Jendela dan Perayaan Eksistensi

Judul               : Gambar Kesunyian di Jendela
Penulis             : Shinta Febriany
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
Cetak               : Pertama, 2017
Tebal               : 120 halaman
ISBN               : 978 602 03 5534 4

Ketertarikan pada jendela menjelma puisi. Jendela dimaknai tidak sekadar bangunan fisik untuk mempercantik rumah. Jendela yang berfungsi sebagai pintu keluar-masuknya cahaya dan udara, diekstraksi menjadi semacam jalan bagi beraneka pemaknaan. Jadilah jendela objek puitik bergelimang pengisahan.

Pembaca menemukan penghayatan terhadap jendela ditulis oleh perempuan penyair. Buku Gambar Kesunyian di Jendela (2017) berisi 55 puisi, ditulis oleh Shinta Febriany, seorang sutradara teater. Sudah satu dekade lebih Shinta bercengkrama dengan kata-kata. Kepenyairan Shinta terlacak ketika sebelumnya ia menulis buku puisi berjudul Aku Bukan Masa Depan (2003).

Di halaman balik judul, kita mendapati buku puisi Gambar Kesunyian di Jendela disunting oleh penyair M. Aan Mansyur. Kita pun bisa curiga, pemberian judul buku bisa jadi berasal dari masukan si penyunting. Aan yang memiliki ketertarikan khusus terhadap jendela, setidaknya pernah menulis puisi berjudul “Di Hadapan Mata Jendela” dan esai berjudul “Defenestraphobia” pada 2014. Gambar di jendela juga bisa berarti gambaran diri sendiri. Dalam esainya Aan menuturkan, “Jendela adalah mata yang bisa melihat ke luar dan ke dalam sekaligus. Pada saat bersamaan, ketika melihat jauh ke luar jendela, kita melihat jauh ke dalam diri kita.”.

Puisi-puisi melulu berkisah kesedihan, ketabahan, dan cinta yang tak berjalan mulus. Pembaca diajak masuk dan mengamati gambar di dalam “jendela”, yang barangkali merupakan cerminan diri Shinta. Jendela yang sunyi, muram, ialah gambaran kehidupan yang disampaikan penulis lewat puisi-puisinya. Di pembuka puisi bertajuk “gambar kesunyian di jendela” pembaca hadapkan dengan gambaran puitik yang sendu, “di hadapan jendela, petang tiba./ seorang perempuan duduk/ di ranjang yang tak lapang/ yang hanya cukup untuk tubuh/ dan kesedihannya.”. Puisi membahasakan rasa pilu agar terasa lebih dalam. Situasi “petang” dan “ranjang yang tak lapang” begitu pas untuk memberi efek visual, yang bisa membuat pembaca ikut terlena merasakan kondisi yang dialami subjek puitik.

Puisi menyelipkan perasaan gelisah. Penyair mengamanatkan pesan untuk sang kekasih yang pergi entah ke mana. Dalam puisi “pelukan luka” yang berjumlah dua baris, Shinta menulis: “kupanggil kau berulang-ulang/ sebab luka membutuhkan pelukan.”. Pembaca puisi harus punya kendali. Puisi bisa menyebabkan perasaan galau tambah menjadi-jadi. Puisi berbahaya jika menyebabkan pembaca turut tenggelam dan tak bisa keluar dari “jendela” kesedihan. Maka, pada puisi “dada penuh masa lalu”, Shinta melalui aku-lirik memutuskan berhenti menulis puisi untuk kekasihnya, “aku berhenti menuliskanmu ke dalam puisi./ sebab puisi yang terjadi/ hanyalah puisi yang melukai pembacanya./ puisi yang melulu membicarakan gelap cinta.”.

Pemandangan di balik jendela berganti tiap detik dan berlangsung terus-menerus. Lewat jendela kita seharusnya bisa melihat lebih banyak peristiwa. Lebih menikmati hidup dengan pemandangan hal-hal baru yang menarik. Kita bisa mengamati lalu lintas kota yang seringkali macet, mengintip sepasang kekasih tengah bercinta di balik rimbun pohon yang penuh dengan burung-burung bertengger, atau melihat anak kecil di sebuah kota sedang kebingungan mencari tempat bermain yang jumlahnya semakin minim. Berjendela bisa membuat kita terbebas dari pemandangan yang itu-itu saja. Begitulah mestinya kita berjendela seperti yang diungkapkan Matteo Pericoli, seorang arsitek, seniman, penulis buku The City of My Window (2009), dan juga seorang dosen yang lahir di Milan.

