencitrakan perjuangan tersebut sebagai sesuatu yang linear dan sederhana, paling tidak untuk beberapa hal. Di satu adegan, misalnya, Dani meminta bantuan kepada seorang lelaki Meksiko yang ia percaya untuk menyelundupkan ia dan kedua perempuan kulit putih yang bersamanya itu ke Amerika Serikat. Si lelaki ini awalnya mencoba menolak dengan mengatakan bahwa selama ini orang-orang yang ia selundupkan bukanlah orang-orang kulit putih, dan jelas sekali ada sentimen rasial di situ. Namun segera si lelaki mengubah penolakannya menjadi persetujuan setelah Dani menjelaskan bagaimana sesosok robot telah membunuh ayah dan adiknya dan berusaha membunuhnya, dengan didukung sedikit demonstrasi dari salah satu perempuan yang bersamanya itu—sosok separuh manusia separuh robot yang datang dari masa depan. Semudah dan sesederhana itu. Seakan-akan, di realitas yang sejati, sentimen rasial yang menggerogoti seseorang, yang terkait erat dengan situasi sosial-politik global yang tengah berkembang, bukanlah sesuatu yang kronis dan bisa diatasi begitu saja.

          Tentu saja kita memahami bahwa adegan tersebut adalah simbol dari pernyataan, atau lebih tepatnya ajakan, untuk mengesampingkan sentimen rasial demi mewujudkan sebuah realitas yang lebih baik bagi seluruh umat manusia. Tetapi simbol adalah simbol, sedangkan realitas sudah sedemikian ruwet dan njelimet untuk bisa kita hadapi sebagai semata simbol saja. Kita butuh dihadapkan pada simbol-simbol yang lebih baik, yang lebih bisa mendekati keruwetan tersebut, paling tidak untuk mengingatkan kita bahwa memperbaiki realitas itu tidaklah mudah.

          Kabar baiknya, sejumlah simbol di film ini sudah menuju ke arah sana. Perkara menghabisi si terminator antagonis, misalnya, selalu sulit. Bahkan setelah ada bantuan dari sesosok terminator seri T-800 (Arnold Schwarzenegger) pun, menghabisi si terminator seri Rev-9 itu masih saja sulit. Satu detail yang tak boleh dilewatkan adalah rusak tertembaknya senjata canggih yang digadang-gadang bisa melumpuhkan si terminator antagonis, yang bahkan belum sempat digunakan sama sekali oleh Dani dan ketiga tokoh sentral lainnya. Hal-hal tak terduga semacam ini, yang mempersulit keadaan dan meningkatkan peluang kegagalan, mendekatkan kita kepada realitas yang sejati. Simbol-simbol seperti ini mengingatkan kita untuk tidak manja, untuk tidak mudah larut dalam kekecewaan dan mencoba kembali bangkit dan berjuang.

          Terkait optimisme ini sendiri, film ini terlihat mencoba menyajikannya sebagai sesuatu yang maskulin. Ini terlihat dari bagaimana Dani menyikapi kematian ayah dan adiknya, di mana ia hampir tak pernah terlihat begitu terpukul oleh hal ini. Ia tidak dibiarkan tenggelam dalam ratapan demi ratapan dan ia justru didorong untuk menjadi semakin kuat dan semakin kuat, sebab si pembunuh ayah dan adiknya itu masih hidup dan masih mengejarnya—berusaha membunuhnya. Masuk akal, tentunya. Dan menariknya di sini bukan hanya ia yang digambarkan seperti itu; kedua perempuan kulit putih yang bersamanya itu pun demikian. Seperti halnya ia, kedua sosok ini telah mengalami sesuatu yang sangat gelap yang mendorong mereka untuk berjuang, di mana yang satu berusaha menyelamatkan umat manusia sedangkan yang satu lagi berusaha menghabisi para terminator. Optimisme mereka bisa jadi berbeda dengan optimismenya Dani, namun sama-sama dicitrakan sebagai sesuatu yang maskulin.

          Melihat hal ini sebagai simbol, kita bisa mengatakan bahwa film ini pun rupanya berusaha mengatakan bahwa maskulinitas adalah sesuatu yang penting terutama jika kita sedang dalam situasi harus berjuang melawan takdir gelap yang menanti kita—entah itu kita harus melawan sesuatu atau memperbaiki sesuatu atau keduanya sekaligus. Ini menarik jika kita kaitkan dengan apa yang kita bahas di awal tadi, yakni bahwa film ini berusaha memperbaiki posisi para perempuan dalam relasinya dengan masyarakat ekonomi kapitalis yang patriarkis.

          Yang bisa kita simpulkan dari hal ini barangkali ini: maskulinitas tidak selalu sejalan dengan kapitalisme dan patriarki, sehingga berjuang melawan kedua sistem tersebut tidak lantas berarti berjuang melawan maskulinitas. Dan begitulah memang kenyataannya. Ini seperti halnya memperjuangkan hak-hak perempuan tidak lantas berarti berperang dengan laki-laki; dua hal yang sejatinya jauh berbeda. Terkait hal ini, kehadiran si terminator protagonis sesungguhnya merepresentasikannya. Ia berperan aktif dalam membantu Dani dan kedua perempuan yang bersamanya itu menghabisi si terminator antagonis. Ia pun bahkan mengorbankan dirinya—keluarganya, kehidupannya, bahkan “nyawa”-nya—demi kelangsungan hidup Dani dan umat manusia. Dan, yang juga harus disebutkan di sini, tanpa bantuan darinya ketiga tokoh sentral lainnya yang semuanya perempuan itu akan sangat kesulitan bahkan untuk sekadar mengadang serangan-serangan si terminator antagonis—apalagi menghabisinya. Ini tak pelak lagi adalah simbol dari dibutuhkannya kehadiran dan peran aktif laki-laki dalam upaya-upaya memperjuangkan hak-hak perempuan. Sebuah pernyataan yang jujur dan realistis.

          Demikianlah pembacaan kita atas film ini. Sebuah film yang kiranya cukup bagus dan layak ditonton, terutama jika kita melihatnya sebagai pernyataan sikap atas situasi sosial-politik global yang tengah berkembang. Adapun yang harus kita lakukan saat akan menontonnya, supaya kita bisa melihat simbol-simbol yang disembunyikannya, adalah menyertakan kepedulian dan kesadaran sosial kita. Dengan cara itu kita tak akan merasa telah membuang-buang waktu untuk sesuatu yang sia-sia.(*)

Facebook Comments

About the author

mm
ARDY KRESNA CRENATA

ARDY KRESNA CRENATA, penyuka kucing. Buku-buku terbarunya: Realitas & Kesadaran (Novela, BasaBasi 2019); Sesuatu yang Hilang dan Kita Tahu Itu Apa (Kumpulan Cerpen, Beruang 2019).

mm By ARDY KRESNA CRENATA