INDONESIA ADALAH AWAL MULA PERADABAN

Bendera Indonesia

Adakah penanda bahwa Bangsa Indonesia atau sebagian menyebutnya Nusantara adalah peradaban besar di masa lalu? Jawabannya, ada dan banyak. Sangat berlimpah hal-ihwal yang mengisyaratkan bahwa Indonesia adalah awal mula peradaban. Menurut Yudi Latif (2011), jauh sebelum Bangsa Eropa berlayar berkeliling Bumi, orang Indonesia sudah melakukannya terlebih dahulu. Jika Columbus atau Vasco da Gama menemukan “dunia baru” di abad modern, moyang bangsa Indonesia jauh sebelumnya sudah berlayar menjelajah dunia. Hal ini dibuktikan dengan teknologi kapal bercadik yang dipunyai nenek moyang Bangsa Indonesia. Sejak awal masehi hal ini sudah berlangsung, bahkan ada yang mengatakan sebelum masehi. Mereka mengarungi laut tidak kurang dari 70 km untuk mencapai Australia, melayari Pasifik, dan menjelajah Samudera Hindia untuk mencapai Afrika (Latif, 2011).

            Penanda yang lain bahwa kita adalah peradaban terbesar di muka Bumi di masa silam adalah ditemukannya situs Cekungan Soa, di Ngada, Flores, Nusa Tenggara Timur. Di cekungan inilah ditengarai jutaan tahun lalu berdiam manusia purba jenis Homo erectus. Di cekungan ini juga menetap binatang-binatang purba semacam tikus, buaya, kura-kura darat, dan kadal. Semuanya berukuran raksasa. Bahkan saat ini kadal raksasa masih bisa kita temui dalam wujud komodo. Para paleontolog dan arkeolog juga menemukan fosil gajah, yang sering disebut stegodon di lembah seluas 200 kilometer persegi itu (Kompas, 23/6/2012). Hal ini menandakan cekungan Soa adalah tempat mukim nan strategis bagi berbagai jenis binatang dan manusia di masa lalu.

            Atau catatan seorang intelektual Yunani, Ptolomeus, juga tidak bisa dinafikan. Dalam tulisannya, Bangsa Jawa sudah mengirimkan kapal-kapal dagang yang membawa kekayaan Nusantara seperti emas, atau rempah-rempah ke benua Afrika kurun seratus tahun sebelum masehi. Bahkan, jauh sebelumnya Raja Firaun Mesir juga mendatangkan rempah-rempah dari Nusantara untuk para pekerja yang membangun piramida tempat pemujaan leluhur Bangsa Mesir.

            Bukti strategis lain berhubungan dengan tesis di mana Nusantara dianggap sebagai “Surga dari Timur” seperti ditulis oleh Stephen Oppenheimer dalam Eden in the East atau “Atlantis yang Hilang” versi penulis Brasil, Arysio Santos. Oppenheimer berteori bahwa Indonesia (Sundaland) adalah peradaban kuno yang menjadi cikal bakal peradaban lainnya. Menurut Oppenheimer, peradaban ini hilang karena banjir besar 8000 tahun yang lalu. Mungkin saja banjir ini adalah banjirnya Nabi Nuh As. Sementara Santos dengan yakin mengatakan bahwa Atlantis yang tertuang dalam cerita-cerita Plato letaknya di Indonesia. Peradaban Atlantis versi Plato mirip dengan Madinah-nya Muhammad. Masyarakatnya dinaungi kedamaian, ketentraman, dan kesejahteraan. Hukum tegak dengan adil, serta perbedaan dijunjung tinggi-tinggi.

