PUISI INDAH DARMASTUTI; ATAS NAMA RAHIM

https://wayang.wordpress.com/

ATAS NAMA RAHIM

#Amba:
Bunga cempaka putih yang kupetik dari jejalanan Kasi
Kurangkai-untai dengan benang dukalara
seperti tali pusat menyusup rahim merah kirmizi
Yang terlunta dari gegabah lelaki penggores takdir
Tatkala titah dari langit itu hadir

Kukalungkan sudah pada pagar gelegar awan tempat
Para dewa dan kisahnya mengundangku untuk melawan

Menghitung harihari
Mengukur hatihati
Seberapa jarak antara cinta dan kematian

Bunga cempaka putih petikanku tak akan layu
Demi pengingat hunus senjata kesewenanganmu, Bisma!
Demi pengikat kepengecutanmu, Salya!
Demi kesetiaan yang mulai basi

#Gandari
Mantra hitam semburat merah sudah kurapal dari kegelapan
dari sesobek kain pemberontakan penutup mataku
melilit ketat hingga jantung yang menyurut menjadi ungu
“sembilu adalah sendok yang kupakai untuk menyantap kabar dari batu-batu, tentang kematian anakanakku.”

rahimku sedang menenun takdir bertahun lalu
perwujudan mimpi sublimku
yang kurunut dari balik bantal tidur
tempat gelisah yang kini terjawab sudah
di sana, di Kurusetra.

#Drupadi
sudah lunas sumpahku melaluimu, Bima si Lembut hati pujaanku
darah sudah kauperas dari nadi Dursasana musuh bebuyutan rahimku
mengucur di ubun-ubun membasuh kidung dendamku hingga susususu
kini akan kugelung lagi mimpi-mimpi
bersama doadoa yang kujerang setiap hari

#Kunti
ketika kupanah jantung matahari
dengan ujung sebiji mantra yang baru kuraut tadi pagi
rahimku robek dan tersemai jabangbayi
aku tersengal. kaget setengah mati
“Permainan macam apa?
bahkan cium dan lumat bibir pun tidak.”

dan semua sudah terlanjur dimulai
ketika kupanah jantung matahari,
rahimku, terbit gerhana.
oleh muslihat dongeng usang para dewa.
sialan! aku hamil karena mantra, bukan sanggama.

#Bismahanta
Astaga!
tentu tak menyenangkan kabar ini untukmu, Bisma.
hadirku hanya diperlukan untuk membunuh Sang Jagoan.
benar, mungkin terlalu memalukan jika kau dibunuh perempuan.
sehingga perlu pertanyakan rahim seorang wadam
hidup ini memang sialan, ya Bunda Kunti.
tetapi lebih sial menjadi Srikandi.

Facebook Comments

About the author

mm
INDAH DARMASTUTI

Indah Darmastuti tinggal di Solo. Buku terakhir yang diterbitkan adalah Sehimpun Cerita Makan Malam Bersama Dewi Gandari. Persis sekarang sedang mengerjakan Audiobook. Merekam pembacaan cerpen dan puisi, dipersembahkan untuk teman-teman difabel netra.

mm By INDAH DARMASTUTI