Tahun Pilku(a)da

janang

Akhir-akhir ini saya suka bicara tentang kuda. Mobil Suzuki Esteem 96 saya juga saya beri nama dengan Kuda Gagah. Tenaganya seperti tenaga kuda. Mendaki Silaing dan Sitinjau laut amboi saja dibuatnya. Semacam enggak masalah saja dibuatnya. Entah kenapa saya suka bicara kuda belakangan, saya tidak tahu. Mungkin karena saya pernah menonton tentang seekor kuda yang menyepak orang jahil. Alhamdulillah terjangan itu membuat tercampak jauh.

Sekarang ini sudah memasuki tahun pilkuda yang cukup ramai. Di mana-mana orang sedang memperjuangkan kepala daerah. Entah itu pemilihan walikota dan wakil walikota. Entah itu pemilihan bupati dan wakil bupati. Entah itu pemilihan gubernur dan wakil gubernur. Entah kenapa setiap berbicara atas nama politik, pembicaraan tentang orang nomor satu nomor dua.

Sebentar lagi juga bakal besar-besaran pemilihan para anggota dewan yang terhormat di kabupaten kota, provinsi, dan pusat. Bakal banyak pula yang bersitungkin (kerja banting tulang) buat mendapatkan kursi panas – ada sebagian yang menyebut kursi hot – di setiap kabupaten kota, provinsi, dan pusat. Bakal banyak pula yang adu senjata. Entahlah. Entah mungkin ada pula amunisinya AK-47, bom molotov.

Saya hanya teringat dengan kuda akhir-akhir ini. Pada suatu kesempatan saya menjadi anak gaul, berselancar di youtube. Maklum kalau sudah di youtube ada-ada saja yang keluar. Entah kenapa yang keluar seperti yang saya katakan di awal tulisan saya, seekor kuda menyepak seorang jahil. Orang yang disepak kuda terpelanting ke pintu belakang mobil. Kuda yang sedang tenang-tenangnya diganggu. Ya begitu akibatnya. Sepakan itu cukup kuat. Orang-orang itu meringis.

Entah kenapa pula saya menghubungkan-hubungkan sepakan kuda ini dengan pilkuda. Barangkali karena pilkuda terkadang sudah mamakai “pil kuda”. Entah yang penting sepakan itu kuat. Atau yang penting ada banyak kuda buat menyepak. Entah itu menyepak orang lain atau untuk menyepak teman sendiri. Entahlah saya tidak tahu benar perkara itu.

Untunglah Kuda Gagah saya menyepak saya beberapa kali dengan sepakan yang tidak kuat. Sepakan pertama dia mogok di jalan. Terpaksa harus servis. Dan saya harus menanggung biaya satu juta. Sepakan kedua tabung minyak mogok. Enggak mampu mengalirkan minyak. Kena lagi kocek saya, cukup lumayan. Sepakan ketiga knalpotnya yang yang putus. Benar-benar ditendang lagi kocek saya. Kali ini tendangan cukup kuat. Untung saya tidak dibuat terpelanting.

Memasuki tahun pilkuda ada-ada saja yang terjadi. Contohnya seperti: ada yang menebar-nebar nominal di atas kertas. Mulai dari hijau, kemudian biru, sampai yang merah. Biasanya ini sulit juga dihindarkan. Sebab itu ada yang dapat menghabiskan uang sampai ratusan juta hanya untuk duduk sebagai anggota dewan. Habis itu setelah terpilih snewen. Kalau sudah orang nomor satu biasanya sudah pakai M dan M. Ada yang berkampanye dengan cara yang suci, ada juga yang sok suci dengan memakai tenaga kuda.

Masyarakat punya pameo yang menarik pula. “Ambil yang orang beri, lalukan yang kita inginkan.” Sebanyak apapun dapat pembagian belum tentu masyarakat bakal memilih orang-orang yang bagi-bagi rejeki. Barangkali karena sudah saking cerdasnya masyarakat akibat semakin seringnya dikibuli oleh orang-orang yang katanya wakil dari tangan masyarakat.

Ah, untung kuda gagah saya masih beberapa bulan di tangan. Kalau sudah bertahun-tahun di tangan saya entah apa yang bakal terjadi. Barangkali bakal disepaknya saya sampai bosan. Sebab saya keras kepala.

Beberapa waktu belakang juga saya sedang mengamati tendangan-tendangan pilkuda. Entah itu diforum diskusi tatap muka. Entah itu diforum diskusi grup facebook, whatsapp. Menariknya tendangan-tendangan pilkuda semakin cetar membahana kata Syahrini. Segala yang enggak patut diungkit, diungkit. Segala yang enggak perlu diungkit-diungkit. Semacam enggak ada batu, angin pun buat dilemparkan enggak masalah. Ada-ada saja.

Ah, sudahlah. Pusing juga membicarakan pilkuda. Saya hanya ingin membicarakan Kuda Gagah saya saja. Sekarang Kuda Gagah saya sudah sehat kembali. Sudah bisa lagi saya bawa hilir-mudik. Semoga engkau Kuda Gagah enggak semacam pilkuda. Kalau kau sembarang sepak, kasihan saya nantik.[]

About the author

mm
ALIZAR TANJUNG

Lelaki yang selalu merasa beken dengan jenggotnya ini, paling suka tersenyum kalau giginya tidak terlihat. Tergila-gila dengan Tuhan. Dia merasa selalu paling remaja di antara umat manusia.

Alizar Tanjung menupakan penulis di beberapa media di Indonesia. Selain itu dia adalah pakar motivasi dan konsultasi. Dia memperoleh Certified NPL for Personality Plus. Certified Hypnosist and Hypnotherapist IBH (Ch., Cht.) dari IBH.

mm By ALIZAR TANJUNG