Pengetahuan dan Ketidaktahuan

Ilustrasi; Ai Sahidah

Ilmu pengetahuan tanpa kebajikan adalah ketimpangan. Hal-hal yang tak bisa dipecahkan ilmu pengetahuan, diselesaikan kebajikan. Tanpa kebajikan, ilmu pengetahuan bisa disalahgunakan. Demikian juga, tanpa ilmu pengetahuan membentuk ketidaktahuan. Ketidaktahuan, adalah awal kebodohan yang bisa mencelakakan diri sendiri.

     Setiap hari kita pergi ke sekolah, apa yang dicari? Ilmu pengetahuan! Tapi, dari setiap buku pelajaran yang pernah kita miliki dan ilmu pengetahuan yang dijelaskan guru, tak membuat kita mengetahui semuanya. Bahkan, apa yang sebenarnya telah ditulis berkali-kali di buku pelajaran dan diterangkan guru pun, masih terlewatkan karena tak pernah dibaca, tak diperhatikan, hingga  tak tahu sama sekali.

     Alhasil, banyak di antara kita yang sudah tamat SMA/SMU, tapi jika disuruh menyebutkan nama-nama presiden RI dari yang pertama sampai sekarang, belum tentu bisa menjawab. Atau, disuruh menyanyikan lagu Indonesia Raya masih macet-macet dan lupa lirik. Yang paling mencengangkan, saat penulis menonton acara kuis kecerdasan di sebuah stasiun televisi. Peserta/orang dewasa, berpakaian rapi dan tampak terpelajar, diberikan pertanyaan pertama, “Matahari terbit di sebelah…?” Peserta yang ditanya ternyata tak tahu dan terpaksa memakai alat bantu menelepon kenalannya. Kenangan itu tak terlupakan di benak penulis hingga sekarang, walaupun sudah puluhan tahun.

     Lalu, yang membuat penulis rada kheki, saat anak penulis disuruh gurunya menerjemahkan biografi seorang tokoh terkenal ke dalam Bahasa Inggris. Penulis membantunya dengan mencari bahan biografi di google, lalu memutuskan untuk memilih riwayat Chairil Anwar, seorang penyair pelopor Angkatan’45 kelahiran Medan yang sangat terkenal. Anak penulis, tak mau menerjemahkannya.

     Katanya, “Siapa itu Chairil Anwar? Kenapa Mama pilih biografinya untuk diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris?”

     “Lho, bukankah Chairil Anwar itu sangat terkenal? Penyair terkemuka, kelahiran Medan, siapa pun pasti kenal dia. Apalagi anak sekolah!” jawabku.

     “Kok aku nggak kenal, Ma?” tanyanya.

     Ya, ampun! Sudah SMA! Aku pun sibuk mengingat-ingat kembali, apakah nama Chairil Anwar yang sering ditulis di buku pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia zaman penulis sekolah dulu, sekarang sudah jarang atau tak pernah lagi disebut?

     Kalau Chairil Anwar tak tahu, jadi dia tahunya apa? pikir penulis. Ohiya, pastilah nama tokoh-tokoh di game Mobile Legend, seperti Alpha, Katarina, dan lain-lain.

    “Jangan paksa aku terjemahkan biografi orang yang tak kukenal. Itu kan bidang Mama. Kalau bidangku, Michael Jackson, Roy Purdy, Justin Bieber, Luis Fonsi, Daddy Yankee.”

     Dari semua nama yang disebutkannya, hanya setengah yang penulis ketahui, itu pun karena dia selalu memutar lagu-lagu dan melihat dance mereka.

     Biarlah dibilang masih kolot, tapi hanya ini yang bisa penulis katakan, “Kalau kamu tak tahu semua nama yang kamu sebutkan itu, tak ada yang menyalahkanmu atau tak ada yang bilang kamu bodoh. Tapi, kalau kamu tak tahu siapa itu Chairil Anwar, Mama sangat kecewa.”

