Laki-laki yang Menolak Dijebloskan ke Neraka

“Cepat masuk!”

“Tidak.”

“Sekali lagi kuperintahkan, cepat masuk!”

“Tidak. Sampai kapan pun aku tidak akan mengikuti perintahmu.”

Begitulah. Perdebatan itu tak kunjung menemukan pangkal ujungnya. Si malaikat penjaga pintu neraka terus mendesak lelaki itu untuk segera masuk ke neraka. Sedangkan lelaki bernama Marsus itu tetap teguh dengan pendiriannya, bahwa dirinya tidak layak jadi penghuni neraka. Seharusnya sekarang aku sudah duduk santai di taman surga bersama para bidadari, bukannya berdebat denganmu di tempat yang udaranya sangat panas ini, ujarnya.

“Apa pun alasanmu, kamu harus tetap masuk ke pintu yang kujaga ini,” kata si malaikat penjaga pintu neraka dengan nada sangat kesal.

“Dan aku tetap tidak akan mengikuti perintahmu. Sebab aku tidak cukup memenuhi syarat untuk menjadi penghuni neraka,” ujar Marsus, tetap teguh dengan pendiriannya.

“Tapi namamu terdaftar sebagai penduduk baru neraka.”

“Ah, itu pasti keliru. Coba periksa lagi. Tidak mungkin hanya manusia yang sering berbuat kesalahan. Aku yakin, apa yang diperbuat malaikat tidak selalu benar, termasuk yang kau lakukan ini.”

Malaikat yang berselimutkan cahaya terang itu mulai frustasi menghadapi Marsus. Namun ia tetap berusaha bersikap tenang. Dengan nada dingin, ia berujar, “Apa pun yang kau katakan, yang jelas namamu tertulis dalam buku yang kupegang ini. Kalau kau tetap tidak percaya, coba lihat sendiri!”

Marsus diam. Tak satu pun kata terlontar dari mulutnya.

“Sekarang kau tidak akan bisa mengelak,” gumam si malaikat, tersenyum puas.

“Wahai Malaikat yang selalu merasa benar,” kata Marsus, “Apakah kamu tidak tahu kalau aku tidak bisa melihat?”

Kali ini giliran si malaikat yang bungkam. Ia tidak tahu bagaimana caranya menghadapi lelaki berwajah lugu itu. Baru kali ini aku dibuat pusing oleh ras manusia, gumamnya.

“Tak usah pusing, Wahai Malaikat Penjaga Pintu Neraka,” kata Marsus. Ia diam sejenak, menggaruk-garuk rambut ikalnya yang sebenarnya tidak gatal, kemudian melanjutkan, “Sebenarnya aku tidak bermaksud menghalang-halangi tugasmu, tapi aku memang merasa tidak pantas berada di neraka. Dan kalau pun kau memasukkanku ke sana, aku yakin, api yang panasnya bukan main itu tidak akan bisa membakar tubuhku. Bukankah api neraka jahanam hanya bisa membakar tubuh yang setiap saraf dan aliran darahnya penuh dengan dosa dan tipu daya? Sementara sewaktu di dunia, diriku jauh dari hal-hal semacam itu.”

“Tapi perintah tetaplah perintah. Dan aku wajib melaksanakannya,” ujar si malaikat.

Belum selesai malaikat penjaga neraka itu bicara, tiba-tiba Marsus memotong, “Baiklah jika kau tetap memaksa. Tapi sebelum kau memasukkanku ke neraka, kau harus mendengarkan penjelasanku kenapa aku menolak dimasukkan ke sana.”

“Baiklah. Silakan jelaskan.”

Seraya mengusap air bening yang sedari tadi menitik dari sepasang mata butanya, Marsus mulai menjelaskan. Lelaki berpakaian serba putih itu mengatakan bahwa dirinya dilahirkan oleh seorang ibu yang luar biasa. Bukan hanya luar biasa, tapi sangat luar biasa. Bagaimana tidak, dia bukan hanya berperan sebagai ibu tapi juga menjelma sebagai ayah, yang tidak hanya mengasuh dan mengajarinya menjadi lelaki tangguh dan bertanggung jawab namun juga menafkahi dirinya sampai akhir hayatnya.

