Pemutaran Ke Rumah Nan Tumpah dan Kesempatan Lain

         

Sebuah permintaan dari kawan-kawan Komunitas Seni Nan Tumpah (KSNT) untuk menyediakan film untuk anak-anak adalah sebuah tantangan yang mengerikan bagi saya. Sebab, selama ini saya sangat sederhana menyimpulkan tontonan anak-anak. Pernah sekali saya membuat program pemutaran untuk anak-anak di sebuah panti asuhan, membuat saya cemas-cemas senang, apakah film itu cocok untuk anak-anak. Ternyata mereka sesekali tertawa menanggapi adegan film, dan bagi saya itu sudah sesuai.

            Tidak ingin membawa kembali film yang lama itu, saya cari film-film pendek terbaru untuk dipertontonkan pada acara Ke Rumah Nan Tumpah (KRNT) yang diselenggarakan oleh KSNT di Korong Kasai, Padang Pariaman, pada 31 Agustus 2018 lalu. Dengan mantap saya mengajukan dua film kepada panitia, Mars (Muhammad Marhawi, 2017) dan Amarta (Gadis dan Air) (Bambang “Ipunk” Kuntara Murti, 2015). Untuk film Mars adalah salah satu film dalam kuratorial saya pada Andalas Film Exhibition (AFE) 2017 dan Amarta (Gadis dan Air), salah satu film yang saya tonton di program Candrawala, Arkipel: Documentary & Experimental Film Festival 2017, yang kemudian program tersebut dipresentasikan pada AFE 2017.

            Pula secara sederhana saya menyimpulkan kenapa film tersebut pantas dipertontonkan untuk anak-anak. Pertama, karena film Mars tentang anak SD yang studi banding (study tour) ke Mars dan nilai moral yang ditawarkan oleh film—jangan kencing sembarang bahkan di Mars, akibatnya ditangkap alien—serupa dengan keseharian saya sewaktu kecil dengan mitos jangan kencing sembarangan, nanti diculik hantu. Kedua, film Amarta (Gadis dan Air) yang menceritakan seorang gadis menyelamatkan dewi air dan negerinya dari kukungan orang-orang jahat, apalagi dengan visualisasi panggung teaternya.

Foto: Istimewa

            Visual juga menjadi tumpuan saya. Kedua film bagi saya, bisa dinikmati dari visual, karena semestinya begitu, dan gambaran cerita dari aksi para tokoh cukup konkrit.

            Tetapi, sewaktu pemutaran akan berlangsung, saya pun menjadi cemas. Anak-anak telah duduk di lapangan depan sekretariat KSNT, tidak sabar, sambil menunggu mereka bergelut-gelut, mempermainkan cahaya proyektor dengan jari hingga tubuh mereka. Ketika test screening salah satu dari mereka berteriak “film hantu!” Padahal yang membuat saya cemas adalah mengenai bahasa tutur tokoh dalam film, teriakan film hantu meredakan kecemasan saya menjadi gelak.

            Bahasa tutur tokoh dalam kedua film tersebut mayoritas adalah bahasa Jawa! Dan film Mars sebagian bahasa Indonesia karena ada guru sekolah di sana. Selebihnya dibantu subtitle berbahasa Indonesia, sedangkan Amarta ber-subtitle bahasa Inggris, yang mematahkan harapan saya bahwa mereka bisa menonton dengan subtitle. Tidak!

            Suatu adegan dalam film Mars membuat kawan-kawan KSNT dan Ladang Rupa (juga ikut membantu acara KRNT) tertawa, begitu pun saya. Namun, hanya sampai dua sentak tawa, saya berhenti, karena melihat para anak-anak diam. Saya sadar, ada poin-poin tertentu dari cerita yang dipandu oleh tuturan para tokoh. Sehingga saya berkesimpulan film tersebut tidak telalu cocok untuk anak-anak di sini. Saya mohon maaf. Lain kali saya akan lebih ketat lagi.

