KEKUATAN MEMORI

UNSPLASH.COM

Dalam kehidupan sehari-hari kita pasti selalu melakukan kegiatan berpikir. Hal terpenting dari kegiatan berpikir adalah pemrosesan informasi. Pemrosesan informasi selalu melibatkan aspek memori. Memori sering disebut juga dengan ingatan. Manusia memiliki memori (ingatan) yang kemampuan dan kapasitasnya sangat besar. Namun, tidak semua orang mampu memanfaatkan kemampuan dan kapasitas ini dengan optimal. Menurut Suharnan (2005), memori (ingatan) adalah penyimpanan pengetahuan di dalam sistem pikiran manusia, yang berlangsung mulai dari beberapa detik sampai dengan sepanjang hidup. Di lain sisi, Atkinson dan Shiffrin (1968, 1971) menekankan pada interaksi antara memori jangka pendek dan memori jangka panjang. Kedua memori ini tersimpan di dalam otak manusia.

     Manusia mampu mengingat segala hal yang dialaminya berkat adanya memori. Meskipun demikian, banyak juga diantara kita mengalami kelupaan. Kita hanya mampu mengingat kejadian yang berkesan saja dalam hidup kita. Namun, bayangkan apa jadinya hidup Anda jika Anda memiliki memori luar biasa. Katakanlah Anda sanggup mengingat setiap kata dalam sebuah buku dengan tepat. Kondisi demikian disebut dengan mnemonis, yaitu seseorang yang menunjukkan kemampuan mengingat yang menakjubkan, biasanya didasari oleh penggunaan teknik-teknik khusus peningkatan memori. Solso, dkk. (2008), menyatakan bahwa orang-orang yang memiliki memori luar biasa dapat diklasifikasikan sebagai pakar mnemonic profesional, yakni orang-orang yang secara sadar menerapkan teknik mnemonic; atau mnemonic spontan, yakni orang-orang dengan kemampuan mnemonic yang telah berkembang sedemikian rupa (secara alamiah maupun tidak alamiah) sehingga mampu mnemonic tanpa upaya sadar dan tanpa penggunaan teknik atau trik apapun.

     Sebuah kasus memori luar biasa yang paling termahsyur (yang didokumentasikan paling baik) adalah kasus S. (S. V. Shereshevskii), yang kemampuan memorinya dipelajari oleh A.R. Luria (1960, 1968), seorang psikolog Rusia terkenal. S dapat mengucapkan kembali serangkaian kata yang sangat panjang tidak peduli sudah berapa lama kata-kata itu pernah dibacakan padanya. Bahkan setelah 15 atau 16 tahun berlalu, S mampu mengucapkan kembali serangkaian kata tersebut dengan tepat. Apakah trik yang digunakan S? Bagaimana dia bisa mengingat begitu banyak? Tampaknya, dia sangat mengandalkan kemampuan mnemonic pembayangan visual. Dia mengubah materi yang perlu diingatnya menjadi imaji-imaji visual di otaknya. Contoh, ketika ia diminta mengingat warna hijau, maka ia akan membentuk imaji visual seperti pot bunga berwarna hijau. Bahkan, angka juga diingatnya dengan imaji visual, misalnya angka 1 divisualisasikannya sebagai seorang pria dewasa penuh kebanggan.

     Bagi S, sebagian besar imaji visualisasinya di dalam memori diingat tanpa intensi apapun. Sebaliknya, ini adalah hasil dari sebuah fenomena psikologis yang cukup langka. Fenomena ini disebut sinestesia, adalah pengalaman terhadap cerapan-cerapan indra di dalam sebuah modalitas sensoris yang berbeda dari cerapan indra yang distimulasikan secara fisik. Contoh, S secara otomatis akan mengubah sebuah bunyi menjadi sebuah impresi visual. Setiap kata yang dipanggil kembali dari ingatannya membangkitkan sebuah sensasi, dan karena kata itu berkaitan dengan kata lain, maka sensasi yang dibangkitkannya menjadi kompleks. Secara otomatis, semua sensasi ini mendatangi S ketika dia perlu mengingat sesuatu (Sternberg, 2009).

