Hukum Alam dan Hasrat Binatangisme

Sumber Gambar: Internet

IdentitasBuku

Judul

Animal Farm

Penulis

George Orwell

Penerjemah

Bakdi Soemanto

Penerbit

Bentang Pustaka

Cetakan

Pertama Januari, 2015

Tebal

iv+144 halaman

 

Eric Arthur Blair atau yang lebih akrab  kita kenal dengan nama Georger Orwell, adalah penulis yang tidak bisa diremehkan sumbangsih pemikirannya. Orwell, termasuk sastrawan Inggris kelas dunia yang banyak menorehkan watak dan rona dalam kesusastraan. Melalui karya-karyanya, Orwell coba membuka mata dunia bahwa, di dalam negara yang mengklaim sosialis murni sekali pun, tidak menjamin penindasan akan hilang.

Menurut Orwell, penindasan, walau  di negera sosialis akan tetap ada, dan subordinasi kepada sebagian orang, masih akan terus berlangsung.Buku Animal Farm, adalah salah satu karya Orwell yang menjelaskan anomali yang terjadi di negeri sosialis tersebut. Buku ini merupakan novel klasik yang isinya mengandung alegori politik. Buku setebal 144 halaman ini ditulis ketika perang dunia II sedang berlangsung. Buku ini ditulis dengan gaya satire yang benar-benar telak mengkritik totaliterisme yang terjadi di Uni Soviet waktu itu.

Latar tempat buku ini terjadi di tanah Britania Raya, dan lebih spesifik dalam sebuah peternakan yang dimiliki oleh Pak Jones. Walau pun hanya fokus pada peternakan, Orwell mampu membawakan sebuah kisah yang bijaksana, penuh pelajaran, dan tentunya mencerahkan. Ide cerita dalam buku ini begitu sederhana, dan sangat mudah dicerna bagi pembaca. Ketika membaca buku ini, kita akan diajak bertualang menyusuri lorong-lorong gelap dari kisah para binatang yang ada di peternakan.

Diceritakan, dalam peternakan yang bernama peternakan Manor ini, terdiri dari berbagai jenis binatang. Mulai dari babi, kuda, ayam, kucing, burung, anjing, sapi dan masih banyak lagi. Kisah dalam buku ini diawali dengan berkumpulnya para binatang pada malam hari, setelah disepakati sebelumnya bahwa, Major, si babi tua, akan bercerita perihal mimpinya.

Sebelum bercerita tentang mimpinya, Major, mengawali dialog dengan para binatang yang lain dengan sebuah pertanyaan. “Sekarang, Kamerad, apa sih, sifat kehidupan kita? Hidup kita ini sengsara, penuh kerja keras, dan pendek (hlm 5). Dari dialog awal tersebut, Orwell sangat menonjolkan ciri khas panggilan yang berlaku di kalangan orang-orang komunis dan sosialis.Selanjutnya, si tua Major juga berbicara persoalan Tanah Air yang seharusnya mampu memenuhi kehidupan orang banyak, termasuk para binatang yang ada di peternakan tersebut.

Dalam mimpinya, Major mendapat visi bahwa kelak, pemberontakan akan dilakukan binatang terhadap manusia. Para binatang, akan menciptakan dunia di mana binatang akan berkuasa atas dirinya sendiri, dan menjadi tuan dari tanah yang selama ini mereka tempati. Kelayakan yang ada di dalam mimpi Major, hanya berlaku bila manusia, yang menjadi musuh binatang selama ini bisa mereka singkirkan.

Menurut Major, “Manusia adalah satu-satunya makhluk yang mengonsumsi tanpa pernah menghasilkan (hlm 6).” Manusia harus dilawan karena menjadi konsumen terbesar, dengan hasil kerja yang sedikit. Kejahatan yang muncul selalu berawal dari tirani manusia terhadap binatang. Dari mimpi Major tersebut lah, akhirnya binatang sepakat untuk melakukan sebuah pemberontakan.

Melalui ide dasar buku ini, tampak  Orwell sangat menekankan prisnip kesetaraan. Selain membawa pesan kesetaraan di awal buku, Orwell juga menyisipkan pesan kesejahteraan yang seharusnya bisa dinikmati khalayak luas. Jangan dengarkan kalau mereka bilang bahwa Manusia dan binatang memiliki kepentingan sama, bahwa kesejahteraan yang satu adalah kesejahteraan yang lain. Ini bohong (hlm 8)!

Buku ini, juga mengajak kita berpikir untuk merenungkan perjalanan demokrasi sebagai suatu paham atau konsep, yang hampir di seluruh dunia diakui bahkan diklaim sebagai simbol yang sakral. Demokrasi, begitu digaungkan dalam perjalanan cerita yang ada di dalam buku ini. Hal itu begitu kentara ketika para binatang berhasil memberontak, dan berhasil mengusir pak Jones selaku pemilik peternakan. Bahkan, di adegan perlawanan ketika peternakan hendak diambil alih lagi oleh pak Jones, konsep demokrasi masih sangat begitu terasa.

