Literasi Siswa, Literasi Nyata

Ilustrasi: Ai Sahidah / janang.id

Ketika melakukan Praktek Lapangan (PL) tahun 2017 lalu, saya mengajar di salah satu SMP ternama di Peisisr Selatan. Hari pertama masuk, saya tidak langsung melakukan proses pembelajaran atau membagikan silabus atau membagikan materi yang hendak saya ajarkan. Tetapi saya menceritakan beberapa hikayat dan cerita legenda lokal. Sepanjang cerita, saya menanyakan beberapa cerita lainnya yang telah dijadikan buku. Pertama, tentu saya memberikan pertanyaan ke beberapa siswa. Saya menanyakan buku apa saja yang sudah pernah mereka baca. Ada beberapa siswa yang menjawab buku pantun, buku tentang minangkabau dan novel-novel pop lainnya. Tentu idola para siswa adalah Tere Liye, sesudah itu Boy Candra dan Andrea Hirata. Saya tau, buku-buku penulis yang masuk ke rak pustaka sekolah hanyalah buku dari Tere Liye dan Andrea. Saya berpikir untuk perkembangan bahan bacaan di suatu Kabupaten, terutama Pesisir Selatan yang sangat rendah kegiatan literasinya, itu termasuk menggembirakan sekali.

            Berarti para siswa masih mau mengikuti perkembangan zaman, buktinya mereka tau nama-nama penulis tersebut, meski hanya sebagian kecil dari mereka yang sudah membacanya, selebihnya hanya membaca buku yang bergambar saja; dongeng, cerita legenda dan buku LKS. Sebagai seorang pendidik kala itu, saya tidak memberikan saran apa-apa untuk bahan bacaan yang bagus bagi seumuran mereka. Saya tidak punya kapasistas dibagian itu, untuk menentukan bacaan apa yang baik untuk mereka, toh, mau membaca saja mereka sudah mujur sekali. Meski di sekolah sudah ada namanya program Pojok Baca, yaitu di setiap kelas ada pustaka mini di bagian pojok kelas. Namun itu hanya tinggal nama, program yang sengaja dibuat pemerintah untuk meningkatan minat baca siswa, tetap saja nihil. Bagaimana tidak, program tersebut tidak berjalan sama sekali.

Sebelum masuk ke kelas pertama, saya sudah mencek pustaka sekolah dan saya akui pustakanya termasuk memiliki banyak bahan bacaan. Namun hanya 10% dari siswa yang rutin mengujungi pustaka, selebihnya hanya datang kalau mau meminjam buku pelajaran saja. Di pustaka, lebih dari lima orang penjaga pustaka dengan lulusan perguruan tinggi yang berbeda, sebanyak itu mereka tidak ada satupun yang memiliki ijazah di bidan kepustakaan. Apakah mereka hanya ingin datang ke sekolah untuk memakai baju bersih saja, atau melepas tanya keluarga? Saya tidak tau.

            Setelah menceritakan beberapa kisah yang saya ambil dari buku lama, mereka kembali menanyai saya bagaimana cara seorang penulis menciptakan sebuah karya. Saya sangat bahagia sekali menerima pertanyaan itu, meski saya tau di sekolah itu masih ada yang namanya kelas unggul dan kelas tidak unggul. Walau pada kenyataannya anak-anak di dalam kelas unggul hampir sama dengan kelas-kelas lainnya. Yang membedakan mereka hanyalah gaya saja dan ekonomi. Saya sederhanakan saja jawaban untuk pertanyaa itu, “setiap penulis adalah pembaca. Namun tidak semua pembaca adalah penulis.” Para siswa masih bingung maksud dari jawaban saya tersebut. Sebagai seorang pendidik, adalah kewajiban saya untuk menerangkan sampai mereka benar paham. Saya terangkan kepada mereka pentingnya membaca, sebelum mengabarkan pada mereka pentingnya menulis.

            Dua hal tersbeut adalah teman dekat, mereka memang sangat lekat sekali, sampai tidak bisa dipisahkan. Menulis dan membaca adalah kebutuhan penting, kalau ditarik lagi lebih jauh, membaca adalah perbuatan wajib. Mengapa begitu? Tidak ada satu orang manusia yang pintar, cerdas dan intelek yang tidak membaca. Jadi kesimpulannya, untuk apa sekolah tinggi-tinggi, bila itu saja tidak mampu dilakukan. Mereka tercengang, barangkali mereka tidak menyangka saya bisa bicara seperti itu. Mereka pikir saya adalah guru yang lemah lembut dan menasehati layaknya guru BK yang menjadi motivator siswa.

            Pada pertemuan selanjutnya, saya tidak pernah membawa buku pelajaran atau bahan ajar yang diberikan Pamong. Saya membaca materi dan pembelajan di rumah. Paginya saya tetap membawa buku-buku panduan tersebut sebagai bahan untuk saya pahami ketika waktu istirahat. Dengan cara itu juga saya tidak mendapat tempat yang baik dikalangan guru-guru, karena di sekolah tersebut semua guru mengajar menggunakan buku dan masih memakai cara lama: catat papan tulis dan ceramah. Sungguh kegiatan yang membosankan sekali sejak zaman ketumbar.

