Haiku Lelaki

UNSPLASH.COM

Segelas kopi pagi-pagi
Membuka hari menggulung mimpi
Cerita pun dimulai.

Aku terkapar. Seluruh persendian terasa sakit. Sangat sakit. Mungkin saja semalam aku salah tidur. Tetapi tidak biasanya menjadi sakit yang luar biasa. Aku telah terbiasa tidur dengan salah. Dan memang telah mencoba menghilangkan kata ‘salah’ dalam sejarah hidupku. Sebab rasa salah justru akan memuat manusia tersiksa. Sulit maju. Tidak kreatif! Tetapi rasa sakit itu semakin memojokanku. Meski begitu, aku tidak menyerah dan tidak akan pernah menyerah.
Perlahan aku angkat tubuhku. Duduk di pinggir tempat tidur. Selimut dan sprei kubiarkan berantakan. Berjalan sebisanya ke dekat jendela. Memandang keluar lalu duduk di kursi plastik dekat tumpukan buku-buku. Akhir-akhir ini, aku senang membaca. Entah kenapa! Padahal dulu aku paling benci dengan membaca. Dalam satu minggu ini telah beberapa buku aku kumpulkan. Beli di loakan, pinjam teman –yang pasti tak pernah kukembalikan—hingga mencuri di perpustakaan kotaku. Pikirku, mencuri ilmu masih ada harganya ketimbang mencuri uang negara.
Cahaya matahari tepat menusuk muka. Sinarnya hangat seolah menyeretku untuk segera melewati pagi. Memang sejak satu bulan terakhir, aku tak biasa menyapa pagi. Pola hidupku kacau. Jam dinding di kamarku, yang tercantol di atas pintu masuk kamar, kucopot beberapa hari lalu, kusurukkan dalam kardus bekas teve. Jam! Kini aku tidak terlalu membutuhkan lagi. Berpuluh-puluh tahun, jam itu telah memperbudak hidupku. Suaranya berdetak sangat ritmis namun terasa menyayat martabat kemanusiaanku sebagai manusia merdeka. Jam itu telah menikam kebebasan asasiku.
Tetapi kukira, memang bukan jam yang menjadi persoalan dalam hidupku. Buktinya, pagi ini aku masih merasa sangat tersiksa. Meski jam keparat itu telah menjadi sarang laba-laba di kardus bekas teve di atas lemari dan mungkin juga telah menjadi sarang tikus. Meski seluruh jam di rumahku, termasuk arloji, dan jam pada ponsel, telah kubuang jauh, nyatanya aku masih saja tersiksa.
Ketika aku membuka mata, siksaan itu mulai datang. Beruntun. Mengobrak-abrik rencana yang telah kubuat semalam hingga larut. Kenyataannya, begitu pagi, tak secuil rencanapun berhasil aku laksanakan. Aku diam. Berjalan. Minum kopi. Bicara seperlunya. Dan…rencana itupun berantakan. Aku menyesal? Tidak! Karena ku sadar, penyesalan itu adalah bagian akhir dari rencanaku yang tidak aku cantumkan semalam.
Dan aku duduk dekat jendela adalah bagian awal dari rencana penyesalanku. Kulihat anak-anak beriringan pergi sekolah, puluhan pedagang sayur berangkat ke pasar, juga para pegawai –mengenakan seragam khas pemberian negara—memacu sepedanya kencang, takut terlambat. Waktu telah membuat hidupnya tersentak. Waktu bagi mereka adalah majikan yang paling ditakuti. Aku ingat, pernah membaca buku yang mengupas tentang waktu. Bahwa waktu ibarat monster yang siap melalap habis apapun di depannya. Tak ada penundaan. Tak ada kompromi. Aku banting buku itu hingga berantakan. Sejak itu –sekali lagi– aku benci waktu!
