Cara Terbaik Mengatasi Patah Hati

unsplash.com

           Mengumpan mantan kekasihmu dan membiarkannya dimangsa beruang merah bisa jadi adalah salah satu cara melupakan sekaligus memusnahkannya. Tapi kalau kau kemudian hanya berakhir nelangsa di kamar hostel di suatu negri yang asing sambil tertindih kenangan, maka yang sebaiknya kau lakukan adalah beranjak dan menikmati udara segar.

          Untuk itulah aku beranjak dan menyingkap tirai jendela. Seketika sosok Abu Kurdi langsung menjadi fokus retinaku. Lelaki itu, seperti biasa, telah menyamankan tubuhnya di salah satu bangku taman. Ia gemar memerhatikan anak-anak yang bermain pasir, atau anjing-anjing yang dibiarkan berkejar-kejaran oleh tuannya, atau pasangan yang duduk bercengkrama sambil berciuman. Sesekali Abu Kurdi akan menengadahkan kepala, menatap awan, langit, menanti kawanan burung melintas.

            Abu Kurdi jelas bukan orang Rusia, dari nama dan perawakannya ia lebih mirip seseorang yang berasal dari suatu negara di jazirah Arab sana. Rambut hitamnya dipotong klimis sementara berewok dan kumis menutup dua per tiga dari wajahnya. Kesan pertama sungguh menyeramkan; seperti teroris yang digambarkan oleh media-media mainstream. Abu Kurdi adalah karyawan hostel, tugasnya adalah apa saja yang diperintahkan Mr. Sergey.

        Aku menutup tirai dan memakai cardigan sekenanya. Hostel murahku berhadapan dengan taman. Suatu keuntungan besar karena aku tak pernah punya itinerary yang jelas sejak menginjakkan kaki di Negri Beruang Merah ini. Ketika tak punya tujuan, aku akan duduk di salah satu bangku taman, menemani Abu Kurdi sepanjang siang dan mendengarnya bercerita tentang anak-anak yang pernah ia miliki, atau pun ketertarikannya pada burung-burung yang bermigrasi di penghujung musim panas.

        Setelah memastikan semua barang sudah kujejalkan ke dalam koper, aku melangkah keluar, menyapa Mr. Sergey yang duduk di meja resepsionis untuk mengingatkannya bahwa ini hari terkhirku, memastikan ia sudah menyelesaikan binatuku, serta telah memesankan taksi untuk menuju bandara. Aku menuju taman kecil di mana Abu Kurdi duduk menatap langit, tapi sebelum itu aku mampir untuk membeli dua buah pirozhki.

        Aroma pirozhki selalu memberikan efek menenangkan sejak pertama kali benda itu tercecap di lidahku. Rasanya, aku bisa hidup hanya dengan pirozhki di dunia ini. Aku menyapa dengan dobraye ootra1 pada Abu Kurdi sambil menyodorkan pirozhki. Dia tersenyum, menerima piozhki dariku dan membalas dengan good morning. Aku bertanya apakah burung-burung itu sudah melintas yang dijawab dengan gelengan kepala olehnya.

          Taman kecil di salah satu sudut Moskow pada musim panas tak ubahnya taman kota di Indonesia; hijau, hangat, ramai. Awalnya aku tak suka. Aku berharap mati membeku di salah satu sudut jalan kota komunis ini. Aku berharap diriku berakhir setragis itu.

           Aku bertanya apakah ia saat ini sedang rindu dengan Aylan dan dijawab dengan anggukan pelan. Abu Kurdi pernah memiliki dua orang anak dan seorang istri yang kemudian meninggal. Ia tak pernah membicarakan penyebab kematian mereka. Untuk alasan ini juga mungkin aku betah berlama-lama duduk di taman bersamanya. Kami sama-sama tengah kehilangan. Tapi mungkin kehilangan yang diderita Abu Kurdi lebih banyak. Setidaknya, aku masih bisa melihat wajah bajingan yang tiba-tiba memutuskan tidak jadi menikahiku setelah undangan disebar, jika aku mau.

          Abu Kurdi bertanya tentang penerbanganku dan kujawab masih tiga jam lagi. Mr. Sergey telah mengurus segalanya sehingga aku hanya perlu membawa diri dan bokong besarku ke bandara tanpa perlu menghadapi urusan imigrasi yang bertele-tele. Aku telah menempuh penerbangan Jakarta-Hongkong-Moskow selama 19 jam, ini rute yang lebih cepat dibanding Jakarta-Kuala Lumpur-Frankfrut-Moskow selama 25 jam yang pernah ditempuh oleh sepupuku untuk liburannya tahun lalu.

