Daya Magis Tarawangsawelas

Tarawangsawelas

Tarawangsawelas, duo musisi asal Bandung yang memainkan musik “menyeramkan” dengan instrumen tarawangsa (kesenian rakyat Sunda, Jawa Barat). Duo ini, tidak terbaca pasar Indonesia. Musik yang mereka tawarkan malah lebih banyak diapresiasi di luar negeri. Album mereka sendiri pun lebih terkenal di mancanegara, karena memang diproduksi pun di luar negeri. Selanjutnya, rilisan fisik mereka pun berdasarkan informasi yang kami peroleh, juga diproduksi di luar negeri.

Berbekal penelusuran kami di bandcamp, kami bertemu album mereka; Wanci. Secara sederhana, kami berupaya mengapresiasi album ini, semoga berkenan.

Wanci||Tarawangsawelas
Wanci||Tarawangsawelas

Kengerian muncul sejak track pertama. Mendengar track yang berjudul “Selalu” itu membuat saya bergidik, meski didengar di siang bolong sekali pun. Menyayat, menyisakan keterasingan. Tiap mendengar track ini baik diwaktu siang ataupun malam, saya seperti dipertemukan dengan diri saya sendiri, nun jauh di pulau sana. Benar-benar baik untuk menyepi, jauh dari apa saja!

Track kedua, Tetap Terbit masih memberikan kengerian, bahkan sejak detik-detik pertama. Semacam dipanggil-dipanggil ruh yang ada di badan, raga ini ingin meraung menjawabnya, tapi apa daya, yang ada, tangan tak bisa bergerak. Mendengarkan track ini sembari mata terpejam, adalah penampakan ruh. Instrumen-instrumen yang diperdengarkan di track ini, lebih mengerikan ketimbang sound mana pun di film-film seram dalam maupun luar negeri.

Kecemasan, punya kegetiran yang sama dengan “Selalu”. Hanya saja, tempo yang diberikan lebih lambat. Tidak terlalu ngeri memang. Kita malah diajaknya menari. Asal, jangan sampai memejamkan mata. Bahaya! Instrumen yang dihadirkan rasanya membuat siapa saja menjadi lena. Pelan, sangat pelan. Enak, sangat enak.

Kita bisa sedikit istirahat di track Dari Timur. Tempo yang mereka mainkan semakin lambat, meski, nuansa intim religius dan mistiknya masih terasa kentara. Tarawangsawelas melalui track ini mungkin memberi angin segar bagi “Bahasa Indonesia”, alih-alih menggunakan track dengan judul berbahasa Inggris-seperti pada banyak band instrumental lain- Tarawangsawelas menggunakan bahasa sebagai judulnya. Di track ini, unsur-unsur timur itu memang terasa. Lembut, halus, santun. Tiada kejutan. Mau joget boleh. Mau hening bisa. Melebur seperti sebagaimana musik itu sendiri.

Sudah istirahatnya? Keseraman—wgwg—hadir lagi di track kelima. Ada menawarkan kengerian lain. Semacam ada dalam tiada. Memberikan kita pemahaman lanjutan bahwa, beginilah duo ini adanya. Ia ada, meski tak terbaca. Ia sebenarya bisa saja dibaca dan didengar, namun ia lebih memiih wilayah jauh itu; tempatnya sepi.

Selanjutnya, kita akan dibikin bergidik lagi dengan track panjang, lebih dari 12 menit; Sekalipun. Mendengar track ini seperti mengantarkan nyawa lepas dari badan. Mendayu, ngilu tak tertahankan. Apalagi sejak dipertengahan track, instrumen-instrumen yang dihadirkan memanglah sangat-sangat mendukung.

Matahari sebagai album terakhir di album ini memberikan isyarat, bahwa, apa yang mati, nantinya akan bangkit kembali. Saya yakin, Tarawangsawelas tidak akan selesai di album ini semata.

Rabih-Beaini-feat.-Tarawangsawelas
Rabih Beaini XX Tarawangsawelas

Album ini diproduseri oleh Rabih Beaini, dan dirilis pada 21 November 2017. Secara umum, nuansa yang dihadirkan album ini memang cenderung gelap, menakutkan. Hanya saja, sebenarnya, musik sebagai salah satu kesenian yang universal, memang memberikan tempat untuk itu. Semoga, dengan ulasan sederhana ini, Tarawangsawelas bisa memperlihatkan eksistensinya secara lebih masif, dan diterima oleh telinga masyarakat Tanah Air. Tabik!

Facebook Comments

About the author

mm
MAULIDAN RAHMAN SIREGAR

MAULIDAN RAHMAN SIREGAR, lahir di Padang, 03 Februari 1991. Penyair bukan, cerpenis tidak, tapi pengen. Buku puisinya, Tuhan Tidak Tidur atas Doa Hamba-Nya yang Begadang (Erka Publishing; 2018), Menyembah Lampu Jalan (Purata Utama; 2019)

mm By MAULIDAN RAHMAN SIREGAR