PENGUATAN NASIONALISME MODAL SOSIAL KAMTIBMAS

Akhir-akhir ini muncul tindakan, gerakan, dan perilaku orang atau kelompok yang berpotensi melemahkan nasionalisme bangsa. Pertentangan antar kelompok masyarakat, perselisihan antara satu organisasi dengan organisasi lain, tindakan pengibaran bendera negara asing dalam wilayah Indonesia dengan tujuan provokatif adalah indikasi nyata melemahnya nasionalisme bangsa. Prilaku main hakim sendiri, merasa kelompoknya paling benar, menegasikan anak bangsa sendiri, saling curiga antara satu elemen masyarakat adalah bahaya laten yang berpotensi meruntuhkan nasionalisme.

Bangga dengan produk luar, meremehkan buatan anak negeri, merasa”lepas tangan” dengan penderitaan saudara se bangsa, tidak acuh dengan penderitaan saudara se tanah air dapat dikategorikn pada lunturnya nasionalisme dan tercabutnya semangat kebangsaan.

Pemegang kuasa yang tak segan menilep uang negara, korupsi, manipulasi, pungli, dan tindakan melawan hukum adalah realitas rusaknya nasionalisme penyelenggara negara yang akibatnya dapat menghancur kan bangsa ini.

Kecurangan di pasar, di kantor dan di meja pejabat pengambilan keputusan penting, kesembrawutan di jalan raya, kebiasaan mencontek di sekolah, plagiasi ilmiah di kampus, dan beragam ketidakjujuran lainnya adalah ekses dari sudah runtuhnya nasionalisme di dada anak bangsa.

Kecurangan dalam mendapatkan dukungan suara pada pemilihan yang berujung pada terbelahnya organisasi sosial, partai politik, dan kelompok komunitas awalnya adalah karena sudah tidak kuatnya tali kebangsaan yang membuat orang tidak mudah bertenggang rasa.

Tawuran pelajar di jalan raya, perkelahian mahasiswa di kampus, perkelahian warga antar gang, cakak banyak antar nagari, kerusuhan berujung pembunuhan supporter di lapangan bola dapat juga dikatakan sudah rapuhnya solidaritas bangsa.

Sifat kegotongroyongan masyarakat yang menipis ditandainya sulit kerja bersama dalam lingkungan kecil membersihkan drainase perumahan adalah indikasi merosotnya tanggung jawab kolektif yang juga bahagian dari lunturnya nasionalisme.

Penebaran berita bohong terhadap kompetitor politik, pembunuhan karakter antar calon anggota perlemen, saling menyerang yang tak beralasan dan tanpa ada fakta di kalangan tim sukses baik Pileg maupun Pilpres adalah cara-cara tidak fair yang berakibat buruk bagi nasionalisme.

Ekses paling mengkhawatir kan adalah ketika ada warga bangsa yang melakukan gerakan penolakan dan atau pengantian dasar negara Pancasila, mengubah bentuk negara NKRI, mengajukan pikiran tidak sehat paham komunisme dan paham lain nya. Tindakan melawan hukum positif, merusak tatanan kebangsaan yang bhinika tunggal ika, mengingkari kesepakatan founding father, mengaku diri sebagai paling nasionalis, sembari menuduh pihak lain tidak nasionalis adalah bentuk provokasi dan agitasi yang membahayakan nasionalisme bangsa.

SETIA NEGARA BANGSA

Terma setia negara bangsa ini menjadi perbincangan serius pada Ijtima’ Komisi Fatwa MUI di Kalsel saat menmbahas fatwa bela negara. Dalil yang dijadikan wajibnya bela negara di antaranya surat al-Taubah (9):7 bahwa Indonesia negara dalam perjanjian (mu’ahad). Konsekwensi perjanjian negara bangsa yang disepakati pendiri bangsa menimbulkan kewajiban untuk tunduk pada titik kesatuan bangsa, kalimatun sawa’, dengan merujuk pada al-Qur’an surat Ali Imran (3):64).

Atas dasar negara perjanjian dan kesatuan pandangan hidup Ketuhanan Yang Maha Esa dan kesatuannya dengan sila-sila berikutnya mengharuskan penguatan nasionalisme.

Wujud nasionalisme sejati, bukanlah pada claim, jargon dan slogan, tetapi lebih pada kesetiaan hidup berdamping an dengan rukun damai dalam wadah NKRI yang meniscayakan keragaman. Nasionalisme dinamis yang hendak diperkuat adalah mengembangkan potensi insani bangsa yang beragam untuk mencapai kualitas hidup yang adil, sejahtera dan bermartabat. Nasionalis me yang dipromosikan dan hendaknya terus dikembang kan seperti yang dikemuka kan mujaddid Islam Syekh Muhammad Abduh, hubbul wathan minal iman, artinya cinta tanah air adalah bahagian dari iman. Pesan nya mencintai bangsa adalah implementasi iman.

Kesetiaan pada negara bangsa pada hakikatnya adalah memuliakan hasil perjuangan pahlawan bangsa, dengan suci dan tulus merelakan nyawanya untuk Indonesia merdeka. Kemerdekaan sebagai gerbang emas kemajuan bangsa sulit dapat dimasuki bila warga bangsa tidak lagi kokoh nasionalismenya.

Kemajemukan bangsa adalah sunnah kehidupan yang dianugerahkan Yang Maha Kuasa tentu tidak boleh terciderai oleh primordialis me ke daerahan, suku dan entitas lainnya. Setia pada kebhinikaan hanya dapat terwujud bila toleransi berjalan efektif dan dinamis.

