PUISI-PUISI MAULIDAN RAHMAN SIREGAR; MENULIS PUISI UNTUK DIKIRIM KE KORAN

UNSPLASH.COM

MENULIS PUISI UNTUK DIKIRIM KE KORAN

aku menulis puisi pukul 07 pagi dan selesai
delapan tahun kemudian. kata-kata dalam
puisi itu banyak sekali, sungguh sangat
merepotkan. di dalam puisi itu sendiri, ada
redaktur yang sekiranya akan menerima
puisi, sudah ada ilustrasinya, dibikin oleh
anak yang kadang-kadang bikin mural, pun
juga ada aku, si puisi itu sendiri, lengkap
dengan ucapan selamat yang akan
dikirimkan oleh teman-teman yang melihat
puisi itu dimuat, baik dari kalangan
sastrawan serius, pun juga dari kalangan
sastrawan yang kurang

anu, puisi itu selesai setelah mantan pacarku
yang kemudian jadi pacarku dan kemudian
kunikahi dan kemudian bikin anak itu, kaget,
kalau ternyata puisi sudah agak keren
sedikit, dia mengira kan dulunya, kalau, puisi
itu nyebelin, ribet, luhur, adiluhung, sastrawi,
menyentuh sukma, menggoyang jiwa,
melebur isi, dan berakhir di selangkangan?
selangkangan?

ehem, tidak. kata selangkangan dalam puisi
ini sejatinya lebih baik Anda anggap tidak
ada, meski mata Anda melihat anu, eh, itu.
sebab, gini lho, ya, siapa yang menaruh
selangkangan di koran coba? di rubrik puisi
pula

kan gila Anda itu!

2019

GELAS KOPI, ABU ROKOK, DAN PAKET ISI ULANG PROVIDER KESAYANGAN YANG MENGANTARKANKU PADAMU

menuju jantungmu dengan berlari
sekencang laju doa orang-orang saleh
yang diterima langit, aku kenapa ya,
tiada letih-letihnya
mencintaimu dan melewatkan banyak
info menarik dari provider kesayangan,
paket malam yang seharusnya kita
selesaikan dengan saling melempar
senyum edisi juli 2019 melalui jalur
video call, namun kau
nayatanya memilih Tuhanmu,
-yang kebetulan Tuhanku juga, btw
untuk kembali membalas doa yang
kau ulang setiap hari, agar kau selalu
bertaubat dan bertaubat dari cinta
dan bahagia yang fana.
asbakku ada sebenarnya, tapi abu-abu
lebih memilih udara untuk ditinggali,
dan bulatnya asap, masih mengepungmu
di sana.
lagi, seperti biasanya, aku meluncur
ke layar di mana kau tinggal sementara,
atau selamanya?
entah, kukira pertanyaan itu tidak
boleh dijawab, sebab, ya begitulah.
jadi gini, kekasihku
muach

2019

BUCIN

selamat ulang tahun,
kecemasan demi kecemasan
setiap bulan, kita selalu menanti tanggal
baru, untuk mengisi hari baru. hari selalu
baru?
pukul tujuh pagi kita
memanjat matahari dan tersangkut
di awan, malamnya
kita banyak memutarkan lagu-lagu
barat. kita?
untuk mengisi malam-malam gabut
mempertebal kesepian. kesepian?
tidak ada air mata di situ
tidak ada kesedihan
kita selalu bahagia, bercinta sekuat
tenaga. kita?
ih, gelap segala takut
ih, takut tanpa peluk
rasuk, masihkah kita bertahan hidup.
kita?
lebih purnakah kita, dari wortel
yang diberi nyawa?
kita?

Ketaping, 26 Juli 2019

TEMARAM /4/
buat; calico

aku datangi kamar lusuhmu dengan diri yang
temaram, mengajakmu ke tepi peradaban,
menghayati betul bunyi titik air pendingin
ruangan, hujan di luar, dan bebunyian musisi
kenamaan, agar purna kilau tubuhmu, agar
hilang keluh kesahmu

kilaumu meleburkan aku, dan mendatangi
kamar lusuhmu untuk kesekian kali: adalah
mati berkali-kali

aku menikmati kematian demi kematian itu
sambil mencari playlist lagu terbaru,
kutangkap kau dalam bunyi, kuhirup kau
dalam sunyi, lebur berkali-kali lagi

tubuh yang temaram telah redup, kilaumu
membunuhku berkali-kali, dan setiap
kematian, tetap saja aku mendengar,
“hai temaram, selamat datang
terima kasih telah datang”

Maret, 2019

PELACUR-PELACURKU YANG IMUT

daging yang kau jual di beranda
dan aplikasi pemanis wajah
dan ah, aduh, kau buka dan
kau tutup lagi, jantungku!
getar sekujur tubuh
rebah dan kemudian lebur
kau mendidih di dalam darah!

pelacur-pelacurku yang imut
dan semok dan uhuy, hai
aku melipatku ke dalam doa,
maksudku, aku melipatku
untuk bisa melipatmu, membunuhmu
berkali-kali!

namun, tetap saja
kau selalu hiasi beranda

kau rekap semua emotikon
yang menuju jantungmu, dan
detaknya adalah kebahagiaan

kau serius, kau bahagia?

tidak, biar aku saja manisku
biar aku saja yang jadi alasanmu
untuk terus mengupload isi jantung!

