REQUIEM

UNSPLASH.COM

Hari itu tanggal 26 Juni, dan musim panas baru saja berlangsung.

Dalam kurun waktu kurang dari dua belas jam, tempat itu sudah sesak oleh lusinan manusia dan karangan bunga yang berderet di sepanjang dinding-dinding kosong. Setelah memberi penghormatan terakhir, Lilah memilih menepi sembari menatap luar jendela, menyadari jejak embun yang bertempias pada bingkai-bingkai kaca, dan entah mengapa, napasnya memberat meski sekarang dia sedang tidak ingin menangis.

Lagi pula, bagaimana mungkin aku menangisi sesuatu yang tak aku mengerti?

Lilah pun kembali memandangi sepetak foto berukuran 25 x 40 cm yang dipajang di antara karangan bunga, merasakan sesuatu mulai menusuk-nusuk bagian belakang bola mata manakala sosok di balik kaca pigura itu balas menatapnya.

Kau menang, Ayah. Lilah lanjut membatin, rahangnya mengetat. Tapi, kau curang.

Sebab Lilah ingat, ketika mendengar suara ayahnya melalui telepon tadi malam, dia tahu semua akan baik-baik saja. Ayahnya adalah pejuang dan itu akan membuat orang-orang bangga. Ayah tidak akan menyerah, tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Ketika pria itu mengatakan dia ingin bisa bertahan sampai titik terakhir, Lilah memahaminya. Dan sekarang pria itu berhasil memenangkan permainannya sendiri—terlihat dari bagaimana tabung-tabung kecil berisi obat tidur ditemukan berserak di lantai kamar.

Bagaimanapun, kenyataan itu jauh lebih menghancurkan Lilah dibanding kepergian ibunya dua tahun lalu akibat pneumonia. Karena semenjak itu, Ayah tak pernah sekali pun membicarakan kematian. Ayah tak pernah menyebut-nyebut soal pemakaman atau apa saja yang berkaitan dengan hari ini. Tidak ada sinyal-sinyal putus asa yang terbaca, dan fakta itulah yang justru membuat ulu hati Lilah serasa dipilin.

Fakta di mana selama ini ayahnya telah menderita seorang diri.

Sontak Lilah mengalihkan perhatian pada pintu, mendapati wajah-wajah terisak yang serempak memasuki rumah, menyambanginya dengan linangan air mata yang tak juga susut. Pemandangan itu bergerak sepotong-sepotong, sebab Lilah sendiri tak sepenuhnya berada di tempat itu. Dia terlalu sibuk menyelami jalan pikiran sang ayah, dan tanpa diduga, ucapan seorang pastor dalam suatu khutbah tiba-tiba bergema dalam tengkoraknya;

“Bunuh diri merupakan dosa terhadap Roh Kudus sehingga orang tersebut sudah pasti masuk neraka, karena dia telah mengambil nyawa yang seharusnya menjadi otoritas Tuhan.”

Cepat-cepat Lilah mengenyahkan pemikiran itu. Alangkah beratnya menjadi seorang manusia. Setelah bertahun-tahun tersiksa oleh penderitaan dunia, kematian yang semestinya adalah akhir dari rasa sakit justru menawarkan sesuatu yang lebih mengerikan.

Neraka.

Sejujurnya, Lilah sungguh ingin mempercayai semua itu, akan tetapi apa yang dia saksikan beberapa waktu lalu, secara tidak langsung, membuatnya skeptis.

Lilah tahu. Sebelum menjemput kematiannya sendiri, sang ayah adalah penganut katolik yang taat. Setiap hari melakukan novena, dan melaksanakan misa di gereja adalah rutinitas akhir pekan yang tak pernah dilewatkan. Kenangan-kenangan itu bergerak silih berganti dalam ingatan Lilah, mendorongnya untuk lekas bergegas menerobos kerumunan pelayat, menaiki undakan tangga, dan memasuki kamar ayahnya untuk menemukan sebuah lukisan yang digantung tepat di sebelah salib, yang berseberangan dengan ranjang tidur.

Sang Perawan Maria.

Tak lama setelah itu, terdengar nyanyian-nyanyian yang dilantunkan dari lantai bawah pertanda kebaktian pemakaman sudah dimulai.

Dengan lagu-lagu sedih yang sayup mengisi lorong-lorong telinga, Lilah membalurkan telapak tangannya pada potret perempuan berkerudung dalam lukisan itu. Bunda Maria—wanita paling suci yang dipanggil untuk melahirkan Sang Juru Selamat, yang kemudian melihat putranya itu mati demi menebus dosa-dosa manusia.