Bangsa yang dapat disebut memiliki spirit kebangsaan bila egoisme sektoral dapat ditundukkan pada kepenting an bangsa yang lebih luas. Perebutan pengaruh sosial masyarakat, partai politik, birokrasi, dunia usaha, kalangan terdidik, dan elemen bangsa lainnya tidak memaksakan kehendak pada warga bangsa, maka dapat diyakini keserasian sosial dapat terpelihara yang manfaatnya nasionalisme bertambah kuat.

TOLERANSI DAN MODERASI

Penguatan toleransi sebagai modal dasar nasionalisme di lingkungan MUI direferensi pada keharusan menghargai perbedaan iman dan tidak bolehnya memaksakan iman, surat al-Baqarah (2):256).

Mengenai moderasi komisi fatwa MUI dalam teks fatwanya mengunakan istilah wasthatiyah artinya jalan tengah atau moderat. Dalil yang dipakai adalah surat al- Baqarah (2):143).

Toleransi dan moderasi yang menjadi prasyarat dalam penguatan nasionalisme ini sering pula tidak dipahami utuh dan ada malah yang melewati batas yang ditentu kan.

Toleransi dalam makna kesediaan untuk menerima adanya perbedaan adalah level dasar untuk menguatkn nasionalisme. Toleransi menerima keragaman bukan dimaksudkan menjadikan keyakinan, ideologi dan pandangan hidup harus seragam. Toleransi dalam bingkai nasionalisme adalah menjadikan kebaikan bangsa sebagai tanggung jawab bersama.

Toleransi yang diikat oleh perjanjian luhur untuk hidup berdampingan secara baik adalah wujud nyata nasionalisme normal. Masyarakat Madani yang di bentuk Rasul di Madinah adalah model kerjasama nasionalisme progresif yang harus dipedomani. Piagam Madinah (al-Misaq al-Madani) adalah konstitusi klasik yang paling relevan untuk diterapkan pada warga bangsa yang memiliki sejarah sama, seperti Indonesia.

Toleransi bukan berarti permisif, membolehkan antar iman saling berganti ritual, bukan pula membagi rata kue hasil kerja kolektif sama besarnya, akan tetapi membagi sesuai proporsinya. Toleransi tidak pula boleh dikembangkan pada mengambangnya identitas diri, dan menjadikan semua milik komunitas tertentu, akan tetapi toleransi itu bermurah hati menerima pihak lain dalam batas sesuai aturan formal dan kepatutan sosial.

Toleransi dapat berfungsi bila sikap moderasi ada pada warga bangsa. Moderasi artinya mengerti dan mengaktualisasikan diri secara tepat, akurat dan memilih cara damai dalam solusi konflik. Sikap keras, ekstrim, dan radikal adalah cara yang berlawanan dengan moderasi. Moderasi tidak berarti membiarkan kejahatan dan perusakan, akan tetapi moderasi memilih cara-cara musyawarah, elegan dan damai. Moderasi lazimnya lambat hasilnya, namun ia lebih langgeng dan menimal korban.

Moderasi sulit dicapai bila kualitas bangsa belum kuat, “sumbu pendek” dalam artian mudah meledak karena minus kecerdasan dan atau emosi tak terkendali adalah ancaman bagi tumbuhnya nasionalis me yang lebih baik. Pendidikan dan pendewasan bangsa adalah kerja besar untuk nasionalisme baik.

BIJAK DAN ADIL

Nasionalisme semangkin diperlukan ketika orang bijak sudah langka. Pemimpin opurtunis, politisi minus ideologi, pengusaha bangkrut moral, pemimpin agama miskin ketulusan, pekerja orentasi uang semata, kaum perempuan tak punya malu, generasi muda sleboran adalah bahaya dan racun paling menakutkan yang memati kan orang bijak. Bijak artinya mereka yang dengan cepat, sigap dan tepat dalam menentukan sikap dalam menghadapi situasi genting dan mampu pula menjelaskn alasan logis yang diambilnya.

Bijak tidak hadir begitu saja, ia butuh waktu, proses dan disain sosial budaya yang positif dan kreatif. Intelektu alitas mumpuni, pengalaman hidup beragam dan tempaan situasi adalah akumulasi yang dapat mencetak orang bijak. Nasionalisme sesung guhnya hanya bisa berjalan bila komunitas bijak dominan dalam menentukan haluan bangsa.

Kunci paling utama dari penguatan nasionalisme adalah tegak dan kuatnya keadilan. Adil adalah kunci pandora nasionalisme, naif jadinya bila adil tidak tegak dan kuat. Sejahtera akan semangkin menjauh bila adil terciderai. Khatib Shalat Jum’at selalu mengingatkan jamaah tentang adil dan urutannya yang harus ditegakkan. Ayat al Qur’an surat An-Nahl (16):90) menjadi dalil wajibnya menegakkan keadilan untuk menuju kehidupan makmur dan sejahtera lahir batin.

Akhirnya dapat ditegaskan bahwa jelang Pileg, Pilpres 2019 semua pihak diminta untuk terus menguatkan nasionalisme sebagai perangkat kehidupan berbangsa dan sekaligus akan memudahkan terwujud nya hankamtibmas di Sumbar dan Indonesia. DS. 27.10.2018.

(Disampaikan pada pertemuan tokoh, Senin, 29 Oktober 2018 di Hotel Suaso Padang)

Facebook Comments

About the author

mm
Prof. Dr. Duski Samad, M.Ag

Prof. Dr. Duski Samad, M.Ag, Ketua MUI Kota Padang, merupakan dosen dan guru besar di UIN Imam Bonjol. Tulisannya tersebar di beberapa media cetak dan aktif mengelola Duski Samad Institute. Salah satu bukunya yang sudah terbit, Konseling Sufistik (Grafindo Press Jakarta; 2017)

mm By Prof. Dr. Duski Samad, M.Ag