PAUH BAGALANGGANG VII; TUMBUH KEMBANGKAN GENERASI BUDAYA DARI GELANGGANG RAKYAT

Salah satu pertunjukan di Pauh Bagalanggang VII (Fadel)

Tak lama setelah awan mendung menutupi roman langit sore itu. Hujan yang dicemaskan akhirnya turun juga. Padahal tinggal hitungan beberapa jam lagi Festival Minangkabau Pauh Bagalanggang VII yang diselenggarakan oleh sanggar Palito Nyalo akan segera dimulai. Festival ini bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat. Bertempat di sebuah gelanggang atau tanah lapang yang berada di depan sekretariatan Palito Nyalo.
Seperti tidak ada satupun yang boleh menebaknya, reda dan lebat hujan kemarin datang─pergi secara tiba-tiba. Namun, barulah sekitar pukul 20.00 WIB, hujan benar-benar reda dan akhirnya pembukaan festival pun bisa dilaksanakan.

Pembukaan diawali dengan silek galombang dan iringan permainan gandang tambua yang menyambut tetamu undangan dan penonton yang hadir. Bunyi gandang tambua dari 12 tukang gandang dan 1 pemain tasa begitu selaras dengan gerakan-gerakan silek dari 10 pesilat cilik. Tetamu dan semua penonton dibuat terdecak kagum dengan penampilan mereka. Sehingga tak satupun lagi dari tetamu dan penonton hirau dengan suasana dingin dari sisa gerimis hujan yang mendekap tubuh masing-masing.

Festival Minangkabau Pauh Bagalanggang VII, kali ini dimeriahkan juga oleh seorang artis Minang yang cukup populer, Alkawi. Dalam kesempatannya Alkawi menyanyikan 3 buah lagu andalannya yaitu Perantauan, Gali Lubang Tutuik Lubang dan Baok Harok. Kehadirannya turut memeriahkan pembukaan pada festival yang diselenggarakan selama tiga hari berturut-turut tersebut, mulai dari tanggal 21-24 November 2019 kemarin.

Selain menyuguhkan beragam penampilan seni kreatif dari berbagai kelompok seni yang berasal dari 12 kota/kabupaten. Festival ini juga menambahkan kegiatan Dialog Budaya antara seniman, budayawan, pemerintah dan tokoh masyarakat. Serta launching kegiatan Duta Limau Manis oleh forum RT/RW kelurahan Limau Manis Kecamatan Pauh Padang.

Sesuai dengan namanya, festival ini sudah yang ketujuh kali diadakan semenjak pertama penyelengaraannya pada tahun 2010. Dulu kegiatan ini sempat 2 kali vakum pada tahun 2015 dan 2017, ungkap Dasrul Mangkudun selaku Ketua Umum Palito Nyalo ketika berbincang-bincang mengenai kegiatan ini.

Selain itu ia juga menjelaskan bahwa “Pauh Bagalang ini adalah alek nagari. Jadi konsep yang kami rancang untuk acara, ya di arena atau gelanggang. Walaupun tersedia juga panggung, namun ukurannya dibuat luas agar mereka bisa leluasa tampil. Tidak terkungkung dengan ukuran panggung yang terbatas dan juga pengaturan lighting seperti pertunjukan-pertunjukan modern. Guna menunjukkan bahwasanya Pauh Bagalanggang itu murni merupakan sebuah pertunjukan rakyat”.

