Melawan Hoaks lewat Pendidikan Sastra

unsplash.com

Kita tengah menghadapi tsunami hoaks yang berdampak besar bagi cara berpikir sehari-hari. Benturan informasi menyebabkan perpecahan. Pintu konflik semakin menganga. Setiap orang dan kelompoknya memercayai informasi lantaran sesuai dengan emosi masing-masing.

Parahnya, dunia pendidikan kita sudah dikepung wabah hoaks dan ujaran kebencian. Bahkan tak sedikit tenaga pendidik mudah menerima dan menyebarkan kabar bohong. Kalau pendidik demikian, apa jadinya siswa dan generasi ke depan?

Penyebaran hoaks oleh guru dan dosen secara statistik bisa dilihat dari data Badan Kepegawaian Negara (BKN) dirilis di situs Sekretariat Kabinet pada 08 Juni 2018. Terungkap di kalangan ASN dan dosen menjadi kelompok terlapor paling banyak penyebar hoaks di media sosial. Diikuti kemudian oleh ASN pemerintah pusat dan guru di daerah.

Data tersebut memunculkan keprihatinan sekaligus menjadi bukti rendahnya pengetahuan dan kesadaran dosen serta guru. Guru dan dosen yang harapannya dapat membagi pengetahuan dalam menyaring informasi celakanya menjadi bagian dari penyebar berita bohong.

Beberapa tenaga pendidik nyatanya juga tak memiliki sikap apatis dan kritis dalam menerima informasi. Seorang pendidik (pendagog) bisa berubah jadi penghasut (demagog). Informasi yang sesat berpengaruh terhadap cara berpikir dan bernalar. Sebaliknya, lemahnya daya kritis menjadi salah satu faktor mudahnya informasi sesat dipercaya. Keduanya saling mempengaruhi satu sama lain.

Implikasinya generasi muda semakin mudah termakan hasutan atau ujaran kebencian lewat gawai di tangan masing-masing. Akibat lain adalah tingginya sentimen agama, ras, suku yang membahayakan kesatuan kita sebagai warganegara.

Meski di sisi lain, tak hanya Indonesia, di pelbagai negara maju, hoaks diproduksi dan diamini. Ini semacam gejala global yang sulit dibendung oleh otoritas negara sekali pun. Orang hanya mampu membendungnya dengan daya kritis yang perlu terus diasah.

Karenanya lembaga pendidikan secara mendasar, bukan hanya sebagai tempat transformasi ilmu pengetahuan melainkan ruang untuk mendayagunakan nalar. Latihan bernalar, skeptis dan kritis dapat dilakukan salah satunya dengan memperkuat pelajaran yang mampu mengasah nalar siswa, guru dan dosen secara tajam dan tak membosankan.

Salah satunya bisa dilakukan dengan memperkuat pendidikan sastra di sekolah. Sastra sebagai bidang pelajaran yang tak sekadar menuntut siswa menghapal, melainkan bernalar kritis agar dapat memahami dan merasakan kandungannya. Di samping sastra bisa jadi semacam hiburan yang dapat dibaca di luar jam formal.

Mengaktifkan nalar kritis

Hingga kini, tak sedikit di antara siswa, guru bahkan dosen menganggap sastra sebagai karya fiksi yang kadar faktualitasnya diragukan. Hal tersebut tak sepenuhnya salah. Namun fiksi juga punya hukum yang tak boleh lepas dari logikanya sendiri.  

Sastra punya unsur interinsik dan ekstrinsik dengan logika yang ketat. Hampir semua karya sastra bermutu ditulis oleh pengarang dengan kedalaman intelektual. Itulah mengapa karya sastra menuntut pembaca memahaminya secara utuh. Tak sekedar mencari tema dan amanat, nama pengarang dan titi mangsa.

Perlu dilihat bagaimana pengarang mengonstruksi tokoh dengan karakternya masing-masing. Logis tidak dengan situasi budaya di mana tokoh hidup. Selain itu konsistensi karakter tokoh yang berhubungan dengan psikologinya. Sampai dengan teknik bercerita dan cara berbahasa.

Kalau sudah menangkap hal itu, pembaca dapat memahami alur cerita, konflik serta pesan yang ingin disampaikan pengarang. Dalam puisi, pembaca dituntut memahami apa yang dimaksud penyair dalam selubung bahasa dan cara penyajian yang beragam.

