Siapakah Minke dalam Bumi Manusia dan dalam Roman Tetralogi Pulau Buru lainnya?

Judul : Sang Pemula

Penulis : Pramoedya Ananta Toer

Penerbit : Lentera Dipantara

ISBN : 979-97312-0-8

Jumlah Halaman : 508 Halaman

Cetakan : Cet. 2 (revisi), 2003

 

TAK BANYAK Sastrawan  Indonesia yang selalu hangat diperbincangkan, bahkan jauh ketika personalnya pun sudah meninggal dunia. Tentu saja, kontroversi demikian yang mengundang polemik bersumber dari kekuatan karyanya sepanjang karier kepenulisan. Begitu kuat dan monumentalnya karya tulis itu hingga menghasilkan  barisan pembaca ke dalam dua kubu, pembela dan penyerang. Dari sekian sastrawan terhormat itu, salah seorang adalah Pramoedya Ananta Toer.

Pramodya Ananta Toer lahir pada 1925 di Blora, Jawa Tengah. Ia menjadi satu-satunya hingga hari ini, penulis Indonesia yang masuk ke jajaran kandidat penerima nobel bidang kesusastraan. Namanya tak bisa dikikis dari gonjang ganjing polemik yang panjang pada dekade tahun 1960-an manakala hampir seluruh budayawan dan sastrawan Indonesia terseret ke dalam keributan politik bangsa dan terbelah kemudian menjadi dua kubu abadi, apa yang dinamakan dengan seniman pendukung Lekra di satu pihak dan pendukung Manifesto Kebudayaan di lain pihak. Hampir separuh hidupnya dihabiskan dalam penjara.

Dari tangan dingin Pram, tercatat lebih dari 50 karya dan telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 42 bahasa asing. Beberapa karyanya menjadi monumental dan yang paling akrab dibincangkan adalah Tetralogi Pulau Buru yaitu empat buah novel roman: Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca yang berlatar cikal bakal sebuah nasion yang kemudian bernama Indonesia di awal abad ke-20. Pembagian dalam format tetralogi barangkali dimaksudkan untuk memudahkan kita memahami periode pembabakan pergerakan tersebut.

Pada tanggal 13 Oktober 1981, Kejaksaan Agung Republik Indonesia membakar secara massal dua jilid pertama dari tetralogi Buru yang dicalonkan dunia sebagai pemenang hadiah Nobel. Jumlahnya tidak jelas. Angka yang resmi yang dilaporkan majalah Tempo (14 Januari 1981) sebanyak 972 eksemplar. Akan tetapi, ada pihak lain yang mencurigai jumlahnya ribuan. Pramoedya tentu saja tidak kaget atau heran jika mendengar berita itu. Naskah novel yang sempat beredar dari Pulau Buru merupakan hasil penulisan ulang terhadap naskah yang berkali-kali sempat dirampas dan disita aparat negara.

Ketika ditangkap pada tanggal 13 Oktober 1965 di rumahnya sebelum dibuang 14 tahun, Pramoedya sedang sibuk menyiapkan ensiklopedi sastra Indonesia. Kepada para penyerbu yang menculiknya, ia berpesan berkali-kali agar buku-buku dan dokumentasi yang dikumpulkan selama 15 tahun (termasuk karya Soekarno) tidak dirusak. “Kalau pemerintah memang menghendaki agar diambil, tetapi jangan dirusak.” Beberapa hari kemudian, ia mendengar perpustakaannya diobrak-abrik dan isi rumahnya dijarah. Penggambaran saksi mata, mengingatkan kita pada laporan pers tentang penyerbuan kantor PDI (1996), kekerasan rasial antiminoritas (1998), atau penyerbuan milisi di Timor-Timur (1999). (Prof. Ariel Heryanto dalam Pramoedya Ananta Toer: Sebuah Album Abad XX , Kompas, 2000).

Roman bagian pertama, Bumi Manusia merupakan penggambaran dari tersemainya kegelisahan dikalangan terpelajar pribumi Hindia-Belanda. Pada roman kedua, Anak Semua Bangsa merupakan narasi observasi dan proses mengukur kekuatan hingga ke akar yang erat menguatkan roman ketiga, Jejak Langkah sebagai tahapan pengorganisasian perlawanan yang kemudian puncaknya adalah roman keempat, Rumah Kaca,  munculnya reaksi balik dari pemerintahan Hindia Belanda yang menyadari kebangkitan perlawanan meluas di tanah jajahan mereka.