Aku masih belum bisa melakukan apa-apa.
Sampai jalanan itu sepi. Hingga kuputuskan untuk keluar –tanpa mandi dan merapikan kamar—berjalan menyusuri jalanan yang lengang. Tepat di perempatan aku berhenti. Duduk di pojok, pada sebuah kios kosong. Aku pun duduk senyaman mungkin. Kuamati satu, dua kendaraan lewat tanpa ekspresi apapun. Memang aku sedang tidak ingin berkomentar. Tak ada gunanya.
Hampir setengah jam, aku duduk. Pikiranku kosong. Tetapi mendadak, seorang lelaki –agak tua dari aku—duduk di sebelahku. Aku acuh saja. Rupanya dia juga bersikap sama. Bahkan lebih acuh daripada aku. Hampir satu jam, kami berdua, duduk bersebelahan, dan diam. Akhirnya aku kasihan juga, kutawari rokok, diambil sebatang. Korek api. Sejak itu, dia mengawali pembicaraan. Dari perkenalan yang tidak begitu penting. Basa-basi. Hingga dia menceritakan pengalaman hidupnya. Aneh! Mendadak aku terasa sangat akrab dengan lelaki yang aku sendiri tidak tahu dari mana dan mau kemana. Tadi dia hanya menyebut nama saja.
Keakraban itu semakin jelas.
“Kenapa kamu disini?” dia bertanya dengan sangat antusias. Tetapi justru itu pertanyaan yang paling tidak kusuka.
“Kenapa aku disini? Iseng saja,” jawabku sekenanya.
“Iseng?”
“Iya.”
“Pagi-pagi begini?”
“Apa tidak boleh?”
Lelaki yang memperkenalkan diri bernama Sawan itu –nama yang aneh—tertawa.
“Siapa yang melarang?” tanyaku agak dongkol.
“Memang tidak ada. Tetapi biasanya, jam segini, seorang lelaki duduk diam, pasti ada yang salah dalam hidupnya,” dia menebak.
“Eh…! Jangan ngomong soal jam atau kata ‘salah’. Aku sudah lama membunuh kata itu dalam hidupku,” aku setengah marah. Nyaris berdiri. Sawan tidak segera menjawab. Kutahu, napasnya sedikti tersekat di kerongkongan. Mata cekungnya mendelik ke arahku. Dan kini, malah memutar tubuhnya, tepat menghadap kepadaku.
“Kau hebat! Fantastis! Kau lelaki luar biasa!” serunya.
“Apanya yang hebat? Apa yang luar biasa?”
“Kamu?”
“Jangan terlalu melebih-lebihkan sesuatu,” aku tetap dingin.
“Kau tahu? Sejak lama aku ingin hidup seperti kamu. Tetapi selalu gagal.”
“Gampang saja!”
“Ajari aku caranya.”
Sawan memegang lututku sambil menggoyang-goyangkannya. Aku sendiri merasa geli. Dia terus merengek memintaku memberitahu bagaimana bisa menjalani hidup sepertiku. Liar. Menyiksa. Terkadang terkesan menantang Tuhan. Waktu dan kesalahan adalah nadi takdir yang memutar roda kehidupan. Tuhan mengejawantah dalam dua kenyataan tersebut. Dan aku…aku menolaknya!

