MENGUSIR SYEKH DARI KAMPUNG

unsplash.com

        Wajah bersih, tatapan benderang. Jubah putih, kopiah berwarna sama. Begitulah penampilan Muhammad Al Ghifari setiap hari. Ia terlihat soleh, dan tampak sangat alim dengan jenggot tipis memenuhi dagu petaknya. Semakin lengkap penampilannya karena ucapannya selalu teduh,  fasih mengutif Quran dan Hadits.  Setiap kali berbicara selalu memulai dengan kata “subahannalloh”, atau “allohu akbar”. 

      Orang tak menyukainya. Sebab, segala sesuatu yang biasa dilakukan orang di kampung itu,  menurut dia,  tak boleh lagi dikerjakan. Katanya, semua yang dikerjakan dikerjakan dan merupakan diwarisi dari leluhur, merupakan bida’ah karena para leluhur adalah orang-orang kafir  yang tak beragama, dengan sendirinya tak mengakui keberadaan Allah Swt.  Sebab itu,  kebudayaan beserta segala sesuatu yang berkaitan dengan kebudayaan seperti kesenian dan adat-istiadat, harus dilupakan sembari beristigfar. 

        “Mohon ampun pada Allah Swt. Bertobatlah! Kembalilah ke jalan-Nya! Subahanalloh!” katanya, sambil mengusap wajahnya.

         Syekh orang memberinya panggilan. Hanya Syekh, tanpa diikuti nama Muhammad Al Ghifari.  Lidah orang sulit mengucapkan nama Muhammad Al Ghifari  atau Syekh Muhamamd Al Ghifanya. Bukan karena nama itu berbau Arab, tapi terasa janggal karena setiap orang mengenalinya sebagai Ucok. Selain lebih mudah diucapkan, nama Ucok sudah lekat  karena setiap orang punya ingatan buruk dengan pemilik nama itu.

    “Syekh!” teriak seseorang, saat Muhammad Al Ghifari muncul di kampung itu setelah hampir setahun menghilang.

          “Bukan.” kata seseorang. “Dia Ucok!?”

           Seseorang tak yakin. “Maksud kau Ucok si Pencuri itu?”

           “Apa yang telah menimpanya?” tanya seseorang yang lain.

           “Masya Allah! Barangkali dia salah makan obat,” ujar seseorang.

        “Muhammad Al Ghifari,” katanya, memperkenalkan diri. “Allah Swt menyukai nama-nama yang baik.”   Dia pun bercerita riwayat namanya, bahwa namanya seorang pejuang di jalan Allah Swt. “Rasulloh menamai cucunya seperti nama saya,” katanya.

           “Ucok!” teriak seseorang. “Berlagak kali kau.”

          Lima tahun lalu,  pikir orang itu,  Ucok tak lebih hanya seorang yang menghinakan dirinya lantaran suka mencuri. Sama seperti almarhum ayahnya, Maradongan, seorang pencuri yang kemudian mati ditembak polisi pada saat istrinya berjuang antara hidup dan mati untuk melahirkan Ucok.  Inang Misna, dukun beranak yang sudah 70 tahun, membuat pernyataan kalau ibu si Ucok mati sebelum si Ucok dilahirkan. Inang Misna terpaksa merafal beberapa baris mantra untuk  menarik Ucok keluar dari rahim ibunya.

      Setelah ayah dan ibunya mati, orang-orang meminta Inang Misna merawat si Ucok.  Belum setahun, Inang Misna kemudian mati karena flu. Marapande, pemilik warung kelontong,  bermurah hati merawat si Ucok yang masih bayi. Setahun kemudian, Marapande mengalami kecelakaan dan kaki kanannya harus diamputasi. Tak siap menjadi orang cacat, suatu malam Marapande menggantung diri.

      Dumasari, istri Marapande, mengutuki si Ucok sebagai penyebab kesialan yang menimpa keluarganya. Perempuan yang belum pernah melahirkan itu menyerahkan si Ucok kepada hatobangon, dan dia sendiri memutuskan menjual harta peninggalan almarhum suaminya, lalu pindah ke kota. Kabar terakhir, Dumasari menikah dengan seorang anak muda pengangguran yang sudah letih mencari kerja kemana-mana dan tidak pernah dapat rezeki.

