Puisi dan Hidup

ISTIMEWA; TitikKumpul #1, Puisi dan Anak muda

Pengantar
Ketika saya memulai untuk menulis catatan sederhana ini, laptop saya tiba-tiba mati sendiri. Saya berusaha untuk menghidupkan kembali. Percobaan pertama gagal. Hening sejenak. Di percobaan kedua berhasil. Update¬-an smadav keluar tapi saya skip. Saya langsung menuju microsoft word, setelah refresh beberapa kali. Dan mulai menulis. Menulis, coy! Menulis.

Defenisi Puisi
Tidaklah patut rasanya jika saya, anak baru di kesusastraan yang agung ini, untuk mengenalkan defenisi puisi kepada kawan-kawan. Sebab, saya yakin dan percaya, ada segelintir kawan-kawan di sini, yang sudah mengenal puisi sejak menginjak bangku sekolah dasar. Menginjak? Yap, sebab, saya yakin dan haqqulyaqin, kawan-kawan di sini dilahirkan tidak langsung menjadi anak kuliahan, bekerja, dan bercocok tanam. Itulah kenapa saya beri judul catatan tipis-tipis ini “Puisi dan Hidup”, karena, puisi itu adalah hidup. Kita, – atau barangkali saya saja – dihidupi atau menghidupi puisi. Kita tidak bisa luput dari puisi. Maka, lahirlah diksi-diksi keren di tengah kehidupan kita. Ayam kampus, hotel melati, buaya darat, kembang desa, rumah pohon, atau bahkan rumah sakit. Jika dihayati, puisi semua itu.
Puisi bagi saya, adalah hidup. Semoga kawan-kawan sepakat.

Tips Menulis Puisi
Banyak pakar yang telah memberikan tutorial menulis puisi ini di berbagai media, kawan-kawan bisa menemukannya di mana pun, sejauh keinginan kawan-kawan mencarinya. Makanya, sebagai orang yang tidak pakar, mudah-mudahan, saya masih boleh untuk memberikan semacam tips ini. Agar, kawan-kawan yang, sekiranya ingin berkeras-keras di perpuisian Indonesia, dapat pula memulai puisi. Sangat gampang, koq.

1. Menulis yang dekat
Dekat dalam artian yang sebenarnya. Tidak ada majas di sini. Jika kawan-kawan dekat dengan orang tua, tulislah orangtua. Jika dekat dengan ayam, tulislah ayam. Jika banyak waktu kawan-kawan habis di pasar, tulislah pasar. Jika kawan-kawan masih kuliah, tulislah kampus.
Apakah anak-anak kuliah boleh menulis politik? Boleh, dan akan keren begitu. Hanya saja, untuk menulis yang tidak ‘dekat’ dengan kita, kita mesti punya ilmu untuk itu. Ilmu itu bisa kita dapatkan dari riset, dan hal-hal lain yang akan memakan waktu lama. Untuk sebuah puisi saja, akan memakan waktu yang berbulan-bulan. Serius? Kalau mau serius, lakukanlah!

2. Menulis dengan jujur
Jujur adalah menempatkan sesuatu pada porsinya. Pas. Ada yang bilang juga kalau jujur adalah kesesuian antara ucapan dan perbuatan. Bahkan, ada yang bilang juga, kalau jujur itu kesesuaian antara hati dan tindakan. Di mana tidak kerennya itu?
Orang yang menulis dengan jujur, akan tidak melebih-lebihkan diksi. Tidak akan membuat bangunan puisinya menjadi ‘ribet’ semata. Tidak akan membuat puisinya malah menjadi tidak enak dibaca. Jika ingin menulis cinta, ya, harus jatuh cinta dulu. Agar nanti puisimu itu tidak menjadi curhat semata. Atau sekadar pengandaian.

3. Paham kaidah
Meski puisi dilindungi lisensi, menulis puisi juga butuh tahu kaidahnya. Banyak itu di internet. Malu kita sama polisi bahasa jika masih menulis di atas dengan ‘diatas’. Untuk menembus media (cie cie), perlu sekali ini.

4. Baca karya orang lain
Entah kenapa, saya masih percaya kalau tidak ada lagi yang baru di bumi ini. Makanya, untuk dapat menulis puisi, kita perlu membaca referensi dari beberapa penulis lain. Apakah nanti untuk mengenal penulisya kawan-kawan mengikuti akun media sosial penulisnya, itu soal lain. -kalau mau saja. Sedihlah kita kan, kalau, sama Eka Kurniawan saja tidak kenal. Kenal Pidi Baiq saat Dilan di-filmkan. Atau kenal Bumi Manusia lewat Iqbal CJR.
Persiapkan diri kawan-kawan untuk membeli buku-buku, meminjam ke pustaka, dan lain-lain. Jangan budayakan meminjam buku teman. Sebab, jika kita merasa buku –yang kita pinjam- itu bermanfaat bagi kita, akan sulit sekali rasanya kita kembalikan.

5. Mulailah menulis
Jangankan sebuah puisi. Untuk huruf ‘A’ saja, jika kawan-kawan tidak ingin menulisnya, kawan-kawan tidak akan menulisnya. Jika kawan-kawan mau, kawan-kawan akan menulis ‘A’. Jangan khawatir, kalau puisi yang kawan-kawan tulis itu jelek. Santai saja. Itulah kerja kritikus sastra nanti. Dibantai-bantainya karya itu. Lalu sembunyi di sudut jauh, dan mulai menulis lagi. Sampai agak mendingan.

Manfaat Puisi
Dengan mata puisi, saya tahu mana orang-orang yang mencari uang, mencari proyek, dan mana yang mencari cewek. Mana orang-orang yang bisa dijadikan kawan, dan mana yang boleh dihutangi. Ke mana saya bisa menumpang tidur, dan buku penulis mana yang boleh saya terima gratis –meski lebih sering menolak digratiskan- serta, buku puisi mana yang oke keren badai.

Dengan hati puisi, saya bisa dapat banyak teman, dan akan menjaga pertemanan itu sampai mampus. Saya juga mendapatkan musuh gara-gara puisi, dan berusaha tegar untuk selalu memafkan. Baik kelemahan saya, maupun kepintaran ‘musuh’ saya.

Dengan kaki puisi, saya bisa melangkah ke mana pun saya mau.

Penutup
Jika catatan sederhana ini membuat 1-2 menit kawan-kawan habis percuma, dan jika ada kawan-kawan yang tersakiti, saya memohon maaf jauh-jauh sebelum catatan ini ditulis.

Facebook Comments

About the author

mm
MAULIDAN RAHMAN SIREGAR

MAULIDAN RAHMAN SIREGAR, lahir di Padang, 03 Februari 1991. Penyair bukan, cerpenis tidak, tapi pengen. Buku puisinya, Tuhan Tidak Tidur atas Doa Hamba-Nya yang Begadang (Erka Publishing; 2018), Menyembah Lampu Jalan (Purata Utama; 2019)

mm By MAULIDAN RAHMAN SIREGAR