Sepotong Paha Ayam yang Hangus

UNSPLASH.COM

Seharusnya malam ini, aku dapat meredam suara riuh perutku. Perutku yang sudah sejak tadi pagi merintih ingin segera didengar suaranya terpaksa harus bersabar. Lantaran tahu jika majikannya tidak sanggup memenuhi haknya dengan sengaja. Perutku meluap-luap, meletup-letup, berjingkrak-jingkrk, dan pelbagai usaha lain yang ia lakukan untuk menarik perhatianku—sebagai majikannya. Yang bisa kulakukan hanya membujukinya lagi. Menjejali mereka dengan janji, menenangkan mereka dengan perbincangan santai, hingga kami sama-sama terkapar dalam alam khayal.

Tiga hari yang lalu, tepatnya sepulang sekolah, lantaran bekal sekolah Aren yang berisi ayam goreng, aku pun tersugesti untuk ingin menyantap sepotong paha ayam goreng. Lezat sekali rasanya meski hanya menyaksikan suapan demi suapan nasi yang dilumat Aren, beserta cuilan ayam goreng yang baunya semerbak menyeruak. Aren yang kebetulan sedang baik hati membagikan sisa ayam yang tak dijamahnya kepadaku.

Bukan main! Rasa ayam goreng milik Aren benar-benar berbeda. Terlepas ayam itu adalah hasil potongan makan siang Aren, aku tidak peduli. Bagiku siang itu seperti membawaku ke masa dimana Ibu masih suka memasakkan ayam untukku, dan ayah.

Aku ingat sekali bagaimana ayah suka opor ayam buatan Ibu yang katanya rasa santan dan rempah olahan Ibu sangat berbeda dari opor-opor yang lain. Ibu pun selalu tersipu. Wajahnya tersapu semburat merah berkat hatinya yang membunga.

“Tidak usah beli di warung. Setiap pulang kerja, aku sudah punya koki andalan di rumah. Kita bisa gemuk di rumah ini.”

Ayah tidak pernah kehabisan kalimat pujian untuk ibu. Wanita yang dinikahinya 2 tahun sebelum kelahiranku itu layaknya seorang dewi bagi ayah. Suatu kali aku pernah memperhatikan bagaimana tatapan ayah yang dalam saat mengamati setiap gerak ibu ketika mulai beraksi di dapur atau di ruang makan.

“Ibumu ini seperti pesulap! Meja makan sederhana kita selalu bisa ia sulap jadi benda teristimewa setiap malam.” Begitu ujar ayah di sela-sela makan malam kami.

Aku tidak pernah memperkirakan seberapa lama jangka waktu keutuhan rasa bahagia yang dirasakan ibu. Dua malam kemudian terhitung sejak pujian terakhir malam itu, rasa-rasanya ayah seperti tidak betah di rumah. Meja makan yang selalu ia katakan menjadi benda teristimewa berkat wanita pesulapnya, kini tak lagi mampu menjadi daya tarik.

Ayah yang acapkali menebar senyum dan peluk untukku pun mulai bersikap aneh. Aku hampir tidak mengenali ayah. Sorot matanya mengabur. Picingan sekaligus guratan yang selalu mengiringi kehadiran ayah saat berada di rumah, tidak menunjukkan adanya tanda-tanda kehangatan lagi seperti sediakala.

Ibu—dewinya ayah. Sang pemujanya kini enggan bertegur sapa. Ranjang yang tiap malam selalu diisi kehangatan oleh kepulan cinta, kini harus rela tergantikan sisinya oleh seonggok guling yang sama sekali tak menjamah tubuh dan relung hatinya. Ayah selalu menghabiskan sisa malamnya di sebuah kursi panjang

Keadaan itu terus berlangsung dua pekan lamanya. Hingga akhirnya satu malam berhasil merenggut ayah dari ibu. Di tengah terpaan hela napas dingin sebuah malam yang keji, Ibu menanti ayah di ambang pintu. Gerbang sengaja ibu biarkan terbuka lebar, menggambarkan keresahan ibu. Lalu dari arah jam dua belas perempatan, sebuah motor kumbang datang beserta pengendaranya. Aku lupa persisnya pukul berapa saat itu. Yang kuingat hanyalah aku yang berpura-pura tidur sembari menajamkan pengawasan atas kecemasan ibu melalui telinga.

Jika aku boleh memilih, aku takkan pernah mau mendengar suara-suara itu. Biadab! Malam sunyi yang telah keji, harus bersedia lebih terbiadabi oleh makian-makian yang sama sekali tidak manusiawi. Lalu suara-suara pecahan kaca, dentuman-dentuman perabotan ruang tamu, menjadi iringan tidurku malam itu. 