Namun, selayaknya paham dan konsep yang ideal, nasib demokrasi dalam buku ini juga mengalami penyelewengan atau pembelotan. Hal ini bermula ketika ada dualisme kepemimpinan yang terjadi. Dualisme kepemimpinan itu diemban oleh dua babi cerdas, yang pertama bernama Napoleon, dan yang terakhir bernama Snowball.

Di dalam kemabukan kepemimpinan itu, dualisme kepemimpinan tidak lah bisa dibiarkan, dan harus ada yang dikorbankan untuk menjadi tumbal. Akhirnya, Snowball lah yang menjadi tumbal dari ketamakan seorang pemimpin, yaitu Napoleon. Snowball pun lantas dicap sebagai binatang yang berkhianat. Hal itu terjadi karena tipu muslihat yang dibuat Napoleon beserta kelompoknya, yang tidak sepakat dengan pola kepemimpinan Snowball.

Snowball yang sebenarnya punya kontribusi besar dalam hal pemberontakan, pada akhirnya harus menerima kenyataan bahwa, ia adalah binatang yang terbuang. Saban hari, setelah kepergian Snowball, keadaan di peternakan tidak lah bertambah baik. Binatang yang lain selalu dimanipulasi oleh kepemimpinan Napoleon, dan harus tunduk dengan perintah yang dibuat olehnya. Sampai akhir cerita, setelah terusir dari peternakan, Snowball tidak pernah kelihatan batang hidungnya.

Prinsip dasar dari binatang yang ada di peternakan itu, atau yang disebut dengan prinsip binatangisme, semakin hari terus mengalami perubahan. Perubahan itu tentu saja menguntungkan Napoleon dan rombongannya, namun tidak bagi binatang lain. Diceritakan dalam buku ini, bahwa babi adalah hewan yang paling cerdas, dan di samping mereka ada komplotan anjing yang setia menjadi pengawal. Secara tidak langsung, babi dalam novel ini menjadi kelas elite tersendiri, dengan anjing yang melanggengkan perbedaan kelas.

Orwell, dalam buku ini bermaksud menyampaikan kritik yang sangat mengena dengan kondisi kehidupan kita sekarang. Adanya kelas elite yang selalu memanipulasi, dan memeras serta memperbudak kelas di bawahnya, sungguh sangat sesuai dengan kondisi kita sekarang. Jurang perbedaan yang ada dalam buku ini, seakan menggambarkan realitas kehidupan kita hari ini, di mana orang yang kaya akan semakin kaya, dan orang yang miskin tidak akan bisa keluar dari kemiskinannya. Lebih parah lagi, yang miskin akan semakin bertambah miskin.

Buku ini, secara tidak langsung mengajarkan kepada kita bahwa, kesetaraan dan kesejahteraan walau pun masih jauh dari yang dicita-citakan, harus tetap dipertahankan sebagai cita-cita yang mulia di kemudian hari. Kesulitan yang kita hadapi hari ini, seharusnya bisa diatasi kalau semua orang tidak memakai hukum alam, di mana yang kuat akan menjadi pemenang, dan yang lemah harus melayani yang kuat.

Tiranisme, di mana pun tidak akan terjadi jika, nafsu kebinatangan atau binatangisme yang ada dalam diri kita, mampu dikendalikan. Nafsu binatangisme, sejatinya akan tetap selalu ada dalam diri manusia, dan tidak akan bisa dihilangkan sepenuhnya. Yang bisa kita lakukan adalah, mengontrol jangan sampai nafsu tersebut sampai merugikan orang lain. Kita bisa belajar dari kisahnya Napoleon yang begitu ketakutan jika kekuasaannya diambil alih. Untuk melanggengakan kekuasaanya, Napoleon bahkan menciptakan hantu Snowball!

Oleh karena itu, buku ini masih sangat relevan jika dibaca sekarang. Apa yang diuraikan dalam buku ini, benar-benar relevan dengan kondisi negara di berbagai belahan dunia kontemporer. Meskipun buku ini ditulis ketika banyak negara-negara belum mendapatkan kemerdekaannya, apa yang menjadi ide dasar buku ini akan selalu berlaku ketika masih ada penghisapan terhadap suatu kelompok, sekalipun negaranya sudah merdeka. Bisa dibilang, buku ini masih akan tetap relevan dibaca berpuluh-puluh tahun, bahkan sampai satu abad lagi.

Facebook Comments

About the author

mm
RIO ANGGI FERNANDO

Rio Anggi Fernando, Mahasiswa Bimbingan dan Konseling Islam, Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga, Jogjakarta.

mm By RIO ANGGI FERNANDO