PUISI-PUISI SURYA GEMILANG; MEMAKAN DAGING BAYI

unsplash.com

MEMAKAN DAGING BAYI

ratakan bedak itu di dagingnya sebelum getah
keyakinan yang lengket keluar dari pori-pori.

bungkus dengan selembar daun wasangka,
panaskan dengan api beraroma kesturi dan

terik yang pernah memarut belulangmu.
tunggu selama tiga puluh menit sampai

kerisauan mematangkannya—menantangnya
dengan harum kemenyan dan kata-kata

yang dipalsukan dengan puisi. selagi kau
menyiapkan menu pendamping, daging bayi

itu akan merekah di dalam selimut biologisnya,
menangis-memanggil keterjagaan langit, dan

memulangkan doa-doa yang selalu kauucapkan
sebelum makan.

Denpasar, 2016

PANAS WABAH

/1/
angin musim panas menjebakmu di balkon
tertinggi
kaulihat wabah-wabah purba mengambang
di langit bagian timur
kota

kematian satu dan kematian dua berlompatan
dari rumah ke rumah
—mereka berdua bersembunyi
di sunyi botol molotov

/2/
kompas yang tak tahu arah memandumu
ke puncak nikmat paling
rendah

mata angin yang rabun jauh mengantarmu
ke pemberhentian terdekat
yang paling
asing

/3/
awan-gemawan di atasmu pecah:
siapkan gelas sebanyak mungkin
tampung wine yang tumpah;
biarkan menghantam bumi
perasaan berdosa yang terlampau basah

/4/
anak-anak boleh mandi di laut
bersama bubuk mesiu yang tak kunjung
dilarutkan garam

di cakrawala, kita melihat burung-burung gagak
terbang
mencari batas dunia masing-masing

Denpasar, 2016

DI DEPAN GERBANG

dua orang satpam di depan gerbang yang
angker
tak ada tubuh yang boleh lewat, kecuali
kata-kata

di dalam, kau mungkin sedang membaca
catatan kematian
kau mungkin sedang memperhitungkan
terbang kupu-kupu yang tak mungkin terduga

*
keheningan tembok bergelayut di
pundakmu
keangkuhan gerbang mengulum
perangkatku

keasaman lambung langit terlihat mengambang
di atas rumahmu. dari jendela tampaklah kau,
kesibukan, kebisuan, dan kebusukan.

*
dua utas ulat memusnah dedaun di kebun
ikan-ikan di kolam itu mencari kekeringan udara
dan pantulan bulan yang tak mungkin

lebah-lebah menjaga sarangnya di pohon mangga
yang angkuh
aroma jamur-jamur
dan hamparan lumut
memalsukan tawa riang anakmu yang
bermain seorang diri di kebun itu

*
pikiranku tak berbahaya
pun pikiranmu:
kita saling mencoba untuk menebak
—dan sengaja gagal

perkataanku kepadamu melewati kedua satpam
dan gerbang yang angker itu. perjalanan perkataanku
sama tak terduganya dengan terbang kupu-kupu.

di dalam, kau mungkin sedang mempelajari
suatu apa yang tak pernah ditemukan
kau mungkin sedang berusaha mengelarkan
sebuah prosa yang tak boleh diakhiri

Denpasar, 2016

PISAU DI IGAKU

atap rumahku menampung sarang merpati
igaku menampung sebilah pisau

awan-gemawan menyimpan surat-surat yang tak
terbaca
angin menyimpan sejumlah kabar yang tak boleh
kaudengar

seorang bocah berjongkok di tepi got
tak ada air bersih hari ini
dan seterusnya
—termasuk air matanya

seorang bocah berjongkok di tepi got
ia menemukan sesuatu yang lebih
bersih
ketimbang risau pisau kata-kata

Denpasar, 2016

PERAYAAN ANGIN

angin dengan dosis berlebih
merayap
di ruang makan

gelas-gelas dirasukinya
menipu setiap kerongkongan

debu ditidurkannya di piring-piring
yang membuat bibirku
berkedut

sehelai-dua helai angin tersangkut di
sela gigi
sebatang garpu

tiga helai berpusing
di perut balita yang
menangis
di
pangkuanmu

Denpasar, 2016

EMPAT BUAH SAJAK BUAT AKU YANG BODOH

/1/
ia bersembunyi di balik semak-semak
menghadap setapak
aku lewat
diterkam oleh hasrat

/2/
sang kesatria pun bangkit
ia mesti bertempur
hingga darahnya habis terkuras
berwarna putih

/3/
dari seberang telepon
ada yang bergolak
kabel gosong berbau anyir darah
kami sebutir pulau yang hanyut

/4/
babi di pucuk rembulan
gagak-gagak mematuk-matuki
remah-remah babi
rumah-rumah remah

Denpasar, 2016

MIRANDA

maka miranda melukis gunung di dadamu
sementara pohon-pohon cemara menjauhkan
gunung itu darinya

dengan cat berbahan kimia yang langka
dadamu jadi serawan bibir jurang
tatkala empuk bibir miranda hendak mendarat

tiba-tiba seekor gagak hinggap di kepalamu
ia mematuk mata kiri-kananmu
dan menjadi mata ketiga

bagi miranda

Denpasar, 2016

Facebook Comments

About the author

mm
SURYA GEMILANG

SURYA GEMILANG. Lahir di Denpasar, 21 Maret 1998. Buku pertamanya adalah antologi cerpen tunggal berjudul Mengejar Bintang Jatuh (2015). Kumpulan puisi Cara Mencintai Monster (2017) adalah buku keduanya. Karya-karya tulisnya yang lain dapat dijumpai di lebih dari sepuluh antologi bersama dan sejumlah media massa

mm By SURYA GEMILANG