Lantas bagaimana sikap kita setelah temuan-temuan di atas. Yang pertama, kita jangan mau diakali oleh peradaban Barat yang mengklaim bahwa merekalah sumber peradaban. Barat selalu menyangkal temuan-temuan seperti yang dilakukan Santos dan Oppenheimer ini. Mereka tentu saja tidak mau begitu saja membalik teori mainstream, seperti penemuan Columbus atas Amerika, atau penjelajahan-penjelajahan Bangsa Eropa ke timur lainnya. Berkat penjelajahan-penjelajahan inilah menurut mereka dunia modern muncul. Jadi, Eropa adalah penemu sekaligus awal mula  peradaban. Ini tentu klaim sepihak yang membolak-balik logika kita. Bukti-bukti di atas menjadi penanda bahwa Barat bukanlah siapa-siapa di masa lalu. Manusia purba, mulai dari Homo erectus hingga Homo sapiens, paling banyak ditemukan di Indonesia. Sisa kebudayaan orang-orang purba itu banyak tersua di Sangiran, Jawa Tengah, seperti yang kita pelajari dalam buku-buku sejarah di sekolah.  

 

Indonesia

Bangsa Indonesia adalah bangsa paling kaya di dunia, ditilik secara ekonomi, sosial, dan budaya. Secara ekonomi, kita tahu selama ini Bangsa Indonesia dianggap sebagai surga. Semua jenis bahan tambang ada di Indonesia. Laut kita garis pantainya adalah salah satu yang terpanjang di dunia. Bisa dibayangkan kekayaan yang ada di dalamnya. Ragam flora-fauna pun menghiasi jagat Nusantara dari Sabang sampai Merauke. Hampir setiap jenis flora atau fauna bisa dipastikan spesies paling banyaknya terdapat di Indonesia. Misalnya, enam dari tujuh jenis penyu terdapat di Indonesia (squad1.blogspot.com, akses 11/5/2014, 8.44). Dalam ranah budaya, kita kaya akan ritual adat, bahasa, karya seni, dan lain sebagainya. Banyak lagi yang lain, namun tidak perlu ditulis di sini. Ini saja sudah cukup menandakan bahwa bangsa kita adalah bangsa besar sejak dahulu.

Masih berkait dengan Barat, selama ini memang mereka selalu mempunyai pikiran untuk mendominasi yang lain. Yang lain di sini bisa dikatakan Timur, kalau boleh membuat oposisi biner, istilah dalam teori poskolonial yang terkenal itu. Salah satu contoh misalnya, ras Arya ala Hitler di Jerman. Bangsa ini selalu beranggapan yang paling unggul di dunia. Akibatnya, tentu saja sangat fatal. Genosida terhadap kaum Yahudi pun terjadi. Bangsa Arya diciptakan Tuhan dengan bentuk wajah tampan atau cantik, mata biru, hidung mancung, kulit putih, perawakan tinggi, dan lainnya. Contohnya ada pada orang Eropa sekarang.

Kita selama ini tentunya mengabaikan bangsa non-Arya (kulit hitam, coklat, atau sawo matang). Pesona wajah ala Barat selalu menggoda kita selama ini, maka orang non-Arya berebutan ingin menjadi seperti Arya. Terkait ini, menarik sekali ulasan budayawan Radhar Panca Dahana dalam bukunya Inikah Kita: Mozaik Manusia Indonesia (2007), ia mengatakan malah sebenarnya kita harus kagum dengan diri kita sendiri. Dalam kisah Ramayana, menurut Radhar, kita juga dipesonakan oleh wajah tampan dan cantik. Tersebutlah di sana Rama, Sinta, atau Laksmana yang memiliki rupa aduhai. Padahal, lanjut Radhar, mereka ini adalah representasi dari Arya, bangsa pendatang yang menaklukkan Alengka. Kita tahu di Alengka ada raja berkulit hitam dengan tampang kebalikan dari Rama dan kawan-kawan, yakni Raja Rahwana, atau sering disebut Si Dasamuka itu. Seharusnya Rahwanalah representasi kita. Ini terjadi karena settingan si pembuat Ramayana. Sebuah mitos yang mengangkat kemulian bangsa Arya. Aryalah si pahlawan, sementara Si Rahwana harus takluk karena dianggap sebagai penjahat.

Peradaban Ilmu

Yang kedua, terkait dengan sikap kita menanggapi kebesaran peradaban Nusantara di atas tadi adalah bagaimana kita bisa membangkitkan kembali api peradaban. Maksudnya, nilai-nilai yang ada dalam peradaban Nusantara di masa lalu sudah seharusnya kita mekarkan kembali sehingga wanginya menyebar ke segala penjuru. Tentu saja nilai di sini terkait rohani atau hasil karya manusia, misalnya salah satunya adalah seni.

