PUISI-PUISI ILHAMDI PUTRA; ORANG ULAK KARANG

https://ccsearch.creativecommons.org/

TENTANG ITOV

Itov adalah gelak berderai dini hari
tersesat malam di persawahan, memutar di parakjagung gagal panen
bulan mengambang, udara berat bikin masuk angin
bara tulang daun di ujung kretek menahan kantuk.

Itov adalah cerita reformasi, ingatanperlawanan
sekumpulan pemuda hilang malam
pertikaian berpuluh tahun diperam dalam lambung.

Itov selalu gelak berderai untuk melawan kantuk
bila subuh datang, di situ ia kuak yang tak terbilang.

Payokumbuh, 2018

SERANAH

Akan kukirimi induk hantu di malam pertamamu
untuk menempeli lelaki yang sengaja menyambut tangan juru nikah
di Jumat siang lalu, biar dibikinnya panas kelansangan sebatang tubuh lakimu
sebagai ganti kesepianku memandangi lintasan mendaki ke arah dusun itu.

Malibo, 2018

GABRIELA

Di mana letak lubang knop bila amuk telah sampai ke ambang?
Malam mengambang di luar jendela, bulan berulang pada hitungan yang itu jua
tak ada lagi kereta melintas. Pukul telah tinggi.

Sebab di lubang kunci bergerigi itu, kudapati ketakutanmu
gemertap rahang, pekik lari ke dalam, sendi berangin,
pada itu juga kutemukan ketakutanku
ingatan tentang selasar bergema bikin kantung mata kita bundar.

Tapi dekaplah peluk lenganmu seperti kanak dulu, Gabriela, besok akan sediakala
bilamana pintu tak lagi dihempaskan tengah malam buta.

Jakarta, 2018

UNTUK AUGIA

Kota ini selalu tentang hari lalu
ingatan angin barat menghempas gelombang ke darat
cuaca direka dari panjang-pendek celana,
harga kemengertian ditera dari landai cakrawala
dan kita tahu, awan hujan berbentuk pecahan tembikar itu
adalah kegamangan, adalah keragu-raguan akan hari depan.

Seperti takut hantu, takut bila maut menjemput
kita akan jadi arwah gentayangan,
tapi musimberganti tetap menanggalkan usia
cuaca mengetam badan, udara buruk mengisap ubun
pinggang kehilangan ukuran, lengan tinggal seruas buluh talang,
kenangan tertinggal di luka bekas tusukan jarum
terpasak pada kering lutut disebabkan tubuh kekurangan cairan
dan kita tahu, selalu ada yang mesti berlalu tanpa perlu dilupakan.

Padang, 2017

RUANG TUNGGU

Kau masih di ruang tunggu
di hadapan layar tajam tembakan cahaya
menekan siku ke meja yang mengidap beku pendingin ruangan
bangku-bangku ditinggalkan jauh sebelum gelap
dan terang bola lampu itu semestinya padam beberapa jam lalu.

Kau mengetahui keberangkatanku
jauh hari sebelum bengkalai kain dikemas
sebelum hujan bukan pada musimnya turun di lintasan ini,
aku di ruang lain, di mana kata berangkat hilang dari pesan singkat.

Kau dan aku adalah orang tinggi hati
yang menyimpan kalimat itu ke dalam ponsel
dan mematikan sinyal gelombang radio ke dalam saku
melipat kilometer ke dalam pesan singkat gagal terkirim.

Ketaping, 2017

DI PAUH

Di Pauh, lampu-lampu menolak padam
aku mencari seorang lain dalam tubuh
penyair yang tidur di atas gelombang
penyaru yang menghilang di sehelai ilalang.

Jangan menjadi seorang yang tak begitu kukenal
kembalilah ke dalam tubuh, lepaskan hasrat baru
aku ingin dengar kau yang dulu.

Tapi di Pauh, bahasa terasa benar akan membunuh
kemari, masuki aku sebagai nazam baru.

Padang, 2018

DI TELUK JAKARTA

Kau pandang matahari rendah, bayangan langit akan malam
pasir berungguk membentuk delta serasa menyumbat pembuluh jantung,
kau ingat limau busuk tertinggaldi jalur pulang, tak lagi kau jemput kau jenguk
hari-hari meninggalkanmu lebih jauh, nasib tersangkut mata pukat.

Selalu ada yang lain dari matahari terbenam di teluk ini
awan tak pernah beranjak dengan gerak yang sama
ombak disembunyikan pasir berungguk
sisa tahun meninggalkan ranum jejak di seberang
sesuatu yang menjadi kitatertinggal di kejauhan.

Segala gema dihanyutkan pasang
kau menyeka asin hari lalu ketika langit sepenuhnyagelap
lebih dari sekedar lindap,
seorang dari kau dan aku harus pergi
memasuki kesunyian sendiri-sendiri.

Jakarta, 2018

ORANG ULAK KARANG

Sebab daratan setentang rumah itumeninggi
karang sampai ke ambang pintu, lubang udara bergaram
atap diduduki angin laut bikin keras tempurung kepalamu,
kau bilang telah mengganti belah rambut untuk membuka ubun
sebab ingatan buruk terus mengetam kuduk
tapi kau kembang tukak di panggul buat menolak bala demi bila.

Kau bikin nisan dari karang, untuk didekap seakan kekasih
yang tak dilepas untuk pelayaran, sebab kau membayangkan hari tua
dengan ayunan dipaut pada dahan cemara kipas, memutar lagu sendu
teramat sendu bagi seorang yang menolak patahan kukumu
yang kau pinta untuk tinggal lebih dari sekedar menetap.

Tapi bayang-bayang bakal membuaimu hingga terjungkal
dan batuan laut selain rumah bagi umang-umang
juga untuk kau hantamkan dahimu yang seluas nampan,
telanlah karang dibelah ombak pecah
tanam ke dalam batang tenggorokmu.

Padang, 2018

NILAM

Beri aku harum yang lain
aku ingin yang lebih rebak
dari sekedar wangi tengkukmu.

Jakarta, 2018

Facebook Comments

About the author

mm
ILHAMDI PUTRA

Ilhamdi Putra lahir di Padang, Sumatera Barat, peneliti di Forum Analisa dan Studi Hukum (FASIH).Menulis puisi, analisa hukum dan telaah politik. Diundang pada beberapa acara kesusastraan, November lalu menghadiri Malam Puncak Bulan Bahasa UGM 2018 (Yogyakarta), Payokumbuah Literary Festival 2018 (Payakumbuh). Tulisannya disiarkan di media cetak dan elektronik, serta terhimpun dalam beberapa antologi bersama. Puisinya yang berjudul Jakarta ditetapkan sebagai juara pada Bulan Bahasa UGM 2018.

mm By ILHAMDI PUTRA