Payokumbuah Literary Festival versi Tipis-tipis

Sesi Foto Bersama Payokumbuah Literary Festival

JANANG.ID – 20/11/2018 – Janang.id, media abal-abal yang Tamu Alek cintai dengan boleh selingkuh ini, mendapat kehormatan menghadiri perhelatan kesusastraan yang diselenggarakan pada 14 – 16 November 2018 silam. Payokumbuah Literary Festival (PLF) begitu alek itu disebut. Terselenggara atas kerjasama banyak pihak -salah satunya platform indonesiana- dan menjadi penanggung jawab, Iyut Fitra, sastrawan asal Payakumbuh.

Ikut Meramaikan Payokumbuah Literary Festival 2018

Mengapa PLF perlu diadakan terus? Sebab, di ajang ini, mulai terlihat ada kesadaran untuk bersama-sama membentuk gerakan ini, meski, tidak dapat dipungkiri pula, sekat-sekat di antara kita (halah… apa-apaan ini) masih terbentuk dengan sendirinya. Hanya saja, wacana untuk segera komunal (cie cie) sudah mulai digalakkan. Digalakkan?

Marhalim Zaini, bersama pelajar Payakumbuh

Oleh sebab banyak sekali rangkaian kegiatan di PLF ini, maka, sebagai media yang (yang apa? haha) peduli pada gerakan literasyion di Indonesia dan Bumi -khususnya Sumatera Barat- kami himpun juga segala yang sempat kami himpun. Berikutlah adanya, Tamu Alek:

Frischa Aswarini, sedang membacakan puisinya di hadapan pelajar

Okta Piliang: Selamat datang, di Payokumbuah.
Iyut Fitra: Kota di mana puisi tetap selalu ada di sepanjang jalan.
Zen Hae: Penulisan sastra silat sempat dibilang belum nyastra
Marhalim Zaini: Sastra melayu itu yang mana sih?
Holy Adib: Kita berutang pada M. Tabrani
S Metron Masdison: Maukah kita sama-sama bertaubat, taubatan nasuha? Maukah kita sama-sama menyadari kalau kesusastraan kita, memang sedang bermasalah?

M. Aan Mansyur, bersama pelajar membahas puisi

Heru Joni Putra: Wacana lama digoreng kembali
Ahda Imran: Asyik, saya bisa pulang kampung
Mario F. Lawi: Saya membuang beberapa baju saya selama residensi untuk membawa semua buku-buku yang saya beli ke Indonesia.
M. Aan Mansyur: Kota yang saya datangi untuk residensi, membangun peradaban mereka di bawah tanah.
Alizar Tanjung: Pada tahap awal mendirikan penerbit, saya memangkas gaji saya untuk menggaji karyawan saya.
Indrian Koto: Saya banyak belajar di dunia perbukuan Jogjakarta, dan menerbitkan penerbitan sendiri demi untuk terus belajar di situ
Deddy Arsya: Saya dibesarkan dengan lingkungan yang terbiasa dengan makian, cemoohan, yang kadang muncul di puisi saya
Hasta Indriyana: Kadang, saya memang menggunakan pola tuang tertentu dalam menulis puisi.
Robby Julianda: Saya tidak banyak tahu
Andini Nafsika: Komunitas yang kami bangun adalah untuk semua.
Boy Candra: Saya memposisikan diri saya sebagai jembatan buat penulis-penulis lain.
Hasan Aspahani: Setidaknya, puisi ditulis dengan 3 unsur.
Itov Sakha: Nanti saya mampir juga ke Padang. Mana si Ubai?
Dellorie Ahada Nakatama: Kakak bukan panitia, Dek.
Maulidan Rahman Siregar: Siap
Kiki Sulistyo: Akarpohon diisi sama yang muda-muda.
Esha Tegar Putra: Saya melakukan residensi di negara yang memiliki 3 kepala pemerintahan.
Henry Pong: Misi mulia ini, punya dampak positif bagi anak-anak di tahun-tahun mendatang.
Koko Sudarmoko: Sampai jumpa di Payokumbuah Literary Festival tahun depan! (*)

Facebook Comments

About the author

mm
MAULIDAN RAHMAN SIREGAR

MAULIDAN RAHMAN SIREGAR, lahir di Padang, 03 Februari 1991. Penyair bukan, cerpenis tidak, tapi pengen. Buku puisinya, Tuhan Tidak Tidur atas Doa Hamba-Nya yang Begadang (Erka Publishing; 2018), Menyembah Lampu Jalan (Purata Utama; 2019)

mm By MAULIDAN RAHMAN SIREGAR