     Akhir-akhir ini banyak bermunculan orang-orang dengan memori luar biasa. Rebecca Sharrock (27 tahun) dari Brisbane, Australia, memiliki memori autobiografis atau yang disebut Highly Superior Autobiographical Memory (HSAM). Itu merupakan kondisi langka yang memberinya daya ingat yang luar biasa. Sharrock mampu mengingat segala hal yang terjadi dalam hidupnya sejak ia berusia 12 hari, itu berarti ia hampir mampu mengingat seluruh peristiwa dalam hidupnya secara detail. Ia juga mampu mengingat setiap kata dalam tujuh seri novel Harry Potter. Menakjubkan bukan? Lain halnya dengan seorang seniman Belanda, Stefan Bleekrode yang telah dianugerahi bakat yang sangat menakjubkan. Dia bisa menggambar sketsa kota-kota yang dikunjunginya dengan luar biasa rinci. Dan menariknya, ia menggambar hanya dengan menggunakan ingatannya. Hanya dengan menggunakan tinta dan kekuatan memorinya, dia bisa menyusun gambar yang sangat padat dan realistis.

     Sangat menakjubkan bukan? Sebagian kita mungkin berharap memiliki memori yang luar biasa, karena dengan kondisi tersebut kita bisa melewati ujian tanpa harus bersusah payah mengingat pelajaran. Namun, tahukah Anda bahwa memiliki memori yang luar biasa tidak selalu menjadi hal yang menyenangkan. Kita ambil contohnya kasus S yang telah disebutkan di atas. S sendiri tidak selalu bahagia dalam hidupnya, sebagian alasannya karena memori eksepsional yang dimilikinya. Dia sering mengeluhkan bahwa sinestesianya yang kebanyakan beroperasi tanpa dikehendakinya, mengganggu kemampuannya mendengarkan orang berbicara. Suara-suara di otaknya telah membangkitkan seribu nuansa sensasi dalam dirinya. Semakin banyak yang didengarnya, semakin besar gangguan sensasi itu bagi kemampuannya mengikuti percakapan (Sternberg, 2009).

     Sebagai orang yang diberi kapasitas memori yang normal, kita sepatutnya bersyukur atas apa yang kita miliki, karena segala sesuatu pasti mempunyai nilai positif dan nilai negatif. Orang-orang dengan memori luar biasa tak selamanya hidup bahagia, ketika mereka menyaksikan peristiwa kehilangan orang yang mereka cintai, memori mereka otomatis mengingat hal tersebut, sehingga mereka akan selalu mengingat peristwa tersebut yang pada akhirnya hanya menimbulkan sesak di dada. Mereka mengingatnya tanpa dikehendaki, hanya meninggalkan luka mendalam jika memori menyakitkan itu berputar terus-menerus dalam otak mereka. Jika dipikir kembali, hal tersebut sangatlah menyakitkan bukan? Karena itulah kita harus senantiasa bersyukur atas apa yang diberi Tuhan pada kita. Kita bisa mengoptimalkan fungsi memori yang telah ada pada diri kita dengan sebaik-baiknya.

 

REFERENSI:

Solso, Maclin & Maclin. (2008). Psikologi Kognitif/ Edisi Kedelapan. Jakarta:     Erlangga.

Sternberg, Robert J. (2008). Psikologi Kognitif/ Edisi Keempat. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Wade & Tavris. (2007). Psikologi/ Edisi Kesembilan. Jakarta : Erlangga.

Facebook Comments

About the author

mm
REVIZA MAYHART

REVIZA MAYHART, mahasiswi jurusan Psikologi Islam UIN Imam Bonjol Padang, Sumatera Barat.

mm By REVIZA MAYHART