Mencari Pasangan Hidup Ternyata Semenyedihkan Ini

Pinterest.com

Beruntunglah bagi siapa saja yang masih bisa menentukan siapa yang akan dia pilih untuk menjadi pasangan hidupnya, dan semoga ‘upaya menemukan’ itu bisa berjalan dengan baik. Bersyukurlah sebaik-baiknya bersyukur.

Tuhan Mahabaik memang memiliki kuasa penuh atas jodoh hamba-Nya, hanya saja, untuk beberapa kasus, Tuhan seakan tidak berdaya, terciptalah sebagian orangtua yang merasa punya kuasa penuh akan anaknya. Memiliki selera tertentu, dan menjadikan hal itu sebagai tolak ukur menentukan pasangan. Harus yang seperti ini, harus yang begini.

Hal itu saja belum cukup, tak jarang orangtua yang sudah memiliki pola pemikiran semacam ini akan (juga) memberikan ancaman bagi si anak, seperti: “kamu tidak bisa dengan dia, dia tidak baik” atau “jika kamu tidak mau dengan dia, maka, kamu adalah sungguh anak yang celaka, durhaka, tidak tahu diuntung, aku yang membesarkanmu, aku tahu yang terbaik bagimu, kau sebagai anak tidak bersyukur…”

Ancaman lain justru lebih menyakitkan, “jika benar kamu ingin menikah dengannya, menikahlah sendiri, kami tidak akan pernah lagi ke sini…”

Saya, adalah sedikit orang yang bertahan dengan situasi seperti itu, dan memang benar sampai saat Jokowi sudah dilantik, saya masih seperti Prabowo: berdiri tegak tanpa pasangan. Menyedihkan.

Tuhan
Di mana posisi Tuhan? Entahlah. Berkali-kali saya berdoa agar orangtua dilunakkan hatinya, berkali-kali pula rasanya doa itu tidak sampai. Waktu berlalu begitu saja, teman-teman SD saya dahulu, anaknya sudah SD.

Tiada maksud untuk menafikan Tuhan dalam perkara ini, sungguh, Tuhan punya kuasa atas manusia, tapi, pemikiran dan pemahaman tentu punya jalannya sendiri. Paham komunis yang ditakuti, liberal yang disegani, dan paham-paham lain yang sudah berakar ke dalam diri, perlu sesuatu yang sangat-sangat-sangat, baru itu akan berubah.

Apakah di perkara ini, Tuhan sedang mengajak saya bercanda? Atau, apakah ini cara Tuhan menguji sejauh mana iman yang saya punya? Tetap saja, harusnya Tuhan berada di atas siapa saja.

Saya
Sebagai ummat yang tidak ingin selamanya sendiri di bumi, saya sebenarnya sudah melakukan banyak hal. Semacam dengan mendekati beberapa orang di sosial media, menahan rasa malu untuk mengajak berkenalan dan bingung ketika sudah mendapat kontak.

Terlebih, saya juga tidak menganggap pertanyaan seperti ‘kamu sudah makan belum?’ ‘kamu sudah mandi, salat, buang air’ adalah pertanyaan yang penting-penting amat di peradaban manusia.

Hingga beberapa orang yang niat awalnya ingin saya ajak menikah, pada akhirnya tinggal nomor-nomor belaka. Tak ada interaksi. Lagi pula, ini yang rasanya rada susah, mana mungkin ada manusia yang baru 1-7 hari kenal, langsung mau diajak menikah.

Tapi, saya maunya itu. Bagaimana ini?

Gabut
Pada akhirnya, saya berada di posisi ini. Gabut. Tak menentu. Tak bisa diatur. Tak tahu komposisi. Tak kenal harmoni. Datar. Curhat di mana-mana. Merasa kalah dalam hidup. Mau ingin selesaikan apa saja, tapi tak menyelesaikan apapun. Menderita, sakit. Merokok dan membaca artikel. Menulis puisi. Siaran radio, dan melakukan apa saja yang tak jelas arahnya ke mana.

Hingga pada usia segini, akhirnya saya sadar, bahwa ternyata mencari pasangan hidup semenyedihkan ini.

Padangpariaman, 2019

Facebook Comments

About the author

mm
MAULIDAN RAHMAN SIREGAR

MAULIDAN RAHMAN SIREGAR, lahir di Padang, 03 Februari 1991. Penyair bukan, cerpenis tidak, tapi pengen. Buku puisinya, Tuhan Tidak Tidur atas Doa Hamba-Nya yang Begadang (Erka Publishing; 2018), Menyembah Lampu Jalan (Purata Utama; 2019)

mm By MAULIDAN RAHMAN SIREGAR