            Saya suruh tiap-tiap kelas mencari buku-buku penulis sastra seperti, Pramoedya A. Toer, Eka Kurniawan, Ahda Imran, Mario F Lawi, Deddy Arsya, Raudal Tanjung Banua, Iyut Fitra dan penulis lainnya. Dalam proses belajar mengajar, tentu saya harus tau dimana harus memasuki dunia membaca dan menulis, tidak semua materi Bahasa Indonesia adalah menulis. Tapi semuanya materi Bahasa Indonesia adalah membaca, itu yang saya pahami setelah menyelesaikan bacaan buku-buku pelajaran Bahasa Indonesia. Miris sekali memang, ketika saya sebutkan nama-nama di atas, tidak satupun siswa yang pernah membaca bukunya. Untuk penulis asli Pesisir Selatan, saya masih bisa memaklumi, tapi untuk nama sekelas Pram dan Eka, tentu sangat mengecewakan sekali.

            Dalam menyebutkan nama-nama penulis untuk mereka cari tulisannya, saya memang mengutamakan penulis lokal Sumatra Barat. Bukan tidak menawarkan nama-nama besar di Indonesia, namun cara demikian saya rasa akan membawa mereka kepada nama-nama penulis lainnya dan karya mereka. Tapi bagaimanapun juga, membaca dan menulis adalah kegiatan gampang-gampang susah, siapa saja bisa membaca, tapi tidak semua orang bisa menulis.

            Meski waktu saya hanya satu semester, tapi beruntung sekali bagi saya dapat merasakan bagaimana bahagiannya saat siswa yang saya ajar mendapatkan nilai tertinggi di sekolah tersebut. Salah satu murid yang saya ajarkan hampir mandapatkan nilai sempurna saat ujian semester untuk kelas 7. Tentu semua itu bukan hasil didikan saya saja, melainkan kerja kerasnya dalam belajar. Selama mengajar di sana, jumlah kunjungan ke pustaka sekolah juga meningkat. Saya juga tidak tau, entah itu dampak dari cara mengajar saya dan kawan-kawan atau memang begitulah keadaan sekolah yang kunjungan siswanya musiman.

            Selain memberikan pemahaman pentingnya membaca, saya juga sempat membuat sebuah kelompok menulis di beberapa kelas. Meski terbilang nihil, tapi saya bersyukur. Masih ada beberapa orang yang tersisa untuk terus rajin mengirimkan hasil karyanya kepada saya. Karya-karya yang mereka tulis berupa cerpen dan puisi. Untuk anak-anak SMP, memang tidak ada patokan pasti memberikan mereka pemahaman menulis, namun untuk kegiatan membaca, saya selalu menyuruhnya banyak membaca buku apapun. Kemudian setelah membacanya, mereka melanjutkannya dengan kesimpulan dan ulasan singkat. Dari sana kami berdiskusi, bila buku itu mengandung sara dan pornografi, saya sarankan tidak membaca buku seperti itu lagi. Tentu bacaan akan memengaruhi tingkah laku dan cara mereka menulis nantinya.

            Pelan-pelan saya mengajarkan mereka pentingnya membeli buku. Di zaman canggih ini, mereka bisa membeli buku dimana saja, baik via online maupun offline. Mereka menyanggupi hal tersebut. Kadang saya juga menitipkan pesan kepada mereka untuk orang tuanya, bahwa membeli buku bukan buang-buang uang. Sebagian orang tua murid memiliki pemaham seperti itu, karena takut anaknya kekurangan uang jajan karena harus menabung uangnya buat membeli buku. Tapi beruntung mereka dapat meyakinkan orang tuannya, dan kadangkala diluar jam belajar, kami diskusi bersama di rumah. Meminjamkan mereka koleksi yang saya punya. Atau sesekali kami pilih salah satu rumah siswa untuk tempat berdiskusi.

            Tingkat membaca aktif di Pesisir Selatan memang terbilang minim sekali. Tentu itu bisa dilihat dari kurangnya acara atau program menyangkut literasi. Mengenalkan pentingnya dunia membaca kepada anak-anak sangat jarang sekali terdengar, walau di luar sana program-program literasi terus lalulalang. Barangkali tidak adanya kecocokan antara kaum muda dengan pemerintah, atau memang program semacam itu hanya sampai di ibukota Pesisir Selatan saja, Painan. Saya percaya, setiap anak-anak dengan mudah menyukai dunia membaca, kalau pengenalannya memakai cara yang mereka sukai. Bukan sekedar membaca saja, tapi juga bagaimana cara memahami buku yang mereka baca. Biasanya anak yang suka membaca akan jauh berbeda dengan yang tidak suka membaca. Mereka yang menyukai dunia membaca akan dengan mudah menyerap pelajaran dan memperlakukan waktunya dengan baik. Dilain sisi, para guru atau orang tua juga tidak mengambil alih dunia bermainnya.(*)

Facebook Comments

About the author

mm
ARIF P PUTRA

Arif Purnama Putra, berasal dari Surantih, Kab. Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Alumni di STKIP PGRI Padang, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Bergabung bersama Komunitas Menulis “Daun Ranting”. Buku tunggalnya yang telah terbit “Suara Limbubu” Karya pernah dimuat beberapa media dan antologi bersama.

mm By ARIF P PUTRA