JIHAD TAQWA

UNSPLASH.COM

 Kalimat takbir, tahmid dan tahlil yang dimundangkan umat Islam di hari idul fitri adalah  wujud syukur dan gembira hati sejak semalam menang mengendalikan diri sudah diperoleh. Kemenangan shaimin dan shaimat  dalam perang melawan kehendak nafsu dinamakan dengan jihad akbar. Jihad akbar ibarat peperangan bukanlah melawan musuh yang bisa diperdaya dengan siasat dan senjata. Yang kekuatannya dapat dipetakan dan dikalkulasi untuk selanjutnya dicari kelemahannya. Jihad akbar adalah peperangan melawan musuh yang tak terlihat, musuh dalam selimut yang siap menikam dari belakang kapanpun kita lengah. Sebagaimana diri kita sering terbujuk untuk melakukan maksiat dan mengumpulkan dosa-dosa kecil. Bagaimana diri kita masih seringkali merenyahkan pergaulan dengan bumbu-bumbu dusta. Atau diri kita terpeleset Akibat pelet dunia dan gendam kemewahannya. al-Qur’an dengan terang-terangan mengingatkan manusia agar tidak mengikuti hawa nafsunya. (QS. Shad: 26)

Puasa sebagai perperangan melawan nafsu tabiat yg melekat kuat  dalam diri sejak awal kehidupan yaitu makan, minum dan hubungan sahwat, kini sudah dimenangkan shaimin dan shaimat dengan beridul fitri.  Kembali ke jati diri nan suci, seperti ia lahir dari perut ibunya  ka yaumil waladathu ummuhu tanpa dosa dan cela. Yakni meneguhkan diri menjadi makluk terbaik dan suci pembawa mandat suci agama ilahi.  Jihad taqwa belum akan berhenti selagi nafas bersama diri.

Untuk memberikan semangat, peneguhan dan keteguhan hati agar kemenangan jihad taqwa tidak luntur dan lentur berhadapan dengan perang lebih dahsyat lagi, yaitu perang menghadapi nafsu serakah, jiwa kotor dan ambisi tiada batas, maka khutbah hari ini mengingat umat agar memantapkan tiga hasil yang barusan diraih dalam puasa Ramadhan 1439 H/2018 yanh baru saja dirayakan dengan suka cita.

FURQAN, DAN BERSIH DOSA

Kemenangan paling utama yang dimiliki oleh insan yang taqwa adalah memiliki sikap hidup furqanan.  Insan yang kuat pondasi furqannnya dalam saat ini berjuang menyiapkan diri dan keluarga menjadi hamba yang hamba punya sikap jelas. Orang punya nalar pikir sehat memilih jalan kebenaran dan menutup pintu kesesatan. Furqan mereka yang sadar akan pilihannya menjadi hamba yang baik. Ia sangat jelas dan tegas terhadap apapun bentuk kejahatan dan maksiat.  Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan furqan (kemampuan membedakan antara yang hak dan batil) kepadamu dan menghapus segala kesalahanmu dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Allah memiliki karunia yang besar.”(QS. Al-Anfal 8: Ayat 29).

Kejernihan dan kelurusan pikiran orang taqwa akan memudahkan kehidupan. pikiran, akal dan kecerdasan yang memandu manusia menjadi orang baik atau orang jahat. Pikiran pula yang bisa melipatgandakan kebaikan

MULIA DALAM BERSAMA.

Taqwa menunjuki cara hidup bersama yg tepat. Dasar taqwa sebagai ukuran kemulian dapat mengendalikan sikap fanatik suku , golongan, kaum dan kedudukan sosial yg tidak laku di era digital ini. Kesejadan hubungn yg dihadiahkan internet harusnya bergerak pula pada pola pikir yg luas dan sejagad pula. Heboh antar suku dan kelompok adalah indikasi kejadulan berfikir manusia now. Allah sudah sejak awal memandu tentang universalitas hubungan antar etnis, bangsa dan negara. “Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Teliti.”(QS. Al-Hujurat 49: Ayat 13).

PEDULI KELUARGA.

Jihad taqwa mendasar adalah menang menjamin daya tahan keluarga. Keluarga itu masa depan komunitas manusia. Rusaknya keluarga itu artinya awal runtuhnya peradaban. Prilaku buruk, jahat dan menyimpang yg dilakukan seseorang akan membawa malu keluarga.  “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”(QS. At-Tahrim 66: 6). Sadar dan peduli keluarga ditandai dgn membiasakan bersyukr, hidup baik, menjadi figur yg dihargai dan berkesadaran pada kelemahan untuk disempurnakan. QS. Al Ahkaf/46:15.

Jihad taqwa adalah merebut kemenangan dari musuh abadi yang melakat dalam setiap diri hamba yakni setan. Setan itu apapun dan siapa saja yg membelokkan dan menentang kebenaran. Perang mempertahankan taqwa tiada jeda dan terus berlanjut selama hayat. Menang dalam taqwa adalah tegas dan lugas dalam bersikap. Halal bayyin wa haram bayyin. Tidak pernah ada kesamaan dalam iman. Tauhid itu furqan identitas diri, keluarga dan bangsa. Taqwa harus nyata dalam budaya dan realita bukan wacana.

Facebook Comments

About the author

mm
Prof. Dr. Duski Samad, M.Ag

Prof. Dr. Duski Samad, M.Ag, Ketua MUI Kota Padang, merupakan dosen dan guru besar di UIN Imam Bonjol. Tulisannya tersebar di beberapa media cetak dan aktif mengelola Duski Samad Institute. Salah satu bukunya yang sudah terbit, Konseling Sufistik (Grafindo Press Jakarta; 2017)