DEADPOOL 2; NARASI KELUARGA DAN GUYONAN YANG BEJIBUN

Data Film:
Sutradara:  David Leitch
Skenario: Rhett Reese, Paul Wernick Ryan Reynolds
Genre: Aksi, Petualangan, Komedi
Durasi: 119 Menit
Pemain:  Ryan Reynolds, Josh Brolin, Morena Baccarin, Julian Dennison, Zazie Beetz
Tahun Rilis:  2018
Rating: 8.4/10 (IMDb), 84% (Rotten Tomatoes)
Poster: IMDb

Semula bermula dari keluarga. Manusia lahir dari pertemuan antara sel sperma dan ovum, hingga jadilah bayi yang kelak akan memenuhi populasi bumi. Begitu pula dengan Deadpool 2. Berawal dari keinginan Vanessa untuk memiliki anak, maka plot pun bergulir. Bila Deadpool pertama lebih menekankan romansa perjuangan untuk menyelamatkan tawanan, maka di Deadpool 2 lebih condong ke romansa penyesalan dan perjuangan untuk menghentikan sesuatu.

Setelah kehilangan separuh jiwanya, Deadpool berniat untuk mengakhiri hidupnya. Ia terjangkit drama picisan: apalah artinya hidup bila tanpa kamu di sisiku. Aku tidak bisa hidup tanpamu, begitu kata generasi kiwari bila terbelit konflik asmara dengan kekasih. Upaya defensif agar masalah kelar. Simplifikasi. Tapi Wade Wilson bukanlah manusia biasa dan tak ada romansa cengeng di situ. Usahanya mengakhiri hidup selalu gagal. Betapa pun upaya dan ambisinya, jalan buntu selalu ditemui.

Sekuel arahan David Leitch ini menampilkan banyak tokoh baru. Dari Cable yang diperankan oleh Josh ‘Thanos’ Brolin, punggawa X-Force: Domino, Zeitgeist, Vanisher, Bedlam, Shatterstar  Peter, hingga kedatangan tokoh-tokoh dari semesta X-Men yang membawa kejutan menarik. Lalu di mana Wiro Sableng? Jelas saja tidak ada, karena itu hanya ada dalam tambahan trailer untuk materi promosi. Karena keduanya dalam pabrik dan naungan yang sama: 20th Century Fox.

Di Deadpool 2, muatan humornya begitu kental. Bualan, metasinema, penghancuran dinding keempat dan ejekan kepada X-Men masih terus berlanjut. Lalu hal menarik lainnya adalah ketika DC Universe dan tokoh legendaris di dalamnya kena semprot juga.  Tak tanggung-tanggung, bahkan sang penciptanya Rob Liefeld dan Ryan Reynolds selaku aktor kena serangan juga.

Dari berbagai sequence yang ada, semua tak luput dari unsur komedi. Dari adegan serius macam berduka hingga pertempuran yang menegangkan. Semua bisa menjadi paket yang menyenangkan, juga bisa pula blunder. Karena bisa saja penonton overdosis dan sudah lelah dengan berbagai bombardir lelucon. Namun, penempatan Ryan Reynolds di posisi penulis naskah juga bisa membuat penonton lebih intim dengan sosok mutan bawel dan nyeleneh ini.

Kejahatan yang Tidak Hitam-Putih dan Tersiratnya Pesan Moral

Sebagian besar kita dididik sejak usia dini untuk melihat dunia dengan sudut pandang oposisi biner: hitam atau putih; A atau bukan A. benar atau salah, terhingga atau tak terhingga, sampai yang paling sensitif dan tendensius: beriman atau kafir. Kita kerap bertanya, apakah semesta  memang demikian adanya? tentu saja tidak di film ini.

Adagium politik macam: tak ada lawan yang sejati dan tak ada kawan yang abadi begitu tepat di film ini. Ya, semua hanyalah kendaraan bernama kepentingan. Kehidupan itu dinamis, dan semua orang bisa berubah sesuai cita-cita yang didengungkan. Deadpool 2 adalah salah satu contoh film anti-hero yang menolak formula klise dalam film superhero. Tidak semua adegan-adegan klise macam pertempuran harus selalu diiringi soundtrack megah penuh distorsi. Atau adegan drama melankolis yang selalu diringi dengan dialog ratapan dan kesedihan plus zoom in.

Di Deadpool 2 bangunan dan formula klasik action dan superhero tidak selalu repetisi. Siapa sangka bahwa narasi ajal tokoh bisa dipadupadankan dengan repetisi yang penuh kejutan dan mengocok perut banyak orang? Saya kira Ryan Reynolds yang juga berperan sebagai produser, begitu paham bahwa Deadpool adalah cerminan karakter yang penuh guyon dan menolak berpijak pada narasi arus utama (mainstream).

Ryan Reynolds saat berperan sebagai Wade Wilson atau sebagai Deadpool kerapkali melontarkan dialog yang tersirat soal isu-isu kiwari yang relevan. Baik di Hollywood atau pun belahan dunia lainnya. Persoalan LGBT, gender, rasialisme dan paket keluarga bahagia disinggungnya. Tentu faktor keluarga begitu penting dalam sebuah kehidupan, baik nyata atau fiksi.

Kita bisa memahami mengapa Russel (Firefist) begitu emosional hingga ingin melenyapkan orang yang menyiksanya. Russel adalah korban dari gagalnya lembaga keluarga dan dimanfaatkan oleh pihak yang sedang mengeruk keuntungan. Seperti kasus terorisme yang marak terjadi belakangan ini. Bertitian dengan itu, menurut BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional) salah satu fungsi keluarga yaitu cinta kasih. Adanya kasih sayang dan rasa aman, serta perhatian di antara anggota keluarga. Hal itulah yang tidak dialami Russel. Dalam teori Maslow, kebutuhan akan rasa memiliki dan kasih sayang (social needs) tidak ia dapati.

Dari kausalitas itulah plot bisa berkembang, hingga nihilnya mana yang baik dan jahat di dalamnya. Semua adalah korban dan melebur jadi satu. Selain itu, persoalan paling elementer soal bangunan film juga dibahas. Tentu saja hal itu bernama penulisan skenario. Berulang kali Deadpool mengomentari film-film yang malas dan buruk dalam membuat bangunan skenario yang logis dan tepat sasaran. Intertekstual, easter egg dan metode dinding keempat masih terus ada dan beranak pinak lebih banyak. Seperti Frozen, film dari Disney yang selalu disentil di sepanjang film, Robocop yang rigid, hingga yang klasik macam Interview With The Vampire. Bila ingin lebih tahu lebih banyak, sila lihat di sini.

            Akhirnya kita sampai pada sebuah konklusi bahwa film yang ditulis dengan baik, maka hasilnya pun seperti sepotong kue yang lezat namun juga menyehatkan. Bukan hanya suguhan visual, namun kesegaran rohani dapat kita dapatkan di sini. Seperti film Marvel lainnya, adegan di post credit selalu dinanti. Tidak ada beberan (spoiler) di sini. Silahkan nikmati, pertunjukan penuh guyon tanpa akhir.

Facebook Comments

About the author

mm
GALEH PRAMUDIANTO

Galeh Pramudianto, bekerja sebagai tenaga pendidik dan mengelola media Penakota.id bersama handai tolannya. Naskah teaternya Poligon masuk nominasi Rawayan Awards 2017 (DKJ) Karya-karyanya telah dimuat di media lokal dan nasional. Beberapa cerpennya termaktub di buku Kelas Melamun (2017). Buku puisi perdananya Skenario Menyusun Antena (IBC, 2015).

mm By GALEH PRAMUDIANTO