Dari apa yang disampaikan olehnya, dapat diperhatikan tata panggung dalam penyelenggaraan festival Pauh Bagalanggang VII kemarin. Tidaklah jauh berbeda dengan acara festival seni tradisi Minangkabau lainnya. Dalam beberapa acara seperti ini tidak sedikit yang menggunakan konsep pementasan rakyat sebagai ruang panggung. Menyajikan pertunjukan kesenian tradisi Minangkabau di ruang terbuka atau outdoor. Contohnya saja bisa kita perhatikan beberapa pertunjukan seni yang berbau tradisi lainnya seperti Sentak Art Festival, Legusa Festival, Galundi Singkarak Festival, Pasa Harau Festival dan banyak lagi yang lainnya.
Berbicara tentang pertunjukan seni di Minangkabau dahulunya tentu tidak terlepas dari yang namanya sebuah gelanggang. Gelanggang sendiri adalah sebuah ruang atau lapangan yang cukup luas yang digunakan untuk melakukan sebuah kegiatan atau aktivitas. Biasanya, selain surau dan lapau, gelanggang menjadi salah satu tempat berkumpulnya masyarakat Minangkabau dahulu. Terkhususnya tempat dimana mereka mengadakan kegiatan-kegiatan olahraga dan kesenian.

“Sejajar dan selevel itulah karakter orang Minangkabau dalam berkesenian. Seperti itulah penyajian seni pertunjukan oleh orang Minang. Semua orang berhak untuk menempatkan diri pada posisi manapun yang mereka nyamankan untuk menonton. Mengembalikan kesenian kepada masyarakat itulah yang ingin kami hadirkan di Pauh Bagalanggang ini. Spirit berkesenian seperti itulah yang ingin kami hadirkan” sambungnya ketika duduk bersama dengan panitia lainnya. Nyantai sedikit karena acara pembukaan sudah hampir selesai waktu itu.

Disaat yang juga bersamaan, mengutip dari apa yang disampaikan oleh Bpk. Zulhendrif Avicenna Bandaro Labiah, pembina Palito Nyalo dalam perbincangan itu. Ia mengatakan “Tiada modern tanpa tradisi”. Maksudnya adalah tiada istilah modern yang kita kenal hari tanpa diawali dengan sebuah tradisi. Umpamanya seperti kita ingin pergi ke suatu tempat, sebelum kita pergi ke tempat itu tentunya kita harus tau lebih dulu dari mana kita berangkat. Sebuah modernitas, baik dari di bidang apapun itu tentunya berawal dari sebuah kretradisionalan yang ada dari masyarakat.

Jadi harapannya, ia ingin dengan adanya kegiatan Pauh Bagalanggang ini akan menjadi sprit bagi anak-anak muda Minang, terkhususnya daerah pauh limau manis dan sekitarnya. Untuk terus menemukan, mengembangkan dan melestarikan budayanya sendiri. Sesuai dengan prinsip yang dipegang oleh Palito Nyalo sendiri yaitu ‘Temukan, Kembangkan dan Letarikan’.

Jadilah seperti kebudayaan Minang itu sendiri. Budaya Minang pada dasarnya bersifat dinamis. Selalu bergerak mengikuti perubahan zamannya namun, tidak melupakan jati drinya sendiri. Hal-hal seperti ini yang ingin dihadirkan oleh Pauh Bagalanggang VII kemarin. Bagaimana budaya Minang terkhusunya kesenian itu bisa lebih dekat kembali dengan masyarakat.
Salah satu caranya adalah dengan menghadirkan festival di sebuah gelanggang tanpa menolak modernitas yang ada. Agar masyarakat dapat merasakan bahwa festival ini adalah milik mereka juga. Bukan hanya milik seniman, budayawan, ahli budaya mauoun pemerintah saja. Melainkan milik kita bersama terutama masyarakat itu sendiri. Sebab Budaya lahir dari rahim kehidupan masyarakat yang ada itu sendiri.

Facebook Comments

About the author

mm
TEGAR RYADI

Tegar Ryadi. Lahir di Duri, 16 Juni 1998. Mahasiswa Jurusan Sejarah FIB Universitas Andalas. Saat ini selain berkuliah juga aktif dalam beberapa kegiatan di Labor Penulisan Kreatif (LPK) FIB Unand, HIMA Sejarah FIB Unand dan Muda Literat.

mm By TEGAR RYADI