ISU-ISU YANG DIHADIRKAN DAN GAYA NARASI LARA TAWA NUSANTARA

Lara Tawa Nusantara

Judul Buku : Lara Tawa Nusantara

Penulis : Fatris MF

Penerbit : Buku Mojok

Cetakan : Pertama, 2019

Tebal buku : xvi + 349 halaman

ISBN: 978-623-7284-02-4

Fatris MF merupakan seorang penulis catatan perjalanan, fotografer, travel writing dan kontributor di majalah DestinAsian Indonesia.  Lara Tawa Nusantara adalah buku terbarunya yang berisikan dua belas bab tulisan perjalanannya ke beberapa tempat (kota, pedalaman, pesisiran) yang ada di Indonesia, di antaranya pulau Kalimantan, Sulawesi, Lombok, Bali dan Sumatera.

Isu-isu yang Dihadirkan “Lara Tawa Nusantara

(Thapaliya, dalam Hira, 2015: 5) mengatakan catatan perjalanan sebagai produk dari jurnalisme perjalanan mengandung beragam aspek, antara lain kebudayaan, sejarah, ekologi, bisnis, rekreasi, dan petualangan. Dalam Lara Tawa Nusantara saya menemukan beragam aspek tersebut. Singkatnya, saya menyimpulkan beberapa isu seputar kebudayaan, ekologi dan sejarah, yang dihadirkan oleh Fatris, antara lain, pertama adanya kebiasaan-kebiasaan yang telah bergeser dan hilang. Dalam tajuk “Tarian Kematian” Fatris mengisahkan perjalanannya ke pulau Kalimantan. Ketika ia berkunjung ke Kalimantan, Fatris membayangkan pulau Kalimantan seperti dalam catatan seorang penulis barat, Carl Bock. Pulau yang didiami oleh suku-suku liar yang mendiami pedalaman Kalimantan dan hidup di tepi sungai-sungai lebar sebagai suku pemenggal kepala dan hidup dalam kebijaksanaan yang bersangkut paut dengan hutan. Fatris menceritakan keberadaan suku-suku pedalaman Kalimantan dari masa Orde Baru, Reformasi berdasarkan catatan sejarahnya. Tetapi bayangannya tentang pulau Kalimantan sirna. “Suku-suku yang bersangkutpaut dengan hutan tempat mereka hidup, di manakah mereka kini, ketika lebatnya rimba raya telah bertukar wajah, saat hutan disulap menjadi lahan perkebunan mahaluas dan kota-kota dunia ketiga yang runyam berdiri di atasnya? (hal.2).

Sebuah fakta ironis yang dipaparkan oleh Fatris bahwa, hutan Kalimantan yang hijau telah banyak dijejali perkebunan sawit dan kota-kota tumbuh makin pesat. Sehingga, muncul pertanyaan “Bukankah itu kemajuan? Lantas apa yang salah dari perkebunan? (hal.3). Selain itu, Fatris menggambarkan bahwa ada sesuatu yang telah beralihfungsinya. Misalnya, tarian kematian yang ada di suku Dayak, yang tidak lagi diperuntukkan sebagai ritual kematian, tetapi sebagai festival tarian. Beralih fungsinya menjadi pariwisata? Hal yang sama juga terjadi di suku Mandar, Sulawesi, ketika Perahu Sandek yang tidak lagi diperuntukkan untuk berburu tuna, mengarungi lautan. Tetapi telah beralihfungsi sebagai perahu pariwisata dan diperuntukkan sebagai ajang balapan.

Selanjutnya, isu yang dihadirkan yaitu, tumpulnya kemampuan tertentu akibat kemajuan zaman. Perubahan yang menghadirkan kemudahan, justru menyebabkan kemampuan dan wawasan intelektual kuno menipis dan tumpul. Hal itu terlihat dalam perjalanannya ke Bulukumba Sulawesi dalam tajuk “Layar Tak Terkembang”. Catatan historis perihal tempat yang dikunjungi Fatris, seolah menjadi alasan Fatris mengunjungi tempat-tempat itu. Apakah sejarah yang ia dengar dan ia baca  masih sesuai dengan kenyataan yang ia temui.  Seperti catatan yang ia baca, suku Bugis dikenal sebagai pelaut ulung dan Pinisi adalah perahu layar tradisional Bugis yang telah melakukan perjalanan-perjalanan bersejarah. Tapi kisah telah berubah, segala yang manual telah tergantikan oleh mesin. Pertanyaan-pertanyaan retoris berseliweran dalam buku ini. “Kemanakah perginya para pelut ulung dalam catatan lama itu? Bukan pembuat kapal, tapi pengendaranya” (hal.69).

Ketiga, isu yang dihadirkan dalam buku ini adalah masih adanya orang-orang konservatif yang berusaha melanjutkan tradisi mereka. Walaupun dengan cara yang berbeda. Hal itu terlihat dari kisah Fatris bersama orang-orang yang ia temui. Fatris memperlihatkan bahwa masih ada yang tetap berusaha merawat kebiasaan dan ajaran lama itu. Seperti pertemuannya dengan Kakap, orang yang bertahan dengan tidak menjual lahan pada perkebunan dan memilih menjaga hutan. Pertemuannya dengan Arab, yang melakukan penghormatan pada roh yang menjaga sungai.

(Hill-James, dalam Zulfadila, 2016) mengatakan bahwa, jurnalisme perjalanan juga harus mencantumkan suara dari penduduk lokal, tidak hanya orang-orang dibalik industri pariwisata. Dalam Lara Tawa Nusantara Fatris mencantumkan suara-suara dari penduduk lokal itu. Fatris menyelipkan kisah-kisah kecil dalam setiap narasi besarnya. Kisah-kisah itu didapat dari orang-orang yang ditemui Fatris. Seperti yang dikatakan Randi Reimena dalam ulasannya “Dunia Ketiga Yang Ideal (?) ulasan Lara Tawa Nusantara.“Dimanapun buku ini mencatat peristiwa, di sana pula ia menemui orang-orang”.

