Secobek Silam Seorang Futuris

Ilustrasi: A Redho Nugraha/janang.id

Cerita [i]

Neraka dalam kepalaku berputar searah kereta api berbahan bakar airmata kaum-kaum maternal yang tak terlindas gizi. Kereta api ini––tanpa disadari oleh para penumpang––tengah melintas di depan pintu rumah seorang gadis kecil yang baru saja menjerang sup untuk ia suapkan pada ibunya yang sakit. Konon, Anatolie––nama ibu gadis itu––berbaring lemah memikirkan bagaimana bentuk pedang Izrail yang tersohor disegala penjuru semesta. Sewaktu menginjak usia pubertas, Anatolie pernah menguping suatu khotbah, bahwa semesta diciptakan Tuhan dalam bilangan ganjil. Seperti kata yang keluar tanpa makna. Bukan, bukan. Ia ingat betul, hanya dari sebuah kata beraroma hening: Kun!

Cerita [ii]

Kemudian kereta melintas dalam lorong berwarna gelap dan beraroma kelam, seiring dengan seorang New Yorker dalam angkutan kota disebuah kota calon metropolitan merasa takut melihat ketinggian apartemen yang selama dua tahun ini belum selesai dikerjakan. Padahal seingatnya ketika berkunjung setahun yang lalu sebuah rumah ibadah mulai mengumpulkan sumbangan untuk pembangunan. Sepertinya puing-puing kenangan ikut runtuh sejak santer berita seorang anak lelaki yang dari berumur hari menjadi berumur tahun menjadi seorang ekonom ternama yang menulis diberbagai majalah internasional. Sesekali anak lelaki yang telah menua digerogoti dunia itu merangkai kata. Semua itu nantinya untuk ia berikan kepada para cucunya yang berdatangan setiap lima tahun sekali. Tepat saat musim salju dinegara yang sejak dulu dicita-citakannya menjadi rumah bagi hari tuanya. Rencananya ini ia susun sejak belajar mengenal cinta. Ia menulis-nuliskan gelarnya sewaktu sebelum wisuda pertama. Kepedihan masa lalu lewat beriringan dengan playlist lagu masa kini sampai ia tertidur hingga matahari telah menggelar sinarnya menyenter kenangan bagi yang silam dan terlupakan.

Cerita [iii]

Kereta melepas gerbong paling terakhir. Dan semua penumpang digerbong yang tidak terlepas serentak berteriak, “Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!”

Cerita [iv]

Pada suatu saat aku menyadari, beberapa orang menulis buku untuk menjadi sejarah bagi lajunya derap peradaban yang tak memberi kesempatan untuk berdoa. Atau sekedar mengingat Tuhan. Ya, bisa jadi. Namun yang paling menakutkan bukanlah neraka yang telah tercipta sendirinya dikepalaku ini. Atau potongan bangkai anjing-anjing yang membelah malam. Semua bangkai itu berarak, dan mengejutkan nyonya cantik yang baru saja memutuskan untuk tidak jadi bunuh diri karena kekasihnya ternyata masih menyukai dirinya. Maka nyonya itu kembali pada kegiatan melarut berbagai krim dan cairan untuk memahat wajahnya menjadi hidung, mata, dan telinga. Meski ia belum belajar meniup nyawa ketika bertemu profesor yang meraih penghargaan Nobel atau ketika berselisih dengan Land Rover seorang penyanyi hollywood yang pernah patah hati untuk menciptakan lagu-lagu makian. Putaran disk jockey sebuah bar yang hanya menyediakan masa depan untuk saling berbagi cerita tentang kota yang membakar dirinya sendiri. Semua itu dilakukan untuk bisa membuat cerita menarik bagaimana sebuah bola bisa menggelinding kearah kiper yang teringat akan ibunya di negeri yang jauh. Meski––saat itu––ia belum menyadari ibunya telah terlindas kereta api tadi pagi. Ketika gadis kecil baru saja selesai menjerang sup untuk seseorang yang kini telah berada di neraka

Cerita [v]

Memandangi bunga terlalu cukup untuk menyenangkan hati seorang nenek yang telah berpuasa selama tujuh belas hari menanti kedatangan cucu tunggalnya bernama masa lalu. Kini cucunya itu sudah besar, namun tetap setia menjadi masa bagi yang lampau. Sesungguhnya menjadi khayalan sehari-hari para filolog yang seolah sibuk mencari dan memecahkan sebuah gelas yang dibuat dari bahan kaca tercampu airmata. Dosa tentang beberapa taxi yang parkir menanti penumpang atau hantu ketika malam mulai melipat meja kursi bartender untuk segera pulang sebelum pagi untuk keinginan sederhana: mengecup pipi anaknya yang akan berangkat sekolah tepat pukul tujuh pagi diantar angin. Ah, angan yang terlalu melambungkan layang-layang dimata seorang yang pada tengah hari akan menemui ajalnya

Cerita [vi]

Di dalam cerita ini aku ingin berterimakasih

sebesar semesta kepada Ibu,

dan Bella.

Cerita [vii]

Silakan pergi setelah semua yang mesti kau ketahui berbagai kekonyolan tentang kenangan masa lalu. Masa lalu yang masih hinggap di beberapa daun dan melengket di ban Lamborgini warna merah yang dibelikan seorang lelaki lulusan perguruan tinggi luar negeri untuk diberikan kepada tokoh fiksi. Lelaki itu tercebur dalam cerita yang pernah dibacanya ketika ia menginjak kulit pisang yang baru saja dimakan sutradara sebelum menaiki pesawat tanpa delay. Perlu kau ketahui, tiket seharga lima buku tulis dari berbagai bank yang didapat dari berbagai seminar setelah makan siang yang paling menjenuhkan!

Tentu saja ketika seorang profesor tamatan dalam negeri berbicara soal situasi internasional seperti kota yang akan kau kunjungi atau bahkan menjadi tempat berliburmu setiap tahun––bukan Tanah Suci. Sebab dirinya mengakui dirinya bukan seorang pesuci yang ketika mati seluruh wewangi meluruh dinding rumah yang baru saja terjual untuk dibeli seorang wanita hanya untuk menikmati angin malam sendirian dibalkon bertemankan malam. Ia sekedar berkata sebab ia telah lupa cara untuk berdoa untuk pergi setelah semua yang mesti kau ketahui adalah kekonyolan yang sama sekali tak berarti bagi siapapun yang membaca ini.

Cerita [viii]

Matahari menerkam perlahan-lahan.

Mimpi tertidur kembali.

Playlist berputar.

Bob Dylan ► Blowin’ in the Wind

Facebook Comments

About the author

HUSEIN HEIKAL

Husein Heikal, lahir di Medan, 11 Januari 1997. Menyelesaikan studi di Universitas Sumatera Utara. Menulis untuk Horison, Kompas, Koran Tempo, Utusan Malaysia, The Jakarta Post, Republika, Media Indonesia dan terangkum dalam beberapa buku antologi.

By HUSEIN HEIKAL