            Ketika itu sepupuku bertanya kenapa harus Moskow dan kujawab untuk mati membeku di sana. Kalau boleh memilih cara mati, aku ingin mati dengan elegan. Membeku di Apterkarsky Ogorod saat suhu menyentuh minus 30 derajat adalah ide yang bagus. Orang-orang tidak akan peduli padaku karena mereka mengira aku hanyalah salah satu patung es yang sedang dipamerkan. Orang patah hati selalu memiliki ide-ide unik untuk mati.

       Sayangnya, aku lupa memastikan mengunjungi Moskow di musim yang tepat dan justru mendapati diriku menghabiskan waktu dengan bermalas-malasan tanpa berniat mati setelahnya. Lagipula, bagaimana bisa mati membeku jika suhu musim panas ini mencapai 40 derajat celcius. Ketika itu sepupuku tak bertanya apa-apa lagi sebab pembatalan pernikahanku oleh lelaki bajingan di saat aku-dan seluruh organ kewanitaanku- sudah siap menikahinya menjadikanku begitu sensitif dan siap meledak kapan saja.

        Aku baru tahu Moskow sedang mengalami musim panas saat berselancar di internet ketika transit di Hongkong. Kala itu aku menatap miris pada koper berisi coat dan lusinan jaket yang kubawa dari Jakarta. Aku ingin mati membeku tapi justru membawa coat. Tapi, aku sudah separuh perjalanan menghabiskan biaya pernikahanku yang tersisa-yang batal-dan cuti tahunanku. Jadi, aku tak akan urung.

       Abu Kurdi mengejutkan lamunanku dengan pertanyaan tentang apakah aku tertarik untuk tahu bagaimana anak-anak dan istrinya meninggal. Kujawab tentu saja dengan antusias. Kutambahkan bahwa aku akan sangat senang jika ia mau berbagi cerita denganku karena ia telah menjadi pendengar yang baik untuk seluruh cerita yang menjadi alasan kedatanganku ke Rusia.

      Abu Kurdi kembali bertanya apakah aku sudah membaik, maksudnya dengan segala drama pembatalan pernikahan oleh calon suamiku. Kutegaskan bahwa lelaki itu mantan calon suamiku saat ini. Dan kupastikan saat meninggalkan Moskow beberapa jam lagi aku juga akan meninggalkan segala tentangnya untuk dimakan beruang merah. Abu Kurdi tertawa dan bilang ia bahkan tak pernah melihat beruang merah semenjak tinggal di Moskow setahun yang lalu.

            Pirozhki-ku sudah lama tandas. Milik Abu Kurdi juga. Lelaki tua itu menatap langit dan mengatakan bahwa beberapa hari sebelum meninggal, satu-satunya hiburan bagi Aylan dan saudaranya adalah menatap langit, menanti burung melintas dan membayangkan mereka menjelma burung yang memiliki sayap sehingga bisa terbang kemana pun dan tak perlu terombang-ambing di atas perahu selama berhari-hari.

            Aku bertanya apa yang dilakukan Aylan dan saudaranya di atas perahu berhari-hari namun, Abu Kurdi tak menjawab. Sebaliknya, matanya berembun. Aku menduga ada gejolak yang ia tahan di dalam dadanya. Ia melanjutkan ceritanya tentang perahu yang disesaki pengungsi. Berbagai aroma menguar; muntahan, keringat, dehidrasi, kematian. Aku bertanya lagi kemana sebenarnya tujuan perahu itu dan dijawab oleh Abu Kurdi dengan singkat bahwa tujuannya adalah Kanada. Banyak pertanyaan yang kemudian mendesak di dalam kepalaku namun hanya berakhir menggantung di ujung lidah.

          Perahu dalam cerita Abu Kurdi menjelma dalam pikiranku; kumuh, sesak, bau. Ada sekitar 24 orang memadati ruang-ruang dalam perahu. Lima di antaranya anak kecil. Mereka semua hampir sebaya dengan Aylan. Abu Kurdi masih bisa melihat dataran Turki saat bencana itu terjadi. Letih jelas terlihat pada wajah-wajah penumpang perahu, sementara harapan mulai memudar dari sana. Yunani masih jauh. Mereka akan singgah di sana terlebih dahulu. Beberapa penumpang akan turun, lalu Abu Kurdi, istri dan kedua anaknya akan melanjutkan kembali perjalanan ke Kanada.