Kemajuan zaman mau tidak mau, terima atau tidak, telah merubah Indonesia. Dalam Lara Tawa Nusantara, Fatris memaparkan perubahan-perubahan tersebut dengan caranya sendiri. Bagaimana ia mengisahkan tentang hutan  kalimantan yang telah disulap menjadi lahan perkebunan sawit, kebutuhan manusia yang akhirnya mengusik kelangsungan hidup hewan-hewan liar, populasi orang utan menurun tiap tahunnya. Orang utan hidup di rimba raya, orang utan mana yang hidup di kebun sawit?. Sama halnya dengan realita masyarakat Bugis, dan sejarah kepiawaian melaut mereka yang entah karam dimana. Para “Bogey“, perompak yang dijuluki hantu laut yang dulu ditakuti oleh bangsa Eropa itu kini tidak lagi ada. Pinisi sekarang hanya dibuat untuk diperjualbelikan, untuk desakan pariwisata, tidak ada lagi Pinisi yang digerakkan oleh angin. Tanpa mesin, Pinisi buatan sekarang tidak akan bisa hidup, tidak akan mampu menerjang laut. “Tidak Ada lagi itu yang namanya Pinisi, Amanagapa, itu Pinisi terakhir” (Hal.70).  Begitu ucap Safaring, salah satu dari tujuh pelaut yang pada tahun 1991, melakukan pelayaran Pinisi tanpa mesin dari tanah Bugis menuju Madagaskar. Perjalanan hampir tiga bulan tersebut bukanlah untuk misi pariwisata, namun untuk harga diri, untuk menampar dunia bahwa di tanah Bugis Pinisi belum mati. Moei indie, indie yang molek perlahan kehilangan jati dirinya. Zaman serupa roda tirani yang tidak bisa dibantah, melindas segala yang ada di jalurnya, dan orang-orang seperti Safaring, Kusasi, tarian kematian, terbuang dari lintasan. Fatris menghadirkan kisah-kisah itu, yang mau tidak mau harus kita telan bulat-bulat.

Gaya Narasi “Lara Tawa Nusantara

Wajah Indonesia dan segala kearifan lokalnya telah tergerus oleh kemajuan zaman, pun  ikut mengubah kebiasaan dan cara pandang masyarakatnya. Seperti yang ditulis di pendahuluan Lara Tawa Nusantara, bahwa penulis mencoba melihat Indonesia dari daerah yang seakan tersuruk dan gamang digoyang modernitas.

Fatris sebagai seorang Jurnalis perjalanan hadir dengan cara yang berbeda. Walaupun tulisan dalam buku ini pernah dimuat di majalah pariwisata tetapi menurut saya, Fatris tidak banyak mengambil porsi keeksotisan tempat-tempat yang dikunjungi. Sebagai seorang jurnalis perjalanan Fatris memposisikan dirinya sebagai seorang pemberi informasi dan tidak cenderung sebagai media hiburan. Hal itu terlihat dari tulisannya di buku ini, bagaimana ia memberikan catatan sejarah di setiap tulisannya, bercerita dan berdialog dengan penduduk lokal. Fatris berangkat dengan riset dan pendekatan yang kritis untuk menganalisis kehidupan masyarakat lokal, mengungkap isu-isu kebudayaan dan memaparkannya sesuai apa yang ia temui. Walaupun Fatris bercerita dengan gaya tulisan sastra, tetapi tidak meghilangkan objektivitas dan fakta dari tulisannya. Tulisannya penuh dengan kata puitis dan tragis. Berikut kata-kata puitis yang saya temui dalam buku ini. “Cinta adalah hasrat, aroma nafsu penuh gejolak, desahan persetubuhan yang liar, ketakberaturan yang nyata. Bukankah di hadapan cinta segala aturan telah sirna, Kusasi?” (hal.31).

Berdasarkan paparan di atas saya menyimpulkan bahwa, buku ini tidak terjebak dalam Indonesia yang beku dengan ke-wonderful-annya, tetapi buku ini memaparkan bahwa seiring berjalanannya waktu, realitas berubah, ada kebiasaan-kebiasaan yang bergeser dan hilang, permasalahan muncul saban waktu, dan masa lalu adalah kejayaan yang hanya bisa dikenang. Kenyataan hari ini adalah peristiwa yang sukar dan kompleks. Namun, bukankah perubahan adalah sesuatu yang tidak bisa dielakkan. Seperti yang dikatakan dalam buku ini “Bukankah tidak ada yang abadi di kolong langit ini?”.

Di samping memaparkan fakta-faka ironis, narasi-narasi yang dibangun dalam buku ini begitu naratif, kritis, sarkastik dan penuh dengan catatan historis, sesekali disisipi humor dan olok-olokan. Membaca buku ini seolah-olah membuat pembaca terprovokasi dan sekaligus tertawa. “Anda mengira kepahitan hidup akan sirna dengan lelucon itu?”.

Kadang terlintas pertanyaan di benak saya, Apakah Fatris ada memasukkan sedikit unsur fiksi dalam ceritanya? Apakah benar cerita dalam buku ini sebegitu apiknya? Entahlah. Setidaknya foto-foto dari lokasi yang dikunjungi Fatris sedikit menjawab keraguan saya.(*)

Facebook Comments

About the author

mm
JUNI FITRA YENTI

JUNI FITRA YENTI, Mahasiswi Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas. Bergiat di Unit Pers Mahasiswa dan Lab. Pauh 9.

mm By JUNI FITRA YENTI