        Ompu Sangap, laki-laki 75 tahun yang menjadi hatobangon di kampung, meminta digelar musyawarah kampung untuk membahas siapa yang akan mengurusi si Ucok. Di dalam musyawarah, seperti biasanya, hanya orang-orang tua yang tergabung dalam kelompok hatobangon yang boleh bicara. Jumlah mereka hanya lima orang, dan Ompu Sangap yang paling tua diantara kelimanya. Dia yang mengambil keputusan, dan tidak seorang pun boleh membantah keputusan itu.

        “Lantaran Mareden belum punya anak sampai sekarang meskipun sudah lima belas tahun menikah,  kami memutuskan si Ucok diserahkan kepada Mareden,” kata Ompu Sangap.

         Mareden dan istinya, Hotnida, menolak. “Anak itu akan menderita kalau tinggal bersama kami,” kata Mareden. “Kami miskin, untuk makan saja susah kali. Ditambah harus mengurus si Ucok, sangat mungkin rumah tangga kami akan hancur berkeping-keping.”

       “Ini keputusan musyawarah.” Ompu Sangap menegaskan. “Semua warga menyaksikannya, dan barang siapa yang mendapat keputusan, maka mereka tidak bisa menolak.”

          Mau tak mau Mareden mengalah. Dia tahu persis apa resiko yang akan diterima bila menolak menjalankan hasil musyawarah kampung. Yang paling pasti, setiap orang akan mengucilkan keluarganya, karena menilainya tidak mengikuti hukum adat yang berlaku.

        Sejak itu si Ucok diasuh Mareden dan Hindun. Tapi, seperti sudah diperkirakan Mareden dan Hindu, kehadiran si Ucok di dalam kehidupan mereka sama-sekali tidak membawa kebahagiaan. Sebaliknya, si Ucok justru menjadi penyebab pertengkeran demi pertengkaran di antara mereka. Hampir tiap hari, dan ada orang yang mengatakan, Mareden bertengkar dengan Hindu seperti orang makan obat; tiga kali sehari.

      Kalimuddin, tetangga Mareden dan Hindun, sempat kesal dan memarahi suami-istri itu. “Kalau Kalian tidak bisa lagi akur, bercerai sajalah. Pusing kali aku mendengar kalian ribut tiap hari macam orang makan obat saja.”

          Usulan Kalimuddin diterima Mareden dan Hindu. Dua hari kemudian, Hindun memutuskan pulang ke rumah orang tuanya di kampung tetangga. Mareden menangis tersedu-sedu. Dia meminta Hindun jangan pergi. Dia bilang, lebih baik si Ucok saja yang disingkirkan daripada dia harus kehilangan Hindun. Tapi Hindun bergeming, tetap pergi ke rumah orang tuanya. Hindu tak membawa si Ucok bersamnya.

      Mareden merasa hidupnya menjadi kering. Sejak itu dia banyak termenung. Dia jadi lupa pada si Ucok. Anak itu sudah bisa berjalan, dan Mareden tidak terlalu memperdulikannya. Belakangan Mareden tak tahan lagi hidup tabnpa Hindun, dan dia mendatangi istrinya ke rumah mertuanya. Hindu mengaku bersedia kembali asalkan tidak ada si Ucok.  Mareden menyanggupi.

Sejak itu tidak ada yang tahu siapa yang mengurus si Ucok. Ada yang bilang si Ucok diambil orang, dibawa ke kota. Informasi itu tidak valid. Ada juga yang bilang si Ucok pergi sendiri ke kampung lain, lalu seseorang di kampung itu merawatnya seperti anak sendiri. Informasi itu pun tidak bisa dipercayai. Yang jelas, sejak Mareden kembali bersama Hindun,  si Ucok hilang dari kampung.

Tapi, beberapa tahun kemudian, tiba-tiba muncul seorang anak muda yang mengaku bernama Ucok. Anak muda itu ditangkap saat mencoba mencuri di rumah Sutan Habiaran, kepala kampung yang baru sepekan menerima dana bantuan dari kabupaten. Saat Ucok hendak mengambil dana itu dari dalam lemari, ulahnya diketahui Salohot, istri Sutan Habiaran. Perempuan berambut keriting itu menjerit-jerit, membuat orang-orang berdatangan dan menangkap si Ucok.

“Kau si Ucok ya?” tanya seseorang setelah menokok ubun-ubun anak muda itu. “Kau anak Maradongan.”

“Bah. Macam ayahnya.”

“Tak jauh belimbing jatuh dari pokoknya.”

“Usir saja dia.”

“Bawa ke kantor polisi.”

