Kesunyian Ini Abadi

unsplash.com

Entah sejak kapan tubuhku tergeletak di sini.

Dalam gelap, segalanya tak teraba. Tak ada pendaran cahaya kecuali secercah garis menembus sela bawah pintu. Garis itu sesekali muncul jadi penanda waktu—apakah siang, malam atau lonceng antrean maut. Seiring derit merajah, derap sepatu lars menapaki lantai, seseorang akan bertanya untuk kesekian kalinya dari balik pintu: “Apa kau mau bicara sekarang?”

Kutempelkan telinga di tegel dan tembok dingin. Berharap rahasia terkuak, merambat laun membisikkan sesuatu. Tak ada frekuensi. Aku seperti berada di ruang anechoic—tak bergema—yang berdebu; aku bisa mencium bau debu, laiknya hal-hal tabu. Parau suaraku dibunuh lebih dini. Melenyapkan raungannya sendiri.

Dalam gelap, mataku mulai terbiasa akan kepekatan. Hitam. Setumpat-tumpatnya hitam menjejali pupil. Tiada wujud yang pasti dalam kegelapan kecuali ketidakpastian gelap yang mewujud ketakutan. Tak ada sketsa-sketsa asimetris berkelebat seperti kegelapan pertama sewaktu lampu padam. Ah, aku teringat Janu, adikku. Dia selalu mengomel bila tivi tiba-tiba mati saat menonton acara kesukaannya. Mengutuk perusahaan listrik nasional dengan seburuk-buruknya kutukan (siapa yang mengajarinya seperti itu?).Setelah lampu menyala, semua berteriak seperti ada pesta. Memupus lilin-lilin bagai ulang tahun.

Janu, Bapak, dan Ibu. Hanya bayangan itu yang muncul di kegelapan ini. Pikiranku kerap mengandai-andai visualisasi mereka di hamparan kanvas legam. Tak ada yang bisa kutangkap selain fragmen masa lalu. Atau jangan-jangan aku sudah buta? Bagaimanakah ruang bekerja antara batas dan objek-objek?*

Meraba-raba, kakiku sempat menghitung perkiraan luas dimensi dengan bersandar pada tembok. Tujuh langkah ke depan. Delapan langkah ke kiri. Tujuh langkah ke kiri. Delapan langkah ke kiri. Cukup luas untuk sebuah kamar tidur. Terlalu sempit untuk seorang pemuda bebas. Mereka mengurungku sekian lama dalam waktu yang tak mampu kuperkirakan.

Dalam gelap, sedenting jarum yang jatuh mestinya berbunyi lebih nyaring. Tapi tak terdengar suara apa pun selain desah napasku sendiri, dalam debar tak teratur, menyibak akal sehat. Tertekan. Senyap membunyikan tanya lebih keras dibanding kesunyian, serupa sunyi yang dicari para pertapa di dalam goa. Dan aku merapalkan doa berkali-kali.

“Itulah harapan makhluk fana seperti kita, Kak. Fana dan miskin. Upaya apalagi yang patut selain itu, kecuali akalmu durhaka pada Sang Pencipta,” nasihat Ibu masih terngiang terang. Namun ujung dari secuil harapan itu berbalik pada kesadaran, bahwa apa-apa yang terburuk sekali pun, tak lebih dan kurangnya adalah permainan takdir semata. Betapa sepinya berandai-andai di ujung nadir. Lama-lama aku bisa gila. Aku mungkin sudah gila. Tapi siapa yang tahu? Siapa yang menilai?

Aku tak menghitung kali ke berapa bedebah itu bertanya lagi. Tentu saja aku bungkam. Aku bukan pengkhianat. Momen ini agak dilematis; merasa menang karena kegagalannya menggali informasi, tapi juga berharap dia akan kembali untuk menginterogasi. Setidaknya aku bisa mengingat suara, bau, dialog atau jejak apa pun yang mungkin diperlukan bila kelak bebas untuk menuntut para bedebah ini. Kau tahu, fantasi terburuk yang dialami korban penculikan—apakah itu dihajar habis-habisan dengan sundutan api rokok atau hal-hal kejam yang tak terpikirkan lainnya—tidak lebih buruk dari menunggu ajal dalam sunyi ketidakpastian. Membunuh mentalmu pelan-pelan, detik demi detik.

Sejarah kecil muncul satu-persatu, memekik nyaring serupa dengungan. Tak mengindahkan cacing-cacing di perutku yang meronta. Bau anyir (campuran darah dan keringat) di sekujur tubuhku.