Tapi pengetahuan itu tidaklah cukup, karena bagi Lilah, agama adalah teka-teki. Agama beserta keteraturannya membuat Lilah bingung, membuat Lilah tidak nyaman. Masing-masing memiliki pengikut yang begitu yakin diri mereka benar, bahwa jalan merekalah satu-satunya. Dan sepanjang sejarah yang bisa Lilah ingat, mereka selalu berperang serta menumpahkan darah demi membuktikannya.

Yakini ini, dan hanya ini, karena kami bilang begitu. Jika tidak, kau akan membeli tiket sekali jalan ke neraka…

 “Hei.”

Entah sudah berapa lama Lilah menekuri lukisan itu sampai tak menyadari kehadiran seseorang yang kini telah berdiri di ambang pintu kamar. Ternyata Kaleb.

“Kau tidak pergi?” vokal Kaleb yang rendah dan dalam seperti semburan air baptis bagi Lilah. “Kau tidak ingin melihat ayahmu untuk yang terakhir kalinya?”

Lilah masih kehilangan suara. Butuh jeda yang cukup panjang untuk mencerna peristiwa demi peristiwa dan membentuk satu kesimpulan: Ayah sudah mati, dan semua tak lagi terasa sama. Lantas bagaimana selanjutnya?

“Orang-orang akan berangkat ke pemakaman,” terdengar Kaleb menggumam seraya menginjakkan kaki ke dalam kamar. “Kau tidak pergi?”

Desahan berat berembus dari bibir Lilah. “Aku berpikir… ini hanya mimpi.”

Kaleb bisa melihat memar-memar tak kasatmata sewaktu menyoroti wajah Lilah. “Aku tahu,” mendadak dia lupa bagaimana caranya menghibur seseorang yang tengah berkabung, namun Lilah adalah separuh hidupnya, jadi sebisa mungkin dia memberi respons terbaik. “Ayahmu sudah berjuang, dan sudah seharusnya kita memberinya penghargaan.”

Perkataan Kaleb membuat tenggorokan Lilah kering. Dia menelan dengan susah payah, dan napasnya mendadak gemetar. Di saat itulah Lilah menyadari, benteng yang mati-matian dia pertahankan sejak tadi sudah melebur bersama sebutir air yang menyelinap keluar meninggalkan pelupuk. “Maafkan aku, tapi aku tidak bisa—” serta-merta Lilah menyeka wajah, namun alih-alih, air matanya justru saling berdesakan merembesi pipi. Berengsek, Kaleb. Dengan perasaan kebas, Lilah berpaling untuk menghindari iris mata segelap batu bara yang masih menatapnya, lantas berpaling menghadap jendela. Dia benci terlihat lemah, tetapi Kaleb selalu tahu cara melumpuhkannya meski tanpa melakukan apa pun.

“Kesedihan adalah hal yang wajar, Lilah,” setelah terdiam beberapa jenak, Kaleb akhirnya berbicara lagi, seolah sedang memberi izin. “Kau tak perlu malu mengungkapkannya. Kau tak perlu menyiksa dirimu dengan menahan semuanya sendirian.”

Lilah yang angkuh. Lilah yang seperti mawar. Kaleb mengenal perempuan itu sebaik dia mengenal dirinya sendiri. Tak ada alasan bagi Kaleb untuk menolak keberadaan Lilah yang serupa tebing curam. Yang selalu menariknya hingga ke dasar. Yang selalu membawanya ke tempat terdalam dan paling sunyi.

Di bawah tangga, beberapa pria membopong peti mati sementara yang lain mengekor dari belakang seperti pawai. Suasana duka yang kental meliputi gerakan-gerakan mereka; bahu terjatuh, mata sembap, dan kepala tertunduk.

“Kal,” Lilah baru dapat berbicara lagi setelah menghabiskan tangis yang sengaja dia redam sejak semalam, dan, lewat jendela, dia bisa melihat para pelayat mulai berduyun-duyun meninggalkan rumahnya. “Apa ayahku akan masuk neraka?”

Pertanyaan itu sedikit mengejutkan Kaleb. Intonasi dan tekanan yang terpancar dalam suara Lilah mengingatkannya pada gulungan ombak di pesisir pantai. “Ayahmu orang yang baik. Dan, kau tahu, orang-orang baik tidak akan…”

“Tapi, ayahku bunuh diri.”

Sontak Kaleb terpaku. Satu hal yang baru dia sadari, kesedihan yang meledak barusan bukanlah wujud dari kehilangan, melainkan sebuah ketakutan. “Dengar, Lilah,” Kaleb menghela, berusaha hati-hati agar ucapannya tak menjadi ranjau. “Ayahmu hanya ingin tidur, dan Tuhan membawanya ke tempat yang lebih damai.”

Jawaban Kaleb tak memberi kesan apa-apa bagi Lilah. Dia mengerti, Kaleb cuma ingin menghiburnya. “Apa menurutmu Tuhan itu benar-benar ada, Kal?”