Yang paling menarik dari keempat novel roman tersebut di atas adalah adanya pengalihan pusat penceritaan, ketika Raden Mas Minke sang tokoh utama pada tiga roman awal beralih kepada tokoh utama lain, sang juru arsip bernama Jacques Pangemanann pada roman Rumah Kaca. Di sini kita melihat betapa cerdasnya Pram memainkan makna-makna simbolik dalam pembabakan novelnya.

Tetralogi Pulau Buru bolehlah kita sebut sebagai roman sejarah yang akan dianggap sebagai kisah fiksi belaka, yang kebetulan mengambil latar embrio Indonesia dalam kancah negeri kolonial, sekiranya pada Tahun 1985 tidak terbit sebuah buku non fiksi berjudul “Sang Pemula” yang disusun oleh Pramoedya Ananta Toer. Sebuah buku yang membuat terang benderang bagi rakyat Indonesia betapa pentingnya empat novel roman yang disatukan dalam Tetralogi Pulau Buru tersebut, apalagi terkait siapa sebenarnya Minke yang menjadi karakter utama kisah roman dimaksud?  Yang lebih luas lagi, siapa sebenarnya keseluruhan karakter yang membangun empat novel roman tersebut?

Adalah melalui “Sang Pemula” yang menguak kepada kita tentang eksistensi seorang  tokoh bernama R.M. Tirto Adhi Soerjo (1880 – 1918). Buku ini sendiri memuat karya-karya non-fiksi (jurnalistik) dan fiksi (cerpen/novel) karya R.M. Tirto Adhi Soerjo. Bisa dikatakan bahwa Pram sangat intens dan gigih untuk mengumpulkan informasi tentang ihwal tokoh ini. Dalam lipatan lusuh sejarah Indonesia, nama R.M. Tirto Adhi Soerjo sempat hilang dan terkubur dalam ingatan kolektif masyarakat. Tentang hal ini,  pengantar penerbit (Hal. 5) dengan tepat menggambarkan seperti ini, saya kutip selengkapnya:

“MANGGADUA, Jakarta,  7 Desember 1918. Sebuah iringan kecil-sangat kecil- mengantarkan jenazahnya ke peristirahatan terakhir. Tak ada pidato-pidato sambutan. Tak ada pewartaan atas jasa-jasa dan amalam dalam hidupnya yang hanya berlangsung pendek. Selepas itu orang pun meninggalkannya. Itulah hari pungkas Raden Mas  Tirto Adhi Soerjo (1880 – 1918). Situasi akhir yang suram dan tampak tragis itu seakan berkebalikan dengan usaha-usaha yang pernah dilakukannya dalam satu putaran hidupnya yang pendek itu, yakni menggerakkan dan mengabarkan bahwa Republik yang masih merangkak kayak siput ini harus mandiri. Harus berdaulat. Manusia-manusianya haru merdeka. “

Satu paragraf pembuka sebagaimana di atas, cukup pula mengingatkan kita kepada kisah pada roman Rumah Kaca, novel terakhir dari Tetralogi Pulau Buru halaman 594 – 596. Walaupun ada sedikit cacat logika pada paragraf itu terutama kalimat… dan mengabarkan bahwa Republik yang masih merangkak kayak siput ini harus mandiri.  Ketika R.M. Tirto Adhi Soerjo wafat, nyatanya Hindia Belanda masih berdiri dan nama nasion “Indonesia” baru mulai berhembus lirih-lirih sepoi. Alih-alih pula bentuk Negara sebagai Republik belumlah terbentuk secara de facto maupun de jure.

Pram dalam pengantarnya mengatakan bahwa tulisan tentangnya (R.M. Tirto Adhi Soerjo, pen) sengaja diterbitkan sebagai percobaan semata-mata untuk memberikan dorongan kepada para ahli sejarah modern Indonesia untuk melakukan penyelidikan lebih lanjut. Penerbitan buku Sang Pemula juga dimaksudkan sebagai, “bujukan untuk datangnya tegur sapa, penyempurnaan dan tambahan data dari masyarakat luas. Juga dimaksudkan untuk mengkoreksi tulisan-tulisan saya sendiri tentangnya yang pernah diumumkan sebelumnya,” demikian tulis Pram.

Buku “Sang Pemula” terdiri dari tiga bagian. Bagian pertama adalah tulisan dari Pramoedya Ananta Toer sendiri, untuk sebagai pengantar pada tokoh yang ditampilkan. Bagian kedua memuat kumpulan beberapa karya non-fiksi R.M. Tirto Adhi Soerjo berupa karya jurnalistik pada masanya, dan bagian ketiga adalah kumpulan beberapa karya fiksi yang sebagaimana disampaikan Pram, “…juga bukan tanpa cacat karena tidak sempurnanya sumber induk.”