Aspek rohani (relijiusitas) tentu saja sudah menjauh dari watak kebangsaan kita. Sekarang yang diutamakan adalah isi perut, bukan isi otak. Maka berebutanlah orang-orang berburu harta dan kekuasaan dengan cara yang jauh dari kata beradab. Cara bar-bar ini tentu saja akan merusak tumbuh kembangnya peradaban. Padahal, yang menumbuhkan peradaban bukanlah budaya semacam ini, tetapi budaya yang menjunjung tinggi aspek reliji, atau aspek-aspek rohaniah lainnya.

Mari kita tengok peradaban besar di masa lalu. Islam di bawah komando Nabi Muhammad, misalnya, aspek ketuhanan dengan konsep tauhid sangatlah menonjol di sini. Di peradaban Nusantara (zaman kerajaan) pun demikian adanya. Haus akan ilmu menjadi ciri dari masyarakatnya. Maka bertebaranlah para pencinta ilmu di seluruh Nusantara. Menurut Baso (2012), pada abad ke-17 dan 18, pesantren-pesantren yang bertebaran di seluruh penjuru negeri menjadi pusat aktualisasi para pujangga. Maka lahirlah karya sastra dengan beragam genre. Bisa babad, atau serat, dan lain sebagainya. Kita tentunya mengenal sastrawan semacam Ronggowarsito, Yosodipuro, yang menurut Baso, mereka-mereka ini adalah pujangga keraton yang juga merangkap sebagai santri.

Lebih lanjut Baso mengatakan, kesultanan Banten abad 17 dianggap sebagai salah satu pusat kesusastraan dan ilmu pengetahuan. Hal ini dibuktikan dengan bermunculannya penulis Nusantara yang berasal dari Banten. Ada Abdullah bin Abdulkahar al-Jawi, atau yang paling moncer adalah Syekh Nawawi al-Bantani. Para pengajar juga berdatangan dari Mekkah ke negeri ini (Baso, 2012). Bisa dipastikan ilmu pengetahuanlah (teks) yang membentuk peradaban Banten ini. Masih banyak kisah lain yang menandakan bahwa Nusantara  besar karena passion ilmu yang dijalani masyarakatnya. Liriklah kerajaan-kerajaan agung lainnya, seperti Sriwijaya atau Majapahit, atau Riau Lingga di Riau Kepulauan, semuanya memiliki gairah akan ilmu pengetahuan. Mereka bukanlah masyarakat yang memuja materialisme  seperti yang ditemui dalam masyarakat modern saat ini.

Sebagai pamungkas kalam, kita adalah bangsa besar dulu dan kini. Namun, untuk tetap besar kita harus menjaganya. Ini merupakan tugas besar bagi para pemimpin kita, bahkan kita sendiri pun wajib untuk selalu berpikiran besar dengan action besar pula. Tak lain yang dilakukan adalah meniadakan gaya hidup materalisme dan hedonisme. Ilmu pengetahuan dan aspek moral perlu dikedepankan dalam wacana kebangsaan. Dengan kata lain, peradaban ilmu harus terus dipupuk, ranah ketuhanan yang berorientasi tauhid juga wajib menjadi tonggak dalam menjalani kehidupan. Akhirnya, mari kita tegakkan nilai-nilai yang membuat sebuah peradaban tetap terpacak!  Wallahualam.

Facebook Comments

About the author

mm
DARWIN

Darwin, bekerja sebagai Staf Peneliti di Indonesian Society for Democracy and Peace (ISDP Pekanbaru). Cerpen, esai budaya, dan puisi pernah dimuat di Riau Pos, Pikiran Rakyat, dan media lainnya. Karya buku: antologi puisi “Tunggu Aku Mengucap Cinta” (Diandra/2015, esai filsafat: “Filsafat dan Cinta yang Menggebu” (The Phinisi Press/2015). Penulis berasal dari Pelalawan, Riau.

mm By DARWIN