Lebah-lebah Lind

UNSPLASH.COM

Di ruangan itu hanya ada Tom dan Lind. Angin sepoi-sepoi mengantarkan harum bunga pekarangan masuk melalui jendela. Harum bunga yang seakan mampu mengundang lebah-lebah ikut serta dalam percakapan mereka.    

“Aku baru saja membayarkan uang muka rumah itu.”

“Jadi kau akan tinggal di sana?”

“Bagaimana menurutmu?”

“Kau tak akan betah”

“Kalau begitu kau tinggal bersamaku”

“Kita tidak sedang di barat, Tom”

“Kalau begitu kita menikah saja”

 

“Baiklah, kita akan menikah,” Lind mengakhiri pembicaraan mereka kali itu. Pada hari berikutnya mereka berangkat ke kantor setempat mendaftar dan meminta rincian persyaratan yang harus dilengkapi. Beberapa hari kemudian tanpa persiapan yang berarti mereka kembali lagi ke sana dan mengucap janji pernikahan.

Rumah itu tidak besar. Ada dua kamar tidur, dapur dan ruang makan di belakang serta ruang tengah yang mereka bagi dua dengan sekat. Satu sisi untuk menonton televisi dan sisi satunya lagi sebagai ruang tamu. Masing-masing dari mereka menempati satu kamar tidur. Kamar Tom dipenuhi dengan tumpukan koleksi CD lama serta dua buah spiker yang membuatnya terasa semakin sempit. Kamar Lind sendiri dipenuhi oleh buku-buku, hanya buku-buku dan menutupi hampir seluruh dinding kamarnya. Pagi hari adalah waktu terbaik bagi Tom untuk memutar koleksi CD lamanya. Ia penyuka aliran musik rock, tentu ia tak ingin mengganggu Lind yang khusuk membaca atau menulis dengan memutar musik keras itu di malam hari. Setelah Lind berangkat kerja Tom akan mulai menyibukkan dirinya. Dia akan mulai membersihkan gitarnya, melatih dirinya dengan beberapa petikan, mendengarkan satu dua lagu, sesekali ia juga merapikan seisi rumah.

Lind bekerja di sebuah perpustakaan daerah, sudah cukup lama dan ia tampaknya tak punya keinginan lain selain bekerja di sana seakan-akan itu pekerjaan yang sudah dicita-citakannya sedari kecil. Siapa pun yang mengenalnya akan tahu betapa ia sungguh jatuh cinta kepada buku-buku. Di usianya yang masih belia ia sudah melahap pelbagai buku filsafat. Bagi Lind mengimani filsafat seperti obat yang membuatnya mampu mengurangi kecemasan berlebih yang ada dalam dirinya. Di waktu-waktu tertentu Lind kerap merasa dirinya diserang ketakutan seperti ada sekumpulan lebah dari pekarangan terbang mengitarinya, lebah-lebah yang siap memberikan sengatan paling mematikan dan membuat ia tampak tak berdaya.

Sekembalinya Lind dari perpustakaan, menjelang malam hari Tom sudah bersiap untuk keluar. Tom bermain musik di sejumlah kafe di pusat kota bersama tiga orang rekannya. Mereka biasanya memainkan lagu-lagu rock tahun 90-an bahkan sering juga mereka memainkan lagu-lagu yang lebih lawas dari itu semisal Duran Duran atau The Police. Lind beberapa kali menonton Tom bermain, ia menyukai hampir seluruh lagu yang dibawakan Tom. Tom tahu Lind memiliki selera musik yang tak buruk, ia akan sangat senang bertanya pendapat Lind tentang beberapa daftar lagu yang bisa dibawakannya di sejumlah kafe yang berbeda.      

Begitulah hari-hari mereka. Tom bersama musiknya dan Lind bersama buku-bukunya. Di akhir pekan mereka akan memasak bersama lalu menonton tiga sampai empat film di ruang tengah. Sekali waktu mereka berbelanja furnitur sehingga seolah-olah mereka tampak seperti layaknya sepasang suami istri, sekalipun sesungguhnya mereka hanya berbelanja kebutuhan mereka masing-masing. Lind hanya membeli sebuah meja tulis untuk diletakkan di kamarnya sementara Tom membeli lemari untuk menampung koleksi CD-nya yang semakin bertambah. Malam harinya mereka akan kembali ke rutinitas masing-masing. Terkadang jika Lind sedang diserang ketakutan terhadap lebah-lebah dalam kepalanya ia akan pelan-pelan masuk ke kamar Tom dan menyelinap di bawah selimutnya. Biasanya Tom akan bertanya ada apa tapi Lind tak pernah menjawab lalu Tom hanya akan membiarkannya tertidur di situ sampai esok pagi.

