BURUKNYA RASISME

OLEH:
DUSKI SAMAD
Dosen UIN Imam Bonjol

Terma buruknya rasisme ini menegaskan bahwa tidak sedikitpun adanya kebaikan pada rasisme. Rasisme adalah sama artinya memprotes Allah swt, menggugat sunatullah, mengingkari fitrah kemanusiaan dan melanggar hak-hak hidup yang dianugerahkan Allah pada setiap yang bernyawa. Buruknya rasisme meluas melampaui batas-batas wilayah, dan negara, bahkan rasisme itu sumber bencana kemanusiaan sejak awal dunia ini ada. Buruknya rasisme telah membawa penderitaan jutaan orang dan terus menjadi ancaman memunahkan entitas hidup, contoh nyatanya perang dunia, konflik bersenjata antar negara, kerusuhan yang menelan korban nyawa dan harta benda, seringkali dipicu rasisme.

Dalam kamus Wikipedia ditulis rasisme adalah suatu sistem kepercayaan atau doktrin yang menyatakan bahwa perbedaan biologis yang melekat pada ras manusia menentukan pencapaian budaya atau individu – bahwa suatu ras tertentu lebih superior dan memiliki hak untuk mengatur ras yang lainnya. Beberapa penulis mengguna kan istilah rasisme untuk merujuk pada preferensi terhadap kelompok etnis tertentu sendiri (etnosentrisme), ketakutan terhadap orang asing (xenofobia), penolakan terhadap hubungan antar ras (miscegenation), dan generalisasi terhadap suatu kelompok orang tertentu (stereotipe).

Rasisme telah menjadi faktor pendorong diskriminasi sosial, segregasi dan kekerasan rasial, termasuk genosida. Politisi sering menggunakan isu rasial untuk memenangkan suara. Istilah rasis telah digunakan dengan konotasi buruk paling tidak sejak 1940-an, dan identifikasi suatu kelompok atau orang sebagai rasis sering bersifat kontroversial.

Buruknya rasisme telah membawa malapetaka yang dahsyat bagi peradaban, namun iblis berwujud manusia atas nama sejarah bangsa, ada yang memanipulasi kitab suci, atas dasar teologi imannya bahwa bangsanya diberi keunggulan dari bangsa lain, contohnya etnis Yahudi, Jerman dan etnis lainnya. Dampak tak berkesudahan dari karakter dan pola pikir rasisme di antara etnis, telah menjadikan pembunuhan massal, penjajahan, dan pelecehan terhadap hak-hak kemanusiaan sulit dihapuskan.

Rasisme buruknya melampaui batas-batas rasional sehat. Mengapa? Indonesia yang sudah 74 tahun merdeka masih dihuni oleh orang-orang yang menganut pola pikir dan karakter rasisme. Siapa bisa membantah peristiwa menghebohkan di bulan kemerdekaan yang menimpa anak bangsa terdidik, calon pemimpin bangsa, mahasiswa asal Papua di asramanya lagi mengalami tindakan rasisme oleh saudara sebangsanya. Apapun motifnya, siapa saja pemicunya, dan adanya tindakan di luar hukum terhadap korban rasisme adalah keburukan pangkat tiga yang menimpa saudara se bangsa, mahasiswa Papua. Siapapun yang berakal sehat dan bernurani jernih, wajib hukum mengutuk prilaku rasisme di era digital yang menelanjangi tindakan bodoh provokotor rasisme.

RASISME, ANA KHAIRU MINHU
Buruknya rasisme paling nyata itu adalah ketika ekses yang terjadi berikutnya atau dampak ikutannya berupa terbentuknya identitas, simbol, dan menjadi paradigma pikir bahwa saya lebih baik dari dia. Etnis kami unggul, superoritas dari etnis mereka. Dalam al Qur’an etnis yang menyatakan ia lebih baik dari makhluk manusia, Adam, adalah iblis. Iblis menyebut dirinya etnis paling mulia atas dasar asal kejadiaannya. Ana khairu minhu, adalah penyakit mental akut yang menjadikan Iblis makhluk dilaknati Allah.

