Cinta dari Sudut Pandang Berbeda

Cover Buku

Judul               : Babi-Babi Tak Bisa Memanjat

Pengarang       : Ken Hanggara

Penyunting      : Addin Negara

Penerbit           : Basabasi

Tahun terbit     : Cetakan 1, April 2017

Ketebalan        : 140 hlm; 14 x 20 cm

ISBN               : 978-602-391-335-0

Ini adalah karya Ken Hanggara dalam bentuk buku yang pertama kali saya baca. Sebelumnya saya mengenal tulisan beliau melalui website Novel Nusantara yang berjudul Kanibal: Pulau Tak Bertuan. Kisah yang gaya penulisannya lebih mudah dimengerti dibanding kumpulan cerpen ini.

Dalam buku berisi 17 cerpen, Ken Hanggara berbicara tentang cinta dalam berbagai sudut pandang. Cinta pada keluarga, kekasih, dunia, dan lainnya. Melalui untaian diksi memikat, Ken menceritakan cinta dengan cara berbeda. Tak mudah dipahami, tapi bisa dinikmati. Seperti mencicipi sajian dengan mata tertutup. Tak tahu dan hanya bisa meraba dengan indra pengecap makanan jenis apa yang dinikmati, tapi terasa pas di lidah. Penulis memiliki gaya tersendiri namun mampu mengajak pembaca masuk dalam cerita seolah-olah menyaksikan dengan mata kepala kejadian demi kejadian yang dirangkai sedemikian rupa membentuk kisah-kisah memukau. Dunia asing yang menimbulkan kekaguman luar biasa saat menjelajah di dalamnya. Getir, miris, suram, kelam, dan nuansa kesedihan lainnya mendominasi jalan cerita. Pembaca dibawa merenung dan bersimpati akan nasib para tokoh.

Cinta pada kekasih salah satunya Ken tuangkan dalam judul Albert yang Istrinya Mati di Titanic.

Albert gila sejak istrinya, Emily, hilang di laut beberapa tahun silam. Ia tak menyangka itu hari terakhir ia melihat belahan jiwanya. Ia di dermaga, istrinya di atas, melambaikan tangan, tertawa riang. Kenangan ini mengundang nyamuk masuk ke kuping dan bersarang di otaknya. (hlm. 50)

Dalam cerpen Agama Baru Penemu Dompet, Ken berkisah tentang kecintaan seseorang pada dunia. Bagaimana keserakahan mampu membutakan dan tak sungkan melakukan perbuatan tercela.

Jalan masih sepi ketika seluruh uang berpindah ke jaketku. Masih tidak ada penjual es, penjual keset, atau bahkan penjual burung hias sekalipun. Orang sudah telanjur telat menganggapku tidak bermoral gara-gara melihatku mengambil apa yang bukan hakku dari dompet yang tak jelas pemiliknya di tengah jalan. (hlm. 135)

Ken menggambarkan adegan yang dianggap tabu dengan kata-kata unik. Di antaranya pada cerpen berjudul Migrasi Penghuni Neraka dan Maria Pergi ke Pantai.

Ibuku memang anak malaikat, pada zaman dahulu kala. Tidur bukan di tubuh bus, tetapi di tubuh gunung emas di surga. Gunung dengan sejuta peri dan bidadari pengabdi. Di sana, ibuku dirawat dengan sangat baik dan setiap hari makan-minum dari sumber air abadi. Sayang sekali, Ibu jatuh cinta pada bayang-bayang. Tiap malam bayang-bayang masuk kamar dan mengajak perang. Bayang-bayang nakal itu ayahku. (hlm. 11-12)

Seorang nelayan hendak ke perahu dan menunda ke samudra demi melihat secarik selendang. Kain itu panjang dan berjuntai melukis sungai merah muda di batuan karang. Di satu titik, peralatan pancing di tangannya jatuh. Ia balik ke desa dan membawa seribu manusia ke sana, ke suatu tempat di mana kepala sekolah merasuki muridnya sendiri (hlm. 46).

Dalam Babi-Babi Tak Bisa Memanjat yang menjadi judul kumpulan cerpen ini, Ken mengkritisi proyek-proyek pembangunan yang mengancam eksistensi alam.

Kalimat-kalimat selanjutnya tidak begitu dia tangkap. Kata-kata asing berkelebatan, sementara ia terus dan terus menggaruk pantatnya yang gatal akibat mengintip dari balik semak: ekspansi, industri, buruh, sejahtera, royalti, pribumi, uang, dan entah. Semua itu di luar jangkauan otaknya, yang hanya hidup dengan mengenal pagi, siang, dan malam. Lalu, babi-babi itu? Apa mereka mengusir babi-babi itu, jika saja sebuah rencana yang katanya menghapus areal sawah dan kebun dekat tepi hutan, benar-benar terlaksana? (Hlm. 128-129)

Facebook Comments

About the author

mm
risqiyah

Risqiyah, penulis buku 2R (Satu Ruang Dua Jiwa), Bi 2 Rain, Trianida Cinta.

mm By risqiyah