Jokowi Ternyata Menggunakan Novel Ini Untuk Propaganda

DATA BUKU
Judul : Jemput Terbawa
Pengarang : Pinto Anugrah
Jumlah Halaman : 206
Penerbit : Mojok
Cetakan : Pertama, Maret 2018
ISBN : 978-602-1318-62-1
Peresensi : Khairy Ra’if Thaib

Suatu hari, seorang penulis bernama Pinto Anugrah mengasih saya novel terbarunya yang berjudul Jemput Terbawa (Mojok: 2018). Saya tidak tahu kenapa ia mengasih novel itu padahal dia bukanlah pengarang favorit saya.

Ketika melihat judulnya, Jemput Terbawa saya jadi teringat cerita kakek saya beberapa tahun yang lalu. Si Kakek menceritakan pada zaman perang dahulu tantara pusat masuk ke kampung kita lalu mencari siapa saja yang mereka curigai sebagai pemberontak. Lalu pemberontak itu ditangkap dan dibawa ke markasnya. Pemberontak itu diinterogasi, disiksa, dan akhirnya dibunuh. Istilah itu, tantara yang menjemput pemberontak lalu membawanya ke markasnya dikenal dengan “jemput terbawa”. Istilah “jemput terbawa” menggambarkan akan kekejaman tentara pada zaman perang tersebut.

Zaman perang yang dimaksud si Kakek bukanlah perang melawan Belanda dan Jepang. Tapi perang melawan tantara pusat, pasukan Soekarno. Hah! Bagaimana bisa?

Pada tanggal 15 Februari 1958 Dewan Perjuangan yang dipimpin oleh Ahmad Husein mendeklarasikan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Padang Sumatra Barat. Sejak saat itu dimulailah perang antara pasukan Ahmad Husein dengan pasukan Soekarno. Perang itu berakhir pada tanggal 29 Mei 1961 dengan penyerahan diri Ahmad Husein.

Setelah mengingat-ingat cerita si Kakek, pandangan saya kembali menuju novel itu, Jemput Terbawa, kejahatan tantara, hari ini, apa hubungannya?
Ini adalah 2019 dan novel ini terbit pada bulan Maret 2018. Ini adalah tahun politik. Dimana pileg dan pilpres digelar serentak pada tanggal 17 April mendatang. Wow!

Pikiran saya pun melayang. Dan entah tahu kenapa otak saya mencoba menghubungkan “jemput terbawa” istilah yang sarat dengan kekejaman meliter itu dengan tahun politik ini.

Prabowo Subianto, calon presiden dengan nomor urut 02 bukankah mantan tantara? Bukankah pula novel itu, Jemput Terbawa, mengatakan bahwa tantara kejam? Ah… barangkali novel ini adalah semacam alat propagandanya Jokowi untuk mengatakan kepada rakyat bahwa meliter kejam. Maka rakyat dipropagandai supaya tidak memilih Prabowo pada pilpres ini? Mungkinkah pengarang novel, Pinto Anugrah telah bekerja sama dengan Jokowi dalam proses penulisan novel ini. Wah… Dugaan saya menyatakan mungkin saja. Kalau kita buatkan kisahnya mungkin seperti ini:
Setahun yang lalu, pada bulan Januari 2018, Jokowi mengundang Pinto Anugrah ke istana negara. Jokowi pun berkata kepada Pinto, “Saudarakah yang bernama Pinto Anugrah, pengarang hebat itu?” tanya Pak Jokowi dengan terbata-bata.

