PUISI-PUISI ADITYA ARDI N; REFRAIN DARI LAGU KEPERGIAN

unsplash.com

FORGOTTEN

tak ada bulan
malam membimbingku dalam kesunyian
sebutir kacang di antara tumpukan daging
sebagaimana cintamu telah menyekapku di ruang hampa tahun-tahun
tubuhku telah kalis disabung angin pengembaraan

demi rasa pahit yang merenangi seluruh musim
kubongkar katedral mimpimu tentang awan dan api
cinta barangkali telah memupus riwayatku dari semesta
tiap kali rindu memanggil aku datang padamu serupa bayi yang meminta susu

di antara pelukan malam mulutku kerap bergumam
cinta, cintaku padamu setulus puisi merestui langkah kaki
bila nanti kita berdua telah beralih dimensi
namamu kuangankan abadi
meneduhi bait-bait puisi yang kutera ini

NOMOFOBIA

tengkukmu yang licin menggelincirkanku
menuju padang halimun yang memamerkan samun wajahmu
dapat kusaksikan seluruh kelambanannya
senyummu yang kudus sekaligus bius

lalu kugali kembali bangkai-bangkai ciumanku
berharap menemu kembali degub rindu
saat pertama kuraih pinggulmu dan dengan gemas kupagut perutmu
—seolah kita tengah mereguk aroma mabuk terindah

cinta meleleh dari bibirmu, aku sadap getahnya
rindu menjelma pakaian dalammu berwarna merah muda
yang di atasnya dulu sempat kutera madah cinta
kubaca dengan menggebu seirama lenguhmu

sementara lupakan bioskop, kamar hotel, mall, taxi,
dan seluruh ruang yang selalu berderak meneriakkan yel-yel percumbuan
sekalipun kau tinggalkan sebentuk lubang di hulu jantung
yang selalu memaksaku bermuka-muka dengan kenangan
kupastikan maut tak kuasa menjilat kulitku yang tropika

VIA DOLOROSA

bagian dari cinta mana yang tak melukaiku
batang-batang rindu yang kau tanam dulu
mengering bersama kambium cintaku disapu waktu
dahan-dahan rindu yang dulu menjelma panel surya
kini ia cuma bisa gugurkan daun-daun sendu

bagian dari cinta mana yang tak melukaiku
angin januari menggelung mendung di pelupuk musim

dan seperti kau tau
menunggu membuatku seperti pepohonan
yang mengubur diri ke dasar bumi
tapi tak jua kuputuskan masuk ke jantung angin
lantaran sibuk menyiapkan kematian yang flamboyan.

MEMBEBAT LUKA WAKTU

ku jahit sendiri lukaku dari tikaman belati rindu
kutebus kembali keberanianku yang dulu kugadaikan padamu

meski di genggamku tak ada sejambak kembang
aku berdiri, kuseret langkah pergi mencari
ibarat surat, akulah surat tanpa alamat

ku jahit sendiri lukaku,
rasa sakit tlah kuinjak di bawah tumitku
semoga waktu berpihak padaku
untuk bersetia menjagai petak-petak kosong mimpiku

LAST DANCE WITH YOU

tak ada kamera yang kuasa mengekalkan tubuhmu
dalam lukisan cahaya malam itu
di ambang akhir februari yang basah
hujan tak lagi malu menyentuh tanah.

angin dan mendung bersekutu dalam mufakat jahat
mengusir lebah dan kupu-kupu yang berburu madu

dan tuhan selalu baik sekalipun iklim sedang fasik
februari, sore, dan gerimis adalah tarianmu,
yang menyaru nyanyian sendu,
sinema yang tercabik− puisi yang tertakik.

dan sebuah akhir, bagaimanapun semestinya dirayakan.
meski tak lagi mungkin kau lipur laraku
yang kadung menggelung mendung.

mendung yang bakal jadi gerimis di mataku
gerimis yang selalu mengerti
bagaimana cara mengakhiri
ribuan cakap dalam sekali dekap

tapi iklim yang fasik selalu tau cara paling licik
membasmi cinta kupu-kupu pada nektar bunga-bunga.
ia patahkan sayapnya, mengantar jiwanya ke neraka

END OF THE RAINBOW

cintanya yang keras kepala
seakan tak pernah minta ampun pada apapun

ia yang mampu memendam dalam
sejarah kepedihan di palung jantungnya

dan sekuntum bunga lili di hari hujan
di bawah malam yang diliputi merkuri
adalah kesedihan yang lain lagi

hanya musik yang ia butuhkan
dengan sedikit sorot lampu
untuk menyatakan sebuah lagu,
sebuah notasi jazz murni,
menyentakkan pukulan perkusi
ke hadapan satu-dua penonton yang putus asa

REFRAIN DARI LAGU KEPERGIAN

Pertemuan desember dengan januari
kerap mendetikkan rindu dan kesumatku padamu
menyuguhkan wangi tengkukmu sekali lagi
seketika itu tubuhku menjadi air sungai
menjilat-jilat bebatuan dan lumut kenangan

dulu yang aku tahu di palung hatimu
tersimpan laut yang mencintai seluruh musim
sebelum angin keraguan meniupkan ombak
yang menumbuk karang−gemuruhnya aku catat di dada
menjadi sebuah risalah dan sisanya selinting puisi gering

setelah mengucap selamat tinggal
kepada semua yang kelak bernama pertemuan
aku sangkal segala pelukan pun seluruh ciumanku yang rabun

malam-malam turun telanjang memamerkan pahit putingmu
meski telah kulupakan irama derit ranjang dan seluruh riwayat percumbuan

segala jalan yang kulalui tak pernah kehabisan tikungan
dan kusaksikan januari tak henti memamerkan hantu wajahmu

di luar segala kesedihan yang bunting—dalam bisik paling rahasia
sebuah perpisahan semestinya dirayakan bukan dengan sedu-sedan

aku mati berkali-kali dan dihidupkan lagi
untuk sekadar merayakan kepergian-kepergian
yang sebenarnya tak pernah diingini

14-01-2018

Facebook Comments

About the author

mm
ADITYA ARDI N

Aditya Ardi N, Lahir di Ngoro - Jombang, Jawa Timur 7 Januari 1987. Bukunya yang telah terbit: Mobilisasi Warung Kopi (2011), Mazmur dari Timur (2016). Kini tinggal dan berkarya di Jl. Musi no 137, RT 02/RW 02, Dusun Gresikan, Desa Ngoro, Kec Ngoro, Kab Jombang, Jawa Timur

mm By ADITYA ARDI N