Karier Rajab Syamsudin

Instagram; aksaracorner

Judul Buku                  : Rajab Syamsudin Si Penabuh Dulang dan Cerita Lainnya
Pengarang                   : Deddy Arsya
Jumlah Halaman       : 200
Penerbit                       : Diva Press, cetakan pertama, 2017
ISBN                             : 798-602-391-321-3

Rajab Syamsudin Si Penabuh Dulang adalah salah satu judul cerita yang terdapat dalam kumpulan cerita pendek yang juga digunakan sebagai judul buku kumpulan cerita pendek tersebut. Judul itu adalah nama seseorang, nama seorang manusia yang telah lekat profesinya.

“Ia seorang penabuh dulang.” Kalimat pembuka cerita pendek Rajab Syamsudin Si Penabuh Dulang tersebut seolah ingin mengatakan bahwa pertama-tama Rajab Syamsudin adalah seorang penghibur. Ia bekerja sebagai penabuh dulang yang “menyanyikan kisah-kisah para rasul di pesta-pesta”. Seorang bertubuh bugar, yang karena dorongan tubuh sehatnya, energinya yang berlebihan, vitalitasnya, membuatnya sanggup menabuh-nabuh dulang sambil bernyanyi semalam suntuk. Mudah untuk membayangkan Rajab Syamsudin sebagai seorang yang tidak banyak pikiran, jenaka, serta memancarkan kecerian dan keriaan, semacam kebodohan yang polos.  Ia pandir, orang-orang mengenangnya demikian. Sulit untuk membayangkan bahwa Rajab pandir, yang “kecerdasannya yang sebentar itu tak akan mengalahkan kepandirannya yang berkelanjutan”, adalah seorang yang mengambil pilihan politik atau suatu ideologi dengan sadar. Ia bukan seorang partisan. Sekali lagi, ia seorang penabuh dulang.

Namun Rajab tidak diizinkan untuk hanya hidup sambil menabuh-nabuh dulang saja. Di luar dirinya, ideologi-ideologi besar bertikai, saling terkam. Yang satu menampakkan diri sebagai paling mulia dan penunjuk jalan keselamatan dari dunia yang kacau dan rusak, yang satu lagi demikian pula. Saat yang satu mengatakan dirinya sebagai kebenaran, yang satu lagi berkata dirinyalah yang lebih benar.

Ideologi-Idelogi besar itu mengerti manusia membutuhkan kebenaran, kepastian, sebagai pegangang di tengah hidup yang serba tak benar dan serba tak pasti. Tapi kebenaran macam apa yang hanya diakui oleh sebagian orang saja? Bagaimana bisa ada kebenaran yang lain? Untuk itu manusia beperang lalu boleh saling bunuh—membunuh demi satu kebenaran. Memangnya manusia macam apa yang sanggup membunuh demi sesuatu yang ia ketahui bukan-benar?

Dan Rajab juga adalah manusia dan ada di tengah itu semua,  di tengah perselisihan klaim-klaim serba besar dan benar di mana perang tampak sebagai satu-satunya jalan keluar. Dan di situ seorang lelaki berbadan tegap seperti Rajab harus, atau terpaksa, memihak, karena jika tidak ia kemungkinan besar akan dibunuh saat bala tentara musuh menemukannya di kampung bukannya di dalam rimba. Atau bukan tidak mungkin ia akan digantung sebagai musuh orang-orang kampung karena dituduh sebagai pengkhianat yang pro-pusat. Bukankah perang memang begitu: tiba-tiba saja orang harus punya musuh, tiba-tiba saja orang dimusuhi.

Dalam cerita tersebut perang lalu terjadi, di mana tak seorang pun lagi yang akan menggelar pesta dan mengundang Rajab untuk menabuh dulangnya di tengah kekacauan. Si pandir Rajab, dengan “bidang bahu yang lebar menonjol, dan pangkal lengannya yang besar-padat”, yang “akan dengan leluasa menuruni lembah-lembah, mendaki bukit-bukit, dengan ransel-ransel penuh peluru di bahu”, ikut bersama tentara pemberontak ke dalam rimba sebagai kurir pengangkut peluru.

Cemoohan orang tentang betapa pandir dirinya yang mau disuruh-suruh barangkali bukan masalah baginya, namun berbulan-bulan keluar masuk rimba menjalani rutinitas yang itu-itu saja di antara “teman-teman tentara rimba”nya yang pada menating bedil, membuat tubuh itu, tubuh sehat yang penuh vitalitas itu “gatal-gatal untuk” ikut “mengokang senjata, menembak dan menjatuhkan musuh sekali tiga”. Meski begitu, Rajab tidak pernah benar-benar menembak mati seorang pun.