“Brengsek! Kau kira aku tidak tahu apa yang kau sembunyikan dari siang hari itu?” suara ayah terdengar menusuk telinga. 

Setelah kejadian pada malam yang keji itu berlalu, ayah benar-benar hilang. Aku tidak pernah menyangka jika suasana hangat setiap malam yang kudapatkan di atas meja makan harus sirna seutuhnya. Ternyata tidak hanya merenggut ayah, malam yang keji itu turut merenggut kelembutan ibu. Beberapa kali aku berusaha menanyakan hal tentang ayah, ibu selalu menghindar.

“Jangan tanyakan atau katakan apapun lagi tentang ayahmu!”

Begitulah kalimat yang keluar dari bibir ibu sewaktu aku bersikeras menanyakan tentang ayah. Bagiku ada potongan kejadian yang perlu kulengkapi agar aku tahu benar kemana ayah pergi dan sebab apakah kepergian ayah. Namun ibu selalu bungkam perihal itu.

Seminggu lamanya kami melewati malam-malam yang dingin dan penuh teka-teki. Aku tidur selalu tidur bersama kesendirianku, dan ibu selalu tidur bersama kebungkamannya perihal kejadian di malam yang keji itu. Kami saling menepis waktu, sama-sama mengulur pikiran tentang ayah. Aku pun sama sekali tidak ingin berusaha menanyakan apapun yang berhubungan dengan ayah.

Hari sampailah kami pada Senin di akhir bulan Oktober 2008. Genap satu bulan lamanya ibu menyimpan suasana dingin rumah kami. Selain perintah agar aku segera berangkat ke sekolah, dan tawaran makan, ibu tidak pernah mengangkat suaranya lagi. Hingga siang itu,sepulang sekolah, aku mendapati rumah kami kedatangan tamu. Sebuah motor vespa biru terpajang di depan halaman rumah menanti majikannya menyelesaikan urusannya dengan ibuku di dalam sana.

“Assalamualaikum…”

“Waalaikumsalam..” sahut dua orang berbarengan. Tampaklah raut yang tak asing lagi. Baik bagiku atau bagi ibu.

Lurah Suwardi. Pria matang berusia 55 tahun itu mengumbar senyum sama seperti ketika masa-masa kampanye dulu. Saat ia sebagai calon lurah dengan nomor urut 2 menggembar-gemborkan janjinya untuk membangun irigasi desa mandiri. Bantuan kebutuhan pokok setiap bulan bagi warga kurang mampu yang sudah lolos survei sebelumnya. Tentu aku juga tidak lupa bagaimana warga-warga desa kegirangan berkat jasanya yang gemar menebar uang seratus-ribuan setiap satu bulan sekali selama 3 bulan sebelum masa kampanyenya berhasil.

Dan kini Lurah yang mengaku kaya tujuh turunan itu duduk di atas kursi tak berbusa di rumah kami. Seperti kedatangan tamu agung, ibu yang sudah sebulan lamanya tidak merias meja dengan masakan atau minuman buatannya, kini menyuguhkan kopi hitam untuk Lurah Suwardi. Kopi hitam yang sering kudapati kala ayah menghabiskan waktunya dengan membaca surat kabar di beranda rumah.

“Eh Damar. Baru pulang sekolah rupanya?” sapa Lurah Suwardi. Aku mengangguk.

“Ayo Damar, segera ganti bajumu. Ibu sudah menggorengkan tempe untukmu.” Timpal ibu.

Seperti tersengat listrik, pada siang itu aku mendapat kembali kehangatan ibu. Lantas pada hari-hari berikutnya, ibu telah kembali seutuhnya ke rumah. Meja makan kami kembali meriah. Hanya saja, ibu tetap bersikukuh tidak akan menghidangkan olahan ayam di atas meja makan.

Perihal kembalinya Ibu aku memang bahagia. Ibu tidak lagi bersikap sedingin hari-hari sebelumnya sejak kepergian ayah yang tak kuketahui sebabnya. Bersamaan dengan itu juga, Lurah Suwardi seperti mendapat singgahan baru selain rumahnya, yakni rumah ibu. Ibu beralasan bahwa Lurah Suwardi sedang melakukan survey kepada kami agar kami bisa mendapatkan jatah sembako untuk warga yang tergolong kurang mampu.

“Ibu ini tidak bekerja. Ibu merasa sudah jadi janda Mar, janda. Umur ibu sudah meninggi, tidak laku kalau ibu mau melamar pekerjaan. Meski buruh pabrik sekalipun. Jadi kalau bukan dengan cara ini, kita bisa makan dengan cara apa? Lagi pula siapa yang sudih menolak bantuan dari Lurah Suwardi? Pria itu baik, mapan, dan… punya jabatan di desa ini loh.”

