KOALISI KEWARASAN

Hari ini siapa saja tanpa disengaja sekalipun akan dengan mudah menerima informasi yang berpotensi menganggu kewarasan orang cerdas. Berita bohong, ujaran kebencian, perasaan benci dan malah ada yang sudah sampai menegasikan orang lain, kelompok lain, suku,  agama dan entitas yang berbeda dengannya adalah menjadi menu harian di media sosial yang menganggu kewarasan.

Kecemasan terhadap meledaknya perpecahan atau konflik yang dapat dipicu oleh media sosial hampir semua pemimpin di negeri ini mempidatokannya, namun medsos masih saja sulit dikendalikan sehingga terus menggerus kewarasan publik. Lihat postingan, video, gambar dan tayangan yang sepertinya benar, justru bohong merusak kewarasan.

Istilah koalisi kewarasan ini  diinspirasi oleh pidato Din Syamsuddin, utusan Presiden Untuk Dialog Keagamaan dan Peradaban,  pada malam Gala Dinner Konferensi Nasional IV FORUM KERUKUNAN UMAT BERAGAMA (FKUB) DENGAN TEMA “KERUKUNAN UMAT BERAGAMA PEMERSATU BANGSA”  di Kota Tarakan, Provinsi Kalimantan Utara 05 sd 7  September 2018.

Bangsa Indonesia sudah sejak lama  menyatakan dan merasakan bahwa kerukunan umat beragama adalah pemersatu bangsa. Teguhnya bangsa justru masih kokohnya harmoni. Oleh karena nya semua elemen bangsa bertekad untuk merealisir kerukunan bukan hanya  di pidatokan, tetapi dilakukan begitu seharusnya  disadari semua komponen bangsa. Propinsi Kaltara sebagai contoh dapat menjadi daerah sukses dengan indek demokrasi ketiga bukanlah sekedar leadership dan manajemen pimpinan daerahnya saja, tetapi ini karena sumbangan kerukunan yang dinamis dan aktif yang ada di daerah ini.

Patut sekali diingatkan untuk menjaga kewarasan bangsa maka harus dapat dipastikan kerukunan bisa membawa kemajuan itu artinya kerukunannya sudah aktif adanya. Jika kerukunan masih sebagai  sebatas pemersatu bangsa itu artinya kerukunan masih pasif. Kerukunan pasif rentan disusupi interes sempit dan kepentingan pragmatis sesaat. Kewarasan bangsa dapat terjaga bila koalisi kewarasan dapat dibangun terus melalui kerukunan aktif dan dinamis.

KERUKUNAN SEPUBAPAKO
Sejarah bangsa Indonesia menunjukkan bahwa bangsa ini dapat tumbuh dan berkembang  ketika kerukunan dapat terjaga. Saat harmoni menjauh, maka bangsa negeri ini menjadi hancur. Konflik daerah, kerusuhan antar golongan, pertikaian yang bernuansa SARA dan ketidak nyaman sekecil apapun itu bermula saat kerukunan menghilang. Adalah tidak berlebihan bila kerukunan adalah kebutuhan sosiologis bagi bangsa Indonesia. Kiranya beralasan sekali bila kerukunan itu menjadi kebutuhan pokok yang ke 10 (sepubapako) dari sembilan kebutuhan bahan pokok (sembako). Sungguh kebutuhan itu harus diciptakan dan usahakan.

Strategi merealisasikan kerukunan sebagai kebutuhan pokok yang ke 10 maka FKUB diminta lebih progress dan inovatif dalam merajut harmoni bangsa, FKUB diminta tidak hanya penyelesai akhir, artinya tidak sebagai solusi konflik, mestinya penyedia awal sebagai punggawa kemajemukkan. Harusnya seluruh eksponen FKUB jangan mau dijadikan pemadam kebakaran saja. Tetapi justru menyiapkan diri menjadi aktor harmoni. Indonesia ini rentan perpecahan karena suku, agama dan aliran yg luas,maka kebangsaan dapat efektif saat senasib dapat direkat dengan kerukunan.

Globalisasi membawa pluralisasi, dan egoisme sektoral itu adalah rentan konflik. FKUB itu penting dan harus dipentingkan. FKUB harus bergerak organik menciptakan kerukunan. Ujaran kebencian, dan menegasikan anak bangsa tidak ada kekuatan yang menghentikan perpecahan kecuali jika bila kerukunan terjalin kuat.

Untuk Indonesia harmoni perlu ada grand koalisi. Koalisi besar dari orang bijak, orang cerdas dan orang waras. Orang yang punya kerja besar untuk kerukunan sejati. Prasyaratnya adalah kesiapan meletakkan pandangan atas dasar kemanusiaan, melihat orang beda agama sbg ciptaan Tuhan dan saudara se bangsa. Maka gerakan menampilkan jalan tengah, inklusif (mengakui dan menghargai majemuk) mendahulukan musyawarah adalah cara tepat untuk harmoni bangsa.(*)

Facebook Comments

About the author

mm
Prof. Dr. Duski Samad, M.Ag

Prof. Dr. Duski Samad, M.Ag, Ketua MUI Kota Padang, merupakan dosen dan guru besar di UIN Imam Bonjol. Tulisannya tersebar di beberapa media cetak dan aktif mengelola Duski Samad Institute. Salah satu bukunya yang sudah terbit, Konseling Sufistik (Grafindo Press Jakarta; 2017)