Perang kemudian usai. Musuh menang. Musuh berkuasa. Kini, kampung Rajab Syamsudin memiliki Walikampung baru yang mengundang Rajab untuk menabuh dulang saat pesta peresmian jabatannya. Mereka berdua lalu “berkawan dekat, seperti jempol dan telunjuk”.

Bagi pembaca yang akrab dengan literatur sejarah, cerita pendek Rajab Syamsudin Si Penabuh Dulang akan segera dikenalinya sebagai cerita berlatar sejarah. Masa di mana kisah Rajab diceritakan adalah masa-masa pergolakan PRRI. Pemberontakan yang sia-sia itu berakhir dengan kekalahan. Negeri yang luluh-lantak diamuk perang, manusia-manusia yang menderita, miskin, lapar, dan mati menjadi harga bagi suatu kebenaran yang mereka pegang dan perjuangkan—kebenaran yang segera menjadi bukan-benar setelah para pemberontak itu menerima pengampunan. Bukankah hanya yang salah yang diampuni?

Dalam cerita pendek tersebut, sampai di sini, Rajab adalah orang yang beruntung (atau cerdas?). Saat bertukarnya kekuasaan, mungkin karena kejenakaannya, atau mungkin juga karena kepandaiannya menabuh dulang, atau mungkin pula karena kepandirannya, atau bisa jadi karena semua itu, ia kemudian dekat dengan kekuasaan baru. Walinagari (dalam cerita disebut walikampung) pasca PRRI, kebanyakan adalah orang-orang dari partai komunis. Bekas pemberontak, atau yang diduga bekas pemberontak, sebenarnya saat itu siapa saja bisa dituduh sebagai bekas pemberontak, mengalami berbagai kesukaran, mereka harus memiliki kartu Ternyata Tidak Terlibat agar segala macam urusan menjadi mudah, wajib lapor, kerja bakti (baca: paksa) dan sebagainya.

Karena perkawanan dengan Walikampung baru itu, si pandir Rajab mendapat posisi penting dalam masyarakat, yang membuatnya terhindar dari segala konsekuensi sebagai yang kalah dan sebagai yang salah, sebab ia berkawan dengan yang menang—dan yang ketika itu benar, sehingga mereka, “teman-teman sesama bekas tentara rimba”nya itu, untuk sebentar “tak akan lagi berani mengingatnya sebagai si Pandir” belaka. Si Pandir itu kini penting bagi kepentingan-kepentingan mereka sebagai orang dalam, si Pandir yang juga penting bagi kekuasaan baru sebagai “kurir-lah begitu”.

Tiba-tiba kekuasan bertukar lagi. Tiba-tiba kebenaran bertukar pula.

Di Jawa komunisme kalah. Mereka kini menjadi bukan-benar. Kabar itu lalu diterbangkan sampai ke kampungnya Rajab bersama daftar-daftar berisi siapa saja yang boleh ditangkap atau dibunuh.

Malang benar Rajab Syamsudin, karena tubuh bugarnya, vitalitasnya, yang menghendakinya untuk menabuh-nabuh dulang, telah membuat dirinya menjadi seorang penabuh dulang dan karenanya diundang oleh Walikampung pada pesta peresmian jabatannya dan karenanya mereka berdua jadi kawan. Dan “orang ramai” yang sebelumnya diikuti Rajab masuk ke rimba, yang tahu bahwa Rajab hanyalah pandir, kini datang menjemputnya beramai-ramai pula karena namanya masuk dalam daftar orang yang harus dihilangkan sebagai musuh politik bagi kekuasaan yang kini tegak, bagi kebenaran yang baru saja tegak.

Betapa pandirnya Rajab Syamsudin—orang-orang dalam cerita itu mengenangnya demikian—yang ikut-ikutan masuk rimba bersama pasukan pemberontak, menurutkan “orang ramai”.  Tapi Rajab juga akan dikenang sebagai pandir seandainya dia tidak ikut masuk ke rimba, karena lelaki kuat seperti dirinya, pasti akan dicurigai sebagai mata-mata pemberontak yang berkeliaran di kampung-kampung. Betapa pandirnya Rajab yang buta politik, sehingga berkawan dengan Walikampung yang perkawanannya itu rupanya dinilai politis oleh “orang ramai”, oleh teman-temannya bekas pemberontak.

Rajab Syamsudin akhirnya mati sia-sia. Tubuh penuh vitalitas dan keriaan itu, yang karena ketololannya yang polos itu, pernah merobek perut sendiri dan masih sempat-sempatnya tertawa kecil, tidak mati demi memperjuangkan sesuatu, katakanlah ideologi, yang bisa membuat kita mengatakannya sebagai tidak mati sia-sia. Ia tidak mati demi sesuatu yang dinilainya, atau yang kita nilai, sebagai benar.(*)

Facebook Comments

About the author

RANDI REIMENA

Randi Reimena. Pelajar sejarah. Tinggal di Payakumbuh.

By RANDI REIMENA