OPTIMISME BERLEBIHAN ITU TIDAK SEHAT, CANDIDE!

COVER BUKU

Judul               : Candide

Penulis             : Voltaire

Penerjemah      : Ida Sundari Husen

Penerbit           : Kepustakaan Populer Gramedia

Cetakan           : Pertama, November 2016

Tebal               : 14 x 21cm, 154 halaman

ISBN               : 978-602-424-160-5

Pada umumnya Voltaire lebih dikenal sebagai seorang filsuf dalam bidang politik dan ilmu sosial, khususnya sebagai salah satu pelopor rasionalisme dan modernitas di Eropa; tapi secara pribadi, saya lebih mengenalnya sebagai seorang sastrawan melalui dua novel terbaiknya yang sudah saya baca: Si Lugu dan Candide—keduanya diterjemahkan dengan apik dari bahasa Prancis oleh Ida Sundari Husen.

Bersama dengan Montesquieu dan Rousseau, Voltaire adalah seorang pemikir yang mendorong lahirnya filsafat hidup Prancis modern dan turut memberikan inspirasi kepada rakyat sehingga menggulirkan revolusi untuk menumbangkan Raja Louise XVI pada tahun 1789. Selain dikenal sebagai orang yang membenci segala hal yang berkaitan dengan kefanatikan, Voltaire juga dikenal sebagai seorang satiris ulung yang secara langsung berpengaruh besar pada gaya menulis para sastrawan yang lahir kemudian, seperti Denis Diderot, Italo Calvino, Umberto Eco, bahkan Borges. Adapun salah satu karyanya yang menunjukkan bakat menyindirnya yang fantastis adalah novel tipis yang berjudul Candide.

Perihal Candide, yang melatarbelakangi lahirnya novel ini tidak lain karena Voltaire ingin menyindir pemikiran optimisme yang digadang-gadangkan oleh Leibniz dan para pengikutnya yang beranggapan bahwa dunia yang kita tempati ini adalah karya Tuhan yang paling indah, sebab segalanya telah ditetapkan dengan sebaik-baiknya. Voltaire berusaha untuk mengolok-olok pandangan tersebut melalui buku ini, yang bercerita tentang Candide, seorang pemuda lugu yang senantiasa ditimpa oleh berbagai kemalangan, tapi sialnya selalu optimis dan berpikir positif. Selain Candide, salah satu tokoh kunci dalam novel ini adalah Pangloss—orang paling berperan besar dalam menanamkan ide-ide optimistis ke dalam batok kepala Candide. Melalui petualangan kedua orang malang tesebutlah Voltaire mengajak kita untuk tetawa bersama-sama.

Tentu saja saya tidak akan mengulang apa yang kerap kali dilakukan oleh sekian banyak pengulas yang gemar membeberkan alur novel secara utuh dan lengkap (akan tetapi jika Anda memang sangat ingin membaca sinopsis dari novel ini, maka silakan ketik di kolom pencarian mesin peramban Google: sinopsis novel Candide karya Voltaire). Meskipun demikian, namun ada beberapa bagian yang kiranya sangat menarik untuk kita kaji bersama, mengingat novel ini adalah salah satu karya sastra klasik yang masih cukup asyik untuk dinikmati di zaman kiwari yang serba instan ini.

Candide dibagi ke dalam 30 bab, yang mana Voltaire sengaja memberi judul-judul panjang yang terkadang lucu dan terkesan ironis,  seperti Bagaimana Candide Dibesarkan di dalam Sebuah Istana yang Indah dan Bagaimana Dia Diusir dari Sana; Bagaimana Cara Menyelenggarakan Auto-Da-Fe yang Megah untuk Mencegah Gempa Bumi dan Bagaimana Candide Dicambuk; Apa yang Terjadi Atas Diri Mereka di Suriname dan Bagaimana Candide Berkenalan dengan Martin;atau Tentang Pengalaman Candide dan Martin Waktu Makan Bersama Enam Orang Asing dan Penjelasan Siapa Mereka Itu. Pemilihan judul bab yang sedemikian panjang dan bertele-tele tentu saja bukan tidak ada alasan, sebab Voltaire melakukan itu untuk mengolok-olok judul roman picisan yang pada masa awal kemunculannya dalam ranah kesusastraan Prancis masih belum begitu mendapatkan perhatian dari publik.