***

Ayah? Aku tidak tahu apakah aku punya ayah atau tidak. Tapi yang jelas, kata ibu, ayah pergi meninggalkan kami tidak lama setelah aku lahir ke dunia. Entah, ayah pergi karena sudah tidak lagi mencintai ibu atau karena malu punya anak buta.

Namun, aku yakin, saat itu ayah tega membiarkan ibu mengurus dan mengasuhku seorang diri karena tidak bisa menerima kehadiranku. Sebab, sebelum ibu dipanggil oleh Yang Maha Kuasa, beliau bilang bahwa sebenarnya ayah masih hidup bahkan memiliki satu orang anak hasil pernikahannya dengan seorang perempuan berdarah Jawa. Menurut penuturan ibu, ayah menikahi perempuan itu tidak lama setelah ibu berstatus janda.

Aku memang tidak bisa melihat, tapi aku tahu, ayah sangat sayang pada anak keduanya itu. Menurut ibu, apa pun yang diminta oleh anak kesayangannya itu pasti dikabulkan oleh ayah. Sementara padaku, jangankan perhatian dan membelikanku sesuatu, menjengukku saja tidak pernah. Dan hal itu semakin menegaskan bahwa ayah menceraikan ibu karena dia tidak mau punya anak buta seperti diriku. Jujur, aku iri pada adikku sendiri.

Apakah aku percaya seratus persen pada semua yang dikatakan ibu perihal ayah? Tentu, aku selalu percaya pada perkataan ibu. Sebab beliau adalah ibuku. Dengan segala pengorbanan yang telah dilakukannya padaku, tidak mungkin beliau membohongi anaknya sendiri.

Kenapa aku menolak dijebloskan ke neraka? Seperti yang kubilang tadi, kamu tidak cukup memiliki syarat untuk memasukkanku ke sana. Selama hidup di dunia, aku tidak pernah melakukan perbuatan-perbuatan yang merugikan orang lain. Tidak mungkin seseorang yang memiliki keterbatasan penglihatan seperti diriku ini bisa melakukan perbuatan-perbuatan yang sangat dibenci oleh Sang Pencipta, kan? Aku tidak pernah bersentuhan dengan yang namanya pencurian, pemerkosaan, melecehkan orang lain, dan perbuatan-perbuatan buruk lainnya.

Seharusnya yang pantas dimasukkan ke neraka adalah ayah, bukan aku. Dialah yang menyebabkanku tidak mengenal ibadah (bila itu yang membuat kau memaksaku menjadi penghuni neraka). Ayah hanya mengajariku bagaimana cara bertahan hidup. Ya, setelah ibu tiada (waktu itu umurku kira-kira enam belas tahun), tanpa bantuan dan campur tangan ayah tentunya, dengan segala keterbatasan penglihatan yang kualami, aku hanya fokus bertahan hidup di dunia yang katanya makin fana.

***

“Itulah alasan kenapa aku menolak dijebloskan ke neraka,” ujar Marsus. Ia diam sejenak, mengusap air mata yang mulai membanjiri pipi kusutnya, kemudian melanjutkan, “Tapi sekarang terserah kau, Wahai Malaikat yang telah sudi mendengar kisahku selama hidup di dunia.”

Si malaikat penjaga pintu neraka tidak berkata apa-apa. Ia seperti masih terhanyut dalam kisah pilu Marsus.

“Sekarang laksanakan tugasmu! Mungkin aku memang ditakdirkan menjadi lelaki yang tak bisa menikmati indahnya hidup, bukan hanya di dunia tapi juga di kehidupan setelah mati seperti saat ini,” seraya berkata seperti itu, Marsus menyodorkan sepasang lengannya ke hadapan si malaikat, seolah pasrah untuk dibawa ke neraka.

Sementara si malaikat, bukannya membawa Marsus yang sudah pasrah dijeblosan ke neraka, malah menatap lelaki itu dengan gundah. Ia bingung tidak tahu harus berbuat apa.

Yogyakarta, 2017

Facebook Comments

About the author

mm
FAJRI ANDIKA

Fajri Andika alumnus Madrasah al-Huda II, Gapura Timur, Sumenep, Madura. Tinggal di kedai-kedai kopi Jalan Sorowajan Yogyakarta.

mm By FAJRI ANDIKA