PENTINGNYA FIQIH PENYANDANG DISABILITAS

Ilustrasi; Ai Sahidah

OLEH:
PROF.DR..DUSKI SAMAD, M.Ag
Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Provinsi Sumatera Barat

Disampaikan Pada Bedah Buku Fiqh Disabilitas, Senin 23 Desember 2019 di Padang.

Setelah membaca buku Fiqih Penyandang Disabilitas, kami berpendapat buku ini penting, dibutuhkan dan strategis dalam memuliakan saudara kita penyandang disabilitas. Buku Fiqh Penyandang disabilitas ini adalah kerja ilmiah berharga bagi kepentingan kemanusiaan, utamanya dalam memberikan pemuliaan kepada insan mulia ciptaan Khaliq yang nasibnya ditakdirkan disabalitas. Buku yang diawali dari penelitian ilmiah dengan metodologi yang dipercaya memiliki akurasi sahih dengan locus penelitian pada daerah yang kuat iklim keislamannya tentu dapat menumbuhkan keyakinan bagi pembaca, bahwa data, fakta, narasi dan dalil yang dimuat di dalamnya dapat dipegang sebagai pedoman hukum dan penentu sikap meresponi masalah yang terkait dengan disabilitas.

Tulisan ilmiah keagamaan yang dihasilkan oleh ulama, ilmuwan dan faqih kemudian diperkuat pula melalui kajian kolektif bahsaul masail, seperti buku ini, adalah khazanah ilmu pengetahuan yang sudah padat, kuat, dan sedikit sekali ruang yang memungkinkan adanya kesalahan fatal, la tajtami’u ummati alad dhalalah (umatku tidak mungkin sepakat atas kesesatan), dapat menjadi garansi kekuatan dan kehandalan buku ini. Buku yang sengaja ditulis dalam menjawab kebutuhan umat, biasanya lebih terencana dan ditujukan untuk memberikan perlindungan terhadap hak-hak disabilitas, maka kehadiran buku ini adalah ijtihad kolektif yang sangat bernilai tinggi dan diharapkan menjadi bahan keilmuan dan penentu kebijakan pemerintah.

Mencermati kandungan buku yang mencakup 4 (empat) aspek penting disabilitas, yaitu aspek ubudiyah (ibadah), aspek muamalah (tata pergaulan), aspek siyasah (kebijakan publik), serta ahwalusy syahsiyah (perdata Islam/pernikahan dan keluarga), dapat dimengerti bahwa konten buku ini adalah bahagian utama kehidupan nyata yang dialami disabilitas dan perlakuan masyarakat terhadap mereka.

Penjelasan aspek pelaksanaan ibadah bagi disabilitas adalah memenuhi hajat hakiki disabilitas untuk lebih percaya diri dalam melaksanakan ibadah, sekaligus menghentikan keraguan di antara masyarakat, khusus penyedia layanan umat di masjid, misalnya membawa kursi roda, tongkat penyangga ke dalam masjid. Fiqh ibadah disabilitas juga akan besar manfaatnya bagi pengurus Masjid, Surau, Mushalla, dan Langgar dalam merancang bangunan toilet, tempat wudhu’, tangga, dan tempat lain yang diperlukan penyandang disabilitas. Fiqh ibadah disabilitas jelas akan memberikan kesempatan lebih luas bagi penyandang disabilitas untuk taat, dan menghindarkan perbedaan pendapat yang tak perlu dalam hal sah atau batalnya ibadah penyandang disabilitas.

Kajian berkaitan muamalah jelas akan memberikan pemuliaan pada disabilitas, sehingga mereka diperlakukan sebagaimana aslinya, ciptaan Khaliq dengan kondisi yang diperuntukkan baginya dengan hikmah yang tak mudah dialami. Pandangan tidak lurus, stigma dan pejoratif terhadap disabilitas dapat dicegah bila fiqh muamalah disabilitas dimengerti dan diamalkan. Dai, khatib, ustad dan penceramah akan dengan mudah mentabligh kan bagaimana mestinya memperlakukan penyandang disabilitas bila fiqh muamalah ini dipelajari akar, nash dan penalaran ulama tentang disabilitas dipahami dengan benar dan baik.

Fiqh disabilitas dari aspek politik tentu akan menolong penentu kebijakan politik, negara, legislatif, eksekutif, di tingkat nasional dan daerah membuat rumusan undang-undang dan peraturan daerah yang berpihak pada disabilitas. Lebih dari itu fiqh politik disabilitas berarti besar bagi penyandang disabilitas untuk memastikan mereka ikut bertanggung jawab dalam menentukan arah kehidupan berbangsa dan bernegara.