* * *

Mimpi itu datang lagi
Bersama perempuan pagi-pagi
Kesalahan pun dimulai

Aku ingat, ada janji. Perempuan itu telah menungguku di warung kopi dekat jembatan, tepat di tengah kota. Entah sudah berapa kali, aku mengadakan janji dengannya. Selalu ada semangat –yang luar biasa—setiap dia telepon dan mengatakan telah menunggu di tempat biasa. Aku pun bertekad ingin menjadi lelaki sebenarnya. Bukan lelaki kebanyakan!
Dan benar! Dia telah duduk di sana. Mengenakan setelan span warna marun. Sambil tangannya terus memainkan ponsel. SMS aku! Bukan…sekedar main game? Ah! Tidak terlalu penting. Kusapa dengan senyum lantas duduk di sebelahnya. Cukup dekat.
“Sarapan?” tanyaku. “Pesan saja. Aku juga lapar.”
Perempuan itu langsung memesan makanan kesukaannya. Sup kaki ayam. Aku tahu, kalau sedang makan, dia paling tidak suka diganggu. Sudan lama, aku dan perempuan itu menanggalkan rasa sungkan. Tepatnya sejak kapan? Aku tidak ingat. Yang jelas, sejak aku sering mengajaknya bertemu, di setiap kesempatan, di luar kota, di pasar, di pertigaan, warung, halte, gang sempit…dan aku lupa lainnya! Kami sepakat untuk menghapus rasa sungkan diantara kami. Sebab sungkan aku rasakan dapat menghamnat komunikasi kami. Dan banyak contoh orang celaka gara-gara sungkan. Aku tidak mau itu terjadi. Seperti saat ini, perempuan itu makan sangat lahap. Sampai-sampai aku yang disampingnya tidak dipedulikan. Tapi aku suka.
“Nambah?” tanyaku. Yang jelas dia tidak akan melakukannya. Dia menggeleng. Ada sisa nasi tercantol di dagunya. Kayak anak kecil! Kuusap dengan lembut. Tanpa sungkan! Meski di warung itu banyak orang. Aku sama sekali tidak ada urusan dengan mereka.
Kami pun akhirnya terlibat pembicaraan sambil bercanda.
“Kemarin di kantor rame,” kata perempuan itu.
“Kenapa?”
“Ada gosip baru,” jawabnya.
“Jangan terlalu dengar gosip!”
“Ini benar!”
“Tentang apa?”
“Bu Dwi selingkuh.”
“Jangan kurang ajar dengan atasan,” aku tahu nama yang disebut adalah kepala kantor tempat dia bekerja. Tetapi jujur peresaanku juga merasa tertampar.
“Jangan ikut urusan orang.”
“Iya…sih. Tapi namanya gosip tetap aja diomongin,” celetuknya.
“Apa salah kalau dia selingkuh?” tanyaku. Dia mengkerut. Rupanya tidak suka dengan pertanyaanku. Lama tidak menjawab.
“Bukan salah sih…tapi nggak pantas.”
“Kok begitu?”
“Atasan selingkuh sampai ketahuan anak buahnya. Murahan baget!” katanya sambil tertawa.
Aku dan perempuan itu terus bicara sambil bercanda. Hingga jam delapan! Dia langsung menyahut tas coklatnya dan pamit ke kantor. Terlambat. Aku melongo! Sebentar cium tangan dan hilang ditelan keramaian lalu lintas. Kini, aku duduk sendiri menghabiskan kopi. Kretek tinggal satu kuhisap kuat-kuat.
Atasannya selingkuh? Ah! Kalimat itu terngiang lagi. Apanya yang salah? Jadi kalau atas selingkuh? Apa anak buah tidak boleh? Entah kenapa setiap akhir pertemuan dengan perempuan itu, aku selalu dibelit rasa salah.
Kusurukkan rokok ke asbak. Aku pergi.