Aku teringat perkataan Bapak di pelabuhan saat akan merantau:

“Kau harus sekolah tinggi. Jangan pikirkan kehidupan kami di sini. Bapak akan banting tulang agar kau bisa jadi orang, supaya bisa bantu adik-adikmu, bantu orang-orang di sini. Sesudah langkah pertama, terus maju usah gentar, jangan lihat ke belakang.”

***

Secara mengejutkan, aku berhasil diterima di salah satu perguruan tinggi terbaik di negeri ini. Kecenderungan naluri mengolah konsep, teorema, dan metodologi ilmiah di jurusan politik menceburkan diriku ke dunia pergerakan. Manifestasi nilai-nilai akademis itu awalnya sejalan dengan ingar-bingar dialektika di lapangan.

Sampai kemudian aku mengenal seorang aktivis bernama Raka yang nyeleneh, berambut gondrong, tukang orasi di setiap demonstrasi. Di malam renungan acara kampus ia mendebatku tentang konsep status quo yang dianggapnya omong kosong. Menurutnya, ide tentang keteraturan negara dengan segala pranata formal dan regulasi yang dibentuk oleh segelintir elit hanyalah trik hegemoni para pemilik modal dan kekuasaan lewat cuci otak ideologi yang kerap diberlakukan bak kitab suci.

“Kerakusan oligarki yang membajak hukum dan mandatharus kita lawan, Kai! Kita ini anak haram demokrasi!” serunya berapi-api.

“Caranya?”

“Anarki.”

“Bahkan negara sebagai Leviathan sekali pun lebih realistis mengingat kita sering berperilaku bak predator. Manusia butuh konsensus.”

“Kurang predator apa laku otoritarianisme? Kesepakatan pragmatis maksudnya? Naif sekali kau.”

“Disensus sebising Demokrasi Parlementer pun tak berguna buat rakyat, Bung.”

“Lalu apa yang negara sudah berikan untuk kampung halamanmu, Kai? Negara yang katanya berasas keadilan sosial, yang sudah merdeka sekian tahun lamanya ini?!”

Kata-katanya begitu menyengat. Membuat ingatanku melambung ke masa lalu.

Di kebun milik orang, sejak pagi buta Bapak sudah harus memeriksa rak-rak berisi ratusan bahkan ribuan stup, rumah trigona dari kotak kayu persegi, sampai memanjat pohon mete yang tinggi, tempat madu-madu itu disimpan. Dulu aku sering mendapati tangan dan lehernya meruam bengkak akibat tersengat lebah. Dari upah yang tak seberapa, ia harus menanggung resiko bertahun-tahun demi menghidupi kami semua. Bapak meludahi luka itu dengan bibir komat-kamit, seolah membacakan mantra kesembuhan untuk mengelabuiku. Ia ingin aku tumbuh menjadi anak lelaki yang tangguh. Ia pun sering membawaku ke hutan sekitar kampung, di bawah kaki gunung, yang telah disulap menjadi peternakan lebah.

“Ini jenis Apis cerana. Menyengat. Tapi walau menyengat, mereka bermanfaat.” Bapak menunjukkan cara memeras madu dengan tangannya sendiri. Meski jarak waktu panen tidak terlampau lama, jauhnya titik pemasaran menjadi kendala karena faktor lokasi. Kampung kami mungkin tak tertera di peta.

“Sekolah yang pintar. Kalau sudah besar, kau buat jalan raya untuk kampung kita yang terisolir ini. Supaya banyak orang bisa merasakan madu asli dari tanah kita.”

Perkataan Bapak terus kuingat, memacu tekadku untuk berhasil. Di perantauan sejalan waktu, kamisemakin gencar melakukan aksi. Bersama Raka, bersama semua elemen mahasiswa. Tiada hari berselang tanpa diskusi, konsolidasi, aksi solidaritas, rapat-rapat gerakan, menyebarkan selebaran-selebaran, tanpa dwitunggal ‘Rakai’ dalam barisan. Kuliahku sempat terbengkalai. Nilaiku berantakan. Namun momen besar itu tak bisa menunggu. Gerakan massa semakin membuncah dari hari ke hari tak terhindarkan lagi. Si Tangan Besi harus jatuh!

Aku masih mengenali sedikit wajah-wajah mereka yang meringkusku dalam kekacauan itu. Ya, kekacauan itu.

Deru mobil patroli dan sirine menyalak seiring letupan molotov. Orang-orang berhamburan, tunggang-langgang. Kobaran asap membuat mata berkabut. Ibukota kalang kabut. Hari masihlah siang namun langit seolah bermuram mendung menangkupi jelagadi sepanjang jalan. Slogan-slogan dibalas tembakan. Entah peluru karet, entah peluru tajam. Teriakan-teriakan berseru, bergumul jadi satu tanpa jelas muasalnya.Puk! Sesuatu menghujamku dengan keras dari arah belakang.