2019

DI RUMAH SAKIT

di rumah sakit, ibu hamil ngangkang
lakinya di kirinya, bakapnya kanan
eh, bapaknya
si ibu hamil tadi menonton yutub
cara merawat bayi.
aku, di depan mereka, kaget
karena dalam ngangkangnya ibu
saya melihat seorang anak,
lucu, seperti si bapak

di bangku antrian
dekat handphone-handphone diisi ulang
dua pasang binatang pacaran
kepala si jantan, rebah
di selangkang tuan putri

dan, saya, bertanya kepada Tuhan
di mana sih, letak rasa humor?

saya ingin menangkap anak si ibu hamil
dan dua ekor binatang yang pacaran itu,
ke dalam kamera, dan mengunggahnya
di instagram, tapi saya takut, selamanya
di rumah sakit

2019

UNYU

tubuhmu sejuta kata
alamat pulang seluruh puisi
alamat tuju doa-doa
kembali, aku selalu kembali

anak-anak akan berdandan di situ
dan membikin rumah-rumahan
agar selalu tinggal
anak-anak akan hamil di situ
melahirkan banyak bahagia

luka, tangis, dan kematian
tiada berumah di tubuhmu

ah, aduhai unyu sekali

2019

PUISI TERAKHIR

percayalah, gaes, puisi ini adalah puisi terakhir yang akan kutulis, sebab, kata-kata itu lho ya, nyebelin betda, masa, puisi doang kudu keren gitu, puisi doang lho ini, gaes, belum hidup dia tu, ditaruhnya aja masih di rak non fiksi, ya…, yang palsu-palsu gitu-lah gaes, hm, ya, ini puisi terakhir gaes, kutulis di sini. di tubuh jelek tak teratur ini, biar apa? ya biar agak-agak gitulah. kelen pada terharu-haru gitu, pengen muntah tapi tak muntah – pengen nangis tapi masih ehem – pengen tepuk tangan. dan puisi ini akan sedih amat, btw. ya, itu, ini adalah caraku untuk hilang, agar terbuang. terbuang dari apa? ya gatau, gaes, etapi, pokoknya ya gitu. ini adalah puisi paling sedih di muka bumi, aku menulisnya pakai niat, gaes. pakai niat!

dan cintaku, manisku, sayangku, bunyi jantungku, isi hatiku, dih, ini kenapa malah kek curhat, ya? gatau, namanya juga puisi sedih, puisi terakhir pula, jadi, ya gini. niatku menulis ini ya itu, untuk menulismu cintaku, manisku, sayangku, bunyi jantungku, isi hatiku, muach muach muach, agar keluar dari ranah non fiksi. kau tahu aku kenapa? gatau ya, apa ga peduli? gimana sih, gimana. iii-uuuu-, ya, pokoknya gitu dah, iii, uuuu, ribet pokoknya mah.

dan, ini akan sampai ke mana, akhir di mana? oi, puisi terakhir, kok gini-gini amat, kok benar-benar sedih, aelah, jadi ini benar-benar syedi nich? seriusan?, hm

ah, bikin puisi terakhir kenapa gini-gini amat dah cintaku, manisku, sayangku, bunyi jantungku, isi hatiku, muach muach muach, hm, yaodala ya, besok-besok ni, kubikin puisi terakhir lagi di bumi, lebi syedi, biar purna tubuhmu, biar ehem yang lekat di ruhmu

ya, uhuy, bagimu, aku akan jadi puisi terakhir di bumi, jadi, gimana beb, gimana? hm…

2019

Facebook Comments

About the author

mm
MAULIDAN RAHMAN SIREGAR

MAULIDAN RAHMAN SIREGAR, lahir di Padang, 03 Februari 1991. Penyair bukan, cerpenis tidak, tapi pengen. Buku puisinya, Tuhan Tidak Tidur atas Doa Hamba-Nya yang Begadang (Erka Publishing; 2018), Menyembah Lampu Jalan (Purata Utama; 2019)

mm By MAULIDAN RAHMAN SIREGAR