KUMPULAN DIALOG PUITIS DARI KISAH LAHIRNYA FRANKENSTEIN

Film                 : Mary Shelley

Sutradara         : Haifaa Al-Mansour

Genre              : Biografi, Drama, Romance

Liris                 : 6 Juli 2018

Durasi              : 120 Menit

Apakah kau pernah menonton atau membaca kisah tragis Dr. Frankenstein dan ciptaanya? Jika pernah lantas kau pasti heran setelah tahu bahwa pengarang dari cerita gotik itu adalah seorang remaja perempuan berusia 18 tahun. Novel ilmiah yang bergenre horor itu ditulisolehMary Wollstonecraft Shelley di tahun 1816. Tetapi kita tidak akan bicara banyak tentang Frankenstein melainkan sebaliknya, kita akan membahas film biopic Mary Shelley ini yang tak lain adalah penulis Frankenstein: or The Modern  Prometheus yang legendaris itu.

Film biopic ini bercerita tentang masa remaja Mary Shelley yang diperankan oleh Elle Fanning dengan kisah percintaannya dengan seorang pujangga bernamaPerchy Bysshe Shelley yang diperankan aktor tampan Douglas Booth.Film ini sangatlah puitis. Kita bisa mendapati banyak puisi-puisi di dalamnya. Apalagi dialognya diucapkan dengan aksen british dan diringi musik latar yang melankolis seakan melengkapi kesan puitis film ini.

Seperti yang saya katakan di awal maka film ini dibuka dengan sebuah kutipan dan sebuah puisi Mary Shelley,sekaligus menunjukkan karakter Mary yang menyukai hal-hal yang horror. Kutipan itu: There is something at work in my soul wich I do not understand dandalam dua baris awal puisinya ia berkata secara berulang: “Scarcely had the demon cat his burning stare upon her” secara literer berarti: “hampir tak ada panggilan iblis tatapan membara ditujukan padanya”.

Pada usia 16 tahun Mary bertemu dengan seorang pujangga muda yang radikal. Dia bertemu di suatu jamuan dan setelah Percy membacakan puisinya, Mary lantas jatuh cinta padanya. Kita bisa bayangkan betapa puisi memiliki magis sebab ia bisa membuat kita jatuh cinta hanya dengan kata-kata. Pertemuan keduanya ditandai pula dengan kalimat-kalimat puitis. Percy bertanya kepada mary “apakah kau juga menulis?” Mary bilang “tidak. tidak ada yang substansial” lalu Percy membalas “ lalu menurutmu apa yang substansial itu?” Mary menjawab “anything that curdles the blood and quickens the beatings of the heart”. Jika ada seorang perempuan yang berkata seperti itu pada kita, yakin dan percaya kita akan memilih menjadi seorang penyair.Dalam film ini juga dibintangi aktris yang tak kalah terkenalnya, Maisie Williams atau barangkali kita lebih mengenalnya dengan nama Arya Stark.

Mary besar dengan buku-buku sebab ayahnya memiliki toko buku. Percapakan ayah dan anak dalam film ini tidak kalah puitis dengan Percakapan Mary dan Percy. Suatu ketika, saat Mary bertanya pada ayahnya tentang ibunya,  ayahnya berkata “warriors like your mother are never long for this world.  Perumpamaan yang sangat dalam dan indah bagi seseorang yang ditinggalkan pujaan hatinya.

Mary adalah putri seorang filsuf politik bernama Willian Godwin dan ibunya seorang feminis yang menulis buku berjudul Right of Woman. Maka tidak salah jika di usia yang muda Mary telah berdaulat atas pikiran dan pilihan hidupnya. Bisa kita lihat dari keputusan Mary untuk menjalin hubungan tanpa ikatan pernikahan dengan Percy kendati pada waktu itu berumah tangga tanpa pernikahan adalah sebuah tindakan amoral.Mary meminta restu, tentulah ayahnya tidak setuju, setelah ayahnya tahu bahwa Percy bukan lagi bujang kendati Percy berdalih sudah tidak memiliki hubungan dengan istrinya dengan mengatakan: Mrs shelley and I are man and wife in name only, it is tyranny to bind and wife to cohabition after decay of their affection”  bahkan pernyataannya pun sangat puitis dengan mengatakan mengikat hubungan dua orang dalam kohabitasi setelah tidak ada kasih sayang di antara keduanya adalah sebuah tirani tak tertahankan.

Meski dalam dialog itu Mary dan Percy mengeluarkan kata-kata yang tidak kalah filosofis tetapi Ayahnya kukuh dengan pilihannya dan untuk tidak terlibat perdebatan cukup jauh dia lantas mengingatkan: ” jika kau pergi melihat Percy sekali lagi, prepare to lose the love of father, forever.” Mary yang seperti pepatah katakan adalah buah yang jatuh tidak jauh dari pohonnya.

Kehidupan bohemian seorang pujangga menjadikan Percymemiliki corak berpikir bebas tanpa perlu bertanggung jawab atas tindakannya. Mercy sekali lagi menunjukkan karakter perempuan yang tegar dan  bisa berdiri di atas kakinya sendiri ketika ia mendapati pemahaman cinta Percy yang menganggap bahwa cinta tak perlu dalam ikatan, bahwa seorang kekasihmu (kepunyaanmu) bisa menjalin hubungan yang sama dengan oranng lain—secara bersamaan.

Film ini disutradarai Haifaa Al-Mansour seorang perempuan dari Arab Saudi. Barangkali secara tidak langsung Haifaa ingin berbicara tentang perempuan yang dalam negaranya sendiri, tidaklah begitu bebas. Dalam film ini seakan dia menunjukkan bahwa derajat perempuan sama dengan lelaki, perempuan pun  bisa memikul tanggung jawab dan perempuan tidaklah lemah. Haifaa sepertinya menunjukkan sisi feminis melalui biopic ini, sebab karakter Mary menunjukkan dirinya sebagai perempuan  remaja yang berdaulat atas pilihan hidupnya. Bahkan rela meninggalkan bapaknya demi kekasihnya dan ia tidak menyesali sama sekali pilihannya itu—yang jika dibawa pada konteks sekarang, maka Mary tentu dianggap anak durhaka dan mempermalukan martabat keluarga yang untuk sebagian suku—anak yang pergi meninggalkan rumah karena kekasihnya sudah tidak ada artinya di dalam keluarga.

Dalam film ini kita belajaruntuk menjadi penulis besar kadang  perlu di awali dengan kehidupan yang memilukan, Seperti halnya Mary juga Pram atau kisah penulis besar yang menyedihkan lainnya yang memiliki nasib yang tidak sebaik karyanya. Film inijuga rasanya perlu ditonton mereka yang berniat menjadi penulis atau pujangga sebab di dalamnya sesuai dengan judul tulisan ini, kita akan temukan dialog puitis sejak awal hingga selesai juga darinyakita belajar bagaimana sebuah perjalanan mahakarya itu diciptakan.

Facebook Comments

About the author

SYAFRI ARIFUDDIN

Syafri Arifuddin Masser Alumni Mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Muslim Indonesia. Sekarang bermukim Mamuju – Sulawesi Barat. Buku puisi pertamanya: Unjuk Rasa-Kumpulan Sajak-Sajak Politk (IBC 2018)

By SYAFRI ARIFUDDIN