Tiba-tiba aku sudah berada di dalam mobil. Mereka banyak sekali bertanya. Mataku diikat sesuatu. Gelap, terlalu gelap saat itu. Suara mereka menyaru dengan deru diesel serupai dengungan. Bagai sekawanan lebah yang mengancam.

Entah sejak kapan tubuhku tergeletak di sini.  

Dalam gelap, mataku mulai terbiasa pada kepekatan. Dalam sunyi, rasanya ini hari dingin sekali;menyiksa, membekukan sebagian tubuhku. Semakin kebas. Semakin ngilu. Sunyi memanggil bebunyian lain. Perubahan bentuk yang lain; mewujud kesatuan gambar dan suara laiknya video yang diputar. Kolase kenangan masa lalu menyeruak dalam kepala. Apakah ini penampakan cerita orang tua dulu—pada saatnya nanti, setiap orang akan diperlihatkan seluruh kejadian dalam hidupnya untuk perhitungan.

Apakah sekarang waktunya giliranku, Tuhan?

***

Dikehidupan, takdir senantiasa hadir bagai lelucon atas apa-apa yang dianggap serius. Kadang menertawai sejarah dan mengejeknya dengan ironi.

Dua dekade berlalu sejak peristiwa itu, beruntung rasanya masih bisa bernapas hingga detik ini. Tidak seperti kenahasan kawan lain. Tak ada kabar berita, hilang begitu saja bagai ditelan bumi. Musim berganti. Zaman berubah. Tantangan tak lagi sama. Tapi kematian bagai sesuatu yang telah biasa. Kematian akibatkekuasaan menjadi sesuatu yang dramatis, heroik, melegenda. Hanya sebatas itu saja. Tak ada Ratu Adil yang sudi mengutak-atik kotak pandora.

Aku pernah membaca tulisan di sebuah artikel ilmiah (atau seolah-olah ilmiah) di internet tentang radiasi adaptif setiap makhluk, spesies, semua organisme yang mengalami perubahanbentuk atas tekanan seleksi,memaksanya mesti beradaptasi dengan lingkungan baru untuk bertahan hidup. Aku lebih memilih hidup, memulai segala kemungkinan baru, daripada harus menyerah pada fatalisme sejarah.

Kutatap sesosok raut di depan cermin. Telah memutih beberapa helai rambut di kepalanya. Telah berubah segala pernik sandang yang menempel dibadannya. Namun tak berubah mata itu memandang segala kilas kehidupan yang pernah dilalui, meneguhkan jiwa, mengisi kedalaman cita perihal apa-apa yang layak diperjuangkan. Lebih besar dari sekadar ide yang disakralkan. Lebih luas dari jargon-jargon prematur.

Mungkin sekarang kami bukan lagi seekor lalat yang hendak menyerang singa dengancara memasuki lubang telinga seekor banteng agarmengamuk. Kami telah menjadi koloni Apis cerana yang menyengat.

Setelah melewati pertarungan retorika yang sengit dan panjang, seseorang akan dilantik menjadi penguasa negeri ini.

Raka, lelaki pembangkang nan eksentrik yang dulu sering mengumpati aparat dan mencoret simbol A dalam lingkaran,di tembok gedung pemerintahan dengan cat semprot itu, kini selalu berada tak jauh darisisi sang pejabat terpilih sebagai tangan kanannya yang paling setia. Pembela paling gigih dengan segudang dalil-dalilnya. Sedangkan nasib membuatku harus berhadapan dengannya, sekapal dengan mereka-mereka yang dulu pernah mengurungku di kamar gelap. Begitulah.

Lagu kebangsaan berkumandang.

Dalam riuh sanjungan serta tepuk tangan yang membahana, kesunyian itu merekat likat,bergelung-gelung di ingatan.

“Setiap siasat menemukan jalannya sendiri,” selorohmu tempo hari.Sebegitu bercandanya hidup.

Nasib memang suka berkelakar, kawan.

(Juli 2019)

Penjelasan:

*Dari puisi Afrizal Malna  berjudul  ‘arsip kegelapan’

Facebook Comments

About the author

mm
DEDEN HARDI

Deden Hardi, penulis lepas, menetap di Bandung. Karya terbaru, buku: Antologi puisi tunggal 'Sesuatu yang Tak Pergi di Malam Hari'-Jejak Publisher (2019), antologi cerpen bersama 'Masa Depan Negara Masa Depan'-Surya Pustaka Ilmu (2019).

mm By DEDEN HARDI