            Barangkali, kawan saya Yesi Dwi Putri yang memberikan kuis seputar film sesudah menonton dan respon anak-anak tersebut, dapat sedikit mengobati rasa bersalah saya. Dengan pertanyaan-pertanyaan sederhana, seperti, kemana tujuan studi banding anak SD tadi? Dan siapa nama dewi air? Direspon oleh sebagian anak-anak itu dengan mengangkat tangan mereka dan ingin menjawab. Siapa betul dapat hadiah. Paling tidak, dari respon itu saya berkesimpulan sebagian anak-anak dapat cerita filmnya.

            Disamping itu, ada kesempatan yang ingin saya ambil dari film-film tersebut, selain untuk anak-anak. Bagaimana konteks dan penggarapan film tersebut yang cukup segar dalam semesta film di Sumatra Barat khususnya. Untuk ini memang saya harapkan sebagai bahan perbincangan dengan kawan-kawan KSNT dan Ladang Rupa atau bagi sineas-sineas di Sumbar.

            Dengan film Mars, dapat memancing pembicaraan mengenai bagaimana rekontruksi mitos serta peleburan teknologi dalam masyarakat. Mitos hadir dan makmur dalam kehidupan kita sehari-hari, baik itu nan tradisional maupun modern. Tetapi bagaimana itu disikapi hari ini? Pada sebuah adegan, di kedai sederhana, sebuah robot sedang membeli mie instan, atau adegan seorang pedagang keliling di planet Mars. Bisa dilihat sebagai bagaimana pernyataan kreator terhadap pertemuan antara nan tradisional (kedai dan pedagang) dengan nan modern (robot dan kehidupan di Mars). Nyaris tidak ada pengaruh signifikan oleh perkembangan teknologi serta ilmunya dengan bentuk kedai dan perdagangan—sosial. Bahkan robot hanya menjadi wakil dari pengendali, kebiasaannya tetap sama, beli mie dan menghutang. Sedangkan mitos “pipis sembarangan” diulang kembali dengan bentuk yang baru. Barangkali bisa disimpulkan, ada hal-hal mendasar dalam kebudayaan yang terus berulang meskipun bersentuhan dengan kebudayaan-kebudayaan lain.

            Pada pertemuan di Arkipel tahun lalu dengan kreator Amarta, ia mengatakan film tersebut adalah bentuk responnya terhadap keadaan di Yogyakarta hari ini. Dimana hotel dan gedung lainnya sedang tumbuh subur. Film ini semacam alegori dari sikap kreator terhadap situasi dan kondisi tersebut. Seorang gadis yang melihat kekeringan di desanya dan mencari sebab-akibatnya—tidak berkesimpulan bahwa itu adalah azab atau musibah dan nrimo. Ia menemukan ada kerja monopoli disana, dan ia musti beraksi atas kelaliman tersebut.

Foto: Istimewa

            Bukan hanya kaitan dengan kondisi sosial tersebut, tetapi bentuk film yang “sederhana”. Peristiwa direkam diatas “panggung” dengan properti yang dilukis, pula para pemain ikut dilukis untuk memberikan kesan realis properti dan tokoh. Amarta tidak perlu memakai CGI untuk membawa penonton ke peristiwa pada zaman dewa-dewi. Dengan apa yang ada serta kemampuan kita, rakyat dan kreator bisa merespon dan melawan ketidakadilan.

            Barangkali poin-poin dari dua film tersebut dapat menjadi tawaran terhadap para penggiat seni (Rupa, Teater, dan Film khususnya) dalam melihat kesempatan dalam mengeksplorasi hal-hal disekitar kita hari ini di Sumatra Barat. Dan barangkali kita juga butuh ruang-ruang tambahan untuk berbicara mengenai ini, apalagi minimnya film untuk anak-anak di Sumatra Barat. (*)

Facebook Comments

About the author

mm
ADI OSMAN

Adi Osman adalah mahasiswa Sastra Inggris di Universitas Andalas.

mm By ADI OSMAN