       Aku menjeda Abu Kurdi untuk menanyakan apakah ia dan keluarganya berasal dari Turki namun dijawab dengan gelengan kepala. Abu Kurdi menambahkan bahwa aku pasti tidak benar-benar ingin tahu darimana ia berasal. Aku katakan padanya untuk mencoba meskipun nilai geografiku sangat buruk dan aku memang tak tahu sebagian besar negera di dunia. Abu Kurdi tersenyum dan bilang mungkin aku akan tahu di akhir cerita.

         Ia kemudian menatap langit dan mengatakan padaku bahwa ia sangat yakin kawanan burung Great Snipe akan melintasi langit Moskow hari ini. Bulan Agustus hampir berakhir dan burung-burung itu harus melintas. Kutakan pada Abu Kurdi bahwa fakta itu sudah melekat di dalam pikiranku karena begitu sering kudengar hal itu darinya. Bahkan, fakta itu nyaris menghapus fakta tentang betapa brengseknya mantan calon suamiku. Abu Kurdi terbahak.

       Cerita Abu Kurdi tentang perahu itu berlanjut. Cadangan makanan kian menipis sementara atmosfer penuh keputusasaan terus menebal. Lalu entah bagaimana mulanya ketika salah satu sisi perahu mengalami kebocoran. Air laut bergelegak menerobos masuk ke dalam perahu. Orang-orang panik, anak-anak menangis, sedangkan dataran Turki hanya tinggal seukuran buah zaitun muda yang tampak samar-samar di kejauhan.

        Dengan sigap ia merangkul Aylan, menginstruksikan istrinya untuk tidak melepaskan sedetik pun pandangan dari saudara Aylan yang lebih besar. Dalam hitungan detik setengah perahu telah terisi air. Beberapa penumpang mulai berloncatan ke laut sebelum perahu itu karam. Penumpang dengan anak kecil yang paling kesulitan. Tidak gampang berenang membawa anak kecil yang tengah menangis meronta-ronta.

          Ia masih ingat dengan jelas bagaimana susahnya membuat Aylan tetap bernapas saat dia sendiri pun kesulitan menjaga tubuh mereka terapung di permukaan. Dua hari perutnya hanya diisi setangkup roti. Ia bisa kehabisan tenaga kapan saja. Ia berusaha menggapai apa pun untuk jadi pelampungnya; botol kosong, bongkahan kayu, sampah-sampah laut lainnya, apa saja. Aylan menjerit-jerit di dalam dekapannya. Mereka sesekali tenggelam, berulang kali tersedak air laut. Abu Kurdi bilang rasanya asin dan pekat, seperti rasa kematian. Aku menduga-duga begitulah cara maut merenggut nyawa istri dan anak-anaknya.

      Aku bertanya tentang kondisi saudara Aylan dan ibunya. Ia menjelaskan bahwa ia tak benar-benar melihat keduanya lagi sejak mereka bersama terjun ke laut. Namun, ia masih bisa mendengar samar-samar suara istri dan anak pertamanya itu meratap di sela jeritan mencekam penumpang-penumpang lain.

     Ia merasakan seseorang menggapai tubuhnya. Meronta dan meratap. Mencari pertolongan dan pegangan. Tampaknya wanita yang menggapainya itu tak bisa berenang. Abu Kurdi ingin menolong wanita itu, tetapi ia sendiri kesulitan mengapung sambil membawa Aylan. Ia mencoba melepaskan diri dari jangkauan wanita tersebut namun justru membuatnya dan Aylan tenggelam. Wanita itu meronta-ronta dan menenggelamkan mereka bertiga. Saat itulah Aylan terlepas dari pelukannya.

       Ia tak lagi bisa membedakan mana permukaann laut dan mana dasar laut. Segalanya membaur. Segalanya membiru. Segalanya gelap. Ia mencari-cari Aylan namun bocah itu tak ada di mana pun. Saat itu ia nyaris kehabisan napas dan berusaha berenang sekuat tenaga ketika menemukan seberkas sinar. Ia mengikuti bekas sinar yang membawanya ke permukaan laut tepat waktu. Abu Kurdi baru mengambil satu tarikan napas panjang saat ombak besar menerpanya. Ia kembali tenggelam. Terombang-ambing. Selamanya. Ia rasa waktu telah berhenti berputar dan Laut Mediterania adalah keabadian.

