LEBARAN ISLAMI

JANANG.ID

Lebaran kata terbanyak yang ditulis, dibaca dan diperbincangkan di bulan Mei dan Juni ini. Lebaran itu tradisi yang bermula dari merayakan 1 Syawal hari nan fitri. Ketika syariat Islam begitu membumi perayaan Idul Fitri sarat makna religi. Itulah sebabnya mudik lebaran dapat dikatakan wujud cinta fitri. Sungkem pada Abi dan  Ummi,  serta bersalaman memohon maaf atas kesalahan diri adalah wujud meneguhkan silaturahmi.

Kini, Idul Fitri dalam isi dan misi mulai tereduksi sekedar menjadi tradisi. Tradisi untuk menunjukkan kesan islami, padahal untuk melihatkan siapa diri. Tradisi berbalut janji menjadi barang dangangan politisi agar dapat mempertahan kursi. Tradisi fitri diisi dengan prilaku dan gaya hidup tak terpuji harus dikritisi. Tradisi yang dipolitisi akan berakibat buruk bagi religi (diri).

Sulit menyatakan tapi dapat dirasakan bahwa lebaran bergerak jauh melebihi tradisi.  Para penumpang lebaran terjebak dalam arus komersialisasi. Uang banyak, barang mewah dan gaya hidup hedonisme menghiasi diri yang dipertontonkan oleh mereka tak paham lebaran islami. Budaya luhur saling memaafkan dan saling mengunjugi yang diwariskan melalui tradisi mulai luntur alasan materi.

Tidak sekadar politisasi dan komersialisasi Idul Fitri ada malah yang lebih buruk lagi yakni mereka yang mengkapitalisasi idul fitri. Kunjungan silaturahmi dikreasi bermuatan pengenalan politisi yang bersyahwat tinggi duduk di kursi. Politisi bermodal pitih (uang-redaksi,) minus prestasi dan reputasi menjadi incaran agen penjual misi nagari. Sungguh ngeri akibatnya saat negeri dipimpin orang tak berbudi dan tak mengerti.

Kembali pada Idul Fitri islami tentu harus tetap diyakini puncak capai hamba yang hakiki. Idul fitri islami menjadi saat untuk merayakan kemanangan jihad taqwa ilahi. Jihad taqwa mereka yang dapat menunjukkan jati diri, prestasi dan bersih diri. Semangat berpribadi,  bersih diri dan suci hati itu capaian idul fitri.

Allah SWT berfirman dalam kitab suci:
“Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan furqan (kemampuan membedakan antara yang hak dan batil) kepadamu dan menghapus segala kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Allah memiliki karunia yang besar.” (QS. Al-Anfal 8: Ayat 29)

TRADISI DAN KOSMOPOLIT.

Tradisi itu kebiasaan yang diterima melalui pewarisan dari nenek moyang satu komunitas. Tradisi itu bersifat given, begitu adanya, ia bisa tetap, berubah dan hilang sekalipun. Pemegang tradisi cerdas terus membangun kesadaran akan arti, fungsi dan makna tradisi.

Sayang ada mereka yang bersikukuh dengan tradisi, tanpa mau mengikuti hasil ilmu dan tekhnologi. Mereka itu adalah menempatkan tradisi melebihi dari semesti. Tradisi yang dinaik kelaskan menjadi imani adalah ancaman iman dan Islam.

Kosmopolit mulai mengeser tradisi tentu harus dicermati hati-hati. Tradisi yang bermuatan hati harus dapat diinisiasi sesuai misi. Menjadi hilang makna dan rasa bila tradisi berkunjung, bersalaman dan bersilaturahmi fisik, lalu di ganti dengan Whats App, SMS; facebook, instagram dan fitur yang berbasis teknologi.

Era digital pisau bermata banyak tradisi tergeser tanpa disadari, sekaligus kapitalis mereguk untung tiada henti. Transportasi segala jenis moda begitu sesak, yang sekaligus menjadikan rekening pemiliknya membengkak.  Industri kuliner dan peganan kue menjamur di se antero kota merayu selera di zaman edan.

Akhirnya, Selamat Idul Fitri nan suci bagi hamba yang Insya Allah fitri. Mohon maaf lahir dan batin dari kami.  Semoga kita kembali fitri. Besok, kita menjadi asli.

Ambon I No. 4 Wisma Indah Siteba Padang.  10062018.

Facebook Comments

About the author

mm
Prof. Dr. Duski Samad, M.Ag

Prof. Dr. Duski Samad, M.Ag, Ketua MUI Kota Padang, merupakan dosen dan guru besar di UIN Imam Bonjol. Tulisannya tersebar di beberapa media cetak dan aktif mengelola Duski Samad Institute. Salah satu bukunya yang sudah terbit, Konseling Sufistik (Grafindo Press Jakarta; 2017)