Awalnya Kaleb diam, namun akhirnya mengangguk juga. “Bagaimana denganmu?”

Perempuan itu lantas membalikkan badan sedikit. Sepasang matanya kembali bertumbuk pada lukisan Sang Perawan Maria seolah di sanalah jawabannya. Usai termenung sepersekian detik, Lilah pun berkata, “Aku tidak tahu.”

“Kau meragukannya?”

Lilah mendengus pelan. “Setelah kematian kedua orang tuaku, semua menjadi tidak mudah,” dia mengatakan itu sambil memberanikan diri menatap Kaleb langsung. “Bagaimana mungkin kau mempercayai sesuatu yang tak pernah kau mengerti?”

“Tuhan bukanlah sesuatu yang harus dimengerti.”

“Kalau bukan, apa gunanya orang-orang mempelajari Alkitab?” Sinar mata Lilah menyorot intens. Ketika pandangannya menyapu sekitar, dia masih bisa mengendus aroma khas tubuh ayahnya yang bercampur dengan pengharum ruangan. Samar, suara petir menggelegar di luar seperti bunyi tabrakan.

Ini aneh. Tak biasanya hujan turun di musim panas.

“Begini,” Kaleb lalu berdeham seraya mengambil beberapa langkah ke depan, mendekat pada Lilah. “Mungkin kau berpikir aku sedang membicarakan literatur-literatur yang memuat ajaran-Nya, tapi bukan itu maksudku.”

“Lalu apa?”

“Apakah kau percaya pada kehadiran Tuhan?” giliran Kaleb mempertanyakan hal itu. “Seperti ketika kau memandangi semburat jingga saat matahari terbenam, atau meresapi desau angin yang berembus di sekitar wajahmu—apa kau juga merasakan keagungan-Nya? Apakah kau merasa, di dalam hatimu, kau sedang menyaksikan karya Tuhan?”

 Tanpa diduga, Lilah tertawa pelan. Sarkastis. “Omong kosong, Kal,” namun suaranya masih bergetar. Kedua kakinya yang ramping bergerak menuju ranjang, terduduk di sana. Satu pertanyaan kini menggantung dalam benak Lilah:

Bukankah seharusnya agama membimbing dan membuat orang merasa nyaman? Bukankah Tuhan berkata demikian?

“Tuhan pasti menghukum ayahku,” ucapan itu dilontarkan selirih mungkin, dan Lilah langsung menarik napas. “Tak peduli sebanyak apa dia beribadah, sepatuh apa pada agama, kenyataannya dia—”

“Bagiku, agama itu tak lebih dari sebuah bahasa, Lilah,” Kaleb segera memotong, enggan melihat tangis yang mungkin akan kembali pecah dan membuatnya sakit. “Kita terpengaruh oleh ritus agama tertentu yang diajarkan kepada kita semenjak kecil, lalu menjadi terbiasa dengannya, berpikir bahwa  semua itu bagian dari diri kita, padahal sebetulnya, Tuhan tidak bekerja seperti yang kita pikirkan. Tuhan berada di luar bayangan kita. Dan, yah, kau tahu, agama hanyalah bahasa bagi manusia untuk mengenal tuhannya.”

 Lilah tak pernah mampu menyangkal pesona yang dimiliki Kaleb. Cara bicara. Kata-kata yang dipiliih. Gestur yang ditunjukkan. Lilah tak pernah mengerti. Sama seperti ketika dia mempertanyakan Tuhan. Sama seperti ketika dia mempertanyakan gagasan tentang kematian. Lantas dia bangkit untuk mengamati beberapa pelayat yang masih berdiri di bawah jendela, dan seorang perempuan paruh baya yang berada di antara pelayat itu langsung mendongak untuk memanggil dengan mulut besarnya, “LILAH! APA KAU HANYA AKAN DIAM SAJA DI SANA? CEPATLAH TURUN!”

Itu Bibi Carol Si Mulut Besar.

“Tuhan menyayangi ayahmu maka Dia melindunginya.” Lilah memutar kepala dan melihat Kaleb tengah berbicara kepadanya. “Ayahmu sedang berangkat menuju keabadian. Kau tidak ingin mengantarnya?” lelaki itu kemudian bertanya dengan senyum tipis seraya mengulurkan telapak tangan.

Lilah menerima uluran itu. “Di keabadian, ya?” [ ]

Facebook Comments

About the author

mm
AMALIAH BLACK

Amaliah Black lahir pada 28 September 1996 di Palembang.
Seniman gagal, musisi gagal, dan penulis gagal sebab motto hidupnya adalah my life is a failure ~
Bisa dihubungi lewat ponsel 081315580258 atau email amaliah.butterfly@gmail.com

mm By AMALIAH BLACK