Kita tahu, sastra yang bermutu diciptakan lewat ketajaman tema dan teknik penulisan yang canggih. Di samping kemampuan berbahasa yang baik. Maka pelajaran sastra di sekolah tak mesti menuntut guru dan siswa cuma menghapal nama pengarang dan tahun penyiptaan karya.

Indikator keberhasilan di sekolah dapat dilihat dari kemampuan mengurai bacaannya. Baik itu dalam bentuk cerpen, puisi, maupun novel. Secara didaktis, sastra merekam jejak kebudayaan manusia dalam kurun waktu tertentu. Siswa dan guru dapat menangkap itu secara tepat.

Membaca kritis dan berpikir kritis adalah dua proses yang berhubungan. Berpikir kritis tidak dapat dicapai kalau tak terbiasa membaca kritis. Membaca kritis adalah proses membaca secara aktif dan hati-hati. Keduanya dapat membantu siswa dan guru memahami informasi secara menyeluruh. Begitu halnya dalam menerima informasi di media sosial.

Dalam proses membaca itulah daya apatis dan nalar kritis dapat diasah. Pembaca dibiasakan terus menggali karya sastra dari berbagai unsur. Dalam proses itu, pembaca dituntut memerhatikan detail dan mencerna permainan bahasa. Terlebih dapat menangkap persoalan sosial di dalamnya. Umar Junus bilang, pada dasarnya teks sastra adalah dokumen masalah sosial.

Seorang yang kerap membaca sastra tentu saja tahu dan dapat memisahkan mana sastra bermutu dan tidak. Kemampuan membaca sastra sekaligus untuk melihat perkembangan nalar kritis serta pengetahuan siswa dan guru terhadap masalah-masalah sosial di sekitaran.

Penguatan pendidikan sastra dan pelajaran membaca mesti dilakukan sejak dini. Di samping sastra dapat menambah wawasan, juga sebagai sarana olah pikir dan olah rasa sekaligus. Dengan begitu hoaks yang terus menggrogoti cara berpikir dapat dihentikan lewat pendidikan sastra.

Setali dengan itu, penguatan pendidikan sastra terhadap guru dan siswa demi meningkatkan budaya literasi kita. Mengingat hasil tes PISA pada 2015 lalu menyebut kecakapan literasi usia setingkat SMP sampai dewasa kita rendah. Kalau minat baca siswa dan guru meningkat, nalar berkembang dan sikap kritis terhadap informasi bisa tumbuh.

Ketika sikap kritis sudah tumbuh, siswa dan guru dapat menjadi aktor utama memajukan kebudayaan kita. Kalau pendidik dan peserta didik sudah mencintai sastra, badai hoaks dapat ditepis, dan setiap informasi dapat disaring secara kritis.

Facebook Comments

About the author

mm
MOHAMAD BAIHAQI ALKAWY

Mohamad Baihaqi Alkawy, Lahir di Toro Penujak, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, Mei 1991. Banyak menulis puisi dan esai. Tulisan-tulisannya tersiar di Media Indonesia, Indo Pos, Suara Merdeka, Suara Karya, Kedaulatan Rakyat, Pikiran Rakyat, Bali Post, Koran Kampung, Lampung Post, Minggu Pagi, Riau Pos, JogloSemar, Radar Surabaya, Sinar Harapan, Banjarmasin Post, Warta Bahari, Lombok Post, Suara NTB, Radar Lombok, Radar Mandalika, Buletin Egaliter, Jurnal Santarang, Jurnal Cordova, Majalah Sagang, Buletin Egaliter, dan Buletin Kappas. Juga Tersimpan dalam Buku Antologi 22 Penyair NTB, Dari Takhalli sampai Temaram (2012), Antologi Penyair Nusantara, Indonesia dalam Titik 13 (2013), Negeri Poci 5 (2014), Kembang Mata (2015). Salah satu cerpennya berhasil masuk antologi Lelaki Purnama dan Wanita Penunggu Taman (2012). Bukunya berhasil terbit Antologi Esai Tuan Guru Menulis, Masyarakat Membaca (2014).

mm By MOHAMAD BAIHAQI ALKAWY