Dari ketiga puluh bab, bagi saya pribadi bab 5—Topan, Kapal Karam, Gempa Bumi, dan Apa yang Terjadi Atas Diri Doktor Pangloss, Candide, dan Jacques— adalah yang paling bernas dan menghibur. Adapun adegan yang cukup menghibur itu adalah ketika Pangloss memprotes seorang kelasi amoral yang mengambil keuntungan dari bencana gempa bumi dahsyat yang sedang menimpa kota Lisabon dengan memunguti uang dan emas dari puing-puing reruntuhan bangunan, serta menyewa seorang lonte yang ditemukannya sedang terbujur kaku di antara orang mati dan sekarat. Di bab tersebut, tepatnya pada halaman 20, ada adegan sawala yang cukup menarik antara Pangloss dan si kelasi yang memantik imajinasi kita untuk menafsirkan maksudnya. Untuk lebih jelasnya, mari kita simak cuplikan berikut ini:

“Sahabat,” kata Pangloss, “itu tidak baik. Kelakuanmu menyalahi logika universal. Kau tidak menyesuaikan diri dengan keadaan.”

“Persetan,” sahut si kelasi, “aku kelasi dan lahir di Batavia. Aku telah melangkahi salib empat kali dalam empat petualanganku di Jepang. Kau, kan, telah menemukan orang yang sesuai dengan logika universalmu itu!”

Jika ditilik secara teliti, dialog sederhana itu memiliki beberapa hal menarik, yaitu:

  1. Saat Pangloss mengagungkan logika universal, sebenarnya Voltaire sedang menyindir orang-orang yang mencoba untuk bersikap baik dan peduli pada sesama, tapi gagal untuk bersintas; sementara itu orang licik selalu bisa memanfaatkan situasi sehingga dapat melanjutkan hidup dengan mengutamakan kepentingannya sendiri;
  2. Saat si kelasi bilang bahwa dia telah melangkahi salib empat kali dalam empat petualangannya di Jepang, mau tidak mau, mengingatkan kita pada film Silence (2016) besutan Martin Scorsese, yang berkisah tentang sulitnya kehidupan orang Kristen pada masa awal kemunculannya di salah satu negara paling timur dari kawasan benua Asia itu, dan;
  3. Tentu saja Batavia yang dimaksudkan oleh si kelasi bukanlah Jakarta lama, meskipun—berdasarkan latar waktu dalam novel tersebut—pada waktu itu Jakarta masih bernama Batavia; sebab Batavia yang dimaksudnya adalah Republik Batavia yang berdiri di Belanda antara tahun 1795 sampai dengan 1806.

Fakta-fakta tersebut hanya segelintir dari mencamurnya berbagai macam adegan menarik lain yang dapat kita tafsirkan secara tekstual, sehingga rasanya terlalu sayang untuk dilewatkan. Di setiap pagina novel ini, kita bukan hanya dibuat tersenyum simpul dan prihatin atas nasib yang menimpa Candide dan Pangloss, akan tetapi lebih dari itu, kita juga akan merasakan adanya keakraban dengan sang narator seolah-olah setiap kata memang dirangkai khusus untuk kita. Sebenarnya, terjemahan novel ini telah diterbitkan pada tahun 1989 oleh Pustaka Jaya, tapi pada bulan November tahun 2016 silam diterbitkan kembali oleh KPG. Meskipun demikian, bahasa yang digunakan oleh penerjemah sangat mudah dipahami dan sama sekali jauh dari kesan arkais. Ini tentu tidak terlepas dari kemahiran Ida Sundari Husen, selaku penerjemah, yang memang sangat memahami Voltaire dan segala tetek bengeknya sampai-sampai, untuk meraih gelar doktor di Universitas Paris pada tahun 1990, beliau membuat disertasi yang diberi judul Ironi dalam Tiga Dongeng Voltaire (L’ironie dans Trois Contes de Voltaire).

Jadi begitulah intinya: Candide memang salah satu novel yang wajib kita baca—secara rela atau terpaksas. Tapi mengingat kemalangan para protagonis yang dituturkan dengan kocak di sepanjang cerita yang membentuk novel ini, maka saya punya satu pertanyaan sederhana untuk Anda: apakah Anda termasuk ke dalam golongan kaum yang percaya bahwa penderitaan yang tengah menimpa Anda adalah hal terbaik dari sekian banyak pilihan di dunia ini? Kalau ya, maka selamat, sebab sejatinya Anda telah menjelma menjadi sosok Candide yang ditertawakan oleh Voltaire sejak lebih dari tiga abad yang lalu; tapi kalau tidak, maka saya tidak harus memaksa agar Anda percaya dengan saran gratis ini: optimisme berlebihan itu tidak sehat, Candide!

Facebook Comments

About the author

mm
NANDA WINAR SAGITA

NANDA WINAR SAGITA, Pengajar sejarah yang mengagumi Radiohead dan segala hal yang berkaitan dengan posmodernisme. Tulisannya tersebar di berbagai media, dan salah satu cerpennya, Lelaki Tanpa Dosa, masuk ke dalam antologi Cerpen Eksperimental Penerbit Basabasi 2018.

mm By NANDA WINAR SAGITA