Tinjauan fiqh ahwalusy syahsiyah (perdata Islam/pernikahan dan keluarga) terhadap disabilitas adalah pemenuhan hak dasar penyandang disabilitas. Esensi berkeluarga bagi disabilitas sama halnya dengan manusia biasa, hanya soal fisik saja yang berbeda, oleh karena pengat

uran tentang pernikahan, hak tanggung jawab suami isteri, pengasuhan anak dan semua hal yang berhubungan dengan keluarga wajib hukumnya dipenuhi. Lazim dan banyak terjadi suami isteri yang disabilitas, mereka melahirkan anak biasa dan memiliki indrawi yang sempurna, maka urusan keluarga kaum disabilitas tidak boleh dipandang remeh.

PARADIGMA KEMULIAAN
Allah SWT berfirman:

“Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak-cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.” (QS. Al-Isra’ 17: Ayat 70)
“Sungguh, Kami telah Menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”(At-Tin 4)
Yang Memperindah segala sesuatu yang Dia Ciptakan dan yang Memulai penciptaan manusia dari tanah, (As-Sajdah 7). “(Itulah) ciptaan Allah yang Mencipta dengan sempurna segala sesuatu.”(An-Naml 88). “Allah-lah yang Menjadikan bumi untukmu sebagai tempat menetap dan langit sebagai atap, dan Membentukmu lalu Memperindah rupamu.”(Ghofir 64).
Nash di atas harusnya memasti kan kepada siapapun bahwa insan dalam keadaan seperti apapun adalah makhluk mulia dan di muliakan, begitu juga hal nya dengan disabilitas. Paradigma mulia dan kemuliaan yang diberikan yang Maha Kuasa pada disabilitas menjadi kewajiban bagi makhluk untuk lebih memuliakan penyandang disabilitas. Paradigma mulia dan memuliakan disabilitas adalah titik berangkat memberikan perhatian dan penyikapan lebih sempurna. Perlakuan tidak ramah dan memandang tidak penting kaum disabilitas adalah peremehan terhadap Khaliq.

Perspektif mulia dan kemuliaan pada disabilitas memungkinkan adanya pandangan pada disabilitas selain naif, mitos dan takdir. Realitasnya di masyarakat anak disabilitas dipercaya sebagai sumber rejeki. Ada pula yang menerima kehadiran disabilitas sebagai pembawa berkah. Apakah itu semua mitos, yang jelas disabilitas dihargai dan dipandang mulia.

MASJID DAN DISABILITAS
Harus diakui Masjid belum banyak memberikan perhatian pada disabilitas. Sarana fisik, jalan, tangga, toilet, tempat wudhu, kursi roda, dan kebutuhan disabilitas lainnya belum banyak disediakan takmir masjid. Menjadi keharusan bagi pengelola rumah ibadah menyediakan fasilitas untuk disabilitas, karena mereka adalah manusia mulia sepertinya manusia lain. Kesadaran mendalam pada mulia dan kemuliaan disabilitas akan mengubah kebijakan dan prioritas pembangunan pengurus masjid.

Pihak pengelola Masjid dipercaya mereka yang taat dan kuat keberpihakannya pada jamaah, tak terkecuali jamaah disabilitas, oleh karenanya dukungan pengurus masjid untuk menyediakan fasilitas ramah disabilitas sangat dinantikan. Begitu juga hal dengan penyandang disabilitas dengan menempatkan diri secara baik, benar dan bertanggung jawab dalam memanfaatkan fasilitas untuk kebaikan yang lebih luas.

Best Practice Masjid Haram, Masjid Nabawi dan Masjid besar di pusat kota yang sudah menyediakan fasilitas disabilitas adalah bahan ajar bagi masjid lain untuk dilakukan. DMI dan pengurus Masjid diminta ikut memberikan dukungan pada perjuangan hak-hak disabilitas. DMI memberikan apresiasi terbitnya buku Fiqih Penyandang Disabilitas ini dengan harapan memberikan manfaat luas.(*)

Facebook Comments

About the author

mm
Prof. Dr. Duski Samad, M.Ag

Prof. Dr. Duski Samad, M.Ag, Ketua MUI Kota Padang, merupakan dosen dan guru besar di UIN Imam Bonjol. Tulisannya tersebar di beberapa media cetak dan aktif mengelola Duski Samad Institute. Salah satu bukunya yang sudah terbit, Konseling Sufistik (Grafindo Press Jakarta; 2017)

mm By Prof. Dr. Duski Samad, M.Ag