KISAH EL DORADO YANG GAGAL DI TANGAN DOÑA AÑA

GOLD

Pada awal abad ke-16, banyak orang Spanyol didorong oleh kelaparan dan kemiskinan, sehingga membawa mereka kepada profesi sebagai penemu dan penjelajah tentara raja. Penemuan Hindia yang baru menawarkan impian, ketenaran dan kejayaan. Sebagian besar pergi ke sana, dengan segala harapan yang hendak diraih. Hidup mereka menyatakan keputusasaan.

Mereka bengis, sombong, kejam, sering terbagi karena pertengkaran dan tanah kelahiran. Mereka terbunuh tanpa keberatan dan mati tanpa protes dalam pencarian emas, tapi sementara itu mereka berbaris menuju ketidakpastian. Pria dan wanita ini tanpa sadari menjelaskan di dunia baru dan pencarian luar biasa.

Catatan di atas adalah bagian pembuka dalam film berjudul Oro/Gold: Emas, yang disutradarai Agustín Díaz Yanes. Film ini didasari oleh cerita pendek Arturo Péréz-Reverte dan mengabarkan ekspedisi Spanyol abad ke-16 selama masa Kolonisasi Amerika yang bertujuan menemukan El Dorado atau sebuah mitos kota emas yang hilang, membawa para petualang rakus pada perjalanan panjang. Film ini dibintangi oleh: Raúl Arévalo (Martín Dávila), Bárbara Lennie (Doña Aña), Óscar Jaenada (Alférez Gorriamendi), José Coronado (Sargento Bastaurrés), Jose Manuel Cervino (Don Gonzalo). Film Oro didistrubusikan oleh Sony Pictures España (spain), produksi Apache Films, Astremedia. Rilis 9 November 2017 dengan durasi 103 menit. Film Oro juga mendapatkan beberapa penghargaan dari Goya atau Los Premios yang diadakan setiap tahun. (Sumber: Wikipedia).
Adegan awal yang dihadirkan secara gamblang menyatakan bagaimana sifat bengis seorang prajurit sekaligus sebagai penemu. Seolah-olah wanita tidak diperhitungkan dalam perjalanan tersebut. Tampak jelas birahi buas itu, ketika wanita Indian ditangkap dan prajurit berdebat urutan tidur dengan gadis-gadis Indian. Mereka tak bisa sepakat. Namun Don Gonzalo (pemimpin) mereka melarang keinginan tersebut dan meminta segera melepaskan tawanan, dengan alasan supaya tidak adanya perseteruan dengan kelompok Indian. Tentu Bastaurrés sebagai sersan mempertanyakan hal tersebut, tidak seperti biasanya Don Gonzalo melakukan hal tersebut. Secara tidak langsung, sersan menyatakan bahwa kebiasaan mereka bukanlah seperti yang dikatakan Don Gonzalo. Sejak adegan itu sang sersan merasa ada yang salah dengan perjalan mereka, adanya kelompok-kelompok di dalam rombongan membuat krisis kepercayaan bermunculan, meski tidak menegangkan.
Begitu pun sebaliknya, seorang prajurit yang mengharapkan hasratnya lepas, malah berontak. Kata sang pemimpin, aku melihat bahwa prajurit Arestia disamping orang Biscaya yang keras kepala, dia juga bajingan dan pengecut. Pemimpin mereka memberikan hukuman kepada sang pria tersebut, maka ia memberikan hukuman Garrote (sebuah alat seperti sebuah ketapel yang dipakaikan tali kulit/karet, kemudian tali tersebut dilingkarkan ke leher, lalu diputar sampai erat). Ini merupakan salah satu hukuman paling memalukan untuk seorang prajurit.
Garrote merupakan alat untuk menghukum seseorang dengan cara mencekik lehernya, kebiasaan ini sudah ada sejak jaman romawi kuno, biasanya dilakukan untuk menghukum para penghianat dan mata-mata lawan. Hukuman tersebut sama halnya dengan aturan seorang samurai di Jepang, kemudian menerima hukuman dengan menusuk dirinya menggunakan pedang sendiri. Namun prajurit yang di film Oro tersebut menginginkan hukuman dengan senjata/senapan. Katanya, saya meminta letnan Gorriamendi saja yang mengeksekusinya. Dan Bastaurrés juga meminta demikian, demi sebuah kehormatan seorang prajurit. Seharusnya ia mati dengan senapan. Sebagai sersan, ia masih menghormati prajuritnya sendiri. Namun tidak bagi Don Gonzalo, ia meminta prajurit lain untuk mengeksekusinya menggunakan Garrote.