Tom bagi Lind adalah satu-satunya orang yang memahami dirinya begitupun sebaliknya, Lind bagi Tom tak sekedar cantik dan menggemaskan tapi ia adalah satu-satunya perempuan yang tahu bagaimana memaklumi segala sifat dan kelakuan laki-laki semacam dirinya tanpa pernah merasa keperempuanannya direndahkan. Bagi Lind segala sesuatu di dunia ini tak ada hebat-hebatnya seolah segala hal adalah biasa saja yang pada akhirnya membuat perempuan itu hidup hanya berdasarkan nalurinya semata. Bagi Tom hidup dengan naluri adalah hal yang paling bisa diterima otaknya. Tom tahu benar betapa rumitnya hidup ini dan Lind menginginkan segala sesuatu yang tak membuat hidupnya kerepotan. Begitulah mereka sepasang manusia yang saling mengisi satu sama lain.  

Di sebuah akhir pekan yang seperti biasanya Lind dan Tom memutuskan untuk menonton film. Mereka tak lupa menyiapkan minuman dan beberapa makanan ringan sebagai pelengkap.

“Kenapa ada film seburuk ini dan kita menontonnya”

“Membosankan”

“Kau bisa pergi mencari hiburan yang lain jika kau mau, Tom”

“Tentu. Tapi tak akan kulakukan”

“Perempuan-perempuan itu, sudah lama kau tak mengunjungi mereka bukan?”

 

Tom terdiam. Ia mengambil minuman dingin dari dalam lemari pendingin dan menegak beberapa tegukan.

“Aku tak mengunjungi perempuan manapun sejak kita menikah”

“Tidak, Tom. Kau boleh …..

“Ya aku tahu, Lind. Tapi bisakah kita tidak membicarakannya”   

 

Tom tahu benar ke mana arah pembicaraan Lind. Ia paham bagi perempuan itu cinta, kenyamanan dan pernikahan adalah tiga hal yang tak memiliki hubungan sama sekali. Lind bisa memilih untuk tidak menikah dengan Tom, baginya akan sama saja, ia tetap bisa memiliki perasaan nyaman yang sama. Tom sadar ia tak bisa menuntut sesuatu atas apapun kepada perempuan itu, tidak soal perasaan terlebih soal pernikahan. Bagi Lind menikah dengan Tom adalah sesuatu yang tak akan mengubah hidupnya karena itulah ia menikah. Ia takkan dirumitkan oleh segala macam urusan rumah tangga atau bahkan perkara mengurus anak. Perempuan itu memang tak berkeinginan untuk memiliki keturunan. Bagi Lind adalah sebuah kejahatan membuat seorang-anak-manusia hidup di dunia yang keparat ini.

Bahwasanya pernikahan mereka adalah sesuatu yang tak bertujuan terhadap apapun membuat Lind memaklumi hubungan-hubungan Tom dengan perempuan lainnya. Meski Lind tak akan berkeberatan tapi Tom tak pernah sekalipun membawa seorang perempuan ke rumah, perempuan-perempuan yang begitu menggilai permainan musik Tom. Bukan karena Lind tak pernah melakukan hal semacam itu juga hanya saja ada perasaan lain yang seketika Tom rasakan. Perasaan yang membuat ia menahan diri seakan-akan ada hati yang ingin ia jaga. Sesungguhnya Tom sendiri tak tahu apa yang tengah dirasakannya, tetapi memikirkan Lind akhir-akhir ini entah kenapa membuatnya seperti didera perasaan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Berbulan-bulan lamanya ia dirundung perasaan yang tak jelas itu hingga Tom semakin hari semakin tak sanggup lagi untuk menanggungnya.

Malam itu Lind kembali cemas. Seketika ada ketakutan besar yang seperti mendatanginya. Ia tak lagi merasa ribuan lebah hendak menyerangnya melainkan jutaan lebah dan seperti sebelum-sebelumnya, perempuan itu menyelinap ke kamar Tom. Tom bertanya ada apa tapi Lind tak menjawab. Lind meringkuk di sisi Tom, dengan pelan mendekatkan tubuhnya ke tubuh Tom. Ketika kulit mereka saling bersentuhan ada yang berdesir dalam dada Tom. Laki-laki itu menyelimuti Lind. Tubuh Lind menggeliat. Perlahan Tom ikut pula masuk ke dalam gumpalan selimut. Untuk pertama kalinya Tom mendapati sesuatu yang terasa begitu halus dan lembut, sesuatu yang serta merta membuat tubuhnya bergetar dan berkeringat. Malam itu Lind berusaha keras memejamkan matanya. Ia hanya berharap besok pagi lebah-lebah itu tak muncul untuk menyerangnya lagi.

Mataram, 2017

Facebook Comments

About the author

mm
IRMA AGRYANTI

Irma Agryanti. Cerpenis dan penyair. Lahir di Mataram, Lombok. Bergiat di Komunitas Akarpohon.

mm By IRMA AGRYANTI