“Usir sajalah.”

Orang-orang bersepakat mengusir si Ucok. Sebelumnya anak muda itu diminta berjanji tidak akan mengulangi lagi kelakuannya. Si Ucok berjanji sambil berkata dalam hati, “Apa sulitnya berjanji.”

Sejak itu si Ucok benar-benar menghilang. Orang-orang melupakan siapa dia. Tak ada yang merasa kehilangan dirinya.

Tapi, lima tahun kemudian, seseorang bernama Muhammad Al Ghifari tiba-tiba muncul. “Bersyukurlah Kalian karena aku diutus ke kampung ini untuk membawa pencerahan,” katanya. “Kalian terlalu lama hidup dalam kegelapan. Hidup dalam kesesatan. Bertobatlah!”

Zaiful, guru mengaji di madrasah yang bangunan madrasahnya berdiri di samping masjid,  sudah lama menahan diri untuk tak menemui Muhammad Al Ghifari ke rumahnya. Orang-orang bercerita kepadanya tentang ulah orang yang mereka panggil sebagai Syekh itu, dan orang itu mengira panggilan tersebut sebuah pujian, padahal orang meniatkannya sebagai ejekan. Panggilan itu muncul begitu saja, entah siapa yang memulainya.

“Syekh ini kurang hajar, Guru,” kata seseorang mengadukan Muhammad Al Ghifari kepada Zaiful. “Apapun yang kita lakukan selama ini, tidak ada yang benar di matanya.”

“Biarkan sajalah!” Begitu kata Zaiful berusaha membuat orang-orang tidak terbajar emosinya. “Keberanaran hanya milik Allah Swt. “

“Tapi, Guru, lama kelamaan Syekh ini akan menyesatkan orang-orang kampung. Cara kita beribadah saja disalahkan oleh dia.”

“Sabar! Istigfar. Allah Swt akan memberi balasan setimpal.”

Zaiful hanya terlihat sabar. Sebetulnya, jauh di lubuk hatinya, ada bara api dari emosi yang menyala. Diam-diam Zaiful menyimpan dendam. Diam-diam dendam itu membara menjadi hasrat yang luar biasa untuk menemui Syekh dan menjajal pengetahuannya tentang agama.

Tapi, setiap kali muncul keinginan untuk mendatangi Syekh ke rumahnya, saat itu juga Zaiful berhasil menenangkan diri. Zaiful kembali mendiamkan soal Syekh itu. Namun, semakin Zaiful berdiam diri, semakin banyak orang yang datang mengadukan kelakuan Syekh.

“Syekh ini menuduh adat-istiadat kita sebagai bida’ah. Bukankah selama ini kita hidup dengan nilai-nilai adat itu dan belum pernah ada pertikaian di antara warga kampung kita,” kata seseorang.

“Ini tidak bisa dibiarkan, Guru,” kata seseorang yang lain. “Syekh ini harus dikasih pelajaran.”

“Ya,” tegas seseorang. “Dia hanya seorang pencuri.”

“Masa lalunya,” kata Zaiful. “Alhamdullillah dia sekarang jadi lebih alim.”

“Dia menyesatkan, Guru.”

“Dia mengajarkan kesesatan.”

Zaiful berusaha tetap tenang dan tersenyum. Dia menyuruh setiap orang agar bersabar, lalu meminta mereka pergi. Tapi, setelah orang-orang pergi, emosinya justru membara. Dadanya terasa panas. Namun, sekali lagi, setiap kali dadanya terbakar emosi, dia selalu bisa mengendalikannya.

Suatu malam, selepas salat Isya, Zaiful kaget mendengar suara orang berteriak dari balik pinu rumahnya. Orang itu meminta Zaiful keluar karena ada hal buruk yang menimpa Syekh.

“Ada apa dengan Syekh!?” tanya Zaiful.

“Orang-orang sudah tak bisa lagi menahan diri. Mereka mengadili Syekh dan mengusirnya dari kampung.”

“Mengusirnya?”

“Ya, sama seperti ketika dulu dia diusir karena mencuri.”

Zaiful hanya bisa istigfar. n

Facebook Comments

About the author

mm
BUDI HATEES

BUDI HATEES menulis cerpen serbasedikit. Kitab cerpennya Laskar di Garis Belakang (2007). Saat ini tinggal di Kota Bandar Lampung dan bekerja sebagai peneliti di sebuah lembaga milik pemerintah daerah.

mm By BUDI HATEES