“Ya, benar sekali, Yang Mulia, Presiden Jokowi. Sayalah Pinto Anugrah pengarang hebat yang Yang Mulia maksudkan,” jawab Pinto Anugrah penuh hormat kepada Jokowi.
“Kalau begitu bisakah Saudara membuatkan novel untuk saya?”
“Wah! Bisa sekali Yang Mulia. Saya sangat senang apabila menulis novel untuk Yang Mulia.”
“Saya ingin Saudara menulis novel tentang meliter. Tentang betapa kejamnya tantara di negeri kita ini.”
Pinto Anugran berpikir kenapa Yang Mulia Jokowi memintanya menulis novel tentang tantara. Padahal kan Pak Presiden ini bukanlah kalangan meliter, pun tidak punya keluarga meliter juga. Tapi demi menyenangkan hati Yang Mulia Presiden, Pinto pun menyanggupi permintaan tersebut.
“Baiklah Yang Mulia. Saya akan tulis novel sesuai permintaan Yang Mulia,” kata Pinto menyanggupi permintaan Jokowi.
“Oke. Terima kasih. Sekarang kita bekerja sama.” kata Jokowi. “Saya akan kasih Saudara uang 10 Miliyar karena Saudara telah mau menuruti permintaan saya,” kata Jokowi lagi
“Hah! 10 Miliyar? Untuk sebuah novel itu 10 Miliyar? 10 Miliyar itu nolnya berapa ya…. Delapan…. Ah. Sembilan….” pikir Pinto dalam hati membayangkan betapa banyaknya uang 10 Miliyar itu.
“Dengan uang sebanyak itu aku akan memperistri seorang gadis cantik dan membuka usaha kafe. Aku akan menjadi pengusaha kafe yang terus menulis. Betapa bahagianya hidupku ini. Aku akan menyelesaikan novel itu dengan cepat….”

Lamunan Pinto dihentikan oleh pertanyaan Jokowi,”Berapa nomor rekening Saudara?”
Pinto sedikit terkejut dengan pertanyaan itu karena dia tadi melamun. Pinto pun kemudian mencatatkan nomor rekeningnya disebuah buku yang disediakan Jokowi.

“Uang akan saya transfer tiga hari lagi,” kata Jokowi lagi. Perkataan itu membuat Pinto tambah semangat.
“Oke. Sekian saja pertemuan kita kali ini. Selamat menulis,” Jokowi tampaknya mengusir Pinto. Tapi Pinto tidak merasa diusir. Ia malah kelihatan senang mendengar pengusiran itu. Ia tertawa-tertawa kecil saking senangnya. Ia menyalami Jokowi dan meninggalkan ruangan itu. Meninggalkan istana negara. Besoknya ia berangkat pulang ke rumahnya, di Padang Sumatra Barat. Dengan pesawat.

Setibanya di Padang Pinto berpikir, novel tentang kejahatan meliter. Tentang apa ya yang akan ditulis. Lalu pikirannya melayang ke sebuah peristiwa sejarah yang pernah terjadi di kampung halamannya. PRRI. Bukankah itu juga merupakan kejahatan meliter? Tantara pusat itu telah melenyapkan banyak nyawa orang-orang yang tak bersalah di kampungnya. Pinto akhirnya memutuskan untuk menulis tentang PRRI.

Dua bulan setelah itu, Maret 2018, novelnya siap, lalu dicetak. Lalu novel ini dijual dan didistribusikan ke seluruh wilayah Indonesia. Setiap rakyat yang membaca ia akan merasa kalau meliter itu kejam. Ia terbayang peristiwa “jemput terbawa” ini. Tantara akan datang ke rumahnya dan ia akan dibawa ke markasnya. Ia diinterogasi, disiksa, dibunuh. Oh… Alangkah mengerikannya… Lalu ia berpikir bahwa negara ini tidak boleh dipimpin oleh meliter. Lalu dipilpres kali ini ia tidak akan pilih meliter. Maka karena calon presidennya hanya ada dua, mau tidak mau ia akan mencoblos Jokowi.

Kalau seandainya novel ini dibaca oleh setiap rakyat Indonesia maka bisa jadi setiap rakyat membenci meliter dan mereka tidak mau negara ini dipimpin oleh meliter. Maka mereka tentu akan pilih Jokowi. Akhirnya Jokowi menang dengan perolehan suara 100 %.

Wah! Propaganda yang sungguh luar biasa. (*)

 

nb: tantara; tentara

Facebook Comments

About the author

mm
KHAIRY THA'IB

Khairy Ra’ifThaib lahir di Nagari Kapalo Hilalang, Padang Pariaman, Sumatra Barat, 18 Desember 1993. Menyelesaikan pendidikan S1 di Jurusan Sastra Indonesia Universitas Andalas. Sekarang menetap di kampung halaman. Menulis karya popular dan karya kreatif. Aktif berkegiatan di Lembaga Kebudayaan Ranah Padang.

mm By KHAIRY THA'IB