Bagaimana Musik Menyelamatkanmu?

Sebelumnya, saya di dangdut, dan sesekali kasidah. Alm. Meggy Z, Rhoma Irama, Rita Sugiarto, Iis Dahlia dan Kristina. Cerita-cerita yang dekat dengan lingkungan sekitar; hubungan dua sejoli, bagaimana istri kepada suami, istri yang ditinggal bekerja, kesedihan anak tiri, dan sebagainya. Qasidah menolong saya dari jangkauan setan. Mendekatkan diri pada Tuhan, ajakan untuk selalu bertaqwa, dan hal-hal semisalnya.

Orangtua saya bahkan, tidak memperkenalkan saya pada Koes Plus, Dara Puspita, D’Lloyd, Pambers, Rinto Harahap, Betharia Sonata, Pengantar Minum Racun, Pancaran Sinar Petromak, dan Warkop. Selalu begitu sampai puluhan tahun. Cerita-cerita seputar mereka sempat saya dengar dari TVRI dan kabar burung tetangga, lalu hilang bersama angin.

Kehidupan dunia yang pelik mengubah semuanya. Bosan dengan dangdut melulu, waktu radio masih berfungsi dengan baik, saya mulai mengenal pop. Mengenal band-band tanah air. Pertengahan 1994, ayah beli tivi hitam putih dan saya sesekali melihat pertunjukan musik.

Masa-masa SMA tidak dapat dipungkiri, adalah masa-masa yang indah. Padi, Naff, Jamrud, Tipe-X, Naif, dan Inul Daratista menemani saya bertumbuh. Mereka ketika itu, menemani saya bikin PR yang diberikan bapak ibu guru. Karena jarang keluar, saya lebih menikmati pertunjukan mereka di televisi saja. Atau sesekali girang, ketika melihat video klip mereka diputar di televisi.

Tahun-tahun berganti, musik pun berganti. Radio lokal memberi tahu saya band-band tanah air. The Rain, The Panasdalam, Chros Bottom, Anima –untuk menyebutkan beberapa band saja, saya kenal perkiraan tahun 2000 – 2005. Internet pada tahun-tahun segitu mulai masuk secara masif. Pada tahun-tahun segini pulalah, penyanyi-penyanyi daerah mulai diantar supir-supir truk ke Jawa. Zalmon, Susi, Ria Amalia dan Ratu Sikumbang. Mereka bertempur dengan band-band yang juga sukses di kalangan supir-supir angkot, lewat rilisan ilegal mereka yang diproduksi tukang kaset bajakan. Kangen band dan Radja acap kali hadir di telinga ketika menaiki angkot. Mereka berdua hanya dikalahkan oleh Thomas Arya.  

Perkiraan tahun 2018-2011, acara-acara musik jamak di televisi. Televisi saya sudah tidak hitam putih lagi. Inbox di SCTV, Dahsyat di RCTI, anTV, Trans TV dan Indosiar juga punya acara tandingan dalam menampilkan musik. Di tahun-tahun segitu,saya mulai banyak mengenal band-band tanah air. Karena hanya bersumber pada televisi, musik yang saya kenal pun sempit. Band-bandnya itu ke itu saja.

Label-label musik yang ada, tidak begitu menyelamatkan hidup saya. 2017, tepatnya saya lupa, awalnya memang penelusuran iseng di internet, saya baru kenal dengan yang namanya net-label. Net-label ialah label musik yang ada di internet, dan memuat rilisan berupa rilisan digital. Sebagian besar rilisan mereka disebar dengan kategori bebas unduh.

Zoo, UTBBYS, Kaveh Kanes, Rabu, Theo Nugraha, Jono Terbakar, dan lain-lain saya kenal lewat jalur ini. Mereka sunyi, selalu sunyi, namun mereka selalu ada. Mereka tidak begitu mempertimbangkan pasar dan terus bertumbuh. Di sudut sebelah, kata senja mulai diproduksi masif. Kata ‘indie’ jangan ditanya lagi. Bahkan semacam ada kesengajaan, kalau sudah akustik, berarti indie. Hm.

Ya, musik sejatinya adalah perkara selera. Siapa saja tidak bisa menentukan orang lain harus berkiblat ke genre mana. Musik bisa masuk ke dalam diri lewat sisi mana saja, dan siapa pun tak punya hak untuk mengakomodir musik orang lain.

Ketika menunggu, bukankah juga ada musik yang lahir di gerahammu? Mari mengakrabi itu.(*)

Facebook Comments

About the author

mm
MAULIDAN RAHMAN SIREGAR

MAULIDAN RAHMAN SIREGAR, lahir di Padang, 03 Februari 1991. Penyair bukan, cerpenis tidak, tapi pengen. Buku puisinya, Tuhan Tidak Tidur atas Doa Hamba-Nya yang Begadang (Erka Publishing; 2018), Menyembah Lampu Jalan (Purata Utama; 2019)

mm By MAULIDAN RAHMAN SIREGAR