Wanita dalam film ini tampak jelas hanya sebagai pelengkap semata, seolah-olah mengatakan bahwa wanita hadir sebagai bagian seksual saja atau pelayan. Atau, hanya ingin mengatakan, bahwa sejak dahulu begitulah kehidupan perempuan di jaman kerajaan—atau penemu sekaligus tentara. Sebab dalam beberapa adegan, wanita dalam film ini tidak terlihat kontribusinya di banyak adegan. Hanya memunculkan sebuah pemahaman panjang, bahwa pada setiap perjalanan hanya dipenuhi tatapan birahi pria kepadanya, seperti seekor anjing melihat tulang. Namun tetap terikat oleh rantai. Begitu juga pada adegan saat si wanita melepas duri di kakinya, bagian paha yang mulus seolah sebuah santapan lezat saat ditatap prajurit.
Orang-orang Indian yang mereka temui pun membuktikan bahwa aturan adat memang tak dapat dilanggar, seperti sebuah sumpah yang diyakini saat berkata jujur, namun tetap berujung maut oleh para prajurit pemburu emas. Itu juga berlaku antara pemimpin perjalanan dengan prajuritnya. Orang Indian hanya dibuat sekilas saja oleh sang sutradara, tidak menonjolkan hal-hal mendalam. Dalam film tersebut Cuma beberapa hal saja yang dimunculkan: pembaca jalur hutan dan hukum suku mereka. Semua itu mereka tampilkan seperti potongan-potongan perjalanan, seperti seorang anak yang sedang bermimpi lalu menceritakan mimpinya kepada kawannya; absurd dan tak menjelaskan satu-satu perkara yang terjadi.
Dari segi latar dan backsound, film ini lumayan baik. Suara hutan yang buas terdengar nyata lengkap dengan bebunyian hewan, hutan yang dipenuhi lumpur, meski keadaan penghuninya memang tidak tergambar jelas, hanya menyoal orang-orang suku saja, tidak adanya ketegangan yang berarti selain terjadinya perseteruan antara prajurit dan orang India, atau pertempuran sesama orang Indian. Kita tidak akan menemui ketegangan antara manusia dan hewan buas di dalam film ini, selain lumpur hisap dan sungai tenang berisikan buaya. Sutradara seakan ingin menyampaikan bagian perjalanan sejarah saja, tanpa memikirkan adegan-adegan penting dalam cerita tersebut; seperti kematian penulis catatan perjalanan pada bagian akhir, atau pembunuhan Don Gonzalo oleh sang kaptenya sendiri. Indian juga hanya dihadirkan sebagai penghuni hutan saja, tidak ada sisi lain dari mereka selain menjaga wilayat kekuasaan yang terkesan sangat mudah dilalui manusia luar. Bisa kita lihat film terbaik yang dihasilkan Taiwan, yaitu Warrios Of The Rainbow: Seediq Bale. Film ini menceritakan insiden Wushu pada tahun 1930 di Taiwan tengah. Film tersebut dibagi menjadi dua bagian saking serius mereka menggarap cerita tersebut, dan setiap bagiannya pun sangat apik. Film sejarah yang dibuat perfilman Asia menurut saya akan mencatat film ini menjadi salah satu yang terbaik sepanjang masa. Pada film ini, dapat dibandingkan bagaimana kehidupan hutan sesungguhnya yang lebih nyata ataupun kehidupan suku-suku yang bermukim secara turun-temurun lengkap dengan aturan adatnya.
Pada bagian lain, potongan hubungan seksual hanya ditayangkan pun beberapa detik, bukan berarti adegan tersebut harus penting dijelaskan/dipertontonkan. Kita lihat saja film-film Telugu (India), mereka tetap mempertontonkan adegan tabu sekali pun, namun dengan kapasitas atau adegan yang wajar. Seperti halnya dalam film ini, perebutan Doña Aña, seorang wanita yang jatuh ketangan kapten setelah membunuh lelaki tua yang dulunya adalah pemimpin mereka, bagian selanjutnya tidak ada adegan apa-apa antara mereka. Selain asmara Doña Aña dengan Martin. Meski pada akhirnya sang kapten dan Martin saling serang. Penyebab konflik itu pun karena persaingan emas dan kekuasaan. Adegan ini disiapkan terlalu singkat untuk sebuah perjalanan di hutan, pertarungan tersebut berujung matinya Doña Aña. Namun satu hal yang patut dinilai bagus ialah menyoal hukuman kepada prajurit yang berhianat. Dalam film ini, memang tidak ada ampun untuk seorang penghianat, dan sebagai terdakwa, mereka tidak memunculkan sisi penolakan terhadap hukuman yang dibuat. Dan sang kapten juga menerima kekalahannya dengan hukuman.