            Aku terdiam. Abu Kurdi terdiam. Bocah-bocah pirang berlarian di depan kami. Aku memergoki Abu Kurdi mengikuti arah lari bocah-bocah itu dengan matanya. Barangkali ia membayangkan yang tengah berlari itu adalah Aylan dan saudaranya. Dadaku bergelora. Aku tidak akan bertanya lagi tentang nasib Aylan.

            Abu Kurdi mengembuskan napas agak keras sebelum berkata kepadaku bahwa kematian yang paling menyakitkan kedua adalah mati sesak napas tanpa harapan. Yang pertama adalah mengetahui orang-orang yang kau sayangi mati sesak napas tanpa harapan, sedangkan kau sendiri hidup. Aku tercengang. Apakah selama ini ia hidup tapi merasa mati? Ia lalu merogoh kantung jaketnya dan menjulurukan selembar foto padaku. Ia bertanya apakah aku tertarik untuk melihat foto Aylan dan Galip.

            Aku meraih foto yang disodorkan oleh Abu Kurdi.  Dua orang bocah tengah tersenyum lebar di sana. Mereka dengan boneka beruang besar putih di antaranya. Polos. Bahagia. Entah apa yang mereka lihat hingga kedua pasang mata itu hilang karena tertawa. Mata mereka menyipit seperti Abu Kurdi ketika tertawa.

            Bunyi riuh dari kejauhan mengusik pikiranku. Bunyi riuh yang semakin lama semakin mendekat. “Ah, lihat! Great Snipe melintas!” Seruan Abu Kurdi mengalihkan perhatianku seutuhnya. Aku meninggalkan pemandangan dua bocah yang sedang tertawa di dalam foto dan menatap ke langit Moskow yang biru sempurna.

Kawanan burung Great Snipe melintas di atas kami dengan kecepatan yang luar biasa; 97 kilometer per jam. Mereka sudah dan akan terbang sejauh 6.500 kilometer tanpa henti selama 4 hari untuk menghabiskan musim dingin di Afrika. Abu Kurdi pernah menjelaskan setiap detail tentang The Great Snipe yang dapat terbang melintasi benua padaku. Kawanan burung itu akan terbang melintasi Eropa Timur menuju gurun Sahara. Jika beruntung mereka akan terlihat di langit Moskow.

 Langit itu sendiri mendadak gelap tertutupi tubuh mereka dan angin yang ditimbulkan dari kepakan sayap mereka memainkan rambutku. Aylan dan saudaranya suka menatap langit. Mereka ingin punya sayap agar tak perlu terkatung-katung di atas perahu. Jika mereka punya sayap, mungkin mereka pun akan terbang melintasi benua. Dari Turki ke Yunani lalu ke Kanada atau ke mana saja yang mereka inginkan. Dan mereka tidak akan mati tenggelam.

            Mr. Sergey meneriakkan nama Abu Kurdi dari pelataran hostel, memerintahkannya sesuatu dalam bahasa Rusia. Aku mengembalikan selembar foto itu padanya namun ia menolak. Dia bilang aku boleh menyimpannya. Abu Kurdi pergi setelah mengucapkan poka2, menyebrang jalan dan menghampiri Mr. Sergey. Aku masih mematung beberapa detik setelah Abu Kurdi dan Mr. Segey menghilang di balik pintu hostel.

Sebelumnya, aku pikir kesedihan hanya milikku sampai kemudian aku menyadari punggung Abu Kurdi yang mebungkuk karena ternyata ada kesedihan yang lebih besar menggelayut di sana. Setitik air mataku jatuh. Dua titik menyusul kemudian. Air mataku sudah menjelma bah saat Mr. Sergey berdiri di hadapanku. Ia  memberitahu bahwa taksiku sudah siap dan Abu Kurdi telah memasukkan semua barangku di sana. Ia terkejut mendapatiku menangis dan menjadi penasaran tentang apa yang telah Abu Kurdi katakan padaku. Aku menggeleng sambil menyusut air mata.

            “Bukankah sudah kubilang untuk tidak memercayai apapun yang dikatakannya? Ia hanya imigran gelap yang menggelandang di Jerman sebelum kuajak kemari. Ia hanya seorang pembual.” Mr. Sergey lalu terbahak-bahak. (*)

Keterangan :

  1. Dobraye ootra : Selamat pagi.
  2. Poka : Sampai jumpa.
Facebook Comments

About the author

mm
SABRINA LASAMA

Sabrina Lasama berdomisili di Manado. Beberapa tulisannya pernah dimuat di media antara lain Tabloid Teen, Majalah Chic, Annida Online, Manado Post dan Majalah Femina.

mm By SABRINA LASAMA