Ana khairun minhu, saya lebih baik dari dia. Itulah respon iblis yang diabadikan Al-Qur`an ketika Tuhan menanyakan alasan mengapa ia tidak mau melaksanakan perintah, sujud hormat pada Adam. Iblis menambahkan, Khalaqtani min nar wa khalaqtahu min thin, “Engkau menciptakan aku dari api dan menciptakan dia hanya dari tanah” (Al-A’raf: 12). Iblis merasa diri lebih mulia karena asal penciptaannya.

Kesombongan iblis rupanya menjadi penyakit mental yang menulari anak cucu Adam. Pernyataan sikap ana khairun minhu ini sungguh berdampak buruk yang mengerikan dimana orang saling menyakiti, saling membenci, saling menjatuhkan, hingga saling bunuh. Kejam, mahasiswa Papua tengah diuji dengan virus rasisme yang dahsyat sekali akibat buruknya. Meminta mereka bersabar dan save mereka dari manusia buruk, provokator rasisme itu adalah tugas suci yang berakal sehat dan berhati mulia.

Kita lebih cemas lagi bahaya rasisme Iblis, jika iblis merasa ana khairun minhu hanya karena asal penciptaannya, anak cucu Adam bisa lebih kompleks kesombongannya. Bukan sebatas nasab keturunan, tapi juga jabatan, status, profesi, hingga kelompok pergaulannya. Anak cucu Adam seakan lupa jika nabi Muhammad saw sudah mewanti-wanti dengan sabda, “Semua kalian berasal dari Adam, dan Adam (diciptakan) dari tanah. Tidak ada kelebihan orang Arab dari yang bukan Arab, kecuali karena takwa” Lebih nyata sekali ditegaskan dalam firman suci “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa” (Al-Hujurat: 13).

Patut diingatkan, umat Islam dicegah berprilaku rasisme. Tidak benar ada yang memberikan ruang rasisme atas dasar iman. Islam mengajarkan sikap menghargai dan menemptkan sesuatu secara proporsional. Mereka yang rasis adalah termasuk pada kategori ghuluw. Ghuluw bertindak di luar kepantasan dan melewati batas rasional dan kehendak syariat. Artinya “Katakanlah (Muhammad), Wahai Ahli Kitab! Janganlah kamu berlebih-lebihan dengan cara yang tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti keinginan orang-orang yang telah tersesat dahulu dan (telah) menyesatkan banyak (manusia), dan mereka sendiri tersesat dari jalan yang lurus.”
(QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 77).

Penutup kalam perlu ditegaskan bahwa rasisme adalah sifat, sikap, prilaku, pola pikir dan tindakan buruk dan berakibat buruk bagi kemanusiaan. Menegaskan dan mengedukasi tiada henti bahwa diri, kelompok, etnis dan status sosial apapun bukan untuk menimbulkan stigma, persepsi tidak sehat merasa paling baik, tetapi itu justru keunggulan kolektif yang harus dikalaborasi kan untuk rahmat bagi semesta. Negara wajib hadir melindunginya warganya dari siapapun yang sakit mental rasisme dan prilaku ikutannya. Negara hadir untuk kebaikan semua, tidak untuk sekelompok orang, etnis dan status sosial. Ibrah sejarah harus dijadikan pedoman untuk meneguhkan bangsa.

Facebook Comments

About the author

mm
Prof. Dr. Duski Samad, M.Ag

Prof. Dr. Duski Samad, M.Ag, Ketua MUI Kota Padang, merupakan dosen dan guru besar di UIN Imam Bonjol. Tulisannya tersebar di beberapa media cetak dan aktif mengelola Duski Samad Institute. Salah satu bukunya yang sudah terbit, Konseling Sufistik (Grafindo Press Jakarta; 2017)