“Tapi Bu,”

“Ah sudah-sudah tidak ada yang perlu diperdebatkan. Itu Lurah Suwardi sudah lama menunggu. Ibu harus kembali menemuinya.”

Lurah Suwardi jadi lebih intensif mengunjungi rumah kami. Kata ibu, kali ini Lurah Suwardi perlu menyurvey besaran daya listrik rumah, dan keadaan rumah kami yang dinilai tidak layak huni. Saat itu pula aroma kopi seringkali tercium menyeruak ke segala penjuru ruang tamu dan juga dapur.

Dari dalam kamar aku sering mendengar bagaimana ibu selalu menyambut Lurah Suwardi dengan kehangatan yang selalu kukenali saat kami makan malam bersama ayah. Sesekali terdengar tawa ibu yang tak seberapa nyaring, namun sudah cukup mengisyaratkan suasana hatinya yang sedang memekar bahagia. Ah, aku bisa merasakan kebahagiaan ibu yang sebentar lagi tak perlu terlalu membanting tulang demi sesuap nasi untuk kami. Lurah Suwardi pasti memberikan kupon sembako itu pada kami setiap bulan. Ibu tentu bahagia,

Hingga tibalah hari ini. Berkat suasana hati ibu yang sedang berbunga, aku berani meminta ibu untuk memasakkanku ayam goreng. Itu semua karena potongan daging ayam goreng sisa bekal makan siang Aren. Dari potongan ayam goreng sisa itulah aku sebagai anak merindukan kehadiran ayah. Meski ibu tetap bungkam perihal kepergian ayah, aku ingin rinduku terbayar lewat masakan ayam ibu. Mungkin aku dapat menemui ayah dalam olahan ayam goreng ibu.

“Bu, aku ingin ibu memasak ayam goreng. Aren Bu, ayam gorengnya lezat sekali. Sepertinya Damar sudah lama tidak menyicipi masakan ayam dari ibu.”

Ibu yang sedang menjahit robekan pada bajuku, seketika menghentikan tangannya. Ibu memalingkan mata ke arahku. Kukira ia bersiap untuk menghardikku, sebab masakan ayam adalah masakan kesukaan ayah. Namun dugaanku salah. Ibu tersenyum dan mengangguk. Kali ini ibu terlihat lebih bahagia dari biasanya. Namun lagi-lagi aku tidak dapat memperkirakan seberapa lama kebahagiaan sekaligus kehangatan ibu akan bertahan.

Malam ini, ibu akan menepati janjinya. Dengan berbesar hati katanya, pagi tadi ibu berbelanja ayam untuk dimasak malam harinya sebagai makan malam kami. Mendengar itu, aku bahagia bukan kepalang. Meja makan akan kembali meriah setelah kepergian ayah yang misterius. Selepas sholat isya di surau desa, aku lantas pulang ke rumah untuk menikmati makan malam bersama ibu.

Sungguh malam yang tak terduga. Setelah sekian lama menanti kehadiran ayah untuk pulang, kini aku mendapati ayah sedang berdiri menghadap penggorengan.

“Ayah?”

Sontak ayah membalikkan badan.

“Hai Damar. Maaf ayah tidak mengabarimu akhir-akhir ini.”

“Ayah sejak kapan kembali ke rumah? Kenapa ayah pergi tiba-tiba?”

“Maafkan aku karena pergi dengan tiba-tiba. Dan sepertinya satu jam yang lalu aku berada di sini. Tadinya aku mencium aroma gosong dari arah dapur. Ternyata sepotong paha ayam goreng ibumu sudah hangus.” Ayah menunjukkan sepotong paha ayam goreng yang hangus di atas piring melamin milik ibu.

“Lalu ibu kemana?”

“Ibumu?” ayah membukakan tirai kamar utama yang biasa menjadi tempat peristirahatan ibu dan ayah.

Ibu tergeletak tanpa busana dengan leher bersimbah darah. Di samping ibu seorang pria yang bertelanjang dada tergeletak dengan kepala yang berlumuran darah. Baju dinasnya mengingatkanku perihal seseorang yang selama ini aku dan ibu sangat kenal. Lurah Suwardi.

“Lihat ulahnya, ia sampai lupa jika ia sedang menyiapkan makanan kesukaan anak dan suaminya.” Ujar Ayah sembari melempar sebilah pisau.

Sepotong paha ayam goreng sudah terlanjur hangus, dan aku hanya memakan kekejian malam. Perutku terus berdemo.

Facebook Comments

About the author

mm
ADE VIKA NANDA YUNIWAN

Ade Vika Nanda Yuniwan. Lahir di Surabaya 21 tahun silam. Saat ini aktif di UKMf Teater Sabit. Beberapa karyanya telah dimuat di media cetak dan media elektronik.

mm By ADE VIKA NANDA YUNIWAN