CAPERNAUM: Perspektif Ambigu Seorang Anak pada Orangtua

Setiap film memiliki pasarnya masing-masing, ada yang sesuai ekspetasi ada yang jauh dari dugaan penonton bila dibandingkan dengan trailer. Pada tahun 2018, perfileman Lebanon mengeluarkan film berjudul Capernaum. Kurun waktu beberapa tahun belakang, negara-negara Timur Tengah memang menjadi lirikan perfileman dunia, negara tersebut beberapa kali masuk dalam nominasi penghargaan film dunia dan membawa piala pengharagaan ke negara mereka. Selain Capernaum, ada beberapa film lagi yang masuk nominasi—serta berhasil memenangi penghargaan prestisius itu, diantaranya The Insult, Paradise, Omar, dan Theeb. Film-film, tersebut adalah hasil karya negara Timur Tengah; Palestina, Yordania dan Lebanon. Namun setiap penonton, boleh saja tidak menyukai film-film drama seperti Capernaum. Bila menengok banyak film lagi, sangat ramai film-film serupa dibuat, namun berakhir gagal. Seperti film-film India yang selalu mengeksploitasi kehidupan sosialnya, kemiskinan yang tak habis-habis. Mulai dari film Hichki, Paam Sing Tomar, Merku Todarchi dan lainnya. Sebagian penikmat film memang menyukai itu, tapi tidak jarang film-film yang dihasilkan akan menjadi biasa saja, sebab ceritanya hanya berputar pada masalah itu-itu saja. Tapi kali ini kita tidak membahas negara para dewa itu.

Capernaum tayang perdana di bioskop pada tanggal 14 Desember 2018, film ini disutradarai Nadine Labaki ini menjadi film yang patut ditonton, terutama perempuan. Pada adegan pembuka, penonton dihadapkan dengan momen persidangan Zain yang menuntut ibunya sendiri. Zain (Zain al Rafeea) sangat kecewa telah dilahirkan ke dunia, itu menjadi penyebab dituntutnya sang ibu ke pengadilan. Zain mengalami banyak nasib buruk, rasa sakit dan harus bertahan hidup, meski ia mempunyai ibu. Akhirnya ia memutuskan untuk kabur dari rumah, di jalanan ia bertahan hidup dengan banyak malang melintang. Dan suatu waktu ia harus mengurus seorang anak pengungsi dari Ethiopia bernama Rahil (Yordanos Shiferaw) beserta Yonas (Boluwatife Treasure Bankole) yang merupakan anak laki-laki Rahil. Walau terkesan mozaik-mozaik saja, film ini sangat bagus dalam pengambaran suasana dan tempat. Cerita yang ditayangkan terlihat nyata, bahwa begitulah keadaan lingkungan sosial di sana.

Capernaum bukan sekadar film kesedihan semata, film ini digarap sedemikian apik, sehingga memang layak mendapatkan penghargaan dari banyak kalangan. Tidak sampai disana saja, film yang diperankan seorang anak berusia 12 tahun ini membuka mata dunia, betapa kehidupan sosial sangat membuat anak-anak tertekan diusia dini. Ibu yang terus melahirkan, namun tidak pernah betul-betul sanggup memelihara anaknya sendiri. Film ini adalah gambaran betapa cerobohnya orangtua terhadap buah hatinya, tentang bagaimana krisis ekonomi yang menimbulkan banyaknya pengungsi. Bukan hanya di Lebanon saja, kisah ini juga mungkin terjadi dibanyak tempat atau negara bernama sekalipun. Orang-orang datang mengadu nasib, namun setiap ia berusaha keras untuk bertahan tiap kali pula kemalangan datang. Mengungsi secara aman memang tidak mudah, pengungsi sering dibilang sebagai pendatang haram, pelarian yang penuh dengan resiko. Tapi tidak jarang pula keputusan sebagai pengungsi ke negara lain diambil oleh seseorang, saking tertekannya hidup di negaranya sendiri.

Bagaimana mungkin seorang anak selalu dibayang-bayangkan akan sebuah penjara, bila ia tidak bekerja keras. 12 tahun masih dalam usia bermain anak-anak, namun tidak bagi ibunya. Ia selalu memaksa anak-anaknya untuk bekerja, tidak ada kata bermain. Bila tidak mengikuti kehendaknya, Zain selalu dibayang-bayangkan berakhir di penjara, seperti Abangnya. Bukan hanya Zain saja, adik perempuannya juga dipaksa untuk bekerja demi melunasi kebutuhan hidup kedua orangtuanya. Betapa anak-anak dieksploitasi dengan mengenaskan, tanpa mengenal pendidikan. Tanpa mengenal umurnya sendiri seperti adegan persidangan Zain saat hakim bertanya berapa umunya. “Berapa umurmu, Zain?” hakim bertanya setelah menghentikan keterangan dari orangtuanya yang membela diri. “Saya tidak tahu, tanya pada mereka.” Kemudian sang ibu menjelaskan bahwa Zain tidak pernah terdaftar secara resmi, itu sebabnya dia sendiri juga tidak tahu umur anaknya. “Saya kecewa pada orangtua saya. Karena telah melahirkan saya.” Sambung Zain dengan wajah menahan emosi.

Perspektif siapa saja boleh tidak sama dalam film ini, memang tidak semua anak-anak mengalami hal serupa dengan Zain, atau ada yang lebih parah dari yang dialami Zain. Dikehidupan nyata, hidup di jalanan bukan semata bertahan dari lapar saja, tapi bertahan dari manusia adalah yang terberat. Capernaum terlihat jelas mengatakan bahwa begitulah keadaan Lebanon yang rawan akan krisis ekonomi. Meski demikian, dalam film ini memang ada beberapa yang terasa kurang. Lompatan kisah Zain terlihat kurang greget, meski secara pembawaan, Zain sangat bagus. Pemeran pendukung dalam film ini tampak jelas hanya tempelan saja, Rahil, Yonas dan seorang gadis perempuan yang ditemui dijalanan, setelah kabur dari rumah. Pengungsi yang bernama Rahil ini memiliki seorang anak bernama Yonas, tapi entah bagaimana ia bisa memiliki seorang anak laki-laki dan menyeludup ke suatu tempat. Seharusnya ada beberapa plot untuk menjelaskan bagaimana kehidupan sebelumnya, walau dalam film ini memang kisah Zain lah yang ditonjolkan. Kemudian tentang adik perempuan Zain yang bawa sang ayah untuk melakukan suatu pekerjaan. Tentu setiap film ada sisi kurang dan lebihnya, tapi dalam Capernaum, hampir terbilang sempurna untuk sebuah film drama. Wajar saja Film dari Timur Tengah ini masuk ke dalam deretan film berbahasa asing terbaik pada perhelatan film terbesar di dunia.

Facebook Comments

About the author

mm
ARIF P PUTRA

Arif Purnama Putra, berasal dari Surantih, Kab. Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Alumni di STKIP PGRI Padang, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Bergabung bersama Komunitas Menulis “Daun Ranting”. Buku tunggalnya yang telah terbit “Suara Limbubu” Karya pernah dimuat beberapa media dan antologi bersama.

mm By ARIF P PUTRA