* * *

Tuhan datang terlambat
Setelah semuanya pergi
Dan aku,
Terjatuh di garis mimpi

Lagi, aku duduk di pinggir jendela. Ketika cahaya pagi menghantam kesadaranku, aku kehilangan keseimbangan. Tubuhku masih terasa nyeri. Tidak berubah. Sama seperti kemarin. Dan kemarinnya lagi. Selamanya! Kulihat orang lalu-lalang, tak tahu apa yang dikerjakan. Aku rasa tidak jelas. Orang-orang itu sekedar mondar-mandir saja. Kutertawakan. Mereka tidak tersinggung. Malah mengangguk ke arahku. Entah apa maksudya.
Bila kuingat perempuan itu, aku menangis. Dari tangisan kecil hingga histeris. Aku terkapar lagi. Tetapi orang-orang itu tidak mempedulikanku. Malah ada yang meludah kearahku. Bau bacin! Sejak semuanya pergi, satu per satu menjauh, aku cuma bisa bercanda dengan cerita-cerita kenangan yang terbungkus rapi dalam otakku. Cerita yang selalu kueja di dekat jendela, saat pagi mencibirku.
Pada bab pertama, ada cerita tentang lelaki yang tiap pagi selalu duduk di warung kopi dekat stasiun. Dia mahasiswa. Nyaris kena DO. Dia selalu membeli kopi dengan recehan. Entah apa yang dipikirkan, kulihat dia pemuda yang tidak berguna. Pemalas! Saat pagi, ketika seluruh isi kota sibuk membongkar rejeki, dia malah duduk sambil minum kopi dengan gerakan sangat lamban. Memang gayanya atau karena kelaparan, aku tak terlalu peduli. Dalam batinku, dia contoh generasi yang keliru! Aku marah dalam hati dan nyaris menyeretnya ke jalanan. Agar dia bekerja!
Tetapi apa gunanya? Kutinggalkan dia. Dan akupun bergegas menuju perempuan yang selalu menepati janji. Perempuan yang tak bisa kutinggalkan. Kuajak dia jalan-jalan keliling kota. Sengaja hari itu, seluruh kegiatan aku cancel. Aku sibuk! Sebentar masuk mall, beli baju, make up, dan akhirnya nongkrong di café, juga masih di mall itu. Tak ada pembicaraan yang serius. Kami hanya bercanda. Lagi pula, dalam kesempatan seperti itu, aku tidak ingin bersikap serius. Aku tersenyum setiap mendengar cerita perempuan itu. Tanpa sungkan, kujentik hidungnya dengan manja. Dia juga tersenyum. Aku suka!
Setelah hampir satu jam duduk di café, kuajak lagi dia jalan. Putar-putar. Pikiranku berputar. Hari belum siang. Pikiranku berputar keras. Dan…keluar kota! Tanpa banyak protes, perempuan itu menuruti segala kemauanku. Aku dan dia pun bersemangat ke luar kota. Dan perempuan itu, rupanya sudah mengetahui dengan baik, apa yang kuinginkan.
Akhirnya, aku berhenti di penginapan yang sudah biasa kami pakai. Dia berjalan tepat dibelakangku. Kugandeng tangannya. Tanpa banyak kata, orang-orang di penginapan itu sudah hafal denganku juga perempuan itu.
Di dalam kamar, dia tersenyum. Senyum yang aku suka! Dan aku menunggu dekat jendela. Apa! Dekat jendela! Kubanting tubuhku ke tempat tidur. Kini, tak ada lagi semuanya! Sejak perempuan itu melabrak ke seluruh sudut kehidupanku, semuanya hancur. Aku bukan apa-apa lagi. Aku menatap ke arah jendela. Kulihat empat lelaki menggotong sesuatu. Kuperhatikan lekat. Itu Sawan! Kenapa dia? Kalau saja aku tidak terkurung di kamar, mungkin sudah aku betot dia dan kuajak bercanda di kamar ini. Sejak semua pergi, tidak seorang pun menghampiriku. Takdirku berganti. Cerita berubah. Hanya beberapa orang datang membuka pintu kamar dan memberiku buffamoxy. Anti depresan.
Aku gila!

Tuhan,
Selesai semuanya.***

Facebook Comments

About the author

mm
CUCUK ESPE

Cucuk Espe, lahir di Jombang, 19 Maret 1974. Alumnus Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang (UM). Mendirikan dan memimpin Teater Kopi Hitam Indonesia (TKHI). Menulis esai, cerpen, serta puisi di sejumlah media masa lokal dan nasional

mm By CUCUK ESPE