Berbicara sumber induk, kita kembali membuka Tetralogi Pulau Buru dengan empat buah novel romannya: Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca. Jika kita pastikan bahwa karakter Raden Mas Minke tiada bukan adalah R.M. Tirto Adhi Soerjo adanya, seturut penjelasan dalam Buku “Sang Pemula” maka kitapun mahfum belaka bagaimana rekam jejaknya betul-betul ditargetkan oleh Pemerintah kolonial Hindia Belanda untuk dihabisi.

Lewat upaya propagandais bernama Dr. D.A. Rinkes pejabat Penasihat Urusan Pribumi Pemerintah Hindia Belanda agaknya berlangsung pola pembunuhan karakter dari R.M. Tirto Adhi Soerjo. Sebagai pejabat Penasihat Urusan Pribumi, Rinkes wajib mendapatkan informasi tentang segala gerak yang terjadi di barisan terdepan perkembangan Pribumi, menganalisanya, dan memberikan petunjuk pada Pemerintah Hindia Belanda. Menilik cara dia menjalankan tugasnya, tak pelak lagi, Rinkes merupakan salin tempel dari Dr. C. Snouck Hurgronje, setidaknya dalam metoda kerja (Sang Pemula, Hal. 185).

Sang Pemula memberikan kepada pembaca beberapa informasi sejarah yang barangkali tidak diperoleh dalam narasi sejarah Indonesia modern yang diajarkan pada bangku sekolah. Namun demikian, sebagaimana diakui oleh Pram sendiri, buku ini punya kekurangan pula terutama akses pada sumber induk. Kekurangan yang mungkin bisa mendorong penyelidikan lebih lanjut oleh para ahli sejarah kita, atau mereka yang peduli dengan pelurusan jalan sejarah sebuah bangsa bernama Indonesia.

Sebagai pecinta buku dan ilmu pengetahuan, saya tentu menyarankan buku Sang Pemula sangat layak untuk dibaca. Apalagi, memperhatikan upaya pembuatan film bertolak dari roman Bumi Manusia yang digagas oleh sutradara kondang Hanung Bramantyo agaknya semakin mengecilkan peran R.M. Tirto Adhi Soerjo yang diwakili karakter Raden Mas Minke, yang sampai “moentah darah” diangkat oleh Penulis garda depan Indonesia, Pramodya Ananta Toer. Film yang katanya mengangkat kisah cinta belaka.

Lebih dalam lagi, marilah kita perhatikan dan cermati bahwa kisah tentang Pramoedya dan novel-novelnya tidak kalah menarik daripada isi cerita dalam novel-novel itu sendiri. Bahkan keduanya sulit dipisahkan. Seakan-akan para intel, petugas kejaksaan, dan aktivis mahasiswa serta seluruh sejarah Indonesia yang bereaksi terhadap novel itu, hanya melakonkan kembali tokoh tokoh dalam novelnya, sesuai alur cerita yang sudah digariskan dalam novel itu! Kisah tentang–bukan kisah dalam–novel Pramoedya adalah kisah Indonesia abad ke-20. (Prof. Ariel Heryanto, dalam Pramoedya Ananta Toer: Sebuah Album Abad XX, Kompas, 2000).

Bukankah lewat Tetralogi Pulau Buru tersebut, titik berat pembicaraan bukan personal saja melainkan sebuah gagasan awal pembentukan sebuah Negara bangsa yang kini kita kenal sebagai Republik Indonesia? Bukankah dalam kisah roman, percintaan hanyalah bumbu belaka ditengah lumuran ide dan gagasan yang hendak diperjuangkan para tokoh utamanya bahkan diceritakan dengan bertaruh nyawa itu?

Makan bumbu itu apa pulalah enaknya, Nung.[]

Facebook Comments

About the author

mm
DENNI MEILIZON

DENNI MEILIZON, berprestasi sebagai lelaki yang tak pernah jomblo. Taat beragama karena salat lebih baik daripada tidur. Suka minum kopi jika Maulidan yang ngajak. Suka makan jika yang traktir Boy Candra. Suka Diskusi jika Alizar Tanjung yang traktir makan minumnya. Suka mengambil yang baik dan meninggalkan yang buruk. Rajin baca buku agar dibilang orang pintar dan cerdas. Ayah tiga anak dan suami satu istri.

mm By DENNI MEILIZON