Akan tetapi, pengalaman berjendela Shinta tak demikian adanya. Warna-warni pemandangan raib dilahap oleh satu warna saja; kegelapan. Gambar Kesunyian di Jendela menampilkan hanya satu pemandangan semata; kesunyian. Puisi-puisi tak bernuansa gembira. Puisi ibarat langit mendung yang sebentar lagi tumpah hujan deras. Puisi digubah penyair dengan topik-topik yang bikin getir. Puisi berjudul “arah tak kentara” berisi pengisahan yang sungguh dilematis. Shinta menulis, “aku tak jua beranjak/ meski berulang-ulang/ selamat tinggal kaucap.// sebab kenangan masih berkilau/ di kisi-kisi jendela/ dan siang terlampau bersih/ untuk air mata.// aku akan membiarkanmu pergi kali ini/ menghindari arah tak kentara itu;/ menghindari aku.”.

Merayakan Eksistensi

Kendati demikian, pembaca mendapati Shinta enggan membuang atau meninggalkan jendelanya yang suram. Ia khusyu dan tenang-tenang saja menikmati fragmen hidup yang pelik. Peristiwa percintaan yang tragis dihadapi dengan penuh lapang dada. Pembaca bisa mafhum, cinta akan jadi sesuatu yang receh jika dinikmati dengan mengharap kebahagiaan semata.

Puisi-puisi Shinta dalam Gambar Kesunyian di Jendela, meski bernada pasrah dan pesimistik, merupakan perayaan atas eksistensinya sebagai perempuan, sebagai manusia yang utuh. Pembaca bisa menyimak puisi Shinta berjudul “Aku Bukan Masa Depan”:

“kau boleh mencium jemariku
tapi jangan membuat penjara disana

ini kalimat cinta yang tiba terlambat padamu
ia melewati cuaca gelap
tersendat di beberapa kenangan
lalu memenuhi setiap kepingan ditubuhku

ini perihal debar tak terhindar
kita saling menebar risau
sebelum kau menjangkau malam dihatiku
aku telah terpukau pada kabut susu
yang bercahaya dimatamu.

kelak, bila radang hati menyerangmu
aku akan setia mengirim panasia.

tapi janggan menggambar rumah
ditelapak tanganku

aku bukan masa depan

(makassar, 2005-2006)

Puisi di atas serupa penolakan terhadap bentuk cinta yang mengekang. Optimisme yang memandang masa depan akan jadi semakin baik lewat usaha “menggambar rumah” bersama kekasih, digugat penyair lewat frasa “aku bukan masa depan”. Cinta dan kesetiaan itu tak memerlukan “penjara” dan “rumah”. Shinta tak mau patuh pada definisi cinta seperti yang telah dipahami banyak orang. Ia tampak sebagai seorang penganut eksistensialisme, yang merdeka dan berhak mendefinisikan cintanya sendiri. Shinta pun sepertinya turut mengamini apa yang pernah diungkapkan Goenawan Mohammad pada sebuah esai di tahun 1962, “Kebudayaan Barat melalui mulut pedih eksistensialisme menjawab harapan adalah omong kosong”.

Buku puisi Gambar Kesunyian di Jendela, mungkin saja, bias mengantar pembaca berkenalan lebih jauh dengan siapa dan bagaimana pandangan filosofis seorang perempuan penyair, Shinta Febriany. Ia bukan perempuan cengeng. Meski memiliki jendela penuh dengan kesedihan, tapi ia tak beranjak lari dari kenyataan. Shinta berhasil melampaui itu semua; kesunyian (dan kesedihan) yang tergambar di jendelanya. Ia berhasil merayakan otoritas dirinya, alih-alih terjebak menjadi seorang pengidap defenestraphobia, penyakit kejiwaan yang aneh menurut Aan Mansyur, sebab takut terhadap jendela.

Facebook Comments

About the author

MARIO HIKMAT

Mario Hikmat, lahir di Kotabaru, 23 September 1994. Pegiat di LISAN. Memiliki kegemaran membaca, menulis, dan donor darah

By MARIO HIKMAT