     Kids Zaman Now, begitulah orang-orang menyebut mereka. Mereka tahu apa yang generasi tua tak tahu, tapi tak tahu apa yang seharusnya (menurut generasi tua) mereka  tahu. Mereka, sama sekali tak bisa disalahkan. Kemajuan teknologi yang demikian pesat, menjadikan gadget lebih banyak digunakan untuk mengakses hal-hal yang mendunia, seperti game Mobile Legend. Di dunia ini, anak-anak, abg, sampai remaja dan orang dewasa, siapakah yang tak tahu game Mobile Legend?

    Bila mereka tak memiliki ilmu pengetahuan, setidaknya mereka harus memiliki kebajikan. Karena setinggi-tingginya ilmu pengetahuan seseorang bila tanpa disertai kebajikan, adalah sia-sia.

     Albert Einstein, seorang ilmuwan terkenal yang mencintai perdamaian, memiliki IQ/kecerdasan otak/pengetahuan tinggi, namun sangat kecewa dan menyesal. Penyebabnya, teori relativitas khusus yang diciptakannya, ternyata disalahgunakan ilmuwan lain, digunakan sebagai prinsip kerja bom atom yang kemudian digunakan untuk menghancurkan kota Hiroshima dan Nagasaki pada Perang Dunia II, menyebabkan hilangnya nyawa ratusan ribu sipil tak berdosa, merusakkan infrastruktur dan menimbulkan radiasi yang membahayakan nyawa manusia. Itulah contoh dari ilmu pengetahuan yang tidak disertai kebajikan alias disalahgunakan.

     Mengenai ketidaktahuan, sebenarnya ada sisi positif dan sisi negatifnya. Tahukah apa itu ikan buntal? Ikan buntal adalah sejenis ikan yang akan menggembung jika disentuh. Ikan ini sangat beracun dan tak boleh dikonsumsi. Di Indonesia, belum ada lisensi khusus bagi koki untuk memasak ikan ini karena mereka harus belajar selama 10 tahun sebelum diberikan lisensi khusus. Walaupun di Jepang sering disajikan olahan ikan buntal menjadi sashimi, namun itu dimasak/diolah koki berlisensi khusus yang tahu membuang bagian-bagian paling beracun dari ikan tersebut. Namun, karena satu dan lain hal, hanya karena salah penyajian bisa terkontaminasi dan menewaskan pelanggan.

     Di Indonesia, berkali-kali juga terjadi nyawa melayang karena ketidaktahuan soal ikan buntal yang beracun (ikan buntal adalah vertebrata paling beracun di dunia setelah katak emas racun). Karena ketidaktahuan, seorang ibu rumah tangga dikasih tetangganya ikan buntal, lalu dimasak dan dimakan dengan lezat. Hanya dalam tempo nggak sampai setengah jam, melayanglah nyawanya. Begitu juga kejadian menimpa 5 remaja di suatu daerah, mereka menghabiskan liburan dengan memancing, terpancing ikan buntal, dibawa pulang dan dimasak. Setelah dimakan, nyawa pun melayang. Ikan ini jelas-jelas tak boleh dimakan, harus dilepaskan kembali bila terpancing di laut.

     Itulah contoh dari ketidaktahuan yang membuat nyawa sendiri melayang. Seandainya saja mereka tahu itu ikan buntal yang beracun, pasti mereka tak akan mengonsumsinya dan masih hidup sampai sekarang, bukan?

     Lalu, apa sisi positif dari ketidaktahuan? Adakalanya, ada banyak hal yang tak perlu kita tahu . Hal-hal negatif yang bisa membuat kita terpancing melakukannya. Hal-hal negatif yang membuat kita belajar mencobanya. Hal-hal negatif yang memerosotkan moral manusia namun bisa dengan mudahnya beredar di internet alias dengan mudah diakses. Remaja, seharusnya tak perlu tahu tentang itu. Alasannya, karena remaja-remaja sangat mudah terpengaruh dan masih terombang-ambing dalam mencari jati diri.

     Pengetahuan, harus disertai kebajikan agar tak disalahgunakan. Ketidaktahuan, bisa membahayakan diri sendiri namun adakalanya ada hal-hal negatif yang sebaiknya memang tak perlu diketahui.

Facebook Comments

About the author

mm
ROSNI LIM

Rosni Lim, Menulis cerpen, artikel, dan opini di berbagai media.

mm By ROSNI LIM