CATATAN SI PENULIS PERJALANAN DALAM FILM ORO.
Aku menulis apa yang akan terjadi harus menjadi baris terakhirku. Aku memberikan catatanku kepada prajurit Martín Dávila, asli Trujillo, untuk menyampaikan jumlah emas yang disepakati untuk raja kami. Aku memilihnya karena dia dari Extemadura, orang perbatasan, dipenuhi dengan semangat penemuan, sama seperti Cortes. Aku mengharapkan ketenaranku dengan tulisan perjalanan itu.
Pada catatan tersebut, ia masih sangat berharap sebuah penemuan emas. Tujuannya menuliskan perjalan tersebut hanya semata-mata ketenaran saja. Tidak ada adegan si penulis catatan dalam film tersebut yang agak krusial atau penting sekali. Semuanya berjalan terlalu datar untuk sebuah film petualangan/perjalanan. Doña Aña sebagai satu-satunya wanita terakhir dalam film ini juga harus mati dengan cara biasa, tidak ada yang menegangkan. Seharusnya dua orang wanita dalam Oro lebih diceritakan agak luas, bukan sekedar pelengkap. Doña Aña tampak gagal sekali dalam pencarian El Dorado.
Memang film ini semata-mata menyajikan sejarah, sebuah perjalanan. Tetapi pada sisi lain, menurut saya film ini tidak akan masuk dalam daftar rekomendari 10 film petualangan terbaik. Begitu banyak adegan yang terlewatkan, kematian pelayan wanita yang sangat sederhana sekali, hukuman yang terlihat biasa saja tanpa drama, atau kematian yang terkesan buru-buru untuk penyelesaiaan film. Doña Aña seharusnya hidup menjadi wanita satu-satunya, dengan siapapun ia hidup itu akan meninggalkan kesan luas, tidak monoton. Karena dibagian akhir, mereka menemukan perkampungan pesisir, dan bila Doña Aña hidup, penoton dapat menarik lanjutan film secara luas; mereka menetap di sana atau melanjutkan petualangan.

Sebelum menyelesaikan memoar kami, seperti yang diminta oleh penulis Ulzama, aku sudah memutuskan bahwa sama seperti Asia dan Eropa yang memberikan nama wanita, bahwa puncak dari mana kami melihat Tezutlan akan dikenal mulai sekarang sebagai pegunungan Doña Aña. Aku juga meninggalkan catatan itu pada 8 april. Empat puluh orang laki-laki dan wanita meninggalkan Puerto Cristo. Hari ini hanya kami yang tersisa. Tak ada emas. Itu hanya lumpur yang bersinar, seperti sebuah keramik dari Andujar. Alférez Gorriamendi menyampaikan paragraf tersebut di bagian akhir.
Ending yang sebenarnya cukup bagus untuk sebuah film perjalanan/petualangan, dari sekian banyak prajurit yang berangkat, akhirnya tersisa dua orang. Tetapi bagian-bagian lainnya menjadi sangat mubazir sekali bila merujuk kepada pengertian film perjalanan, apalagi menyangkut petualangan mencari kota emas yang hilang. Film-film mitos atau perebutan wilayah kekuasaan lainnya masih sangat baik dibandingkan Oro, seperti; Pirates Of The Caribbean, Apocalypto, Jungle dan lainnya. Meski demikian, film ini bisa menjadi referensi untuk ditonton sebagai catatan sejarah yang dibuat oleh spanyol. Walau bagi sebagian penikmat film Oro/gold: Emas, merupakan film gagal. Setidaknya penonton dapat mendengarkan backsound “De Los Alamos Vengo, Madre” yang sendu dengan bahasa Spanyol, lengkap dengan adegan kolosal ala-ala Amerika latin. Pencarian El Dorado benar-benar gagal di tangan Doña Aña. Maaf, dalam film ini tidak ada lelucon apapun, selain senyum mesum para prajurit melihat wanita.

Facebook Comments

About the author

mm
ARIF P PUTRA

Arif Purnama Putra, berasal dari Surantih, Kab. Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Alumni di STKIP PGRI Padang, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Bergabung bersama Komunitas Menulis “Daun Ranting”. Buku tunggalnya yang telah terbit “Suara Limbubu” Karya pernah dimuat beberapa media dan antologi bersama.

mm By ARIF P PUTRA